
(Di bandara).
Sudah 30 menit berlalu,dan selama 30 menit itu juga Sekretaris tersebut dan beberapa anak buahnya Jo mencari keberadaannya Desi di sekitar dalam bandara tersebut.
"Tuan" panggil Sekretaris tersebut,setelah ia sudah berada di dekat Tuannya yang sedang duduk bersandar sambil memejamkan kedua matanya karena sedang berusaha menetralkan emosi,khawatir,dan juga rasa kesalnya.
"Katakan..."perintah jo,dengan suara lelahnya,sambil membuka kedua matanya dan duduk dengan tegak.
"Tapi Tuan,apa tidak sebaiknya Tuan makan terlebih dahulu?" tanya Sekretaris tersebut,dengan nada hati-hati,sambil menatap Tuannya yang terlihat agak berantakan.Rambut dan kemeja kerja yang sudah tidak rapi,bahkan Jasnya ntah sudah ia lempar kemana.Dan juga,wajah tidak bersemangat Tuannya yang sudah bercampur dengan rasa lelah.
"Tidak.Cepat katakan..." perintah Jo lagi,dengan nada tegasnya,ia bahkan tidak memiliki selera lagi untuk makan siang.
Sedangkan Sekretaris tersebut,hanya mampu menahan kesal.Padahal,saat ini sudah jam 2 siang,apa Tuannya sama sekali tidak merasa lapar.Tapi kalau iyapun Tuannya tidak merasa lapar,setidaknya Tuannya akan baik hati dengan menawarkan padanya untuk makan duluan,karena dari tadi ia juga belum sempat makan siang gara-gara sibuk mengurus itu ini.
"Ini kartu no HP miliknya nona Desi Tuan,aku menemukannya di luar sana,tepat di jalan keluar sana" jawab Sekretaris tersebut,dengan wajah seriusnya,sambil menyodor kartu no HP miliknya Desi yang ia temui barusan ke arah Tuannya.
Sedangkan Jo,langsung mengambilnya dengan wajah herannya yang bercampur khawatir.Apakah wanitanya sedang sembunyi darinya atau di culik sama seseorang.Kenapa kartu milik wanitanya bisa tergeletak di luar sana,tanpa HP milik wanitanya.
"Dan tadi ada seorang saksi mata yang mengatakan kalau dia melihat nona Desi mengikuti seorang pria dengan suka rela,tanpa di paksa sama sekali" jawab Sekretaris tersebut,dengan jujur.
Karena memang tadi ketika ia mencari posisi titik GPS terakhir miliknya nona Desi,ada pria muda yang menghampirinya dan mereka berdua bertanya jawab hingga pria muda tersebut mengatakan semua itu,saat pria muda tersebut melihat foto yang di tunjukkan olehnya tadi.
Dan itu semua juga info baik untuk Sekretaris tersebut,karena bisa ia jadikan untuk laporan yang akan ia berikan pada Tuannya,supaya Tuannya tidak menyuruhnya untuk berkerja lebih keras lagi.Karena orang yang ingin mereka cari,tidak akan mereka temukan keecuali orang tersebut ingin keluar sendiri dari persembunyian tidak langsungnya itu.
"CCTV?" tanya Jo,dengan singkat dan ekspresi wajah yang mulai putus asa dan kecewa.
Apakah wanitanya sedang mencari pengganti barunya,tapi tidak mungkin secepat itu.Atau apakah wanitanya memang selingkuh di belakangnya,makanya Desi tidak mau memperjuangkan dirinya sama sekali dan pergi begitu saja.
Tapi saat ia mengingat kembali kalau betapa cintanya Desi pada dirinya,ia segera membuang pikiran negatifnya barusan.
"CCTV sepertinya sudah di sentuh oleh orang yang ahli,Tuan.Karena di CCTV tersebut,di dalam bandara ataupun di luar bandara,sama sekali tidak ada jejak nona Desi ataupun pria tersebut" jawab Sekretaris tersebut,saat ia mengingat kembali CCTV di sekitar bandara yang sudah ia periksa tadi.
Ia jadi terkagum-kagum dengan cara kerja Tuan Hery,karena gerakannya sangat cepat dan juga keahlian mereka semua sudah tidak perlu di ragukan lagi.
