Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bba.198


__ADS_3

Aliska yang juga sudah mulai tidak sabaran itu,kedua tangannyapun segera turun ke resleting celananya Ryan dengan perlahan-lahan,setelah Kancing kemejanya Ryan sudah terbuka semua.


"A aliska,hentikan" ucap Ryan dengan deru napas yang tersendat-sendat setelah ia sudah melepaskan c**m*n mereka secara paksa, karena degupan jantungnya yang naik turun dengan cepat akibat ia sedang menahan gairahnya yang mulai tidak terkendali.Ia berbicara sambil menahan tangannya Aliska yang sudah hilang kendali.


Untung saja,dirinya masih sempat mengendalikan dirinya saat ia merasakan kancing celananya yang sudah terbuka,dan hanya tinggal resleting celananya saja yang masih sedang dalam proses.


"A ada apa?" tanya Aliska dengan wajah bingungnya,kenapa Ryan tiba-tiba saja menghentikan c**m*n panas mereka.


"Kamu masih bertanya apa? Kamu ini,memang benar-benar" jawab Ryan dengan wajah pasrahnya,sambil mengancingkan kembali kancing celana dan juga kancing kemejanya dengan gerakan cepat.


Ia bingung,harus menyebut calon istrinya ini dengan kata apa.


"Kenapa kamu malah mengancingkannya kembali? Kita kan baru saja memulainya ? " tanya Aliska dengan nada kesalnya,padahal dari tadi ia sudah susah payah membuka semua kancing itu.


"Auchk.Sayang,bisa tidak kalau jangan terus menyentil keningku ini?" Aliska terpekik sakit dan sekalian bertanya dengan nada kesalnya,sambil mengelus-elus keningnya yang kembali mendapatkan sentilan kuat dari Ryan.


"Apa kamu ini wanita atau pria? Kenapa malah lebih agresif dari pada pria? " tanya Ryan dengan nada kesalnya,sambil kembali melajukan mobil miliknya yang sempat terhenti mendadak tadi karena bencana tidak terduga tersebut.


Jika saja,wanita yang menyebabkan bencana itu bukan Agatha.Dan wanita yang lain,ia pasti akan mengeluarkan umpat-umpatan apa saja yang ada di benaknya saat ini.


Sedangkan Aliska,wajah kesalnya tadi langsung menunduk malu saat ia mendengar pertanyaan-pertanyaannya Ryan barusan.Karena terlalu menikmati c**m*n tadi,ia jadi tidak menyadari kalau dirinya sudah melewati batas.


"Apa kamu tidak bisa sabar sebentar lagi,sampai kita sudah menikah nanti?" tanya Ryan lagi,masih dengan nada kesalnya,sambil berusaha menetralkan degupan jantungnya yang masih belum teratur.


Bahkan benda miliknya yang sudah terbangun tadi,masih belum mampu ia tidurkan lagi.Sepertinya,ia harus bermain solo di dalam kamar mandi malam ini untuk pertama kalinya.


'Tidurlah,untuk saat ini jangan bandel dulu.Bersabarlah untuk beberapa minggu lagi' batin Ryan dengan wajah pasrahnya,sambil melirik sekilas ke arah bawah,di mana benda miliknya masih terasa penuh di dalam boxernya.


"Maaf,aku terlalu bersemangat tadi" jawab Aliska dengan wajah malunya,tanpa berani menatap ke arah wajah kesalnya Ryan.


Ryan yang masih sibuk menetralkan degupan jantungnya itu,langsung menatap ke arah wajah malunya Aliska.


Wajah kesalnyapun langsung tersenyum,saat ia melihat Aliska yang sedang menunduk malu.Rasanya dunia sedang terbalik saat ini,kenapa malah Aliska yang lebih agresif dari pada dirinya.


Dan apa kata Agatha tadi,terlalu bersemangat.Ntah dirinya harus bahagia atau bersedih karena telah mendapatkan pendamping hidup seperti Aliska.Tapi hanya 1 hal yang dirinya tahu,saat ini ia sudah mencintai Aliska.


"Sudahlah,lain kali jangan melakukan itu lagi sebelum kita menikah" ucap Ryan dengan wajah yang tersenyum,sambil fokus ke jalan.


Aliska yang sedang tertunduk malu tadi,segera mengangkat kepalanya dengan pelan dan menatap ke arah Ryan,saat ia mendengar perkataannya Ryan barusan.Iapun ikut tersenyum,saat ia melihat wajah tersenyumnya Ryan.


