
Ars yang merasa pertanyaan nya di abai kan,ia pun segera menunduk kan kepala nya untuk bisa menatap wajahnya Agatha.
Ars menghela nafas dengan pelan,saat melihat Agatha yang masih tetap menatap wajahnya.
5 menit kemudian Ars masih bertahan dengan wajah kesal nya,setelah 10 menit berlalu Agatha masih saja menatap wajahnya,hingga membuat ia sudah tidak tahan lagi.
"Agatha Wijaya" panggil Ars,dengan nada tingginya dan wajah yang semakin kesal.
"Hah! I iya,ada apa?" tanya Agatha yang langsung tersentak kaget,ia juga bertanya dengan gelagapan dan wajah bingungnya.
"Ya Tuhan" gumam Ars dengan nada pelan sambil menegadah kan kepalanya ke atas,sedang kan Agatha malah semakin bingung saat mendengar gumaman dan melihat wajah kesalnya Ars.
"Apa kamu ingin kita di sini,sampai pagi?" tanya Ars yang mengulang pertanyaan nya tadi, sambil menurun kan kepala nya kembali lalu kembali menatap wajah bingungnya Agatha.
"Ten tentu saja tidak" jawab Agatha dengan nada lambat dan wajah yang semakin bingung saat mendengar pertanyaan nya Ars.
"Memangnya, siapa yang mau berada di sini sampai pagi?" tanya Agatha karena belum mengerti apa maksud perkataan nya Ars,apa lagi saat tadi ia mendengar kata "kita " dari Ars.
"Apa mak....." Agatha bertanya sambil menoleh kan kepalanya ke samping karena mengikuti arah tunjuk ekot matanya Ars,pertanyaan nya langsung terhenti di akhir saat ia melihat pintu rumahnya yang sudah tertutup karena sudah malam.
"Apa aku perlu bertanya sekali lagi?" tanya Ars saat Agatha masih saja diam karena sibuk mencerna apa yang terjadi.
"Apa perlu,aku hancur kan saja pintu rumah ini?" tanya Ars lagi dengan wajah yang semakin kesal,untung saja yang ada di dalam gendongan nya adalah Agatha.Jika tidak,mungkin saja sudah dari tadi ia lempar ke sembarang tempat dan ia tinggal kan begitu saja.
"Ti tidak,jangan" jawab Agatha dengan cepat setelah selesai mencerna semuanya untuk beberapa saat barusan,ia juga menjawab dengan gugup karena takut kalau Ars benar-benar akan menghancur kan pintu rumahnya.
Karena terlalu asyik menatap wajah tampan Ars tadi,apa lagi ini untuk pertama kalinya Ars mengendong dirinya.Hingga membuat dirinya lupa daratan dan akhirnya ia jadi tidak memerhati kan sekitar juga pertanyaan pertamanya Ars tadi.
Agatha Segera menurun kan sebelah tangan nya dari lehernya Ars untuk mengetuk pintu rumahnya,dengan sebelah tangan lagi yang masih tetap berada di lehernya Ars.
Sedang kan Ars hanya mampu menghela nafas dengan berat sambil berusaha menahan rasa pegal di tangan nya,tadi wanita ini membuat jantung nya seperti mau keluar dari tempat nya karena terlalu khawatir,sekarang malah membuat tulang-tulang kokoh nya mulai mau lepas dari tempatnya karena telah membuat dirinya berdiri di depan pintu hampir 20 menit lamanya dengan Agatha yang berada di dalam gendongan nya.
"Tok tok tok" terdengar suara ketukan pintu yang di ketuk oleh Agatha,beberapa saat kemudian pintu itu pun di buka dari dalam dan berdiri lah seorang wanita paruh baya di tengah pintu.
Terlihat wajah kaget Ibunya Agatha di pertengahan pintu,saat melihat wajah Agatha yang sedikit kacau dan juga berada di dalam gendongan nya pria yang tidak ia kenal.
"Agatha,apa yang sudah terjadi dengan mu nak?" tanya Ibunya Agatha,dengan wajah paniknya sambil sedikit memundur kan tubuhnya agar pria yang tidak di kenal olehnya itu bisa segera membawa Agatha masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ars segera berjalan masuk ke dalam tanpa bersuara,sedang kan Agatha hanya mampu diam saja dengan kedua tangannya yang sudah kembali utuh berada di lehernya Ars.
