Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 172


__ADS_3

'Sepertinya,bukan kedua mataku saja yang bermasalah.Tapi hati dan jantungku juga sedang bermasalah saat ini' batin Ryan.


"Baiklah,lebih baik sekarang kamu istirahat saja.Aku akan pergi terlebih dahulu,karena sebentar lagi,jadwal praktekku" ucap Ryan,sambil membaringkan tubuhnya pasien wanita tersebut.Ia juga menarik selimut untuk menutup tubuhnya pasien wanita tersebut sampai sebatas dada,hingga membuat pasien wanita tersebut langsung tersenyum senang atas perlakuan manisnya Sang Dokter.


Ia memang harus mengoperasi salah satu pasien lagi siang ini,jadi ia harus segera menetralkan detakan jantungnya yang masih belum normal itu terlebih dahulu.Ia juga harus segera makan siang dan bersiap-siap.


Bahkan selama beberapa hari ini,ia hanya sempat 2 kali saja makan siang bersama padien wanita sltersebut karena waktunya yang kadang tidak bisa pas.


Seperti siang ini,ia lebih memilih untuk makan siang sendiri supaya bisa lebih cepat.Jika ia makan bersama pasien wanita tersebut,waktunya terlalu pendek,karena sudah di pastikan ia akan terus mendengar oceh-ocehan tidak jelas dari pasien wanita tersebut yang mampu memperlambat waktunya.


"Tunggu dulu" ucap pasien wanita tersebut,dengan wajah yang terus tersenyum senang,sambil mengenggam lengannya Sang Dokter yang baru saja ingin pergi dari sana.


"Apa kamu memerlukan sesuatu lagi?" tanya Ryan,sambil menatap wajah tersenyumnya pasien wanita tersebut,dengan wajah penasarannya.


"Tidak ada,aku hanya menginginkan No HPmu saja" jawab pasien wanita tersebut,sambil terus menatap wajah tampannya Sang Dokter.


"Apa kamu keberatan untuk memberiku No HPmu?" tanya pasien wanita tersebut,dengan wajah yang mulai kesal karena Sang Dokter hanya diam saja,sambil melepaskan genggaman tangannya di lengannya Sang Dokter.


"Tidak juga.Hanya saja,kalau kamu menginginkan No HPku,kamu tidak boleh mengangguku lagi.Dan kamu juga harus segera pulang,jangan berpura-pura frustasi lagi di depanku" ucap Ryan,dengan nada kesalnya.Saat ia mengingat kembali, bagaimana 6 hari ke belakang ini,pasien wanita tersebut mengajaknya menjadi gila bersama-sama secara tidak langsung.


Tapi hari ini,ia bisa melihat dengan jelas,sikap aslinya pasien wanita tersebut.Jadi,tidak ada alasan lagi untuk pasien wanita tersebut merepotkan dirinya dengan hal-hal yang tidak perlu.


"Baik,aku akan pulang sore ini juga.Tapi Dokter harus memberiku No HPmu terlebih dahulu" ucap pasien wanita tersebut,dengan wajah yang di penuhi keyakinan.Lagi pula,ia juga sudah ketahuan.Tapi kalau sampai Sang Dokter tetap tidak mau memberinya No HP,ia pasti akan mengancam dengan hal lain lagi.


"Baiklah.Awas saja,kalau kamu tidak melakukan apa yang sudah kamu katakan barusan..." ucap Ryan,dengan wajah pasrahnya yang bercampur kesal,sambil mengeluarkan dompetnya.Lalu ia segera mengambil kartu namanya yang memang sudah tertera No HPnya dan menyodorkan ke arah pasien wanita tersebut dengan gerakan malas.


Pasien wanita tersebut langsung mengambilnya dengan wajah yang kembali tersenyum senang,lalu ia segera menyimpannya di dalam tas selempangnya.


"Tunggu dulu" ucap pasien wanita tersebut lagi,dengan cepat,saat ia melihat Sang Dokter yang sudah berbalik badan.


"Apa lagi?" tanya Ryan,dengan nada yang semakin kesal karena lagi-lagi pasien wanita tersebut kembali mencegah langkah kakinya.Ia bertanya,sambil kembali berbalik badan ke arah pasien wanita tersebut.


"Aku menginginkan No HPmu yang satunya lagi" jawab pasien wanita tersebut,sambil menyodorkan tangan kosongnya ke arah Sang Dokter,supaya Sang Dokter segera memberinya No HP yang satunya lagi.


"Aku hanya memiliki yang itu saja" ucap Ryan,dengan wajah herannya,dari mana pasien wanita tersebut mengetahui kalau dirinya memiliki No HP pribadi yang satu lagi.