"Baik,sayang,aku tidak akan melakukannya lagi" ucap Aliska dengan nada manjanya sambil terus menatap wajah tersenyumnya Ryan.


"Kamu ini" ucap Ryan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan,sambil menatap ke arah wajah tersenyum senangnya Aliska sebentar.


lalu beberapa detik kemudianpun,mereka berdua tertawa kecil bersama-sama sambil menyentuh bibir mereka yang masih terlihat basah itu,karena sedang memikirkan bencana tidak terduga tadi.


"Apa kamu benar-benar memiliki pil pencabut nyawa di ruang kerjamu?" tanya Aliska dengan wajah penasarannya untuk mengusir rasa malunya,sambil menatap wajah Ryan yang ketampanannya terlihat jelas saat Ryan sedang tertawa seperti ini.


"Kalau aku bilang benar,apa kamu percaya?" tanya Ryan dengan nada santainya,sambil menahan tawa.


"Tentu saja,aku percaya" jawab Aliska dengan jujur,masih dengan menampilkan wajah penasarannya.

__ADS_1


"Aliska Aliska,kamu ini memang benar-benar.Buat apa pula, aku menyimpan pil pencabut nyawa di ruang kerjaku? Kamu ini ada-ada saja" ucap Ryan dengan wajah yang tertawa kecil,sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran.Ia tidak menyangka,kalau Aliska langsung mempercayai perkataannya tadi.


'Apa ini salah satu contoh yang bisa juga di katakan,kalau cinta itu buta.Karena Aliska langsung memercayai kata-katanya tanpa di saring terlebih dahulu.Tidak mungkin kan,ia menyimpan pil tersebut untuk ia konsumsi sendiri atau ingin ia berikan pada orang lain' pikir Ryan.


"Dasar,pria menyebalkan" ucap Aliska dengan wajah penasarannya yang sudah berubah menjadi memberengut keaal,sambil bersedekap dada dan menatap ke arah jendela.


Tawa kecilnya Ryanpun,langsung naik 2 oktaf saat ia melihat wajah dan bibirnya Aliska yang sedang memberengut kesal.


'Ternyata tidak buruk juga,memiliki pendamping hidup seperti Aliska' batin Ryan sambil tertawa,lagi pula dirinya selalu merasa nyaman saat ia bersama Aliska.Dan menurutnya,sebuah hubungan itu akan di lalui dengan rasa bahagia dan menyenangkan untuk ke depannya kalau dirinya merasa nyaman saat bersama seseorang,dan itu adalah Aliska.


Akhirnya selama di perjalanan,mereka berduapun terus saling menggoda dan tertawa bersama.


***


Di salah satu kamar Hotel sepasang pengantin baru yang di huni oleh Ars dan juga Agatha,mereka berdua sudah berada di dalam kamar Hotel dan juga sedang membersihkan diri mereka saat ini,setelah acara pernikahan mereka semua sudah selesai.


Sedangkan yang lainnya,sudah masuk ke dalam kamar hotel mereka masing-masing tanpa banyak bicara,karena semuanya juga sama-sama sudah lelah,terlebih dengan kedua orang tuanya Ryan yang baru saja sampai dari perjalanan jauh mereka tadi,dan belum sempat istirahat sama sekali dari tadi.


"Ceklek" terdengar suara pintu kamar mandi yang baru saja terbuka,karena Agatha yang baru saja selesai mandi.


"Bee" panggil Agatha dengan wajah malunya,sambil menatap punggung lebarnya Ars yang terbalut jubah mandinya dan sedang berdiri di jendela transparan kamar Hotel tersebut.


"Ada apa?" tanya Ars dengan wajah yang tersenyum,sambil berbalik badan dengan pelan.


"Pakaianku di mana?" tanya Agatha,sambil menatap Ars yang sedang berjalan mendekat ke arah dirinya.


Dirinya terpaksa memakai jubah mandi yang sama seperti suaminya itu,bahkan ia juga tidak memakai pakaian dalam sama sekali,karena pakaian dalamnya tidak sengaja di buat basah olehnya di dalam kamar mandi tadi.


"A aku ganti pakaian dulu" ucap Agatha dengan nada gugup dan wajah yang menjadi semakin malu karena dirinya terus di tatap oleh Ars.Lalu iapun segera berjalan ke arah lemari yang di tunjukkan oleh Ars barusan.


