
"Enak saja.Memangnya kamu pikir,aku ini wanita apaan?" tanya wanita tersebut balik,dengan wajah kesalnya,sambil mengangkat tas selempangnya dan langsung memukul lengannya Ryan tanpa peringatan lagi.
"Auchk auchk,,,hei hentikan" pekik Ryan,dengan wajah kagetnya karena tidak menyangka akan di pukul sama wanita tersebut.ia memekik,sambil menangkis pukulan dari wanita tersebut dan juga fokus pada jalan di depan.
Bahkan ia sama sekali belum mengetahui namanya wanita tersebut,karena terlalu capek sama perkerjaannya dan juga pusing sama pikiran mesum wanita tersebut yang terus menghampirinya,hingga membuat dirinya malas mau bertanya tentang namanya wanita tersebut.
"Auchk,sudah,hentikan.Apa kamu berniat ingin membuat kita celaka?" tanya Ryan lagi,sambil terus menangkis pukulan dari wanita tersebut yang tidak mau berhenti.
"Siapa yang suruh kamu berpikir macam-macam tentangku? Dan apa tadi? Dari tadi kamu hanya bertanya pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan saja" jawab wanita tersebut,dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menghentikan pukulannya.
"Bukankah kamu sendiri yang telah membuatku menjadi berpikir macam-macam?" tanya Ryan,dengan wajah yang mulai tersenyum,saat ia melihat wajah kesalnya wanita tersebut yang lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya.
Wanita tersebut langsung kembali mendengkus kesal,saat ia mendengar perkataannya Sang Dokter.
'Benar juga sih,tapi kan itu semua karena aku ingin membuat dirinya menjadi kesal' batin wanita tersebut,tapi ia tidak akan semudah itu mau mengakui kesalahannya di depan Sang Dokter.
"Kamu ini,ternyata galak juga..." lanjut Ryan lagi,sambil mengelus-elus lengannya yang sedikit nyeri-nyeri.
"Aku akan lebih galak lagi,kalau kamu berani macam-macam" ucap wanita tersebut dengan asal,tanpa menatap ke arah Ryan.
"Macam-macam? Maksudmu dengan macam-macam?" tanya Ryan,dengan wajah bingungnya sambil menatap wajahnya wanita tersebut dan jalan secara bergantian.
'Kalau kamu berani macam-macam dengan wanita lain' jawab wanita tersebut di dalam hati,walaupun tadi ia berbicara dengan asal tapi sepertinya bicara nya tadi memang jujur dari dalam hati,karena ia pasti akan sulit untuk melepaskan Sang Dokter kepada wanita lain.
"Pikir saja sendiri" jawab wanita tersebut,dengan wajah yang sudah agak santai.
"Jawaban seperti apa itu?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya.Karena jawaban wanita tersebut, membuat dirinya menjadi semakin bingung saja.
Ryan yang malas memikirkannya,iapun kembali bertanya hal yang masih membuat dirinya penasaran itu,sekalian membalas godaan yang wanita tersebut berikan padanya tadi.
"Apa kamu sudah pernah melihatnya?" tanya Ryan,dengan nada santainya,sambil tersenyum.
"Melihat apa?" tanya wanita tersebut,sambil menatap ke arah wajah senyumnya Sang Dokter,kali ini gantian dirinya yang menjadi bingung dengan pertanyaannya Sang Dokter barusan.
"Melihat benda milik pria?" Ryanpun memperjelaskan pertanyaannya,sambil fokus pada jalan.
Wajah wanita tersebut langsung kembali menjadi kesal,saat ia mendengar perkataannya Sang Dokter.Apa lagi saat ia melihat senyum nakal yang ada di wajah Sang Dokter itu,hingga membuat dirinya kembali mengangkat tas selempang dan berniat ingin memukul lengannya Sang Dokter lagi.
"Jangan lagi.Apa kamu benar-benar ingin membuat kita celaka?" tanya Ryan,dengan cepat,saat melihat wanita tersebut yang ingin kembali memukulnya.
Wanita tersebutpun,hanya mampu mendengkus kesal,karena apa yang di katakan oleh Sang dokter ada benarnya juga.