"Apa yang kau katakan?" tanya Jo,dengan wajah kagetnya,sambil berdiri dari duduknya tadi.
Pikirannya sudah mulai di penuhi hal-hal yang negatif,di tambah lagi dengan laporan buruk yang di sampaikan oleh Sekretarisnya tersebut,hingga membuat dirinya mulai frustasi.
"Jejak nona Desi dan pria itu,sama sekali tidak tertinggal,Tuan.Mereka berdua menghilang begitu saja" jawab Sekretaris tersebut,dengan wajah yang mulai gugup,saat ia melihat wajah kaget Tuannya yang sudah berubah menjadi emosi dan juga merasa sangat kecewa dengan tindakan Desi yang seperti ingin sembunyi dari dirinya.
"Apa saja yang sudah kau lakukan dari tadi? apa hanya ini saja kemampuanmu?" tanya Jo,dengan nada marahnya,sambil mengangkat dan melempar meja yang telah di sediakan oleh anak buahnya tadi untuk Tuannya makan siang.
"Brak brak..." terdengar 2 kali suara benda yang telah terlempar jauh dari tempatnya,ternyata bukan hanya meja saja yang di lempar oleh jo,tapi kursi yang ia duduki tadi juga di lempar olehnya dengan kekuatan penuh.
"Setelah membawa wanita j*l*ng itu kepadaku.Sekarang kau malah tidak mampu menemukan calon istriku.Apa aku harus membunuhmu saja ?" tanya Jo,dengan nada marah dan wajah kesalnya.Karena mengingat kembali Bella yang tiba-tiba saja datang dan masuk ke dalam ruang kerjanya akibat ulah Sekretarisnya tersebut.
Sekretaris tersebut hanya mampu berdiam diri saja,dengan wajah gugupnya yang bercampur dengan rasa bersalah.Sedangkan anak buah yang lainnya,memberanikan diri untuk mengambil kursi dan meja baru yang ada di sudut sana untuk Tuannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu,kau harus mencari calon istriku hingga dapat...Jika kau tidak bisa menemukannya,jangan harap kepala kau bisa utuh seperti sekarang ini lagi" perintah Jo,sambil duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh salah satu anak buahnya.
Karena di dalam penerbangan,Tidak ada nama Desi di sana dan melihat kartunya Desi yang Sekretarisnya temui di luar sana,jadi ia yakin kalau calon istrinya pasti masih berada di sekitar sini atau di sekitar kota ini.
"Ba baik Tuan" jawab sekretaris tersebut,dengan nada gugupnya karena merasa takut dan juga bingung.
Ia harus mencari kemana,sedangkan wanita Tuannya sedang berada di tempat yang aman dan juga pengawalan yang ketat,bahkan dirinya dan yang lainnyapun tidak akan mampu untuk menembusnya.
"Kriuk kriuk kriuk" terdengar suara lapar di dperutnya Jo dan Sekretaris tersebut secara besamaan,hingga mampu membuat Sekretaris tersebut merasa malu karena suara lapar di perutnya yang lebih kencang dari milik Tuannya.
Sedangkan Jo,ia sama sekali sudah tidak bisa merasakan malu karena masih dalam mode emosi.Bahkan ia masih tetap menampilkan wajah datar dan ekspresi marah yang sudah sedikit berkurang karena merasa bersalah terhadap Sekretarisnya yang sudah kelaparan,gara-gara mengurus masalahnya.
"Pergilah istirahat sebentar" perintah Jo yang berarti menyuruh Sekretarisnya tersebut untuk pergi makan siang terlebih dahulu.
"Ta tapi, apa Tuan tidak makan siang terlebih dahulu" ucap Sekretaris tersebut,dengan perhatian tulusnya,sambil memberi kode pada anak buah yang lainnya supaya membawa makanan siang yang memang sudah di sediakan untuk Tuannya dari tadi.
Sedangkan Jo,ia hanya diam saja dan mulai menyentuh makan siang yang baru saja di sediakan oleh anak buahnya.
