
Di Perusahaan Smith Group.
Sepasang kekasih yang memang berada di dalam satu ruangan kerja itu,sedang duduk sambil memakan makanan siang mereka,dengan ekspresi wajah yang berbeda.
Ya,mereka berdua adalah Jonathan dan Desi yang sedang makan siang di dalam ruang kerjanya Jo.
Mereka berdua makan siang,dengan ekspresi wajah Jo yang kesal karena dari tadi ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan,lalu ekspresi wajah Desi yang gugup karena sedang terus mencoba untuk menghindari terkaman dan godaan dari Jo.
"Sepertinya,sekarang kamu sudah terkena karmanya" ucap Desi tanpa menatap ke arah Jo,setelah mereka berdua sama-sama diam untuk waktu yang lama.Ia berbicara dengan wajah yang tersenyum santai,sambil terus memakan makanan siangnya.
"Maksudmu?" tanya Jo,dengan wajah bingungnya dan kedua mata yang dari tadi tidak berhenti menatap wajahnya Desi.
"Kamu pikir saja sendiri" ucap Desi,dengan wajah tidak bersalahnya.
'Hari itu,dirinya sibuk mengejekku,karena terus menatap dirinya.Sekarang,malah dirinya yang menatapku tanpa berkedip,dengan tatapan mesumnya pula.Padahal,aku tidak berpakaian seksi.Apa isi kepalanya memang mesum semua.Dasar...Hah! Sekarang,ntah aku harus merasa bahagia atau bersedih...' batin Desi,dengan hati yang kesal.
Jo,langsung mendengus kesal.Dari tadi pagi, Desi terus saja menghindari dirinya ,dengan berbagai alasan dengan pura-pura tidak mendengar godaannya,dan juga pura-pura sibuk berkerja.
'Awas saja nanti ya,kali ini aku tidak akan segan-segan lagi atau apapun.Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan,walaupun harus dengan cara memaksa' batin Jo,dengan wajah yang sedang menahan rasa kesal.
Ia sudah menahan nafsunya dari malam tadi.Jadi siang hari ini,ia tidak akan menahannya lagi.Apa lagi,penawarnya sudah ada di depan matanya.Mana mungkin,ia menyia-nyiakannya begitu saja.
Karena bencana alam pertama mereka yang ia rasakan kemaren,ia mulai menjadi ketagihan dengan tubuhnya Desi.Rasanya ia sudah tidak sabar,untuk bisa menikahi Desi secepatnya.Tapi kembali lagi, ia juga tidak bisa terlalu memaksa kedua orang tuanya.
Kalau ia nekad memaksa,mungkin bukan dirinya saja yang tidak bisa menikah,tapi mungkin saja kedua orang tuanya malah menjadi masuk ke rumah sakit karena berkerja terlalu keras.
Sebenarnya ia juga sempat berpikir mau pulang ke Paris dan membantu kedua orang tuanya,agar perkerjaan di Paris bisa cepat selesai.Tapi ia membatalkan niatnya itu,karena tidak bisa jauh-jauh dari wanitanya ini.
Jadi,yang bisa ia lakukan sekarang,hanya terus bersabar dan menunggu kedatangan kedua orang tuanya.
Setelah selesai makan,Desi segera mengambil tasnya,lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu ruangan tersebut.Ia berniat untuk keluar dari ruangan,karena melihat tatapan mesumnya Jo yang terlihat sudah tidak aman buat dirinya.
Lalu ia akan masuk ke dalam ruangan kembali,setelah Jo mulai berkerja nanti.Supaya Jo bisa melupakan keinginannya tadi,kalau sudah fokus pada perkerjaannya.
Tadinya ia tidak mau datang ke kantornya Jo,tapi ia tidak tahan dengan rasa rindunya pada Jo.Akhirnya iapun berada di dalam ruangannya Jo saat ini,dengan mempertaruhkan tubuhnya.
"Sayang,kamu mau kemana?" tanya Jo,dengan wajah tenangnya,sambil ikut berdiri.
