
Wanita tersebutpun langsung berbalik badan kembali dan duduk dengan wajah kesalnya sambil meringis sakit karena rasa sakit di pergelangan kakinya itu,tapi ekspresi marahnya tadi sudah menghilang ntah kemana saat ia mendengar ancaman dari Sang Dokter.
Dirinya mana rela,kalau sampai tidak bisa bertemu sama pria yang sedang mulai mengisi hatinya yang sudah lama kosong itu.
"Cepat habiskan makan siangmu,setelah itu aku akan mengantarmu pulang" ucap Ryan,dengan nada santainya,sambil menyendok makan siang miliknya.
"Benarkah Dokter akan mengantarku pulang?" tanya wanita tersebut,dengan wajah bingungnya,karena baru ini untuk pertama kalinya Sang Dokter berbaik hati tanpa di paksa terlebih dahulu.
"Jika kamu bertanya lagi,aku akan menyuruhmu pulang sendiri saja" jawab Ryan,tanpa menghentikan makannya,dengan wajah seriusnya.
Kalau saja ia tidak sedang mengkhawatirkan pergelangan kakinya wanita tersebut,ia pasti akan tetap mempertahankan sikap cueknya itu.
"Baik Dok" jawab wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum senang,lalu ia segera memakan makan siangnya tanpa oceh-ocehan yang seperti sebelum-sebelumnya lagi.
Sedangkan Ryan,hanya mampu menahan senyum di dalam hatinya,saat ia melihat senyum senang di wajah wanita tersebut.
Setelah mereka berdua sudah menyelesaikan makan siang mereka,Ryanpun benar-benar menepati perkataannya kalau ia akan mengantar wanita tersebut pulang.
"Tunggu dulu" ucap Ryan,saat ia melihat wanita tersebut sudah berdiri dari duduknya dan berniat ingin pulang,karena mereka berdua sudah selesai membersihkan meja kerjanya Sang dokter dan ia berniat ingin menunggu Sang Dokter di depan ruangan saja.
Wanita tersebut langsung menghentikan kakinya yang baru saja ingin melangkah,dengan wajah bingungnya,sambil menatap Sang Dokter yang sibuk mengambil jaket,kunci mobil dan HP.
Sedangkan Ryan,yang baru saja selesai memakai jaket dan menyimpan HP dan kunci mobil miliknya ke saku celananya,ia segera berjalan mendekat ke arah wanita tersebut dan berjongkok di hadapan wanita tersebut.
"Apa yang sedang kamu lakukan Dok?" tanya wanita tersebut,dengan wajah yang semakin bingung karena tidak mengerti apa maksud dari Sang Dokter dengan berjongkok tepat di hadapannya.
"Naiklah ke punggungku.Apa kamu yakin kalau kamu bisa berjalan hingga ke parkiran mobil sana dengan kakimu yang seperti itu?" Tanya Ryan,dengan wajah malasnya,karena wanita tersebut yang masih saja bertanya.
"Baiklah,kalau kamu tidak mau.Kalau begitu,kamu jangan mengatakakan aku pria yang tidak punya hati lagi,kalau kamu sampai kesulitan berjalan hingga ke depan sana" lanjut Ryan lagi,dengan nada kesalnya karena wanita tersebut tidak juga menuruti perkataannya.
"Mau,tentu saja aku mau.Kamu ini tidak sabaran sekali" jawab wanita tersebut,dengan cepat,saat ia melihat Sang Dokter yang sedang ingin berdiri jongkoknya.
Ia segera mendaratkan tubuhnya ke atas punggung lebarnya Sang Dokter dan juga merangkul lehernya Sang Dokter dengan kedua tangan yang sedang memegang sebungkus rantang kotornya tadi dan wajah yang tersenyum senang.
Hari ini ia juga merasa bahagia karena masakannya hanya tersisa sedikit saja,tidak seperti biasanya yang tersisa separuh.
Tapi walaupun selalu tersisa banyak,ia tetap semangat ingin mencoba karena Sang Dokter tidak pernah berkata buruk tentang masakannya.Bahkan Sang Dokter selalu menghargai masakannya dengan memakannya walaupun kadang hanya sedikit saja yang di makan oleh Sang Dokter.
"Apa kamu tidak bisa pelan-pelan?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya.Hampir saja ia terduduk karena wanita tersebut menaiki tubuhnya dengan kuat dan tiba-tiba.
"Maaf" jawab wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum cenges-ngesan,sambil menyandarkan kepalanya ke pundaknya Sang Dokter,hingga membuat wajahnya sama wajahnya Sang Dokter berdekatan.
Sedangkan Ryan,ia hanya diam saja dan langsung berdiri dari berjongkoknya,lalu ia segera berjalan keluar dari ruangannya tanpa bicara apapun lagi karena sedang sibuk mengontrol degupan jantungnya yang sudah mulai tidak terkontrol sedari wanita tersebut membuat wajah mereka tidak berjarak.
Para Dokter dan perawat yang masih sibuk berlalu lalangpun,langsung berdiri terpaku dan melongo tidak percaya,saat mereka semua melihat permandangan langka tersebut.