Di benaknya hanya ada 5 perawat yang selalu berada di sampingnya itu,karena hanya 5 perawat tersebut yang tahu tentang No HPnya.Dan 5 perawat tersebut juga yang juga kadang-kadang selalu berada di sekitar pasien wanita tersebut selama seminggu ke belakang ini.


"Jangan membohongiku.Kalau kamu tidak mau memberiku,aku akan terus merepotkanmu di rumah sakit ini" ancam pasien wanita tersebut dengan wajah seriusnya,sambil terus merentangkan telapak tangannya ke arah Ryan.


"Dasar wanita ini" ucap Ryan,dengan nada kesalnya,sambil mengeluarkan HP pribadi miliknya.


Padahal tadi ia sengaja memberi No HP yang ada di kartunya,karena kalau No HP yang ada di kartu itu ia hanya memegangnya saat ia berada di rumah sakit saja dan kalau ia berada di Apartemennya,ia akan mematikannya ketika sedang hari libur.


Ia jadi bingung harus memberi umpatan apa pada pasien wanita tersebut.Wanita gila? bukan.wanita penggoda? juga bukan.Ntahlah,ia sudah tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu,karena ia sedang mengejar waktu saat ini.


"Ini,cepat ketik No HPmu di sana" ucap Ryan,sambil mendekatkan HP miliknya yang sudah ia hidupkan itu ke arah pasien wanita tersebut.Ia sudah malas mau berdebat lagi dengan pasien wanita tersebut.


Pasien wanita tersebutpun segera mengetik No HPnya di layar HP miliknya Sang Dokter,dengan penuh semangat dan mengabaikan wajah kesalnya Sang Dokter.


Ryan segera menelepon No HP tersebut,beberapa detik kemudian,terdengar suara nada dering di HP miliknya pasien wanita tersebut.


"Bagini baru benar" ucap pasien wanita tersebut,sambil menatap layar HP miliknya yang sudah berada di telapak tangannya.Karena terlalu semangat,tanpa menunggu lagi ia sudah mengeluarkan HP miliknya dari dalam tasnya,setelah selesai mengetik No HP miliknya tadi.

__ADS_1


"Dasar" ucap Ryan,dengan nada kesalnya,sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan,saat ia melihat tingkah anak-anaknya pasien wanita tersebut.


Kemudian Ryan langsung mematikan HP miliknya dan berbalik badan,lalu ia segera berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah lebarnya,karena ia harus segera mengisi perut kosongnya dan bersiap-siap untuk melaksanakan jadwal prakteknya yang sebentar lagi.


Gara-gara meladeni tingkah-tingkah lucu dan anehnya pasien wanita tersebut,ia harus menjadi terburu-buru dan juga waktu istirahatnya menjadi terus berkurang.


'Mulai sekarang aku tidak akan merepotkanmu di rumah sakit ini lagi,tapi aku akan merepotkanmu melalui No HP ini" batin pasien wanita tersebut sambil menatap punggung lebarnya Sang Dokter yang mulai menghilang di balik pintu ruangan tersebut,dengan wajah yang terus rersenyum senang,karena ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Kemudian pasien wanita tersebut segera memejamkan kedua matanya tanpa menghilangkan senyum senang yang bercampur bahagia di wajah cantiknya.


Lalu iapun mulai terlelap,karena memang sedang merasa ngantuk dan juga lelah karena sibuk berdebat dengan Sang Dokter tadi.


Sedangkan Ryan yang sedang berjalan ke arah ruangannya itu,terus tersenyum sepanjang ia berjalan tadi,sambil menyentuh bibirnya dan sebelah tangan yang juga sedang memegang dadanya yang masih terasa berdebar.


Ia yang tadi ingin menanyakan tentang alasan dari pasien wanita tersebut berniat ingin bunuh diri,langsung ia simpankan kembali untuk ia tanyakan lain kali saja.Karena saat ini,ia sedang terburu-buru,jadi ia tidak cukup waktu lagi untuk berbicara banyak sama pasien wanita tersebut.


***


Di Perusahaan JS.


1 minggu lagi, resepsi pernikahan 2 sahabatnya yaitu Ashley dan Agatha akan segera di gelar,mungkin saja akan di gelar dengan sangat meriah.


Sedangkan hubungan dirinya dengan Jo,masih saja berjalan di tempat.Itupun juga,status hubungan mereka tidak jelas.


Ntah sebagai sepasang kekasih atau sebagai pemuas nafsu saja,karena sampai saat ini,Jo hanya terus mengajak dirinya bercinta tapi Jo sama sekali belum pernah mengatakan cinta padanya.


