
Di Perusahaan Kusuma Group.
Seorang pria yang baru saja selesai makan siang 40 menit yang lalu, sedang duduk bersandar di kursi kerjanya,ia adalah Ars yang sedang duduk bersandar dalam diam di kursi miliknya dengan mata yang terpejam.
Hari ini perkerjaannya jadi sedikit berantakan karena dirinya yang terus sibuk memikir kan tentang cincin yang tersemat di jari manisnya Agatha,yang di lihatnya malam tadi.
'Apakah cincin itu,cincin pemberian tunangannya.Tapi kan,mereka baru akan bertunangan 2 hari lagi.Jadi itu cincin siapa,,,,' pikir Ars tanpa membuka kedua matanya.Awalnya ia ingin menepis dugaannya kalau cincin yang di pakai oleh Agatha itu bukan miliknya hari itu,tapi saat tadi pagi ia mendengar laporan detail dari anak buahnya yang mengatakan kalau mereka belum sempat bertunangan,ia kembali ragu dan kembali memikir kan cincin itu.Karena terlalu emosi,ia jadi tidak begitu mendengar perkataan pria brengsek itu yang mengatakan kalau pria itu baru calon tunangan.
'Mungkin saja,pria brengsek itu memberikannya kepada Agatha duluan sebelum bertunangan.Tapi kenapa mirip sekali sama milik ku' pikir Ars lagi,kepalanya seakan buntu.Padahal tinggal bertanya saja kepada Agatha,tapi karena gengsi,begini lah jadinya,ia berpikir tanpa kejelasan yang pasti.
Karena terlalu fokus memikir kan cincin itu,Ars sampai tidak menyadari kalau ada pria paruh baya yang masuk ke dalam ruangannya.
"Ehem ehem ehem" dehem Daddynya Hery dengan nada tingginya,saat sudah berada di sampingnya Ars yang masih duduk dengan posisi yang sama.
"Ya Tuhan" ucap Ars,karena tersentak kaget oleh suara tingginya Daddy.Hampir saja ia terjatuh dari kursi yang ia duduki itu.
Terlihat Daddynya Hery langsung berdecak kesal,ia berdiri dengan menyilang kan kedua tangannya ke belakang pinggangnya sambil menggeleng-geleng kan kepalanya dengan pelan.
Padahal tadi ia sudah mengetuk pintu sebanyak 3 kali tapi penghuni di dalam ruangan ini malah sibuk duduk dengan memejam kan matanya,pantasan saja pintu yang ia ketuk tidak mendapatkan jawaban,penghuninya saja seperti patung hidup begitu.
"Tuan besar" panggil Ars dengan wajah kaget yang berubah datar kembali,sambil berdiri dari duduknya dengan cepat dan sedikit membungkuk kan badannya ke arah Daddynya Hery.
"Apa yang sedang kau pikir kan? Hingga tidak mendengar suara ketukan pintu dari ku" ucap Daddy dengan wajah datarnya sambil menahan rasa kesalnya di dalam hati dan berjalan ke arah sofa untuk duduk.
Sedang kan Ars hanya bisa menggaruk-garuk kan belakang lehernya yang tidak gatal,karena di tegur oleh Tuan besarnya.
"Jika saja,tadi itu bukan aku yang masuk tapi penjahat yang masuk.Aku rasa kau akan pergi menemui Tuhan tanpa mengeluar kan suara terlebih dahulu" ucap Daddy lagi dengan nada mengejeknya,sambil duduk di sofa tersebut dengan sebelah kaki yang menopang sebelah kakinya lagi.
'Dasar,putra dan Daddynya sama saja' umpat Ars di dalam hati,sambil mempertahankan wajah datarnya.
"Apa kau sedang mengumpat ku hm?" tanya Daddy tanpa menatap Ars yang sedang mendengus kesal ke arah.
'Kan,apa aku bilang.Putra dan Daddynya sama saja,selalu saja bisa membaca pikiran orang' pikir Ars.
"Tidak Tuan besar,aku mana berani" jawab Ars,ia memilih untuk mengalah dari pada berdebat.Sama putranya saja ia sudah kewalahan,apa lagi sama Daddynya.
"Cih" Daddy hanya berdecih,sambil menyalakan 1 batang rokok untuk ia hisap.
"Satu lagi,kenapa kau tidak pernah mengerti bahasa manusia?Kalau kau harus memanggil ku seperti Hery memanggil ku" ucap Daddy dengan nada kesalnya sambil menghisap rokok yang sudah di nyalakannya tadi,tapi wajahnya tetap saja datar.
Ars dan Mark memang beda dengan Jonathan dan Ryan yang langsung menurut,mungkin karena mereka berdua dari yatim piatu, jadi masih merasa segan dan belum terbiasa untuk mengikuti cara panggilnya Hery.
