Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 162


__ADS_3

"Baiklah.Kalau begitu,Grandma akan mengajak Grandpamu saja" ucap Grandma,dengan wajah pasrahnya.Tapi hanya untuk beberapa detik saja,karena ia sudah berhasil mendapatkan penggantinya.Grandma segera mendekat kembali ke arah suaminya dan memeluk suaminya,dengan wajah memelasnya.


Grandpa yang mendengar perkataan dan wajah memelas istrinya,hanya mampu menghela nafas dengan pelan.Tadi saja sibuk menjauh,saat sudah tidak punya pilihan,baru sibuk membujuk dirinya.


"Ayo,tapi kita lanjutkan di dalam kamar saja ya..." pinta Grandpa,dengan suara pasrahnya,sambil membalas pelukan dari istrinya.


Sekarang bukan hanya 1 atau 2 orang saja yang menahan tawanya,bahkan Daddy yang masih merasa kesal tadi dan yang lainnya sedang menahan tawa,saat mereka mendengar suara pasrahnya Grandpa.


Bagaimana tidak,Grandpa di suruh oleh Grandma untuk menemani Grandma yang sedang ingin menonton drama korea,bayangkan saja wajah bosannya Grandpa nanti,saat sedang menemani Grandma menonton drama korea.


Itulah kenapa,tadi Grandpa dan Daddy sibuk mencoba untuk menghindari ajakan Grandma dengan membaca koran,karena mereka berdua tidak mungkin untuk pergi jauh dari sisi Grandma dan tidak mungkin juga untuk ikut menonton tontonan kesukaan Grandma.Tapi kali ini,mau tidak mau Grandpa terpaksa menemani Grandma karena Grandma yang sudah mengeluarkan salah satu jurus andalannya lagi,yaitu wajah memelasnya.


"Baik,tidak masalah" Jawab Grandma,dengan wajah yang tersenyum senang.Bagi Grandma,mau di manapun menontonnya,yang terpenting ada yang menemaninya.


"Ingat ya,jangan mempersulitkan Ars lagi.Kamu itu harusnya segera mencari pasangan,bukannya mempersulitkan cucuku lagi.Jika kamu mempersulitkan cucuku lagi,Mommy akan membuat dirimu segera menikah kembali" ucap Grandma,dengan wajah kesalnya,sebelum ia berniat untuk melangkah pergi.


"Ayo sayang" lanjut Grandma lagi,wajah kesalnya kembali menjadi senang,saat memikirkan adagan-adegan romantis di drama korea yang akan ia tonton bersama suaminya,sebentar lagi.


Sedangkan Grandpa,hanya mampu tersenyum malas,sambil berjalan mengikuti langkah istrinya,karena mereka yang memang sedang berjalan sambil berpelukan.Grandpa juga,menatap tajam ke arah putra dan cucu-cucu mereka yang sedang menahan tawa.


Lalu sepasang suami istri yang sudah berumur tersebut terus berjalan ke arah kamar milik mereka dan meninggalkan putra dan cucu-cucu mereka yang masih sibuk menatap punggung mereka.


"Memangnya,kapan aku menyulitkanmu?" tanya Daddy,dengan wajah kesalnya kembali,sambil menatap punggung kedua orang tuanya yang sudah menjauh dari pandangannya dan meletakkan kedua tangannya ke tempat semula dan juga berdiri dari duduknya.


Ia sudah menahan rasa kesalnya dari tadi,padahal tadi ia hanya sedang menahan rasa kesalnya saja karena Ars selalu merasa sungkan pada dirinya dan juga keluarganya.


Maka dari itu,ia sedikit meluapkan rasa kesalnya pada Ars tadi dan menyuruh Mommynya bertanya sendiri pada Ars.Tapi ia malah mendapatkan tanggapan buruk dari mommynya sendiri,dan semua itu gara-gara putranya yang satu ini.


keluarganya.Apa lagi,saat ia mendengar kata menikah kembali di kalimat Mommynya tadi,hingga mampu membuat dirinya menjadi semakin kesal.


