Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
155. Ketukan pintu yang terus menerus


__ADS_3

Barusan Agatha langsung memindahkan kedua tangannya dari lehernya Ars ke depan dada empuknya,ia bahkan tidak memperdulikan lagi,kalau dirinya akan terjatuh atau tidak.


Ia hanya memikirkan keadaan 2 gunung kembar miliknya yang tanpa sehelai benang sama sekali,ia juga merasa malu,apa lagi tatapan mesumnya Ars yang seperti ingin kembali menerkam dirinya hidup-hidup.


Untung saja,Ars tidak sampai hilang kesadaran sepenuhnya.Ia segera mengeratkan pegangan kedua tangannya di pinggulnya Agatha,saat ia merasakan tubuh Agatha yang mulai hilang keseimbangan.Jika tidak,hampir saja,Agatha meluncur bebas ke lantai marmer.


"Tok tok tok" kembali terdengar ketukan pintu dari luar,tapi kali ini lebih keras dari sebelum-sebelumnya,hingga mampu membuat Ars dan Agatha langsung tersentak kaget secara bersamaan.


"Bagaimana ini?" tanya Agatha,dengan wajah paniknya yang bercampur kesal,sambil terus menutup 2 gunung kembarnya.Karena Ars yang terus sibuk menatap dadanya,dengan wajah paniknya juga, yang bercampur bingung.


"Di mana pakaianmu?" tanya Ars,sambil mengalihkan tatapan matanya ke arah wajahnya Agatha dan mengabaikan pertanyaannya Agatha.


Sedangkan Agatha hanya diam saja,tapi ia langsung menunjuk ke arah tempat pakaian dan kain segi tiganya berada,melalui matanya dengan wajah malunya.


Ars segera mengikuti arah tunjuk matanya Agatha,ia langsung tersenyum saat menyadari apa penyebabnya Agatha hanya diam saja.


Ia juga baru ingat,kalau pakaian Agatha yang tergeletak di atas lantai itu juga ulahnya karena tadi ia melemparnya secara sembarangan.


Otak cerdasnya jadi menghilang begitu saja,karena suara ketukan pintu dari luar yang terus menerus dan juga semakin keras, Ia jadi bisa menebak siapa pelakunya,hingga harus membuat mereka berdua harus menjadi kalang kabut.


Ars menatap pakaian Agatha yang tergeletak tidak jauh dari posisi mereka berada,lalu ia segera mengalihkan tatapannya ke arah kedua tangannya Agatha yang sedang melindungi 2 gunung kembar tersebut.


"Apa yang kamu pikirkan? Jangan mencobanya lagi. Nanti kita a......Auchk..." pertanyaan dan peringatannya Agatha di akhiri dengan pekikan pelannya Agatha,karena keningnya yang di sentil pelan oleh Ars.


"Apa aku semesum itu?" tanya Ars,dengan nada kesalnya.Sambil berdiri dari duduknya dengan Agatha yang tetap berada di dalam gendongannya.


Sedangkan Agatha,segera menyandarkan kepalanya ke dada kekarnya ars karena takut terjatuh,dengan kedua tangan yang masih tetap pada posisinya.


"Tapi,senyumanmu itu membuat aku menjadi khawatir saja" jawab Agatha,dengan suara pelannya.Ia jadi merasa malu,karena telah menyalah artikan senyuman Ars tadi.


"Kamu ini terlalu berlebihan" ucap Ars,sambil berjalan beberapa langkah,lalu ia segera mengambil posisi bersujud dan mendudukkan Agatha di atas lantai,tempat beradanya pakaian dan kain segi tiganya Agatha.


Padahal,tadi ia tersenyum,hanya karena tidak menyangka dirinya akan menjadi segila itu hingga membuat pakaian dan kain kaca matanya Agatha berserak di atas lantai,karena ia baru pertama kali melakukan hal gila seperti ini.


Ia juga tersenyum,gara-gara hal gila ini,ia jadi bisa men*km*ti dan melihat permandangan indah yang belum pernah ia lihat tadi.