Ars tersenyum saat mendengar nada kesalnya Daddy,Daddy memang selalu menyuruhnya untuk memanggil seperti Hery tapi ia lebih nyaman memanggil dengan panggilan Tuan besar,hanya saja ia akan memanggil dengan panggilan Daddy jika sedang terlalu kesal dan sedang bahagia atau pada waktu-waktu tertentu saja,begitu juga dengan Mark.
"Tuan Besar,apa yang membuat dirimu datang ke sini?" tanya Ars dan mengabaikan pertanyaan Daddy barusan.Ia malas berdebat dengan Daddy.
Ars kembali duduk di meja kerjanya untuk melanjut kan perkerjaannya yang jadi sedikit berantakan tadi,ia juga mengabai kan wajah datarnya Daddy yang berubah menjadi kesal.
"Tentu saja,aku datang melihat keadaan Perusahaan yang tanpa pemimpin ini.Apa lagi,Asisten putra ku saat ini sedang dalam keadaan kurang baik,berdiri saja seperti sudah tidak seimbang.Bagaimana kalau Perusahaan ini juga ikut tidak seimbang seperti diri kau,mungkin saja sebentar lagi akan hancur di tangan kau" jawab Daddy dengan panjang lebar dan nada menyindirnya,karena ingin meluap kan rasa kesalnya terhadap Asisten putranya itu.
Ia juga sudah mendengar laporan dari anak buahnya,tentang Ars dan Agatha,dan juga tentang Jo dan Desi.
Ia memang selalu berada di dalam Mansion saja dan hanya diam saja,tapi ia tidak pernah berhenti memantau keselamatan dan keadaan putranya dan juga sahabat-sahabat putranya yang sudah ia anggap seperti putranya juga.
Tapi prinsipnya,ia tidak akan bergerak kecuali jika dalam keadaan darurat saja.Lagi pula,ia juga melihat kalau putranya yang mungkin akan bergerak demi istri tercintanya itu,jadi ia tidak perlu menguras tenaga tuanya itu lagi.
__ADS_1
"Tuan besar,Perusahaan ini tidak akan hancur selagi aku masih bisa bernafas" jawab Ars dengan nada sombongnya,tapi wajahnya tersenyum senang karena lagi-lagi ia mampu membuat Daddy kembali kesal.
"Kenapa tadi, bukan penjahat saja yang masuk ke ruangan ini" ucap Daddy dengan mendengus kesal saat mendengar nada sombong dari Ars,lalu ia kembali menghisap sisa rokoknya tadi.
Ars hanya tersenyum lebar saja saat mendengar ucapan candanya Daddy,ia kembali mengerjakan perkerjaannya.
Sedang kan Daddy terus menghisap sisa rokoknya hingga habis dengan wajah datarnya kembali,tadi ia memang datang untuk melihat-lihat keadaan Perusahaan karena putranya yang tidak masuk beberapa hari ini.
Ia bukan tidak mempercayai Ars,tapi ia juga bosan berada di Mansion bersama sepasang suami istri tua yang terus merecokinya dengan pertanyaan tentang istri,hingga membuat dirinya lari ke sini.
Jadi ia pun datang kesini,sekalian sekedar untuk melihat-lihat saja
Beberapa saat kemudian.
"Tuan besar,bagaimana kabar Tuan Muda dan Nona Muda?" tanya Ars sambil menatap sebentar punggung Daddy yang sedang duduk di sofa itu.
"Sudah lumayan baik,muntah-muntah dan pusing di kepala menantu ku juga sudah mengurang.Mungkin beberapa hari lagi,putra nakal ku itu sudah bisa datang ke Perusahaan" jawab Daddy sambil menekankan ujung rokoknya ke asbak rokok karena ia sudah selesai mengisap.
"Bagus lah" ucap Ars dengan tulus,ia kembali ingin bertanya tapi ketukan di pintu ruangannya membuat ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi.
"Tok tok tok" terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk" jawab Ars dengan suara tegasnya.
"Tuan,ada yang ingin bertemu dengan mu" lapor Sekretaris pria itu sambil sedikit menunduk kan kepalanya,setelah ia berada di dalam ruangannya Ars.
"Siapa ?" tanya Ars dengan singkat.
"Tuan Wijaya dan istrinya" jawab Sekretaris tersebut.
"Suruh mereka masuk" perintah Ars dengan nada tegasnya,tapi di dalam hatinya ia penasaran dengan maksud kedatangan sepasang suami istri paruh baya itu.
"Baik Tuan" jawab Sekretaris tersebut sambil berjalan keluar dari ruangannya Ars.
Ars yang tadi ingin segera menyelesai kan perkerjaannya pun,jadi menundanya terlehih dahulu.Ia pun hanya duduk terdiam dengan wajah datarnya.Tapi di dalam benaknya,ia terus memikirkan apa sebenarnya maksud kedatangan sepasang suami istri itu.
