Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
135. Ke Apartemennya Jonathan


__ADS_3

Setelah Jo sudah menghilang dari pandangannya,Desi segera duduk di tepi kasur untuk melepas kan lelah nya karena tadi telah melempar Jo dengan sekuat tenaganya.


Kemudian ia tersenyum saat memikir kan aksi menggodanya Jo tadi,lalu wajahnya berubah menjadi sendu saat memikir kan nasibnya.


Bagaimana kalau nanti ia hamil,lalu Jo masih saja belum ingin menikah,atau malah ada pacar-pacar Jo yang datang mencari Jo,dan bodohnya dirinya lagi karena tidak pernah menanyakan kepada Jo tentang ada pacar atau tidak adanya pacar.


Sekarang hatinya jadi khawatir,kenapa ia bisa lupa dengan hal penting seperti itu.Seharusnya ia bertanya dulu sebelum mengejar pria playboy itu,sekarang ia harus bagaimana,sepertinya nanti ia harus bertanya kepada Jo tentang apa yang ia pikir kan ini.


Beberapa jam kemudian,sebentar lagi waktu untuk makan siang akan tiba tapi Jo dan Desi masih sibuk berkutat dengan perkerjaan nya masing-masing.


Saat ini kemeja yang Desi pakai tadi sudah berganti dengan pakaian kerja yang telah di beli oleh Sekretarisnya Jo tadi pagi.


Hanya saja Desi menatap Jo dengan eskpresi berbeda hari ini,pikirannya di penuh dengan hal-hal yang ia pikirkan tadi pagi hingga membuat perkerjaannya hanya baru selesai sedikit saja.


Jo yang dari tadi memang sedang memerhatikan Desi pun,jadi heran karena beberapa jam ini,lebih tepatnya sejak Desi keluar dari ruangan pribadinya.Wajah Desi menjadi sedikit beda,wajah yang seperti sedang memiliki beban saja,beberapa jam ini Desi juga sering melamun.


Jo segera menghenti kan perkerjaan nya dan berdiri dari duduknya dengan wajah khawatirnya,lalu ia berjalan ke arah Agatha dengan langkah pelannya.


"Ehem ehem " dehem Jo dengan suara tinggi nya agar bisa menyadar kan Desi yang masih sibuk melamun,hingga membuat Desi yang sedang asyik melamun langsung tersentak kaget.


"Ada apa sih? kenapa kamu mengangetkan ku ?" tanya Desi dengan wajah kesalnya sambil mengelus-elus dadanya dan menatap Jo yang sudah berdiri di hadapan nya.


"Kenapa hari ini,kamu suka sekali melamun?" tanya Jo dengan wajah yang sedikit tersenyum karena Desi yang sedang duduk dan masih sibuk menatap wajahnya tapi dengan tatapan yang berbeda dari biasanya,ia bertanya sambil menelisik wajahnya Desi,mana tahu saja wajahnya Desi sedang pucat atau sedang lelah.


Ternyata tidak ada tanda-tanda pucat atau pun lelah di wajahnya Desi,tapi kenapa sikapnya jadi agak berbeda...


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jo dengan suara pelannya saat Desi hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan dari dirinya,Desi malah menatap wajahnya dengan wajah yang bingung.


"Aku baik-baik saja,jangan khawatir" jawab Desi dengan cepat sambil berdiri dari duduknya karena baru tersadar dari kebingungannya saat merasa kan punggung tangannya Jo yang sedang menyentuh keningnya,ia juga bisa melihat wajah khawatirnya Jo hingga membuat ia tersenyum karena merasa di sayang.


Ia bingung,karena memikir kan bagaimana caranya ia bertanya soal pacar atau kekasih kepada Jo.Akhirnya ia pun menundanya dulu,karena masih bingung.


"Bagus lah, kalau tidak apa-apa" ucap Jo dengan wajah tersenyumnya,melihat wajah Desi yang tersenyum mampu mengurangi rasa khawatirnya.


"Ayo,kita makan siang di luar saja hari ini" ajak Jo sambil berbalik badan dan berjalan ke arah meja kerjanya,ia menatap sekilas ke arah beberapa berkas yang masih belum di periksanya tadi.