'Ia juga tidak mau ada yang terjadi apa-apa sama mereka sebelum mereka sempat menikah' pikir wanita tersebut,padahal Sang Dokter juga belum tentu ingin menikahinya.
"Aku sama sekali belum pernah melihatnya,kamu mau percaya atau tidak,itu terserah padamu saja" jawab wanita tersebut,dengan nada kesalnya,sambil menatap ke arah jalan.
"Kenapa kamu terus bertanya tentang benda miliknya pria? Memangnya,apa kamu ingin memperlihatkannya padaku?" tanya wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum kesal,sambil menatap ke arah Sang Dokter.
"Tidak,aku tidak pernah berkata seperti itu" jawab Ryan,dengan wajah malasnya,karena pikiran mesumnya wanita tersebut kumat kembali.
"Benarkah? Tapi sepertinya,tadi aku mendengar seseorang bertanya seperti ini.Apa perlu,aku memperlihatkannya padamu?" ucap wanita tersebut,sambil menirukan cara bicaranya Sang Dokter tadi.
__ADS_1
"I itu,aku tidak bersungguh-sungguh.Aku hanya bercanda saja" jawab Ryan,dengan wajah yang tersenyum malu,sambil menggaruk-garukkan belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku baru tahu,kalau ternyata kamu bisa bercanda juga..." ucap wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum lucu,saat ia melihat wajah malunya Sang Dokter yang langka ini.
"Memangnya kamu pikir,hanya kamu saja yang bisa bercanda?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya.
'Wanita mesum ini ada-ada saja.Lagi pula kalau aku tidak bercanda,memangnya aku harus benar-benar memperlihatkan benda milikku padanya.Dasar wanita mesum' lanjut Ryan di dalam hatinya,dengan wajah kesalnya.
"Tidak juga,hanya saja baru kali ini aku mendengar kalau kamu sedang bercanda" jawab wanita tersebut,sambil menatap wajah kesalnya Sang Dokter.
"Dasar" ucap Ryan,dengan nada kesalnya,sambil terus fokus sama jalannya.
Padahal kadang-kadang ia juga suka bercanda pada para pasiennya,hanya saja wanita yang satu ini terlalu mesum,makanya ia jadi tidak berani untuk bercanda.Karena pasti bercandanya akan berakhir dengan pikiran mesumnya wanita tersebut.
Wanita tersebut hanya tersenyum lucu saja,sambil menelisik jalanan yang mereka lewati.
"Tapi di pikir-pikir lagi,apa kamu benar-benar tidak berniat ingin memperlihatkannya padaku?" tanya wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum menggoda,sambil kembali menaik turunkan kedua alisnya ke arah Sang dokter.
Sedangkan Ryan yang sudah malas meladeni tingkah mesumnya wanita tersebut,hanya mampu mendengkus kesal saja dan terus fokus pada jalan yang ada di depannya.
Wanita tersebutpun hanya terus tersenyum,saat ia melihat wajah kesalnya Sang Dokter,terlihat sangat lucu di matanya.
"Dari mana kamu tahu jalan rumahku?" tanya wanita tersebut,dengan wajah herannya,saat ia baru menyadari kalau rumahnya sudah ada di depan sana.Padahal dari tadi,ia kan belum memberitahu jalan rumahnya pada Sang Dokter.
"Bukankah Ayahmu sempat mengisi formulir di rumah sakit,ketika kamu sedang tidak waras hari itu.Apakah kamu sudah lupa?" jawab Ryan dan sekalian bertanya,dengan wajah tidak berdosanya.
Ia juga merasa kesal,karena dari kemaren ia terus menanyakan alasan wanita tersebut ingin bunuh diri,tapi wanita tersebut selalu menghindari pertanyaannya.Akhirnya iapun,malas mau menanyakan hal itu lagi.
"Hanya kemasukan saja" sela Ryan,dengan nada mengejeknya,sambil tersenyum kesal karena memikirkan tingkah bodohnya wanita tersebut hari itu.
"Bukan seperti itu....Sudahlah,kamu ini sangat menyebalkan" ucap wanita tersebut,dengan nada kesalnya dan wajah pasrahnya.Karena memang ia akui kalau tingkahnya hari itu memang bodoh,setelah Sang Dokter tampan ini mulai menarik perhatiannya.