Sedang kan Daddy hanya tetap dengan posisinya,tidak berpindah sama sekali.Wajahnya juga tetap terlihat tenang,karena ia sendiri pun juga tidak begitu ingin tahu tentang apa maksud kedatangan kedua orang tuanya Agatha,ia hanya duduk sambil menuang kan air teh yang masih panas itu ke gelas miliknya karena air teh itu baru saja di seduh oleh Ars sendiri dan melirik sekilas wajah datarnya Ars.
Beberapa saat kemudian...
"Ceklek" terdengar suara pintu yang di buka dari luar,terlihatlah kedua orang tuanya Agatha yang sedang berjalan masuk dan di ikuti oleh Sekretaris tersebut dari belakang.
Ars pun segera berdiri dari duduknya dan menatap kedua orang tuanya Agatha dengan wajah penasarannya.
""Tuan Ars,selamat siang.Maaf,kalau kami menganggu waktu mu..." ucap Ayahnya Agatha.Ia memulai pembicaraan sambil sedikit menunduk kan kepalanya,ia sedang berusaha menahan rasa gugupnya saat ini tanpa menyadari kalau di dalam ruangan tersebut masih ada 1 pria paruh baya lainnya lagi.
Ibunya Agatha yang berdiri di samping suaminya dengan sebelah tangan yang membawa sekotak sedang bolu bika ambon pun, hanya berusaha tersenyum,walau pun ia agak takut.Apa lagi jika ia mengingat perkataan suaminya yang mengatakan kalau pria yang ada di depannya ini mampu membuat mereka ber 3 tidur di tepi jalan,membuat dirinya semakin takut untuk bersuara.
Sedang kan Agatha yang dari tadi sibuk mau ikut datang ke sini,terpaksa harus berdiam diri di rumah karena 1 pesan yang ia terima dari Ars yang mengatakan kalau dirinya harus istirahat terlebih dahulu,untuk sementara tidak perlu datang ke Perusahaan.
"Tenang saja,kalian sama sekali tidak menganggu" sela Daddy sebelum Ars sempat berbicara,ia berbicara sambil menoleh kan kepalanya ke arah kedua suami istri tersebut dengan posisinya yang hanya bergerak sedikit saja.
Suara yang tiba-tiba keluar dari arah samping pun,mampu membuat Kedua suami istri tersebut segera menoleh ke arah samping.
Ayahnya Agatha langsung menegang dengan wajah kagetnya,ternyata ada masih ada Tuan yang ia segani dan ia takuti di dalam ruangan tersebut,sedang kan Ibunya Agatha hanya menatap Daddy dengan wajah penasarannya karena tidak mengenali pria paruh baya yang baru bersuara itu.
__ADS_1
Ibunya Agatha dan Ashley memang orang yang hampir sama karakternya,karena memiliki sisi kampungan jadi mereka berdua tidak begitu mengenali orang-orang terkaya atau pun terhebat.
"Ars,apa kau tidak punya sopan santun?" tegur Daddy dan kembali menoleh kan kepalanya ke posisi semula lagi,ia juga mengabaikan eskpresi wajahnya ke 3 orang itu.
"Baik Tuan Besar" jawab Ars,sambil menahan rasa kesalnya.
"Tuan Kusuma,tidak perlu....." ucapan Ayahnya Agatha pun langsung terhenti saat melihat isyarat tangannya Daddy yang menyuruhnya untuk menurut saja.
"Silakan duduk dulu,Tuan dan nyonya" ucap Ars dengan wajah datarnya, sambil mempersilakan kedua orang tuanya Agatha melalui isyarat sebelah tangannya.
"Baik,terima kasih" jawab Ayah dan Ibunya Agatha secara serentak sambil berjalan ke arah sofa dan duduk berhadapan dengan wajah datarnya Daddy,sedang kan Ars juga segera mengikuti langkah mereka dan langsung duduk di sebelahnya Daddy.
Beberapa saat terdiam,Ars yang sudah tidak sabaran dengan wajah gugup kedua orang tuanya Agatha pun segera bersuara,beda dengan Daddy yang masih saja terlihat duduk dengan tenang.
"Jadi,apa maksud kedatangan kalian ke sini?" tanya Ars dengan nada santainya,sambil menatap suami istri itu,dengan wajah penasarannya tapi tetap tidak mengurangi wajah datarnya.
Ayahnya Agatha yang kebingungan dan juga takut karena tidak menduga akan bertemu dengan Tuan Kusuma di sini pun,akhirnya segera memberanikan diri untuk mengatakan maksud dari kedatangannya ke sini.Padahal berhadapan dengan Ars seorang saja ia sudah deg deg an,sekarang di tambah dengan seorang Tuan Kusuma,saat ini ia hanya bisa pasrah saja dengan apa yang akan terjadi
"Tuan,kami ke sini untuk berterima kasih pada mu karena telah menyelamatkan putri kami" ucap Ayahnya Agatha sambil memberanikan diri untuk menatap wajahnya Ars.
