
Setelah jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam dan mereka juga sudah selesai membicarakan segala sesuatu tentang pernikahan dan juga resepsinya Ars bersama Agatha.
Tidak lupa juga, mereka membicarakan tentang resepsinya Hery dan Ashley yang akan di laksanakan bersama-sama dengan resepsinya Ars dan Agatha,agar kedua orang tuanya Agatha tidak akan merasa seperti orang asing karena tidak di beritahu terlebih dahulu.
Dan akhirnya,tanggal yang telah di tentukan oleh grandma dan kedua orang tuanya Agatha.Jatuh pada akhir bulan ini,yang bearti kalau pernikahan mereka akan di laksanakan,setelah sekitar sebulan lagi.(Anggap saja,saat ini awal bulan ya 😁.Supaya gampang,cara penulisannya).
Kemudian, keluarga Kusumapun segera pulang,saat mereka merasa sudah cukup sampai di sini dulu,dengan pembicaraan mereka malam ini.
Lalu setelah selesai berpamitan,keluarga Kusumapun segera masuk ke dalam mobil dan pulang ke Mansion.
Sedangkan Agatha dan kedua orang tuanya,masih berdiri di teras rumah,sambil menatap punggung mobil keluarganya Kusuma yang sudah mulai menghilang dari pandangan mereka.
"Sudah,jangan menatapnya lagi.Setelah kalian sudah menikah nanti,priamu tidak akan menghilang lagi dari pandanganmu" ucap Ayahnya Agatha,dengan nada menyindirnya.Karena ia melihat putrinya yang masih setia berdiri di teras rumah mereka dan terus menatap punggung mobil yang di naiki oleh Ars tadi ,yang ntah sudah menghilang kemana,karena sudah tertelan kegelapan malam.
"Iya,apa yang di katakan Ayahmu itu memang benar nak.Ayah,kenapa Ibu jadi mengingat waktu masa muda kita dulu.Dulu,Ibu juga seperti putri kita sekarang ini.Dulu,Ibu juga ingin segera menikah,rasanya Ibu juga tidak ingin jauh-jauh dari Ayah" lanjut Ibu,dengan nada meledeknya,walaupun perkataannya itu memang benar adanya.
Sedangkan Ayah,hanya tersenyum,sambil membayangkan tingkah lucu istrinya yang hampir sama dengan putri mereka.
Ibu berbicara,sambil merengkuh pinggang suaminya dengan mesra dan berjalan masuk ke dalam rumah,meninggalkan putrinya yang ntah sudah berapa kali ia mendengus kesal dari tadi karena mendengar sindiran dan ledekan dari kedua orang tuanya.
"Ayah,Ibu" teriak Agatha,dengan nada kesalnya,sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya beberapa kali untuk melepaskan rasa kesalnya.Lalu ia segera mengikuti langkah kedua orang tuanya yang sudah mulai menjauh itu,sambil terus menggerutu kesal.
Sedangkan kedua orang tuanya Agatha,hanya tertawa kecil saja,sambil terus berjalan dan menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan pelan,saat mereka mendengar teriakan kesal dan juga gerutuan kesal yang terdengar samar-samar dari putri mereka.
………
Di Mansion Kusuma.
Paginya di ruang kerjanya Daddy,Daddy sibuk mengumpat kesal karena sudah 10 kali ia menelepon,tapi orang yang sedang ia telepon,terus tidak mengangkat telepon darinya.Tapi,walaupun merasa kesal,ia tetap mencobanya.
"****...Apa yang sedang dia lakukan di jam segini,sampai tidak sempat untuk mengangkat telepon dariku..."umpat daddy,sambil menatap jam tangannya yang baru saja menunjukkan pukul 5 pagi lewat 30 menit.
"Aku baru ingat,kalau di sana masih tengah malam.Tapi apakah dia benar-benar sudah tidur..." gumam Daddy,sambil berpikir,apakah orang yang ia telepon benar-benar sudah tidur,karena biasanya orang yang ia telepon itu jarang tidak mengangkat telepon darinya,kecuali kalau benar-benar sedang sibuk atau sudah terlelap.