Seperti sekarang ini.Baru saja selesai sarapan,Jo sudah sibuk menggempur tubuh polosnya di dalam ruangan pribadinya Jo sendiri.


Di dalam ruangan pribadinya Jonathan.


"Sa sayang,le lebih cepat lagi" ucap Jo,dengan napas tersendatnya,sambil meremas kedua gunung kembarnya Desi yang ada di hadapannya.


"Sa sayang,a a aku sudah lelah" ucap Desi,dengan napas yang tersendat juga,sambil menurun naikkan bokong berserta tubuhnya.


Mereka berdua sudah bercinta selama 1 jam 10 menit,tapi miliknya Desi sudah melewati pelepasan berkali-kali.Sedangkan Jo,masih juga belum mengeluarkan semburan panasnya.


Bahkan Desi sudah di buat sampai kelelahan oleh Jo,karena posisi mereka berdua yang sering berubah.Seperti saat ini,posisi Desi yang sedang naik turun di atas tubuh polosnya Jo,hingga membuat kedua lututnya Desi menjadi pegal karena telah bergoyang terlalu lama.


"Ka kalau begitu,bi biar aku yang berada di atasmu,sa sayang" ucap jo,sambil menarik tengkuk lehernya Desi dan ******** bibirnya Desi dengan penuh perasaan,sambil membalikkan tubuh polosnya Desi tanpa melepaskan penyatuan mereka,hingga mereka berdua sudah berpindah posisi saat ini.


Setelah Jo berhasil mengambil posisi di atas tubuh polosnya Desi,ia segera memaju mundurkan tubuhnya,dengan gerakan cepat hingga akhirnya iapun berhasil mengeluarkan semburan panasnya ke dalam miliknya Desi dan tubuh polosnya langsung menindih tubuh polosnya Desi.


"Sa sayang,menyingkirlah dari atas tubuhku.Kamu itu,sangat berat" ucap Desi,dengan nada kesal dan suara putus-putusnya karena masih merasa lelah.Apa lagi,ia juga merasa sangat tidak nyaman karena benda tumpul panjang miliknya Jo yang masih bersarang di dalam miliknya.


"Hm" jawab Jo,dengan singkat tanpa berniat untuk menjauhkan tubuh polosnya dari atas tubuh polosnya Desi.Ia malah sibuk memejamkan kedua matanya,karena merasa nyaman dengan kepalanya yang berada tepat di atas 2 gunung kembarnya Desi yang kenyal itu.


"Jonathan..." panggil Desi,dengan nada tingginya dan wajah kesalnya.


"Sayang,kamu ini tega sekali" ucap Jo,dengan nada kesalnya,saat ia mendengar nada tingginya Desi,sambil menjauhkan kepala,tubuh polos berserta benda miliknya dari miliknya Desi.Padahal ia sudah merasa sangat nyaman tadi,hingga membuat dirinya seperti ingin terlelap di atas 2 gunung kembarnya Desi tadi.


"Dasar pria mesum" umpat Desi,dengan nada yang semakin kesal,saat ia melihat Jo yang sedang sibuk memeluknya.


"Apa kamu tidak lengket?" tanya Desi,dengan nada herannya.Padahal tubuh mereka berdua di penuhi oleh keringat,tapi Jo malah sibuk memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Tidak" jawab Jo,dengan singkat,dengan kedua mata yang kembali terpejam,sambil terus menelusup ke lekukan lehernya Desi.


Ntah kenapa,ia seperti merasakan kalau dirinya akan terpisah dengan Desi untuk waktu yang tidak ia ketahui,ntah sebentar ataupun lama,hingga membuat dirinya tidak ingin jauh-jauh dari Desi saat ini.


"Jonathan,kamu tidak merasa lengket,tapi aku merasa sangat lengket.Cepat menjauh dari tubuhku,aku ingin membersihkan diri dulu" ucap Desi,sambil berusaha mendorong tubuhnya Jo dari tubuhnya.Tubuh polosnya benar-benar sangat lengket karena pergumulan panas yang butuh tenaga itu,hingga membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman.


"Baiklah,mari kita membersihkan diri bersama-sama saja" ucap Jo,dengan wajah yang tersenyum.Kemudian ia langsung membuka kedua matanya dan bangun dari berbaringnya,lalu ia segera turun dari atas kasur dan mengendong Desi tanpa membungkus lagi benda miliknya terlebih dahulu.


Sedangkan Desi,ia segera merangkul lehernya Jo dan menyembunyikan wajah malunya di balik dada kekarnya Jo.Ia memang sudah terbiasa dengan sikap tiba-tiba dan tidak tahu malunya Jo barusan,tapi tetap saja ia masih merasa malu.