"Terserah kamu saja" ucap Desi dengan wajah yang masih tersenyum,sambil menatap Jo yang sibuk mengambil jas dan kunci mobilnya.


Kemudian Jo segera mengambil jas dan kunci mobil miliknya dan kembali berjalan ke arah Desi berdiri tadi,lalu ia segera mengandeng tangannya Desi dan berjalan keluar dengan langkah yang pelan dari Perusahaannya.


Sedang kan Desi segera mengambil tas miliknya saat Jo yang langsung mengandeng nya tangannya tanpa berkata apa-apa.


Ia terus mengikuti langkah kakinya Jo dengan hati yang bahagia sambil menatap gandengan tangan mereka dan wajah tersenyum nya Jo secara bergantian,ia bahkan mengabai kan tatapan-tatapan aneh,heran,penasaran juga iri dari para karyawan-karyawan Perusahaan miliknya Jo.


Mereka berdua pun terus berjalan dengan senyuman bahagia yang tidak pernah pudar dari wajah mereka berdua sepanjang jalan mereka menuju ke mobil milknya Jo.


Setelah 20 menit di perjalanan yang di isi dengan canda tawanya Desi dan Jo,mereka berdua pun akhirnya sampai di sebuah restoran yang di pilih oleh Jo untuk tempat makan siang mereka berdua hari ini.


Mereka berdua pun segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam restoran,Jo juga terus mengandeng tangannya Desi sambil terus tersenyum,sepertinya dari malam tadi hingga sekarang hatinya terus merasa bahagia.

__ADS_1


Sedang kan Desi juga ikut tersenyum saat melihat Jo yang terlihat begitu bahagia,walau pun ia tidak mengerti apa alasannya hingga membuat Jo menjadi begitu bahagia.


Setelah selesai memesan dan pesanan juga sudah datang,Desi dan Jo segera memakan pesanan mereka dengan lahap,mungkin memang sedang lapar juga jadi mereka makannya jadi begitu lahap.


Desi yang awalnya merasa heran dengan senyuman-senyuman aneh orang-orang di sekitar mereka yang hanya tertuju ke arahnya sejak ia masuk tadi,ia pun tidak memperduli kan nya lagi karena rasa laparnya.


Sedang kan Jo hanya tersenyum saja,ia juga tahu apa penyebab dari senyuman-senyuman aneh itu,tapi ia juga tidak mau membuat Desi jadi malu jadi ia hanya bisa tersenyum dan menahan tawanya saja.


Beberapa saat kemudian,saat makanan mereka sudah hampir habis,Desi memberani kan diri untuk bertanya tentang yang membuat ia masih di hantui rasa penasaran dan rasa khawatirnya dari tadi.


"Sayang,apa kau sebelumnya sudah mempunyai kekasih?" tanya Desi dengan wajah khawatirnya sambil menatap wajah kagetnya Jo.


"Uhuk uhuk uhuk" Jo langsung terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk pelan dadanya karena tersedak saat mendengar pertanyaan dari Desi.


Ia baru teringat kalau sebelum ia datang ke sini,Di Paris ia mempunyai seorang kekasih dan sampai sekarang kekasihnya itu masih belum ia putus kan.


"Makan yang pelan,kenapa kamu malah makan terburu-buru begitu seperti di kejar hantu saja..." oceh Desi,ia segera berdiri dari duduknya dan menyodor kan air minum ke tangannya Jo sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya Jo.


"Apa yang kamu tanya kan tadi?" tanya Jo dengan suara yang pelan setelah selesai mereda kan rasa tersedaknya barusan,ia bertanya dengan wajah khawatirnya sambil menatap Desi yang sudah duduk di hadapan nya kembali.


"Maksud ku,apa kamu sekarang sudah mempunyai pacar?" tanya Desi dengan wajah yang kembali khawatir,ia juga sebenarnya merasa takut untuk mendengar jawaban dari Jo tapi ia juga harus tahu,mau tidak mau ia pun terpaksa harus memberani kan diri untuk bertanya dan juga mendengar apa jawabannya Jo.