"A aku ingin membeli cemilan untuk aku makan nanti malam, hanya sebentar saja" Jawab Desi tanpa menoleh ke arah belakang,dengan nada gugupnya dan alasan yang hanya ada di benaknya saja.Ia segera mempercepatkan langkahnya,saat ia sudah menyadari,kalau Jo sedang mengikuti langkahnya.
Baru saja,ia berhasil memegang handle pintu dan ingin membukanya.Tapi Jo sudah terlebih dahulu menahan pintu tersebut dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Desi yang sedang gugup,langsung menjadi kaget karena suara hentakan pintu yang di lakukan oleh Jo.Walaupun hentakan Jo tidak begitu kuat,tapi mampu membuat dirinya menjadi kaget,apa lagi suara hentakan tersebut tepat di depan matanya.
Hingga membuat Desi langsung membalikkan badannya ke arah Jo yang sedang mengurungnya di pintu tersebut,karena rasa kagetnya tadi.
"Jo,a apa yang kamu lakukan? A apa kamu ingin membuat aku mati karena jantungan?" tanya Desi,dengan wajah kesalnya dan kepala yang mendongak ke atas karena tubuhnya Jo yang lebih tinggi dari dirinya.
"Menurutmu?" tanya Jo balik,dengan wajah yang tersenyum menggoda.Kali ini,ia tidak akan melepaskan wanitanya lagi.Sebentar lagi,ia pasti akan membuat wanitanya terus memohon padanya.
"Sa sayang, aku tidak mengerti dengan maksudmu.A apa yang harus aku katakan?" tanya Desi,pura-pura tidak mengerti.Ia menjadi semakin gugup dan juga bingung.Karena sedang memikirkan,apa yang harus ia lakukan,agar kali ini ia bisa terlepas dari terkamannya Jo lagi.
"Baiklah,kalau kamu tidak mengerti.Aku akan menjelaskannya padamu,dengan 1 kalimat saja,agar kamu bisa mengerti dengan cepat" jawab Jo,dengan wajah yang terus tersenyum menggoda.
"Aku menginginkanmu saat ini juga" lanjut Jo lagi,sambil menatap wajahnya Desi yang semakin gugup.Wajahnya sudah mulai memerah,karena benda di bawahnya sudah terbangun saat ini.
"Ba bagaimana,ka kalau lain kali saja..." ucap Desi,dengan nada yang semakin gugup,sambil menahan dada kekarnya Jo yang sedang mendekat ke dada empuknya.
Ia sudah tidak bisa berpura-pura lagi,karena perkataannya Jo yang terlalu jujur padanya.Tubuhnya juga mulai terhipnotis dengan tatapan mesumnya Jo,tapi ia masih berusaha untuk mengendalikan dirinya karena ia tidak mau kalau sampai terjadi bencana alam lagi di antara mereka berdua.
"Sahabat kecilku tidak bisa menunggu lebih lama lagi sayang,kamu harus menidurkannya saat ini juga" ucap Jo,dengan suara seraknya karena sedang menahan gairahnya.
"A apa? Sahabat kecil? Apa kamu pikir aku ini wanita murahan? Wanita yang suka tidur dengan pria mana saja" ucap Desi,dengan wajah gugup yang sudah berubah menjadi kaget bercampur marah.
Sedangkan Jo,hanya mampu tersenyum pasrah.Karena wanitanya yang awalnya hanya pura-pura tidak mengerti,sekarang malah menjadi benar-benar tidak mengerti akibat kalimat karangannya sendiri.
Sedangkan Jo,segera sedikit menurunkan kedua tangannya,hingga membuat ruang gerak untuk Desi menjadi semakin sempit di kurungannya.
Desi menjadi semakin emosi,kedua matanya sudah memerah karena sedang menahan tangis,sambil memukul-mukul dada kekarnya Jo dengan sekuat tenaga.Karena ia sudah tidak memiliki ruang gerak lagi di dalam kurungannya Jo,ia hanya bisa memukul-mukul dada kekarnya Jo saja.