"Pakaian apaan ini?" gumam Agatha dengan nada pelannya dan wajah kagetnya,saat ia melihat isi lemari yang di penuhi oleh pakaian lingerie yang sangat seksi dan terbuka semua.Dan tidak ada satupun pakaian yang ia inginkan yang ada di dalam lemari tersebut.


Tapi beberapa detik kemudian,kedua matanya menangkap secarbik kertas putih yang ada di atas papan penyekat yang berada di tengah-tengah lemari tersebut.


Agathapun langsung mengambilnya dan membacanya dengan wajah kesalnya,saat ia sudah selesai membaca isi kalimat yang ada di kertas tersebut.


"Ashley,Desi,awas kalian" gumam Agatha dengan nada yang sedikit tinggi dari gumaman yang sebelumnya sambil *******-***** kertas kecil tersebut,hingga membuat Ars yang hanya berdiri saja dan terus menatap istrinya itupun langsung menjadi heran.


"Sweetty" panggil Ars dengan wajah penasarannya,sambil berjalan mendekat ke arah Agatha berdiri dan melirik sekilas ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat 50 menit.


"I iya Bee" jawab Agatha dengan nada gugupnya karena merasa malu dan juga bingung,lalu ia segera menutup kembali pintu lemari tersebut dan berbalik badan dengan kedua tangan yang berada di belakangnya karena sibuk menyembunyikan kertas kecil yang mampu membuat dirinya menjadi kesal tadi.


"Ada apa? Kenapa lama sekali?" tanya Ars dengan nada lembutnya,sambil menatap wajah malunya Agatha.


"Apa tidak ada pakaian di dalam lemari ini?" tanya Ars dengan wajah penasarannya,sambil berniat ingin memeriksa isi lemari tersebut.


Ia belum sempat membuka lemari tersebut,karena pakaiannya berada di samping lemari wanita tersebut.Bahkan ia juga belum sempat membuka lemari miliknya,karena ia pikir,jubah mandinya itu sudah cukup untuk malam pengantinnya ini dan sekalian malam pertama mereka.


"Ja jangan" ucap Agatha dengan wajah bingungnya,sambil berdiri di depan pintu lemari tersebut tanpa menyadari kalau jubah mandinya memperlihatkan sedikit gundukan kedua gunung kembarnya yang padat itu,karena gerakan buru-burunya tadi.


Ars yang sedang di hadang itupun,menjadi semakin penasaran sama isi lemari tersebut.Iapun menatap kedua tangannya Agatha yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu,lalu kedua matanya beralih menatap ke dada kenyalnya Agatha.

__ADS_1


Hingga mampu membuat dirinya meneguk ludah beberapa kali,dan kedua matanya juga terlihat berbinar,tapi ia harus melihat isi lemari tersebut terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa penasarannya,baru ia akan melahap dada kenyal tersebut.


"Aachkk,bee" pekik Agatha dengan wajah kagetnya,karena tiba-tiba saja suaminya menarik tubuhnya.


Sedangkan Ars,ia yang sudah berhasil menarik tubuhnya Agatha ke pelukannya dengan menggunakan sebelah tangannya,iapun segera membuka pintu lemari tersebut dengan menggunakan sebelah tangannya lagi.


"Bee" panggil Agatha dengan wajah yang tertunduk malu,dengan posisi kedua tangan yang masih berada di belakangnya karena tangannya Ars yang sedang memeluknya,hingga membuat kedua tangannya sulit untuk ia pindahkan ke depan.


"Jadi,ini yang membuatmu begitu lama?" tanya Ars dengan wajah yang tersenyum menggoda,sambil menatap wajah Agatha yang sedang tertunduk malu.


"Bee" pekik Agatha dengan wajah kagetnya kembali,saat kertas kecil yang ia remas-remas tadi,telah di ambil oleh Ars tanpa ia sadari.


"Bee,cepat kembalikan padaku" pinta Agatha dengan nada kesalnya yang bercampur rasa malu,sambil berusaha merebut kertas tersebut dari tangannya Ars yang sudah terangkat tinggi.Hingga mampu membuat Agatha menjadi kesulitan untuk bisa menggapainya,karena tinggi badannya suaminya yang lebih tinggi darinya.


Sedangkan Ars,ia sibuk mengangkat kertas tersebut supaya Agatha tidak bisa menggapainya,sambil membaca isi kertas tersebut.


"Semua ini adalah kado dari kami,semoga bermanfaat.selamat menikmati malam pertama kalian." Arspun membaca isi kertas tersebut dengan nada pelan dan lambat-lambat sambil terus menjauhkan kertas tersebut dari gapaian tangannya Agatha,lalu ia tersenyum saat ia melihat ada nama Ashley dan Desi yang tertulis di sudut kertas tersebut.