"Aku tidak pernah bilang Daddy menyulitkanku,aku juga tidak bilang apa-apa tentang Daddy sama Grandma.Bukankah Daddy juga mendengar sendiri,Kalau Grandma sendiri yang bilang" jawab Ars,dengan wajah bersalahnya,sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal dan menatap tatapan kesalnya Daddy yang sedang tertuju kearahnya.


"Jika aku boleh membunuhmu,pasti akan aku lakukan saat ini juga" ucap Daddy,karena sudah kehabisan kata-kata,sambil terus menatap kesal ke arah Ars.


"Begitu juga dengan kau,dasar anak kurang ajar" lanjut Daddy lagi,sambil menatap kesal ke arah Hery yang sedang tertawa kecil.Sebenarnya bukan hanya Hery saja yang tertawa kecil,Ashley juga ikut tertawa kecil.Hanya saja,ia tidak mau membuat menantunya yang sedang hamil itu menjadi ketakutan.


Setelah selesai berbicara,Daddy langsung berjalan ke arah kamarnya,sambil terus menggerutu kesal selama ia berjalan ke kamarnya karena masih merasa sangat kesal.


"Kenapa aku seperti merasa,yang akan menikah selanjutnya adalah Daddy" ucap Hery,setelah selesai meredakan tawanya dan berubah menjadi tersenyum bahagia,begitu juga dengan Ashley.Ia berbicara,sambil menatap punggungnya Daddy yang sudah hampir menghilang.

__ADS_1


"Kamu ini ada-ada saja,Honey.Tapi kalau itu memang benar,aku juga akan turut bahagia untuk Daddy" timpal Ashley,sambil mengikuti arah pandangan suaminya.


"Tapi,aku tidak pernah melihat Daddy mengandeng seorang wanita sama sekali" timpal Ars,dengan wajah penasarannya,sambil menatap wajah tersenyum bahagia Tuannya,setelah ia sudah selesai menatap punggungnya Daddy yang sudah menghilang di balik anak tangga.


"Kita lihat saja nanti" ucap Hery,dengan wajah yang sudah berubah menjadi datar.


"Dan kau,harus segera menyiapkan persiapan pernikahanmu.Jangan lupa,persiapkan yang lebih meriah dari yang waktu itu,karena aku juga ingin melakukan resepsi pernikahan kami yang belum terlaksana waktu itu.Jadi,kita akan melakukan resepsi bersama-sama.Aku juga ingin sekalian mengumumkan istriku sebagai menantu di dalam keluarga kita" lanjut Hery lagi,dengan panjang lebar ,sambil menatap Ars dengan wajah seriusnya.


"Baik Tuan" jawab Ars,lagi-lagi ia harus pasrah dengan keputusan Tuannya,sambil membayangkan resepsi yang akan di gunakan oleh 2 pasangan pengantin nanti.Bisa di pastikan,kalau pesonanya akan menjadi yang kedua,karena pesona Tuannya pasti akan lebih menarik perhatian penuh dari para tamu undangan.


"Kamu serius,Honey?" tanya Ashley,dengan wajah yang tersenyum bahagia bercampur kaget,sambil menelisik wajah suaminya dengan teliti.


Ia ingin melihat, apakah wajah suaminya terlihat serius atau tidak.Soalnya seingat dirinya,ketika suaminya di tanya tentang resepsi oleh Grandma,Suaminya pasti akan menolak karena masih merasa trauma dengan tragedi peledakan waktu itu.


"Cup...Senangnya aku.Hari ini rasa bahagiaku jadi berkali-kali lipat" ucap Ashley,saat ia melihat anggukan kepala dan wajah serius suaminya.Ia berbicara dengan wajah yang tersenyum bahagia,setelah ia sudah selesai mengecup pipi suaminya dan mengabaikan wajahnya Ars yang menjadi semakin pasrah.


Dari kemaren,Ashley sudah sangat ingin memakai baju pengantin.Tapi lantaran suaminya yang masih merasa trauma,iapun langsung mengurungkan niatnya kembali dan tidak menanyakan lagi tentang resepsi mereka yang belum sempat terlaksana itu.