Daddy menatap HPnya,yang sudah ia pegang dari ia masuk ke dalam ruang kerja tadi.Ia sudah berada di dalam ruang kerjanya selama 20 menit yang lalu,untuk meletakkan kembali buku yang telah ia bawa dan ia baca di kamar miliknya malam semalam.
Setelah ia sudah selesai meletakkan buku miliknya ke tempatnya,ia segera duduk di sofa dan menelepon Willy.Tapi dari tadi hingga sekarang, ia sudah menelepon untuk ke 20 kalinya,Willy malah masih belum mengangkat telepon darinya sama sekali.
"Dreet dreett...." terdengar suara nada dering di HP miliknya Daddy,Daddy menatap layar HPnya dengan malas,lalu ia segera mengangkat telepon tersebut dengan wajah malas yang bercampur kesal.
"Sepertinya,malam ini kau sangat sibuk,sampai tidak sanggup untuk mengangkat telepon dariku?" tanya Daddy,dengan nada yang sangat kesal dan sindiran asalnya.Karena di dalam benaknya,terdapat 2 dugaan,antara sedang sibuk menembak musuhnya atau sedang bermain dengan wanita malam.
__ADS_1
Sedangkan pria yang berada di seberang sana,hanya mampu mendengus kesal,saat mendengar nada sindiran dari sang sahabatnya.
Padahal,saat ia mendengar nada dering HPnya tadi,ia sedang sibuk berolahraga di atas tubuh seorang wanita malam dan ia sudah mau sampai ke tahap pelepasan dari pergumulan panasnnya bersama seorang wanita club malam,bahkan sekarang ini ia sedang berada di salah satu kamar vip pesanannya yang ada di dalam club tersebut.
Maka dari itu,ia telat untuk mengangkat telepon dari majikannya itu,lebih tepatnya sahabatnya.
Saat ini,ia sedang sibuk mencari celana boxernya yang ia lempar sembarangan tadi,sambil memegang HP miliknya yang masih ia tempelkan di daun telingannya.
Sedangkan wanita malam yang ia sewa itu,hanya mampu mendengus kesal sambil menggapai selimut untuk menutupi tubuh polosnya,karena pria yang telah menyewanya hanya baru berhasil melewati 1 ronde saja bersama dirinya dan malah sibuk dengan teleponnya.
Padahal ia sudah membayangkan,bagaimana nikmatnya dan gagahnya,saat pria tampan dan tubuh yang di penuhi oleh otot itu terus berolahraga dan sekalian membolak-balikkan tubuh polosnya sepanjang malam.Mungkin saja,dengan senang hati ia akan berteriak n*km*t sepanjang malam bersama pria tampan tubuh berotot tersebut.
"Apa sekarang kau sudah menjadi bisu?" tanya Daddy,dari seberang telepon sana,dengan wajah yang semakin kesal karena pertanyaan awalnya tadi tidak juga di jawab tanpa tahu kalau pria yang berada di seberang sana sedang sibuk mencari celana boxernya.
" Apa Tuan juga,tidak bisa melihat waktu terlebih dahulu sebelum meneleponku?" tanya Willy balik,sambil memakai celana boxer yang sudah berhasil ia temui.Ia bertanya,dengan nada kesalnya karena Tuannya menelepon dirinya di jam 11 malam lewat 30 menit dan juga telah menganggu olahraga malamnya.
"Tuan,apa kita tidak melanjutkan yang tadi dulu,terlebih dahulu?" tanya Wanita malam tersebut,saat ia melihat pria tampan tersebut sudah duduk di atas kasur.Ia bertanya dengan suara manjanya,karena merasa belum puas dengan pergumulan panas yang hanya 1 ronde tadi.
Ia bertanya,sambil mendekati pria tampan yang telah menyewanya itu dan menempelkan dada polosnya di dada kekarnya pria tersebut dengan manja.
Willy bukannya menjadi tergoda,ia malah menjadi semakin kesal karena wanita malam itu telah menganggu pembicaraannya dengan sang Tuan.