Sedangkan Agatha yang tadi sedang sibuk mau menggapai kertas tersebut,langsung menghentikan gerakan tangannya dan tertunduk malu,sambil memeluk Ars yang sedang merengkuh dirinya.


"2 wanita itu sudah tidak waras.Masa iya,mereka berdua menyuruh aku memakai pakaian yang seperti itu" ucap Agatha dengan nada kesalnya,sambil menyembunyikan wajahnya di dada kekarnya Ars.


Arspun langsung tersenyum lucu saat ia mendengar nada kesalnya Agatha barusan,sambil meremas kertas tersebut hingga menjadi bulatan bola kecil dan melemparnya ke tong sampah kecil yang ada di sudut sana.


"2 sahabatmu itu bukan tidak waras,mereka hanya ingin membantu kita saja" ucap Ars dengan wajah yang terus tersenyum.


"Membantu? Apa maksudmu dengan membantu,Bee?" tanya Agatha dengan wajah penasarannya karena belum mengerti apa maksudnya Ars barusan ,sambil medongakkan kepalanya dan sedikit menjauhkan tubuhnya.


"Iya,tentu saja mereka berdua ingin membantu.Tapi sepertinya,kita tidak memerlukan bantuan dari mereka itu lagi" jawab Ars,sambil terus menatap kedua gundukan kenyal dan padat miliknya Agatha itu yang ternyata sudah menyembul keluar keseluruhan karena jubah mandinya Agatha yang sudah terbuka dengan lebar akibat gerakan-gerakannya tadi.


Bahkan Agatha sendiri tidak menyadarinya,karena tadi terlalu sibuk merebut kertas kecil tersebut,dan juga sibuk dengan rasa malu dan kesalnya itu.


"Maksudmu apa,Bee?" tanya Agatha dengan wajah yang semakin penasaran,ia masih belum menyadari apa yang sedang di tatapi oleh suaminya itu.


"Maksudku,kita bisa melakukannya tanpa memerlukan bantuan dari mereka" jawab Ars dengan wajah yang mulai di penuhi gairah,lalu ia segera mengendong Agatha dengan posisi depan seperti mengendong koala,sambil berjalan ke arah kasur.


"Bee" pekik Agatha dengan wajah kagetnya karena Ars mengendong secara tiba-tiba.Iapun segera merangkul erat leher dan pinggangnya Ars,karena takut akan terjatuh.


"Bee" panggil Agatha lagi dengan wajah malunya,saat ia sudah mengerti apa maksudnya Ars tadi.Ia juga baru menyadari kalau kedua gunung kembarnya sudah menyembul keluar,saat ia merasakan sentuhan kulit ke kulit,antara dada kenyalnya sama dada kekarnya Ars karena jubah mandinya Ars yang memang sedikit terbuka di dada kekarnya.


"Kamu ini sudah terlalu banyak membuang waktu,Swetty" jawab Ars dengan suara beratnya,gara-gara gairahnya yang sudah memenuhi seluruh tubuhnya,termasuk benda miliknya yang sudah terbangun dengan kesadaran penuh,karena terus bersenggolan sama miliknya Agatha.


"Ehhmmmm..." belum sempat Agatha menanggapi perkataannya Ars barusan,,Ars sudah lebih dulu menc**m bibirnya Agatha dengan lembut.Lalu Ars langsung ********** dengan penuh cinta,sambil terus berjalan ke arah kasur.


Setelah berada di atas kasur,Ars segera memencet tombol pada remot yang kebetulan ada di sudut kasur tersebut tanpa melepaskan l*m*t*n mereka berdua.Dan tombol tersebut,untuk menutup tirai jendela kamar mereka.


Semakin lama,c**m*n mereka berduapun,berubah menjadi semakin panas.Dan pastinya,jubah mandi tadi yang masih membaluti tubuh mereka berdua itu,saat ini sudah tergeletak di lantai.


Akhirnya merekapun melakukan malam pertama mereka dengan lancar dan kamar tersebutpun langsung di penuhi suara-suara merdu mereka berdua yang saling dan terus bersahutan hingga 2,3 jam ke depan.


Begitu juga dengan 2 pasangan pengantin lainnya,yaitu Hery bersama Ashley dan juga Jo bersama Desi.Mereka juga terus memacu sepanjang malam,tanpa lelah.

__ADS_1


__ADS_2