Di sini anak buahnya memang hanya beberapa saja,yang lainnya berada di Paris dengan tugasnya masing-masing.Karena di sini,ia masih baru dan beberapa orang anak buahnya saja sudah cukup untuk membantunya dalam urusan perkerjaannya.Lagi pula,kalaupun nanti ia kesulitan ,ia masih bisa meminta pertolongan sama keluarga Kusuma.
"Apa kau tidak ingin makan?" tanya Jo pada Sekretarisnya,dengan nada kesalnya,sambil menyendok makan siangnya dengan tidak bersemangat.
"Baik Tuan" jawab Sekretaris tersebut,dengan cepat,sambil duduk di kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya Jo duduk.
Ia juga memberi kode pada anak buah yang lain supaya ikut makan siang juga,karena memang mereka semua pasti akan menunggu Tuan mereka makan terlebih dahulu,jika Tuan mereka sedang dalam kondisi seperti ini.
Ia menyendok makanannya ke mulut sambil melirik jam tangannya,pantasan saja perutnya terasa sangat lapar saat ini,ternyata sudah jam 2 lebih.
Biasanya ia juga pernah beberapa kali seperti ini karena masalah tentang bisnis kecil senjatanya dan musuh-musuhnya.Tapi walaupun terlambat makan,ketika di peringatin oleh Asisten atau Sekretarisnya,ia akan segera makan dan cepat menghabiskannya supaya bisa menyelesaikan masalahnya.
Tapi kali ini berbeda,ia sama sekali tidak memiliki nafsu untuk makan siang lagi.Hanya saja ia paksa makan,supaya anak buahnya juga ikut makan.
Padahal makanan siang yang di beli oleh anak buahnya adalah makanan enak dan juga makanan kesukaannya.Terlihat Beberapa macam makanan enak di atas meja tersebut yang hanya berkurang sedikit saja,karena lidahnya Jo yang terasa hambar.
"Bagaimana dengan foto-foto dan video yang aku suruh kau periksa tadi?" tanya Jo,dengan nada tegasnya,setelah selesai berbicara ia langsung meminum segelas air dengan sekali teguk.
"I itu,foto-fotonya telah di edit oleh wanita itu,Tuan.Tapi video yang hanya berdurasi pendek itu memang video yang asli,Tuan" jawab Sekretaris tersebut,dengan agak kesulitan karena mulutnya yang masih berisi makanan yang belum sempat di kunyah.Ia juga, berbicara sambil berdiri dari duduk tenangnya tadi.
Jadi,iapun harus berbicara sambil mengunyah dan menatap sisa makan siang Tuannya yang masih tersisa banyak itu.
"Apa isi video itu?" tanya Jo,dengan wajah penasarannya,sambil memijit pangkal hidungnya karena merasa pusing dan bingung harus mencari wanitanya kemana lagi.
Ia bahkan sama sekali tidak berniat ingin melihat isi video tersebut,karena ia berpikir kalau wanitanya saja tidak mau mendengarkan penjelasanya,makanya ia jadi malas mau melihat video tersebut.
"Videonya menampilkan Tuan dan wanita itu yang sedang berdiri sambil berc**m*n di dalam kantor Tuan yang ada di Paris,dengan pakaian kalian yang masih utuh di tubuh" jawab Sekretaris tersebut,secara detail,sambil menatap makan siangnya yang baru saja terhenti dan masih tersisa sedikit.
"****" umpat Jo,dengan nada emosinya,sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Dasar wanita j*l*ng,ternyata wanita j*l*ng itu licik juga" umpat Jo lagi,saat ia memikirkan bagaimana liciknya wanita tersebut ketika memvideokan mereka saat sedang berc**m*n hari itu.Ia langsung merutuki dirinya sendiri,kenapa ia bisa sampai tidak menyadari semua itu.
Padahal itu hanya berc**m*n untuk beberapa menit saja,mungkin hanya 2 menit saja,bahkan wanita tersebut yang memulainya duluan.Dirinya yang memang sudah terbiasa berc**m*n,tentu saja akan menerimanya dengan senang hati.
Tapi dirinya benar-benar tidak menyangka kalau ia bisa bertemu dan jatuh cinta kepada Desi di sini,dan c**m*n yang ia anggap sudah biasa itu malah menjadi bumerang bagi dirinya.