Tapi ia juga jadi merasa bersalah,karena hampir saja ia lepas kendali,kalau saja suara ketukan pintu itu tidak menyadarkan dirinya.


"Cepat pakai,kamu tunggu apa lagi?" tanya Ars,dengan wajah bingungnya,saat Agatha hanya duduk saja dengan wajah malunya.Ia bertanya,sambil menahan hasrat yang dari tadi sudah terlanjur meminta di keluarkan.


'Dasar pria tidak peka.Apa pria ini ingin menatap salah satu benda berhargaku ini lagi' rutuk Agatha di dalam hati.


"Apa kamu ingin melihat aku sedang memakai pakaian? Atau kamu juga ingin membantu aku memakai pakaian?" tanya Agatha,dengan nada menyindir dan wajah yang memberengut kesal dan juga wajah yang semakin malu.


Sedangkan Ars,langsung tersenyum dengan salah tingkah sambil menggaruk-garukkan belakang lehernya yang tidak gatal,saat mendengar sindiran dan nada kesalnya Agatha.


"Cup..Maafkan kesalahanku tadi...Tapi aku berjanji,aku tidak akan melewati batas lagi" ucap Ars,setelah mengecup sekilas bibirnya Agatha.Ia berbicara,dengan wajah bersungguh-sungguhnya yang bercampur dengan eskpresi bersalahnya.

__ADS_1


Sedangkan Agatha,wajah kesalnya tadi langsung berubah menjadi malu dan juga terharu,saat mendengar janji sungguh-sungguhnya Ars untuknya.


"Tidak apa-apa.Aku percaya sama kamu" jawab Agatha,dengan wajah malunya,sambil menundukkan kepalanya.


Sedangkan Ars,eskpresi wajah bersalahnya langsung berganti dengan tersenyum lega karena Agatha tidak mempermasalahkannya,tapi warna merah di wajahnya tidak berkurang sedikitpun.


"Apa yang terjadi dengan....."


"Tok tok tok..."


ucapan Agatha,langsung terhenti karena suara ketukan pintu yang keras,yang kembali terdengar.Tapi kedua matanya menatap ke arah bawahnya Ars,dengan wajah penasarannya.


Sedangkan Ars,langsung mengikuti arah pandangnya Agatha dengan gerakan pelan.Ars langsung mendorong wajahnya Agatha ke samping dan memeluk tubuh Agatha yang masih polos di bagian atasnya.


"Cepatlah berpakaian dan buka pintunya.Jangan lupa juga,tutup lehermu dengan penutup yang lain" ucap Ars,dengan wajah yang tersenyum puas bercampur malu,sambil mengelus punggung polosnya Agatha dengan pelan dan menatap tanda kepemilikannya yang tercetak sempurna di lehernya Agatha yang hanya meninggalkan sedikit celah saja.


Setelah selesai mengatakan itu semua,Ars segera berdiri dari sujudnya dan berjalan pergi dari hadapannya Agatha dengan langkah lebarnya tanpa menoleh lagi.


Sentuhan tangannya di punggung mulusnya Agatha tadi,mampu membuat gairahnya menjadi semakin meningkat.Ia harus segera menidurkan benda dibawahnya dengan berendam air dingin sebentar di kamar mandi pribadinya.Jika tidak,ia pasti akan di tertawai oleh Tuannya nanti.


Sedangkan Agatha,menatap punggungnya Ars yang sudah mulai menjauh dari pandangannya dengan tatapan bingung karena tidak mengerti dengan ucapannya Ars tadi.


"Tok tok tok" kembali terdengar suara ketukan yang semakin keras dari tadi,ketukan yang ntah sudah hitungan ke berapa kalinya.


Lagi-lagi Agatha harus kembali tersentak kaget karena suara ketukan pintu yang keras tersebut,wajah bingungnya langsung menjadi panik kembali.


Setelah selesai merapikan diri dan rambutnya tanpa bercermin,ia segera berjalan ke arah pintu dan membuka pintu yang terus-menerus di ketuk tadi.