Awalnya ia ingin bicara tapi saat melihat sang Ibu yang mulai berteriak terus,akhirnya ia memilih untuk menunggu Ibu nya selesai berteriak saja.
"Ayah Ayah Ayah" teriak Ibu dengan nada tinggi,yang di tuju kan kepada suaminya yang sudah berada di dalam kamar karena sedang beristirahat.
Sang Ayah yang mendengar teriakan tidak biasa dari sang istri pun segera sedikit berlari keluar dari dalam kamar karena takut terjadi apa-apa sama sang istri.
Untung saja kemaren mereka memilih untuk pindah ke kamar yang ada di lantai bawah.Jika tidak,bagaimana cara dirinya berlari menuruni anak tangga yang termasuk banyak itu,apa lagi dengan tubuhnya yang sudah berumur itu.
"Ada apa ma? " tanya sang Ayah sambil terus sedikit berlari ke arah istri nya berdiri.
"Putri kita pa" jawab Sang Ibu,masih dengan wajah paniknya karena masih belum mendapat kan penjelasan apa pun dari sang putri kesayangannya sambil menatap wajah lengketnya Agatha karena bekas air matanya tadi dan juga rambut yang sudah sedikit berantakan walau pun tidak begitu parah tapi terlihat jelas kalau ada sesuatu yang telah terjadi sama putrinya.
"Tuan Ars" panggil sang Ayah dengan wajah kaget nya tanpa menanggapi perkataan istrinya,saat melihat siapa yang sedang berada di hadapan nya dengan mengendong putrinya.
"Tuan,apa yang telah terjadi?" tanya sang Ayah dengan wajah bingungnya sambil menatap Ars dan putrinya secara bergantian.
"Ibu Ayah ......" belum sempat Agatha menjelas kan kepada Ayah dan Ibunya,perkataannya langsung di sela oleh Ars dengan nada yang tegas.
"Di lantai 2 Tuan" jawab sang Ayah saat istri nya tidak juga menjawab pertanyaan pria yang ia segani sekaligus juga ia takuti itu,istrinya jadi bingung karena tiba-tiba pria yang tidak di kenalnya itu bukan menjelas kan pada mereka tapi malah bertanya kamar Agatha pada dirinya.
"Kau ikut aku" ucap Ars sambil menatap Sang Ibu kemudian ia beralih menatap Sang Ayah dan kembali bersuara.
"Kau tunggu di sini" ucap Ars lagi sambil menatap tajam ke arah Sang Ayah.
Setelah selesai bicara,Ars langsung berjalan dan menaiki tangga agar segera sampai di kamarnya Agatha.
"Baik Tuan" jawab Sang Ayah,walau pun bingung tapi ia tetap mengiya kan perkataannya Ars.Sedang kan Sang Ibu segera mengikuti langkah lebarnya pria yang tidak di kenali itu,dengan wajah khawatir bercampur bingung.
Setelah sampai di dalam kamar nya Agatha,Ars langsung menduduk kan tubuhnya Agatha di atas kasur dengan perlahan-lahan.
Ars segera merenggang kan tubuh pegal-pegalnya ke kiri dan ke kanan hingga membuat Agatha yang sedang duduk di atas kasur pun menjadi tertawa kecil saat melihat tubuhnya Ars yang terlihat sedang lelah.
Sedang kan Sang Ibu yang sudah berada di belakangnya Ars,hanya berdiri dalam diam saja sambil memerhati kan putrinya dan pria yang ada di depan nya ini.
"Kamu masih bisa tertawa setelah membuat ku menderita?" tanya Ars dengan wajah kesalnya,sambil menatap wajahnya Agatha yang sibuk tertawa.
__ADS_1
Agatha langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat mendengar nada kesalnya Ars,tapi di dalam hatinya ,ia masih ingin tertawa karena melihat wajah kesalnya Ars dan wajah lelahnya Ars karena telah mengendong dirinya.
Ars berjalan mendekat ke arah agatha setelah ia selesai merenggang kan tubuh pegalnya,lalu ia segera berjongkok dan memegang pergelangan tangannya Agatha dengan pelan dan mengamati nya dengan seksama.