"Ars,nanti fitting baju pengantinnya barengan kami saja ya..."ucap Ashley,dengan nada senangnya karena akan fitting baju bareng Agatha nanti.Ia berbicara,sambil memeluk erat suaminya dan menatap wajahnya Ars.


"Baik Nona" jawab Ars,dengan wajah yang benar-benar pasrah.


"Baiklah.Sekarang kita harus segera bersihkan diri dulu Honey,sekalian....." ajak Hery pada istrinya dan sengaja menghentikan perkataannya,dengan tersenyum menggoda ke arah istrinya yang sudah tersenyum malu dan juga sekalian menggoda Ars yang sedang menahan kesal.


Lalu sepasang suami istri muda itupun berjalan pergi ke arah kamar milik mereka berdua dan mengabaikan kekesalan yang sudah mulai memenuhi wajahnya Ars,meninggalkan Ars yang langsung mendengus kesal karena melihat kemesraan suami istri muda yang seperti sengaja mengumbar kemesraan untuk menyindir atau mengejeknya.


"Dasar majikan tidak tahu malu.Apa tidak bisa tunggu sudah sampai berada di dalam kamar saja" gerutu Ars,dengan wajah kesalnya.


"Tadi Grandma menyuruhku untuk tinggal di Mansion,sekarang Nona muda menyuruhku untuk fitting baju bersama" gerutu Ars lagi,dengan wajah yang semakin kesal.


Untuk Grandma,mungkin ia tidak begitu memikirkannya.Tapi untuk fitting baju,sudah di pastikan ia hanya bisa gigit jari karena tidak bisa mengumbar kemesraan bersama Agatha.Karena fitting baju bersama Tuannya,pasti dirinya tidak bisa begitu leluasa untuk bermesraan bersama Agatha.


"Menyebalkan" ucap Ars lagi,lalu ia segera berjalan keluar dari dalam Mansion,sambil terus menampilkan wajah kesalnya,hingga membuat para pelayan dan para pengawal menjadi bingung dan juga penasaran.Tapi mereka semua hanya mampu diam saja,karena tidak berani untuk menggangu pria muda yang sedang kesal itu.


Beda dengan Ars yang sedang kesal,Hery dan Ashley malah sibuk kembali mengulang percintaan mereka di dalam kamar mandi mereka yang luas tersebut,untuk beberapa kali tanpa ada gangguan sama sekali.Hanya terdengar suara-suara merdu yang saling bersahutan saja,di dalam sana.


***


Hospital Medical Centre.

__ADS_1


Malam ini,di rumah sakit milik keluarganya Kusuma.Jadwal masuknya Ryan sangat penuh,hingga membuat dirinya harus berkerja sampai jam 10 malam.


(Sedikit tentang siapa dirinya Ryan).


Padahal kedua orang tuanya juga memiliki rumah sakit yang cukup besar di Paris sana,bahkan lebih besar dari miliknya keluarga Kusuma dan rumah sakit kedua orang tuanya juga sudah menyebar ke beberapa tempat Di Negara Paris sana.


Hanya saja,perbedaan keluarganya dan keluarga Kusuma adalah keluarganya Ryan yang hanya memiliki rumah sakit besar dan beberapa yang lainnya saja,karena Daddynya Ryan yang memang sudah menjadi dokter di usia mudanya,sama seperti Ryan sekarang.


Sedangkan Keluarga Kusuma,mereka bukan hanya memiliki rumah sakit besar ini saja.Mereka bahkan memiliki Perusahaan terbesar dan beberapa anak cabang yang lainnya.Belum lagi,di tambah dengan miliknya Hery.


Tapi kekayaan kedua keluarga tersebut,sama-sama tidak akan habis,walaupun harus melewati 7 keturunan sekalipun.Kecuali kalau ingin


dibandingkan,kekayaannya keluarga Ryan memang tidak akan mampu bisa membandingi kekayaannya keluarga Kusuma.


Tapi anehnya,Ryan tidak mau berkerja ataupun menjadi penerus di rumah sakit milik keluarganya sendiri dan memilih berkerja pada keluarga Kusuma.