"Ceklek" terlihat sepasang suami istri yang sedang berdiri di depannya,dengan wajah kesal mereka masing-masing.


Hanya saja,wajah kesalnya Hery lebih terlihat jelas di banding dengan wajah kesalnya Ashley.


" Apa kalian berdua sedang bertapa di dalam sini,sampai harus begitu lama baru bisa membuka pintu untuk kami?" tanya Hery,dengan wajah kesalnya dan menatap wajah gugupnya Agatha dengan tatapan tajamnya.


Ia juga berdiri dengan posisi yang sama dari tadi,dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya.Sedangkan Ashley,baru saja bangkit dari duduknya dan berdiri di samping suaminya,saat mendengar suara pintu yang sudah terbuka.


Bagimana tidak,mereka berdua harus menunggu di depan ruangan hampir 30 menit lamanya.Mereka berdua juga harus mengetuk pintu secara bergantian,Ashley yang sebanyak 2 × 3 ketukan yang pertama,kedua tadi dan dirinya yang 3 × 3 ketukan,ketukan yang terdengar keras tadi.


Ia juga harus terus berdiri di depan ruangannya Ars tadi,sedangkan istrinya,setelah lelah mengetuk sebanyak 2 × 3 ketukan tadi,ia langsung duduk di kursi yang memang sudah tersedia di depan ruangan tersebut.


Sebenarnya,Hery juga malas mau menunggu di depan ruangan tersebut,tapi istrinya terus memaksa.Mau tidak mau,iapun harus menuruti permintaan istri tercintanya itu.


Sedangkan Agatha,hanya mampu berdiri dengan diam dan wajah yang gugup bercampur kaget karena tidak menyangka kalau yang mengetuk pintu sedari tadi adalah suaminya Ashley,lebih tepatnya adalah Presdir di Perusahaan tempat dirinya manggang.


Hingga membuat dirinya menjadi bingung mau menjawab apa,apa lagi Ars sedang tidak berada di sampingnya karena ntah sedang apa di kamar mandi.


"Ma maafkan kami Tuan" hanya itu saja,yang bisa keluar dari mulutnya Agatha.Ia merutuki Ars habis-habisan di dalam hatinya,karena begitu lama berada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Honey,jangan begitu.Masih ada banyak waktu lagi,untuk kita makan siang" ucap Ashley,dengan suara lembutnya karena tidak tega sama sahabatnya.Ia berbicara sambil mengelus-elus dada kekar suaminya,agar rasa kesal suaminya bisa mengurang.


Ashley juga melihat jam tangannya sebentar,ia tersenyum lega karena jam di tangannya baru saja menunjukkan pukul 11 siang lewat 10 menit.


Mungkin saja,tadi dirinya terlalu bersemangat ingin mengajak sahabatnya itu untuk makan siang bersama,hingga ia tidak begitu memperdulikan waktu makan siang yang masih lama,walaupun sudah di ingatkan oleh suaminya.


Tapi,saat ia mengalihkan kembali pandangannya ke arah wajahnya Agatha yang masih terlihat gugup itu.Ia baru menyadari sesuatu,saat pandangannya secara tidak sengaja turun ke lehernya Agatha.


"Honey,sepertinya kita telah menganggu sepasang kekasih ini" ucap Ashley,dengan wajah yang bersalah,tapi hanya untuk beberapa detik saja.Karena wajah bersalahnya langsung berubah menjadi tersenyum senang bercampur jahil,kedua matanya tidak beralih sedikitpun dari tempatnya.


"Pantasan saja,mereka sampai membuat kita harus berlama-lama berdiri di luar ruangan tadi.Benar-benar menyebalkan" ucap Hery,dengan nada yang semakin kesal.Ia segera mengandeng tangan istrinya,lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.


Sedangkan Agatha,hanya mampu tersenyum dengan wajah malunya,kesal,gugup,bingung bercampur menjadi satu.Ia yang tadi kesal dan juga bingung,karena melihat wajah senyum jahilnya Ashley dan juga mendengar perkataannya Ashley.Sekarang ia menjadi semakin bingung,karena mendengar perkataannya Hery.