Ars terus mengamati pergelangan tangan Agatha yang sudah mulai membengkak itu sambil sedikit mengelus,hatinya menjadi sakit saat melihat itu semua,hingga mata nya tertuju pada cincin yang ada di jari manisnya Agatha.Ia baru menyadari kalau Agatha memakai cincin padahal ketika ia mendekati Agatha hari itu,sama sekali ia tidak melihat ada cincin di jari manisnya Agatha.
Tapi yang membuat ia merasa aneh dengan cincin itu bukan kapan Agatha memakainya,ia hanya merasa aneh,kenapa cincin yang di pakai oleh Agatha sama seperti cincin yang telah ia beli untuk melamar Agatha hari itu.
"Apa ada yang salah dengan tangan ku?" tanya Agatha dengan sedikit meringis karena elusan pelan dari Ars terasa sedikit ngilu,ia juga bertanya dengan wajah bingungnya karena Ars sudah melihat pergelangan tangan nya tanpa bersuara dengan waktu yang sedikit lama.
Lamunannya Ars langsung buyar saat mendengar pertanyaan nya Agatha,ia segera berdiri dari jongkoknya dan berbalik badan hingga bertatapan mata dengan Sang Ibu.
"Lain kali jika kamu berpakaian seperti itu lagi,akan aku pasti kan kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini,walau pun hanya satu langkah saja" ancam Ars dengan nada tegas dan seriusnya tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sedang kan Agatha dan Sang Ibu menjadi terkejut saat mendengar ancaman dari Ars,tapi beberapa detik kemudian wajahnya Agatha berubah menjadi tersenyum malu saat ia sudah menyadari kesalahannya,ia menatap sekilas ke arah tubuh seksinya sendiri lalu ia menggaruk-garuk kan dengan pelan, belakang lehernya yang tidak gatal.
Ars segera berjalan ke arah pintu kamarnya Agatha,dengan wajah datarnya kembali.
"Suruh putri mu membersih kan diri dan segera obati pergelangan tangan putrimu yang sudah mulai membengkak itu" pesan Ars kepada Sang Ibu,saat ia berjalan melewati Sang Ibu sambil berjalan dengan langkah yang pelan.
Pesannya Ars pun,mampu membuat Agatha tersenyum bahagia.Karena merasa di perhatikan oleh pria yang di cintainya itu.
Setelah selesai menutup pintu kamarnya Agatha,Ars segera mengambil HP milknya dari dalam saku celananya sambil menghela nafas dengan pelan dan terus berjalan.
Ia ingin sekali mengobati bengkak di pergelangan tangannya Agatha,tapi mereka tidak punya hubungan apa-apa,ia pun hanya bisa pasrah dan ia juga harus sedikit memberi kan peringatan kepada Ayahnya Agatha.
Wajah datarnya berubah menjadi dingin saat membawa pesan di HP nya,pesan yang di kirim oleh anah buahnya Hery ketika berada di depan pintu rumah Agatha tadi.
Anak buahnya Hery mengata kan kalau Agatha di jodoh kan,hanya karena untuk saling menguntung kan Perusahaan masing-masing saja.Anak buahnya Hery juga mengata kan kalau pria yang di jodoh kan dengan Agatha adalah pria yang suka mempermain kan wanita dan pria itu juga suka masuk ke club dan mengonsumsi obat-obat terlarang.
Ars segera memasuk kan kembali HP nya ke dalam saku celananya,lalu kembali melanjut kan langkah lebar nya dan menuruni ank tangga dengan wajah dingin bercampur amarah.
Ayah Agatha yang sedang berjalan mondar-mandir dari tadi pun langsung menghenti kan aksi mondar-mandir nya saat ia melihat Ars yang sedang berjalan ke arahnya dengan wajah yang di penuhi oleh amarah,hingga membuat dirinya menjadi gugup karena takut.
"Tu Tuan,apa sebenarnya yang telah terjadi?" tanya Ayahnya Agatha dengan nada gugup saat melihat tatapan tajam dari Ars yang terus tertuju kepada dirinya.
"Tu Tuan,apa sebenarnya yang telah terjadi pada putri kami?" tanya Ayah Agatha kembali saat Ars hanya diam saja dan terus menatap dirinya dengan tatapan tajamnya.Ayahnya Agatha mau tidak mau harus memberani kan diri untuk bertanya,karena ia juga sedang mengkhawatir kan putrinya itu,apa lagi ketika ia melihat kondisi putrinya saat berada di dalam gendongannya Ars tadi.
__ADS_1