"Cepat lepaskan aku sekarang juga.Kalau tidak,aku akan......" Desi segera menghentikan ucapannya,saat Jo langsung mengarahkan sebelah tangannya ke benda bawah miliknya Jo.Ia menghentikan bicaranya,sambil menatap kemana arah tangannya yang sedang di pandu oleh tangannya jo.
Wajahnya Desi langsung menjadi memerah dan tidak karuan,saat tatapan kedua matanya turun sampai ke bawah miliknya Jo yang telihat sangat membengkak
"Jo,ce cepat le lepaskan tanganku" lanjut Desi lagi,wajah berapi-apinya tadi langsung menghilang begitu saja.Lalu berganti dengan wajah keget,gugup dan malu bercampur menjadi satu,karena Jo menahan erat tangannya yang sudah di arahkan tepat di bawah miliknya Jo saat ini.
Bahkan,saat ini Desi bisa merasakan benda tumpul miliknya Jo yang sudah berdiri tegak dengan sempurna.Desi juga tidak berani menatap benda miliknya Jo lama-lama,ia segera mendongakkan kepalanya kembali untuk bisa menatap wajahnya Jo.
"Ini sahabat kecil yang aku maksudkan,sayang.Kenapa pikiranmu terbang terlalu jauh.Aku tidak akan sebrengsek itu,sampai mau menyuruh wanitaku tidur dengan pria lain.Tubuhmu ini,hanya boleh menjadi milikku saja.Tidak ada 1 priapun yang boleh menyentuhnya,selain aku" ucap Jo,dengan wajah seriusnya tapi juga di sertai dengan kulit wajah yang semakin memerah karena terus menahan gairahnya sedari tadi.
Ia berbicara,sambil terus menahan tangannya Desi yang terus ingin melepaskan diri dari genggaman tangannya.Lalu sebelah tangannya lagi,ia gunakan untuk mengelap beberapa tetes air mata yang sudah terlanjur jatuh dari ekor matanya Desi.
Awalnya ia merasa sangat kecewa dengan tanggapan negatifnya Desi pada dirinya,tapi saat ia melihat kedua matanya Desi yang sedang menahan tangis,iapun harus bisa memaklumi tanggapan negatifnya Desi dan menjadi merasa bersalah.
__ADS_1
Karena Desi yang memang masih belum mengerti dengan kalimat karangannya tadi,apa lagi dirinya sendiripun masih belum memberi pernyataan cinta pada Desi,karena masih sibuk menunggu kedatangan kedua orang tuanya.Hingga membuat Desi menjadi,berasumsi yang macam-macam.
"Ke kenapa kamu tidak mengatakannya dengan jelas...Jadi,aku tidak akan salah paham dengan perkataanmu tadi" ucap Desi,dengan nada gugup dan wajah yang semakin malu,karena ia sudah salah mengartikan kalimat karangannya Jo tadi.
Lebih parahnya lagi,ia bisa merasakan benda keras tapi tumpul,yang sedang berada di dalam genggaman tangannya.
Bahkan jari telunjuk dan jari jempolnya tidak mampu menyatu dan hanya memiliki ruang jarak sebanyak 2 cm saja, antara jari telunjuk dan jari jempolnya,karena benda tumpul tersebut yang sudah mengeras dengan sempurna.
"Siapa yang suruh,kamu pura-pura tidak mengerti dengan apa yang aku inginkan dari pagi tadi..." ucap Jo,dengan wajah yang terus tersenyum mesum,sambil menarik pinggulnya Desi,agar bisa lebih mendekat ke tubuhnya.
"I itu,itu karena kamu tidak mau menikahi aku.Jadi,aku tidak akan mengabulkan keinginanmu lagi,sebelum kamu menikahi aku" jawab desi,dengan wajah yang semakin malu.Mungkin saja, malunya sudah berkali-kali lipat saat ini.
"Bi bisakah kamu melepaskan tanganmu dulu..." ucap Desi,dengan nada pelannya,karena ia merasa sangat malu dengan posisi tangannya yang berada di benda bawah miliknya Jo.