"Aku sudah tidak mempunyai kekasih lagi" jawab Jo dengan wajah yakinnya dan juga wajah tersenyumnya sambil menatap wajah khawatirnya Desi setelah beberapa saat terdiam.


Ia berusaha untuk tidak membuat Desi curiga,ia takut kalau sampai Desi mengetahui kalau ia mempunyai kekasih yang belum ia putus kan.Ia juga takut kalau Desi tahu,Desi akan langsung meninggal kan dirinya.


Karena terlalu sibuk dengan Desi,ia sampai melupa kan kekasih yang hanya baru ia jalin untuk 2 minggu saja.


"Benar kah?" tanya Desi dengan wajah yang tersenyum senang.


"Tentu saja benar,sayang" jawab Jo dengan wajah tersenyumnya,sepertinya tentang kekasihnya nanti saja ia urus,ia akan meminta bantuan dari asistennya saja nanti.


"Bagus lah" ucap Desi dengan wajah yang langsung tersenyum bahagia,bearti Jo hanya miliknya sekarang.


Tentang cintanya Jo kepadanya,ia akan mencoba meyakin kan diri kalau ia mampu membuat Jo mencintai dirinya nanti,lagi pula waktu yang ia janji kan untuk menakluk kan hatinya Jo,masih banyak jadi ia tidak perlu begitu khawatir.


"Iya,ya sudah,cepat selesai kan makan mu" ucap Jo dengan wajah yang tersenyum lega karena Desi tidak menyadari kebohongannya.


"Iya" Jawab Desi dengan nada senangnya sambil kembali melanjut kan makannya kembali.


Setelah mereka berdua selesai makan,mereka pun langsung keluar dari restoran tersebut dan masuk ke dalam mobil lalu Jo segera melajukan nya ke arah yang berlawanan dari arah ke kantornya.


"Bukan kah,kita harus ke kantor dulu?" tanya Desi dengan wajah herannya sambil menatap wajah tenangnya Jo,tapi Desi tidak mengetahui kalau wajah tenangnya Jo ada sesuatu yang tidak ia ketahui di dalamnya.


"Kita tidak perlu ke kantor lagi,kita langsung ke Apartemen ku saja.Perkerjaan ku hanya tinggal sedikit,jadi besok saja baru aku kerja kan" jawab Jo sambil menatap Desi sebentar lalu kembali fokus ke jalan lagi.Ia masih mengkhawatir kan sikap beda Desi tadi,mungkin saja Desi butuh istirahat atau pertanyaan Desi tadi berkaitan dengan sikap bedanya Desi tadi.


Jo tersenyum senang,saat memikir kan kalau dugaan terakhirnya itu benar adanya,bearti Desi juga takut kehilangan dirinya.


"Tapi,kenapa kita harus ke Apartemen mu?" tanya Desi,ia sampai melupakan perkataan Jo tadi pagi karena terlalu memikir kan tentang kekasihnya Jo.

__ADS_1


Ia bahkan tidak menyadari kalau orang-orang dan pelayan di dalam restoran tadi,menatap ke arah dirinya sambil tersenyum karena melihat bercak-bercak kebiruan yang hampir menghitam di sekeliling lehernya.


"Lihat saja ke leher mu" jawab Jo dengan wajah yang tersenyum lebar sambil menatap sekilas wajah bingungnya Desi.


"Jonathan" pekik Desi dengan wajah dan nada kesalnya,saat ia sudah mengarah kan cermin yang tergantung di antara dirinya dan Jo,ke arah lehernya.


Ia baru mengingat perkataan Jo pagi tadi,ia juga baru menyadari kebodohannya ketika makan di restoran tadi.


Sedang kan Jo sedikit terperanjat kaget karena mendengar suara pekikan Desi yang rerdengar tinggi,pekikan yang mampu membuat gendang telinganya terkejut dan juga bergetar.


"Kenapa sayang?" tanya Jo sambil tertawa kecil.