"Ini bayaranmu,sekarang kamu sudah boleh pergi dari sini" ucap willy,dengan nada tegasnya dan mengambil uang yang ada di dalam lemari sampingnya kasur,yang memang sudah ia sediakan sendiri untuk membayar wanita malam tersebut.
Iapun segera mengambil uang yang di lempar oleh pria tersebut ke atas kasur itu dengan gerakan cepat karena merasa takut,bahkan ia sudah mulai mengeluarkan keringat dingin.Ia juga segera memakai pakaiannya,mengambil tas miliknya dan langsung berjalan keluar dari dalam kamar tersebut dengan langkah lebarnya.
Willy menatap pintu yang sudah tertutup kembali itu tanpa menjauhkan HP miliknya dari daun telinganya,dengan tatapan tajam yang kembali menjadi kesal karena merasa tekor dengan pembayaran yang ia berikan tadi.Padahal uang yang ia berikan tadi masih bisa untuk beberapa ronde lagi.
Tapi karena ia merasa terganggu dengan keberadaan wanita malam tersebut,saat ia berbicara dengan Tuannya di telepon.Jadi,iapun langsung saja mengusir wanita malam tersebut tanpa berpikir 2 kali lagi.
"Apa Tuan tidak bisa menelepon di saat yang tepat?" tanya Willy lagi karena kali ini gantian Tuannya yang diam dan hanya terus terdengar dengusan kesal dan umpatan dari seberang sana.
"Cih,apa kau masih belum bisa berubah?" tanya Daddy,dengan nada kesalnya,saat ia baru menyadari mana satu yang benar di antara 2 dugaannya tadi.
Apa lagi,saat ia mendengar suara manja wanita tadi dari seberang telepon,wanita yang ia duga adalah wanita malam.Hingga membuat dirinya terus mengumpat di dalam hati dan mendengus kesal beberapa kali.
"Apa kau benar-benar, sama sekali tidak berniat mau menikah?" tanya Daddy lagi,dengan nada yang serius bercampur kesal.Karena ia juga sangat berharap kalau sahabat baiknya itu bisa berubah dan akan menikah.
"Tuan,ada perlu apa,tengah malam begini meneleponku?" tanya Willy balik,ia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan dari Tuannya karena ia malas mau membahas tentang pernikahan lagi.
Tuannya memang selalu menasihati dirinya dan menyuruh dirinya untuk menikah,tapi ia terus menghindarinya karena ia memang sama sekali tidak berniat ingin menikah.
__ADS_1
Sedangkan Daddy,hanya bisa menghela napas dengan pelan,saat Willy kembali menghindari pertanyaan darinya.Ia jadi merasa kasihan pada sahabatnya itu,karena masa lalu rumit orang tua yang telah sahabatnya itu lalui,sahabatnya itu menjadi tidak mempunyai keinginan untuk menikah lagi.
Akhirnya mau tidak mau,Daddypun tidak melanjutkan tentang pernikahan tadi lagi,karena nada bicara sahabatnya terdengar sangat tidak ingin membahas tentang semua itu.
"Pada Akhir bulan ini,putra-putraku akan menikah dan melakukan resepsi yang mewah...." belum sempat Daddy menyelesaikan kalimatnya,Willy sudah terlebih dahulu menyelanya.
"Apakah Tuan ingin mengundangku untuk datang ke pernikahan dan resepsi putra-putramu?" tanya Willy,dengan wajah penasarannya,sambil menyandarkan tubuh berototnya ke sandaran kasur.
Tapi di dalam hatinya,ia juga tidak percaya kalau Tuannya itu meneleponnya hanya untuk mengundangnya.Karena biasanya kalau Tuannya ingin mengundangnya pasti akan mengirim melalui email atau pesan singkat saja,hanya saja dirinya yang jarang hadir karena tidak menyukai keramaian.
"Bukan" jawab Daddy,dengan singkat dan nada kesalnya,karena ucapannya di sela oleh sahabatnya itu.
Wajah penasarannya Willy menjadi kesal kembali,saat ia langsung bisa menebak apa tujuan Tuannya menelepon dirinya pada tengah malam begini.