Sedangkan Ryan,langsung tersenyum lucu saat ia melihat wajah pasrahnya wanita tersebut yang bercampur rasa kesal itu.
'Tampannya' batin wanita tersebut,lagi-lagi wanita tersebut kembali terpesona sama wajah tampannya Sang Dokter yang kadar ketampanannya langsung bertambah saat sedang tersenyum begitu.
Tapi yang juga mampu membuat Sang Dokter menjadi kesal adalah tatapan kedua matanya wanita tersebut yang selalu lebih fokus sama bibir tebalnya itu.
"Auchk,Dokkterrr" pekik wanita tersebut,dengan nada kesalnya,sambil mengelus-elus kepalanya yang kembali di sentil oleh Sang Dokter.
"Kalau kamu ingin menjadi istri dari seorang Dokter,bukan hanya bisa memasak makanan sehat saja,tapi pikiran kamu juga harus sehat" ucap Ryan,dengan nada menyindir,sambil menggeleng-geleng kepalanya dengan heran karena memikirkan tingkah dan juga pikiran mesumnya wanita tersebut.
'Sekarang saja,aku sudah merasa kesal dan juga bingung dengan semua tingkahnya.Bagaimana kalau nanti,aku benar-benar menikah dengannya...' batin Ryan,sambil membayangkan pernikahan mereka nanti.
Beberapa detik kemudian,ia segera menggeleng-gelengkan pelan kepalanya lagi untuk membuyarkan bayangannya itu.
Bisa-bisanya di saat seperti ini,ia membayangkan hal seperti itu,bahkan namanya wanita tersebut saja ia tidak tahu dan mereka juga belum saling mengenal lebih dekat lagi.Tapi pikirannya malah ntah sudah melayang sampai mana.
"Padahal,aku berpikir mesum hanya padamu saja" jawab wanita tersebut dengan nada pelannya saat ia mendengar nada sindiran dari Sang dokter,tapi masih bisa di dengar oleh Ryan.
Sedangkan Ryan,langsung tersenyum senang dan juga lega saat ia mendengar jawaban dari wanita tersebut.Tadi ia sudah bertanya-tanya di dalam hati,apa jadinya,kalau wanita tersebut berpikir mesum pada setiap pria,tapi ternyata tidak seperti yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Benarkah yang kamu katakan barusan? Baiklah aku akan berubah demi kamu" lanjut wanita tersebut lagi,dengan nada semangatnya,saat ia baru menyadari perkataannya Sang Dokter yang secara tidak langsung kalau Sang Dokter sedang memberi kesempatan pada dirinya untuk menjadi calon istrinya Sang Dokter.
Sedangkan Ryan langsung menatap bingung ke arah wajah tersenyumnya wanita tersebut,saat ia mendengar kalimat panjangnya wanita tersebut barusan.
Beberapa saat kemudian,ia juga ikut tersenyum saat ia sudah selesai mencerna kalimat panjangnya wanita tersebut.
Padahal kalimatnya tadi itu,ia hanya berniat untuk menyindir saja dan bahkan ia mengatakannya tanpa sadar.Tapi bagus jugalah,wanita tersebut tidak buruk juga menurutnya.Ia juga penasaran,apa wanita tersebut benar-benar akan bisa berubah demi dirinya.
Setelah sampai di rumahnya wanita tersebut,Ryan segera turun dari dalam mobilnya dan berputar ke tempat duduknya wanita tersebut.
Lalu ia juga segera membuka pintu tersebut dan langsung mengendong wanita tersebut tanpa bicara apa-apa.
Sedangkan wanita tersebut langsung tersenyum senang,saat ia melihat Sang Dokter yang selalu cuek padanya itu bisa juga seperhatian seperti ini padanya.
Lalu wanita tersebutpun dengan senang hati merangkul lehernya Sang Dokter dan menyandarkan wajah malunya ke wajahnya Sang Dokter seperti tadi.
Ryan yang sudah mulai terbiasa dengan tingkah mesumnya wanita tersebut hanya diam saja,sambil berjalan masuk ke dalam rumah wanita tersebut dan juga menahan rasa geli, ntah kenapa ia sudah mulai merasa nyaman dengan posisi yang berdekatan dengan wanita tersebut.