Walaupun begitu,ia tetap mengikuti langkah kaki sepasang suami istri tersebut dengan langkah yang pelan dan juga ikut duduk di sofa.


"Di mana Ars?" tanya Hery,dengan wajah datarnya karena wajah kesalnya sudah mulai mengurang.Kedua matanya sambil mengabsen di setiap sudut ruangan tersebut,untuk mencari sosok yang sedang ia cari.


Ia langsung bisa menebak, saat pendengarannya sedang menangkap suara gemericikan air dari dalam kamar mandi dan juga kedua matanya yang baru menyadari kalau pintu kamar mandi masih tertutup.


"Di kamar mandi,Tuan" jawab Agatha,dengan suara pelannya.Sambil mencoba mencerna maksud isyarat dari Ashley yang ia tidak mengerti.Ia langsung memegang lehernya dengan wajah bingungnya.


Sedangkan Ashley,hanya mampu menghela nafas dengan pelan,saat Agatha tidak mengerti sama sekali sama isyarat melalui tangan dan wajahnya.


Walaupun suaminya sudah tahu,tapi kalau ia harus bilang secara langsung pada Agatha,ia juga tidak tega dengan Agatha yang pasti akan langsung merasa malu berkali-kali lipat.Lagi pula,ia juga bingung mau bagaimana caranya ia bilang tentang hal itu kepada Agatha.


Hery hanya tersenyum di dalam hati,saat ekor matanya menyadari komunikasi melalui isyarat antara istrinya dan Agatha,komunikasi yang menurutnya tidak akan ada penyelesaian karena Agatha yang terus tidak bisa mengerti sedikitpun.


"Apa saja,yang sedang kalian lakukan?Hingga harus begitu lama,hanya untuk membuka pintu saja?" tanya Hery,pura-pura bertanya.Apa lagi,ia melihat Agatha yang seperti tidak mengetahui tanda merah yang masih tercetak jelas di sekitar lehernya.


"Hm hm,i itu...Maafkan kami Tuan,kami sedang mengerjakan perkerjaan,hingga ketiduran,Tuan" jawab Agatha,dengan asal dan wajah malunya.Ia sudah bingung harus menjawab apa,dari pada ia harus menjawab jujur.Ia juga tidak mau,sampai Tuannya bertanya lebih panjang lebar lagi.


Ia menjawab,sambil terus merutuk Ars di dalam hati dan terus melirik ke arah kamar mandi,berharap kalau Ars akan segera muncul dari balik pintu tersebut.


"ketiduran?Benarkah?" tanya Hery lagi,dengan wajah bingungnya,sambil menatap wajah merahnya Agatha karena merasa malu.


'Alasan apa itu...' pikir Hery.


Walaupun ia merasa bingung,tapi ia malah menjadi semakin gencar ingin membuat Agatha malu karena sudah berani membuat dirinya dan istrinya menjadi harus berdiri selama itu di depan ruangan tadi.


Lebih tepatnya,dirinya sendiri saja yang terus berdiri,karena Ashley hanya berdiri sampai 2 × 3 ketukannya tadi saja,sisanya Ashley terus duduk sambil bermain HP.


"Honey,sudah.Agatha,sebentar lagi ayo kita makan siang bersama" ajak Ashley,dengan nada kesal yang di tujukan kepada suaminya,sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang lewat 30 menit.


Ia segera menyela perkataan suaminya,untuk membantu Agatha,agar bisa segera terbebas dari kekesalan suaminya.Apa lagi,saat ia melihat eskpresi wajahnya Agatha yang sudah bercampur aduk,hingga membuat dirinya semakin tidak tega.


Sedangkan Hery,hanya mampu terdiam dengan wajah pasrahnya saja.Ia bahkan, harus menelan kembali luapan kekesalan yang ingin ia keluarkan barusan.

__ADS_1


__ADS_2