"Iya Tuan,kami sangat berterima kasih pada Tuan.Jika tidak ada Tuan,pasti sudah terjadi sesuatu yang buruk pada putri kami" lanjut Ibunya Agatha,dengan wajah bingung bercampur takut sambil menatap secara bergantian 2 pria beda usia yang sama-sama datar itu.
"Ini sebagai tanda terima kasih kami terhadap Tuan Ars,semoga kalian menerima pemberian kecil dari kami ini" lanjut Ibunya Agatha lagi sambil meletakkan bolu bika ambon itu di atas meja.
"Tidak masalah...." ucapan Ars yang belum sempat selesai,langsung di sela oleh Daddy,hingga membuat Ars mendengus kesal,hilang sudah wajah datarnya.
"Tidak perlu berterima kasih,itu sudah tanggung jawabnya Ars" ucap Daddy dengan penuh arti dan nada santainya sambil menatap wajah gugup Ayahnya Agatha yang mulai mengeluarkan keringat dingin,hingga membuat dirinya harus menahan tawa.
Ayahnya Agatha pun sedikit tersenyum lega saat mendengar perkataannya Tuan Kusuma tersebut,tapi yang ia tangkap adalah tanggung jawab sebagai pengurus Perusahaan,beda dengan arti yang di maksud oleh Daddy,karena Agatha adalah masa depannya Ars jadi tidak perlu berterima kasih.
"Ars,apa kau benar-benar tidak tahu sopan santun hm?" Seingat aku,aku selalu mengajarimu sopan santun" lanjut Daddy lagi,ia bahkan tidak memberi kesempatan pada Ayahnya Agatha atau pun Ars untuk berbicara.
"Baik Tuan Besar" jawab Ars dengan wajah pasrahnya saat melihat isyarat tangannya Daddy yang menyuruh dirinya menuang kan air teh,tapi di dalam hatinya,ia semakin kesal karena ulah jahil Daddy.Ia segera berdiri dari duduknya dan menuang kan 2 gelas air teh untuk kedua suami istri tersebut.
'Mengajari apanya,ketemu saja jarang.Bilang saja,kalau ingin membalas kekesalan tadi' batin Ars di dalam hati dengan menggerutu kesal.
"Tidak perlu,Tuan" ucap Ayahnya Agatha karena merasa tidak enak hati,sedangkan Ibunya Agatha hanya mampu berdiam diri saja,ia takut kalau saja ia akan salah bicara nanti.
"Tidak apa-apa,itu bukan masalah bagi dirinya" ucap Daddy,tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Calon menantu yang menuangkan air teh untuk calon mertua itu adalah wajar,jadi tidak perlu terlalu ambil hati" gumam Daddy pelan saat Ars sudah berdiri,gumaman Daddy pun hanya mampu di dengar oleh Ars saja.
"Jadi,apa lagi yang ingin kalian berdua bicarakan?" tanya Daddy lagi dan mengabaikan dengusan kesal dari Ars.
"I itu,itu kami ingin mengatakan sesuatu yang mungkin akan terdengar tidak masuk akal di telinga kalian,Tuan.Jadi sebelum itu,kami memohon maaf terlebih dahulu" ucap Ayahnya Agatha dengan wajah yang kembali gugup,sambil mengenggam sebelah tangan istrinya yang sedang mengenggam sebelah tangannya.
'Sepertinya, aku juga ikut menjadi tidak waras seperti istriku dan putri kami' batin Ayahnya Agatha,ia merasa sudah hilang akal saat ini demi putri mereka.
"Tidak masuk akal..." gumam Daddy dengan pelan sambil mengernyitkan keningnya karena penasaran,sedang kan Ars yang sibuk memasang telinga pun juga ikut mengernyitkan keningnya,ia sama dengan Daddy karena merasa penasaran juga.
"Katakan saja..." ucap Daddy dengan nada tegasnya,sambil mengambil air teh miliknya untuk ia minum dan menatap sekilas wajah gugup ayahnya Agatha yang kembali mulai berkeringat dingin hingga lagi-lagi mampu membuat dirinya menahan senyum karena melihat ketakutan Ayahnya Agatha yang terlihat sangat jelas.
"Kami bermaksud,ingin menjodohkan putri kami Agatha dengan Tuan Ars,Tuan" ucap Ayahnya Agatha dengan satu tarikan nafas saja,tapi keringat dingin di wajahnya terus saja mengalir tanpa ingin berhenti.
"Bruk"
__ADS_1
"Byuurrr"