'Siapa yang suruh kau suka bergonta-ganti wanita,Tuan.Sekarang baru tahu rasanya,bagaimana di tinggalkan oleh wanita' batin Sekretaris tersebut,karena baru kali ini Tuannya mengejar wanita yang malah ingin sembunyi dari Tuannya.
Ia membatin,sambil terus menatap wajah emosi Tuannya yang sedang menatap lurus ke depan.
'Dan calon istriku,sekarang ntah ada di mana? Dan juga,siapa pria itu? ' batin Jo,dengan wajah kesalnya,sambil berdiri dari duduk gelisahnya.
Lalu ia langsung berjalan ke arah keluar bandara sambil beberapa kali menggusar rambutnya dengan kasar,tanpa mengatakan apapun lagi sama Sekretarisnya.
"Tuan mau kemana?" tanya Sekretaris tersebut,dengan wajah penasarannya,sambil mulai melangkah untuk mengejar Tuannya yang sudah mulai menjauh dari tempatnya berdiri.
"Kau tetap di sana,lanjutkan makan siangmu.Setelah itu,segera lakukan pencarian calon istriku di seluruh kota ini,sampai dapat" perintah Jo,tanpa menghentikan langkahnya dan juga tanpa menoleh ke arah belakang sedikitpun.
Ia berbicara dengan nada tegasnya dan juga tinggi, supaya Sekretarisnya yang berada tidak jauh darinya itu bisa mendengar perintahnya dengan jelas.
Ia harus segera mencari keberadaan Desi.Tanpa Desi di sisinya,dirinya bagaikan mayat hidup yang tidak mempunyai jiwa.
Ia akan menemui kedua orang tuanya Desi terlebih dahulu,karena ketika ia melihat titik GPSnya Desi di HP miliknya tadi,ia melihat kalau Desi sempat pulang ke rumahnya terlebih dahulu,setelah itu baru ke bandara.
Sedangkan Sekretarisnya tersebut,langsung menghentikan langkahnya yang baru saja mau masuk langkah kedua.
Ia pikir,mungkin ia bisa beristirahat untuk sejenak.Tapi sepertinya ia dan yang lainnya harus berpura-pura sibuk mencari supaya Tuan mereka tidak merasa curiga pada mereka semua.
Kemudian ia duduk kembali dan menghela napas dengan berat,lalu ia segera melanjutkan makan siangnya tadi dengan wajah kesalnya.
………
Beda dengan Jo yang sudah mulai frustasi karena mencari calon istrinya yang ntah ada di mana,di tempat lain malah seperti ada acara pertemuan reuni para orang tua.
Mobil miliknya Mark yang sedang membawa Desi,baru saja sampai di halaman depan Mansionnya Daddy.
"Bukankah ini Mansion mertuanya Ashley? Kenapa aku malah di bawa ke sini? Apakah Ashley berada di dalam juga?" tanya Desi,dengan wajah bingungnya.
Bukankah pria ini mengatakan kalau sahabatnya sedang dalam bahaya,seharusnya pria ini membawanya ke rumah sakit atau ke tempat yang tidak terduga.Tapi kenapa malah di bawa ke Mansion Daddynya Tuan Hery,kalau Ashley ada di dalam Mansion,bukankah itu berarti Ashley baik-baik saja.
"Nona,lebih baik kamu masuk saja ke dalam.Kau akan tahu sendiri nanti" jawab Mark,dengan nada malasnya,saat ia mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi dari wanita tersebut,lalu ia segera keluar dari dalam mobilnya.
"Tapi Tuan..." belum sempat Desi protes,pria yang tidak ia kenal itu sudah keluar dari dalam mobil.
"Nona,kau mau masuk ke dalam atau aku akan membawamu ke tempat yang lebih mengerikan dari Mansion ini?" tanya Mark,setelah ia sudah membuka pintu mobil yang ada di tempat duduknya Desi.
Ia bertanya,dengan nada kesalnya karena Desi yang tidak keluar-keluar dari tadi,Desi malah masih setia duduk di dalam mobil dengan wajah bingungnya.
__ADS_1