Padahal kedua orang tuanya sudah banyak kali memaksanya agar mau menjadi penerus di rumah sakit milik keluarganya sendiri,tapi dirinya malah menyuruh adik perempuannya untuk menjadi penerus dari Daddynya,hingga membuat Daddynya marah dan melarang dirinya untuk pulang ke rumah lagi dan juga tidak mau bicara lagi sama Ryan.


Jadi,selama 2 tahun ini Ryan selalu menghubungi Mommy dan adik perempuannya tapi jarang berkumpul karena jarak yang begitu jauh.Dan selama itu juga,Ryan sudah menjadi Dokter pribadi keluarganya Kusuma.


(Kembali ke ruang kerjanya Ryan).


"Melelahkan sekali" gumam Ryan,dengan nada yang pelan,sambil merenggangkan tubuhnya di atas tempat duduknya.


"Pantasan saja,sudah jam 10 malam.Sudah waktunya aku pulang,lalu berendam untuk menghilangkan rasa lelahku,setelah itu tidur" lanjut Ryan lagi,dengan wajah yang tersenyum,sambil menatap jam tangannya.Kemudian ia segera berdiri dari duduknya,lalu mengambil kunci mobilnya dan menyambar jaket yang selalu ia bawa kemana-mana,agar bisa menggunakannya di saat cuaca sedang dingin.


Baru saja,ia berjalan beberapa langkah ke arah pintu keluar ruangan miliknya.Sudah ada yang membukanya dari luar terlebih dahulu,hingga membuat langkah kakinya langsung terhenti,sambil menatap dengan kesal ke arah perawat tersebut yang telah membuka pintu ruangannya dengan gerakan terburu-buru dan wajah yang panik.


"Apa kau tidak bisa pelan sedikit membuka pintunya?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya.Apa lagi melihat wajah paniknya perawat wanita tersebut.Ia sudah bisa menebak,pasti ada pasien darurat lagi yang harus ia tangani.


"Ma maafkan saya,Dokter.Tapi,saat ini kami memang benar-benar sedang memerlukan bantuan dari Dokter" jawab perawat tersebut,dengan wajah bersalahnya,bingung dan takut bercampur menjadi satu,saat ia melihat wajah kesalnya sang Dokter.


Ryang langsung menghela nafas dengan berat,padahal ia baru saja sedang membayangkan dirinya yang akan berendam di dalam kamar mandi dengan campuran aroma wewangian bunga yang ia sukai dan pastinya mampu membuat rasa lelahnya mengurang.


Tapi permohonan perawat tersebut,mampu melenyapkan apa yang sudah ia bayangkan tadi begitu saja.


"Katakan..." perintah Ryan,dengan nada pasrahnya,sambil terus menatap perawat tersebut dengan tatapan kesal.


"I itu,ada wanita yang ingin bunuh diri dengan cara membunuh diri Dokter.Sekarang nyawanya sedang dalam bahaya,Dokter yang biasanya menangani pasien yang sedang overdosis sudah pulang dari tadi.Jika harus menunggu Dokter tersebut,aku takut,mungkin nyawa wanita itu akan...." ucapan perawat tersebut,langsung terhenti oleh ucapannya Ryan.

__ADS_1


"Di mana wanita itu sekarang?" tanya Ryan,sambil meletakkan kembali kunci mobil dan jaketnya,lalu ia segera menyambar jas Dokternya dan langsung memakainya.


"wanita itu,sudah berada di ruang penanganan, Dokter" jawab perawat tersebut,dengan cepat,sambil tersenyum di dalam hati.Inilah yang mereka sukai dari dirinya Dokter Ryan mereka,karena Dokter Ryan selalu mengutamakan para pasien dari rasa lelahnya,terlebih lagi pada pasien yang sedang darurat.Terkadang walaupun Dokter Ryan sudah berada di dalam rumah,jika di telepon dengan alasan darurat,Dokter Ryan pasti akan segera datang.Jadi,memang tidak sia-sia keluarga Kusuma memberi Dokter Ryan dengan posisi tinggi di dalam rumah sakit tersebut.


__ADS_2