"Kenapa?Kamu masih bisa bertanya kenapa setelah apa yang sudah kamu lakukan dan juga kamu bahkan membiar kan aku malu di depan banyak orang" ucap Desi dengan menggerutu kesal,apa lagi saat melihat tawa kecilnya Jo,hingga membuat ia semakin kesal saja.


"Apa kamu tidak tahu sayang,kalau ada orang yang melihat tanda yang ada di leher kamu itu.Mereka semua pasti akan mengagumi diriku,karena itu adalah simbol kegagahan ku untuk mu" jawab Jo dengan wajah yang tersenyum menggoda ke arah Desi.


"Jonathan" panggil Desi dengan nada yang semakin kesal,ia memanggil sambil memukul dengan kuat lengannya Jo beberapa kali.


"Auchk auchk, sakit sayang.Sudah sudah,aku mintak maaf ya " mohon Jo sambil menangkis pukulannya Desi dengan sebelah tangannya karena sebelahnya lagi ia guna kan untuk menyetir.


Tapi senyum lebar di wajahnya tidak berkurang sama sekali,karena ia merasa gemas bercampur lucu saat melihat wajah malu dan kesalnya Desi.


"Dasar pria tidak tahu malu" gerutu Desi lagi dengan wajah yang masih terlihat kesal setelah selesai memukul lengannya Jo.Ia menatap ke arah depan,karena malas mau melihat wajah Jo yang tersenyum,terlihat seperti sedang mengejek dirinya saja.


"Aku mintak maaf ya,aku tadi mau bilang pada mu,hanya saja saat aku melihat mu begitu kelaparan tadi,jadi aku...." ucapan Jo yang sengaja ingin membuat Desi semakin kesal pun,langsung terhenti oleh suara tinggi Desi.


"Jonathan" panggil Desi dengan nada tingginya sambil menatap Jo dan bersiap-siap ingin memukul Jo lagi,wajahnya sudah menjadi kesal level tinggi hingga membuat bibirnya maju terlalu ke depan karena ia memberengut kesal.


"Cup " tanpa bersuara lagi,Jo langsung mengecup sekilas bibir kenyalnya Desi yang sedang mendekat ke arah wajahnya karena mau memukul dirinya kembali,hingga membuat kedua tangannya Desi melemah ke bawah karena kaget dan wajah yang mulai memerah.


"Dasar "umpat Desi dengan wajah malunya karena di kecup tiba-tiba oleh Jo tanpa peringatan,ia segera kembali mengangkat kedua tangannya dan bersiap-siap ingin memukul lengannya Jo.


"Oke oke,aku akan diam.Kita akan kecelakaan kalau kamu terus memukul ku" ucap Jo sambil mengangkat sebelah tangannya,untuk menghadang kedua tangannya Desi yang sudah hampir mengenai lengannya.


"Dasar pria menyebal kan" ucap Desi dengan nada kesalnya sambil menarik kembali kedua tangannya saat ia memikir kan perkataan Jo barusan,terdengar masuk akal juga hingga membuat dirinya mengurung kan niatnya untuk memukuli Jo lagi.


Jo tersenyum puas saat melihat Desi yang mengalah,ia kembali fokus ke depan.ia juga benar-benar diam sepanjang jalan menuju ke apartemennya karena tidak ingin membuat Desi kembali kesal karena ulahnya.


Sedang akan Desi tetap dengan wajah kesalnya,tapi di dalam wajah kesalnya ia tersenyum tipis yang tidak di sadari oleh Jo.


Senyum tipisnya itu karena ia memikir kan perkataan Jo yang mengatakan tentang simbol kegagahannya Jo tadi,tapi kalau di pikir-pikir pria yang ia cintai olehnya itu memang sangat gagah sih.


Akhirnya selama perjalanan mereka pun,mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.


…………


(Pemberitahuan)


Mulai besok,author hanya akan upload 1 bab perhari ya.Karena anak terkecil author lagi sibuk belajar berjalan jadi menulisnya tidak bisa begitu fokus.

__ADS_1


Moga kalian tetap bersabar menanti bab-bab selanjutnya dari author ya,mohon maaf dan terima kasih.🙏😘😘😘


__ADS_2