"Jangan katakan,kalau Tuan ingin aku...." ucapan Willy,langsung terhenti,karena Daddy yang langsung menjawab sebelum ia selesai bertanya.
"Iya,yang kau maksudkan itu memang benar.Jadi,seminggu lagi,kau harus berada di sini.Dan,aku tidak mau menerima bantahan darimu" jawab Daddy,dengan nada tenangnya.Tapi di seberang sana ia tersenyum,saat mendengar nada kesalnya Willy tadi.
Walaupun resepsi putra-putranya masih 3 minggu lagi,tapi ia harus mencari aman juga,mana tahu akan ada kejadian tidak terduga atau kejadian darurat nanti.
"Tapi,aku belum menyetujuinya Tuan..." ucap Willy,dengan nada yang semakin kesal,saat Tuannya memutuskan seenaknya saja,tanpa mempertanyakan keputusannya terlebih dahulu.
"Aku tidak mau tahu.Pokoknya seminggu lagi,kau harus sudah berada di sini.Jika seminggu lagi,aku tidak melihat keberadaanmu di kota ini.Aku akan menjemputmu dengan cara paksa" jawab Daddy,dengan nada mengancam tapi ia serius dengan perkataannya barusan kalau Willy benar-benar tidak datang.
"Baik,terserah kau saja" ucap Willy akhirnya,dengan nada pasrahnya.
"Bagus.Ingat,seminggu lagi" ucap Daddy,ia kembali mengingatkan Willy lagi.Lalu ia langsung menutup teleponnya secara sepihak tanpa merasa bersalah sama sekali.
Kemudian ia tersenyum puas karena pagi ini ia telah berhasil membuat sahabatnya itu terus merasa kesal, ia segera berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.Lalu iapun melanjutkan langkahnya ke ruang fitness,karena setiap pagi ia memang selalu berolahraga.
Sedangkan di seberang sana,Willy terus mengumpat kesal sambil menatap layar HPnya yang sudah kembali menampilkan layar utamanya.
"Dasar pria tua tidak tahu malu.Apa gunanya Asisten dan anak buah dia yang lainnya.Padahal aku sudah lama pensiun,masih saja memerintahku" gerutu Willy,dengan wajah kesalnya.
Ia sudah mempunyai uang yang banyak,sekarang ia hanya ingin menikmati hidup saja.Tapi apa ini,ia malah kembali di suruh untuk melindungi putra sahabatnya yang memang selalu sangat sulit untuk bisa ia tolak.
"Menyebalkan,setelah membuat benda di bawahku tidak bisa puas,lalu membuat uangku keluar dengan sia-sia.Sekarang,dia malah menutup telepon secara sepihak.Dasar pria tua tidak tahu diri.Dia sendiri saja masih sendiri,tapi malah sok-sok an menasihatiku" umpat Willy lagi,dengan panjang lebar dan wajah yang semakin kesal.
"Apa lagi yang aku dengar tadi,putra-putra? Sejak kapan dia memiliki 2 putra?" tanya Willy pada dirinya sendiri.
"Ah,terserah dia saja.Mau dia memiliki 2 putra,5 putra atau 10 putra.Itu tidak ada kaitannya denganku sama sekali" gumam Willy lagi.Kemudian ia menggusar rambutnya beberapa kali.Lalu ia segera merebahkan tubuhnya dengan wajah kesalnya,sambil menyelimuti tubuhnya tanpa memakai pakaian lagi.
__ADS_1
Biarlah masalah keberangkatannya,ia pikir nanti saja.Sekarang ia hanya ingin tidur saja,karena ia sudah tidak mau memikirkan apa-apa lagi.Lagi pula,saat ini sudah larut malam juga.
Beberapa menit kemudian,Willypun langsung terlelap dengan di hiasi wajah kesalnya.Mungkin saja,karena merasa terlalu kesal.Apa lagi,tadi sore hingga jam 10 malam tadi,ia baru saja menangkap musuh-musuhnya yang telah berani menyerang markasnya.Hingga membuat dirinya langsung terlelap dalam waktu singkat,karena rasa lelahnya dan sekaligus rasa kesalnya.