"Tidak bisa" jawab Jo,dengan cepat,sambil terus menahan tangannya Desi.Gairahnya juga semakin memuncak,karena gerakan pelan yang terus di lakukan oleh Desi.Sepertinya,ia harus segera melepaskan gairahnya,dan hanya wanitanya yang mampu membantunya untuk melepaskan gairahnya.
"Dan tentang pernikahan,akan kita bahas lagi,setelah semua perkerjaanku selesai" ucap Jo,dengan asal dan suaranya yang semakin serak.Padahal perkerjaannya tidak akan pernah selesai,kalau bukan dirinya yang menginginkannya.Ia sudah bingung mau memberi alasan apa lagi pada Desi,karena itu sudah pertanyaan untuk ke 3 kalinya dari Desi untuknya.
"Apa? Tunggu semua perkerjaanmu selesai? Yang benar saja,apa kamu sedang bercanda? " tanya Desi,dengan wajah kagetnya yang bercampur kesal,karena jawaban Jo yang terdengar sangat enteng dan tidak masuk akal.
Sedangkan Jo,hanya terus tersenyum mesum.Malahan,ia menjadi semakin ingin menerkam Desi.Karena ia menjadi semakin gemas dengan bibir kerucutnya Desi,saat sedang menggerutu kesal.Apa lagi saat ini,seluruh tubuhnya sudah di penuhi dengan bara api.belum lagi,sahabat kecil yang ia bilang tadi,hanya tinggal menerobos masuk saja.
"Bagaimana nanti,kalau aku ha....ehhmmm..." pertanyaannya Desi,langsung terhenti,karena bungkaman tiba-tiba dari Jo.
Desi yang terkejut dan juga benar-benar takut kalau Jo sampai membuat dirinya hamil,iapun segera mendorong dada kokohnya Jo dengan kedua tangannya karena Jo yang sudah melepaskan genggaman tangannya,saat sedang menerkam bibirnya barusan.
Tapi semua tenaganya sia-sia saja,bahkan jarak mereka berdua tidak bergeser sama sekali.
Jo yang sudah termakan api gairah,tanpa melepaskan c**m*n paksanya.Jo langsung mengangkat bokongnya Desi,hingga langsung membuat posisinya Desi menjadi seperti seekor koala yang sedang berada di pelukan depan dadanya,lalu ia segera berjalan ke arah ruangan pribadinya.
Sedangkan Desi,ia segera merangkul lehernya Jo dan mengapit pinggangnya Jo dengan erat karena ia takut akan terjatuh akibat tubuhnya yang terangkat tanpa aba-aba.
"Achk ehhmmm " terdengar pekikan tertahannya Desi dan Desi yang langsung membuka lebar mulutnya,karena Jo yang sedang mengigit pelan bibir bawahnya.
Tanpa menunggu kesempatan kedua lagi, lidahnya Jo langsung masuk ke dalam mulutnya Desi dan menjelajahi di setiap rongga-rongga mulut wanitanya dengan lembut,sambil membuka pintu dengan menggunakan sebelah tangannya.
Walaupun Jo membuka pintu dengan sebelah tangan saja dan tubuh koalanya Desi yang berada di dada depannya,tetap tidak menyulitkan dirinya untuk membuka pintu tersebut.
Apa lagi,Desi yang sudah mulai terbuai dengan l*m*t*n-l*m*t*n bibirnya,terlebih lagi rangkulan leher dari Desi dan lingkaran kakinya Desi di pinggang sangat erat.Jadi,ia tidak perlu mengkhawatirkan kalau wanitanya akan terjatuh atau apapun.
Setelah mereka berdua sudah berada di dalam ruangan pribadinya,Jo langsung berjalan ke arah kasur miliknya.
__ADS_1
Lalu,Jo langsung membaringkan tubuhnya Desi ke atas kasur,dengan gerakan pelan tanpa melepaskan c**m*n mereka.
Sedangkan Desi,ia bahkan masih merangkul leher dan mengapit pinggangnya Jo dengan erat,sampai tidak menyadari kalau mereka berdua sudah berada di atas kasur saat ini.