"Bagaimana kalau nanti aku hamil?" tanya Desi,dengan nada seriusnya,sambil sedikit mendongakkan kepalanya supaya bisa menatap wajahnya Jo.


Beberapa hari yang lalu,Desi baru saja mengetahui melalui penelusurannya di geogle,kalau Jo telah membohonginya tentang cairan kental yang Jo katakan kalau Jo telah mengeluarkannya di luar.


Apa lagi,ia melihat dengan jelas kalau tadi Jo sama sekali tidak membuang di luar, cairan kental yang sama sekali belum pernah ia lihat itu.


Sedangkan Jo,langsung menghentikan langkah kakinya yang sedang melangkah ke arah kamar mandi.


"Bukankah sudah aku bilang,kalau kamu itu tidak akan hamil,karena......" ucapan Jo,langsung terhenti karena di sela oleh Desi dengan cepat.


"Kamu tidak perlu membohongiku lagi.Aku sudah tahu, kalau kamu itu tidak benar-benar membuangnya di luar" sela Desi,dengan cepat,sambil terus menatap kesal ke arah wajah kagetnya Jo.


Beberapa hari yang lalu,saat ia sudah mengetahuinya,ia hanya diam saja.Tapi sepertinya ia memang harus mempertanyakan tentang kebohongannya Jo,karena hal itu berhubungan dengan kemungkinan dirinya akan hamil nanti.


Bisa-bisa nanti ia melahirkan anak tanpa suami,karena Jo yang tidak mau menikahinya.


"Dari mana kamu bisa tahu?" tanya Jo,dengan wajah yang tersenyum,setelah rasa kaget yang hanya beberapa detik tadi sudah menghilang.


"Tentu saja,aku mencari tahunya di geogle.Apa perlu,aku bertanya langsung pada Ashley atau sahabatmu Tuan Hery itu?" jawab Desi,sekalian bertanya,tanpa mengalihkan tatapan kesalnya dari wajahnya Jo.


"Tidak perlu" ucap Jo,dengan cepat dan nada kesalnya.


"Kalau begitu,coba kamu jelaskan kenapa kamu membohongiku? Bagaimana kalau aku menjadi hamil nanti? Apa kamu akan mau menikahiku nanti,kalau aku benar-benar hamil?" tanya Desi,dengan wajah yang harap-harap cemas karena sedang menantikan jawaban yang ia inginkan dari Jo.


Sedangkan Jo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan,saat ia mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi dari Desi.


"Kenapa kamu malah menjadi cerewet sekarang?" tanya Jo,dengan wajah yang tersenyum,sambil melanjutkan langkahnya untuk ke kamar mandi.


"Bukan urusanmu.Sekarang jawab saja pertanyaanku tadi..." jawab Desi,dengan nada seriusnya.Setelah baru saja selesai mendengus kesal,saat ia mendengar kata cerewet dari Jo barusan.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu sekarang,tapi aku akan menjawabnya kalau kamu sudah benar-benar hamil nanti" jawab Jo,dengan nada santainya,sambil mendudukkan Desi di atas closet.


"Apa katamu barusan? Apa kamu sedang ingin mempermainkan aku?" tanya Desi,dengan nada emosi yang bercampur kesal,sambil menutup kedua gunung kembarnya dengan menggunakan kedua tangannya.


Padahal,tadi ia sangat berharap kalau Jo akan mengatakan akan menikahi dirinya.Tapi ternyata,jawabannya Jo malah lebih parah dari harapannya tadi.


"Tidak.Dan sekarang kita mandi dan kamu jangan banyak bicara lagi.Atau kamu ingin kita bercinta lagi? Dan satu lagi,kamu tidak perlu menutupnya,aku langsung bisa menghapal setiap inci di dada kenyalmu itu dengan menutup mata" ucap Jo,dengan wajah yang tersenyum menggoda,sambil mengisi air ke bathtub.


"Tidak" jawab Desi,dengan cepat.Ia segera turun ke dalam bathtub,sambil terus menggerutu kesal di dalam hatinya dengan wajah malunya.Hilang sudah,wajah emosinya tadi karena takut di gempur oleh Jo lagi.


'Bercinta apanya,tadi saja aku sudah sangat kelelahan.Bisa-bisa,nanti aku tidak punya waktu untuk bisa istirahat' salah satu gerutuan Desi yang ada di dalam hatinya.


Sedangkan Jo,langsung tersenyum senang karena ia berhasil menghentikan niatnya Desi untuk banyak bertanya lagi.Jika tidak,ia pasti akan kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Desi yang belum bisa ia jawab sekarang.

__ADS_1


__ADS_2