"Nona,apa yang telah terjadi sama nona?" tanya Satpam yang sedang berjaga tersebut,saat ia melihat putri majikannya yang sedang berada di atas punggung seorang pria yang tidak ia kenal.
"Tidak apa-apa paman,hanya sedikit keseleo saja" jawab wanita tersebut dengan nada santainya,sambil sedikit mengangkat kepalanya tapi wajah mereka masih tetap berdempet.
"Sudah,paman kembali pergi kerja saja.Aku sudah tidak apa-apa paman, karena sudah ada yang mengobatiku" lanjut wanita tersebut lagi saat ia melihat satpam tersebut malah terus mengekor di belakang mereka dengan wajah khawatirnya.Ia berbicara,sambil tersenyum dan mengedikkan sebelah matanya ke arah paman satpam tersebut.
Satpam tersebutpun,langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan,lalu berjalan ke tempatnya kembali dengan wajah yang tersenyum dan juga menggeleng-gelengkan pelan kepalanya,karena memikirkan tingkah lucunya putri majikannya tersebut.
Sedangkan Ryan,hanya mampu menampilkan wajah kesalnya saja,saat ia mendengar perkataannya wanita tersebut.Ia juga terus berjalan sambil mengamati rumah wanita tersebut yang baru saja ia datangi untuk pertama kalinya itu.
Menurutnya tidak terlalu mewah karena rumahnya di Paris lebih mewah dari yang ini,tapi tidak terlalu buruk juga karena masih terlihat wah.
Ia juga bingung dengan dirinya sendiri,karena demi untuk mengantar wanita tersebut,ia sampai melewatkan jam istirahatnya dan pergi dari rumah sakit.Padahal sebentar lagi adalah jadwalnya untuk melakukan operasi pada pasien lagi.
"Ya Tuhan,apa yang sedang terjadi sama kamu nak?" tanya Ibunya wanita tersebut,dengan nada kagetnya dan wajah khawatirnya,sambil berjalan mendekati putrinya dan Sang Dokter.
"Hanya luka kecil saja bu,ibu tidak perlu khawatir.Kakiku keseleo tadi bu,hanya sedikit bengkak saja" jawab wanita tersebut,dengan wajah yang terus tersenyum.
"Benarkah?" tanya Ibu,dengan wajah bingungnya.Ia bingung bukan karena mendengar jawabannya putrinya tapi karena melihat wajah putrinya yang terus tersenyum.Senyum lepas yang sudah jarang ia lihat dalam beberapa bulan ini,gara-gara ulah suaminya.
Ibupun ikut tersenyum,saat ia melihat anggukkan kepalanya putrinya dan sudah tahu apa alasannya putri mereka bisa terus tersenyum seperti itu.
"Bisakah Dokter tolong bawakan putri kami ke kamarnya langsung" pinta Ibunya wanita tersebut dengan nada ragu-ragunya,takut kalau Sang Dokter merasa di repotkan.
"Baiklah.Di mana kamarnya nyonya?" tanya Ryan,dengan nada sopannya.Sebenarnya tadi ia juga berniat ingin membawa wanita tersebut sampai ke kamarnya,hanya saja ia tidak enak sama Ibunya wanita tersebut kalau ia sampai harus selancang itu.
Ibunya wanita tersebutpun langsung berbalik badan dan berjalan ke arah kamar miliknya wanita tersebut,untuk ia tunjukkan pada Sang Dokter.
Sedangkan Ryan,ia segera berjalan mengikuti Ibunya wanita tersebut dengan wajah malasnya karena wanita tersebut terus menempelkan wajahnya di wajahnya.
"Ingat,jangan sering bergerak selama beberapa hari ini.Kamu harus terus mengompres kakimu yang bengkak itu supaya cepat sembuh dan kamu juga tidak perlu lagi pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan makan siang untukku.Setelah kakimu benar-benar sembuh,baru kamu bisa pergi ke rumah sakit lagi" pesan Ryan dengan panjang lebar,setelah mereka ber 3 sudah berada di dalam kamarnya wanita tersebut dan Ryan juga sudah mendudukkan wanita tersebut di atas kasur.
"Baik Dok" jawab wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum senang karena lagi-lagi ia mendapatkan perhatian dari Sang Dokter.
__ADS_1