Karena Dokter yang mereka tahu itu selalu menolak cinta wanita-wanita yang mengejarnya dan tidak suka di repotkan oleh yang namanya wanita,tapi yang mereka semua lihat sekarang adalah di luar pengetahuan mereka semua.
Wanita tersebut yang merasa malu,iapun segera menelusupkan kepalanya lebih dalam ke ceruk lehernya Sang Dokter,karena di tatap banyak pasang mata dengan ekspresi yang berbeda-beda.
__ADS_1
Sedangkan Ryan,hanya mampu menahan geli dan terus berjalan,ia berusaha mengabaikan tatapan bingung,heran,kaget dan penasarannya semua orang,kecuali 5 perawat yang selalu mengikutinya itu terus tersenyum karena sudah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
'Nyaman sekali,seperti sepasang kekasih saja.Seandainya bisa setiap hari aku berada di punggung Dokter seperti ini,pasti akan sangat menyenangkan' batin wanita tersebut,masih dengan posisi kepala yang sama.
Lagi-lagi Ryan hanya mampu menghela napas dengan pelan karena degupan jantungnya seperti tidak mau berkerja sama,malah berdegup semakin kencang.
Setelah sudah sampai di samping mobilnya,Ryan yang kesulitan untuk membuka pintu mobilnya,iapun segera meminta bantuan dari wanita tersebut yang masih sibuk tersenyum di balik lehernya .
"Cepat ambil kunci mobilku dan bantu aku membuka pintu mobil" ucap Ryan,sambil menahan rasa geli di lehernya,bahkan rasa gelinya sudah mulai berubah aneh.
"Kunci mobilku ada di dalam saku celanaku yang di sebelah kanan"lanjut Ryan lagi,dengan nada kesalnya karena wanita tersebut hanya diam saja dengan kepala yang sudah mendongak ke atas dan menatap bingung ke arahnya,mungkin sedang bertanya di mana letak kunci mobilnya.
Wajah bingungnya wanita tersebut langsung tersenyum,saat ia mendengar perkataanya Sang Dokter,karena otak kecilnya langsung saja muncul ide untuk menggoda Sang Dokter.Ia ingin memberi sedikit pelajaran pada Sang Dokter yang selalu saja cuek terhadapnya.
"Baik Dok" jawab wanita tersebut,dengan suara yang berpura-pura polos.Lalu sebelah tangannya segera masuk ke dalam saku celananya Sang Dokter dengan badan yang sedikit mencondong ke samping,tanpa sadar kalau Sang Dokter dapat merasakan pergerakan kedua gunung kembarnya yang agak besar dan padat itu.
Sedangkan Ryan,wajahnya sudah memerah karena rasa malu sekaligus rasa-rasa aneh yang mulai mengerayangi tubuhnya.
Ia segera melirik ke kiri dan ke kanan,mana tahu ada orang yang melihat tingkah mereka berdua,tapi karena tidak berdaya, ia hanya bisa pasrah saja saat ia melihat kalau ada beberapa satpam yang sedang sibuk memerhatikan mereka berdua.
"Hentikan..." seru Ryan,dengan wajah paniknya,saat ia merasakan tangan wanita tersebut mulai salah arah,karena antara tangannya wanita tersebut dan benda bawah miliknya hanya tinggal berjarak 1 cm saja.
"Apa yang sedang kamu lakukan,hm?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya,sambil menolehkan kepalanya ke arah wajah polosnya wanita tersebut.
"Bukankah kamu menyuruhku,untuk mengambil kunci mobilmu?" tanya wanita tersebut,dengan wajah yang berpura-pura bingung sambil menahan rasa malunya tanpa memindahkan tangannya yang hampir mendekati daerah terlarang rersebut
"Iya.Tapi kunci mobilnya ada di bawah bukan di samping" jawab Ryan,dengan nada kesalnya,sambil terus menatap wajah bingung wanita tersebut.
Ryan yang baru saja menyadari kalau wanita tersebut sengaja menggodanya,iapun langsung mendengkus kesal dan menatap lurus ke depan lagi.
"Kamu tinggal pilih...Kamu mau aku buat sampai masuk rumah sakit dengan kaki yang patah atau aku antar sampai rumah dengan selamat?" tanya Ryan,dengan cepat dan nada kesalnya tanpa mengalihkan tatapan lurusnya,saat ia merasakan tangannya wanita tersebut yang kembali mulai bergerak.
"Oke oke,aku ingin di antar pulang dengan selamat saja" jawab wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum senang karena sudah berhasil membalas rasa kesalnya.Lalu ia segera menarik kembali tangannya yang sudah berada di atas belalai miliknya Sang Dokter tapi belum sempat menyentuh belalainya Sang Dokter.
Lalu tangannya langsung turun ke bawah untuk mengambil kunci mobil milik Sang Dokter.
Sedangkan Ryan,langsung menghela napas lega saat tangan wanita tersebut sudah tidak berada di sekitar daerah terlarang miliknya lagi.
'Kenapa tadi pagi aku tidak memakai celana jeans saja...' batin Ryan,dengan wajah kesalnya,karena hari ini ia memakai celana yang berkain lembut dan juga lentur,jadi tangan wanita tersebut mampu menggerakkan tangannya ke daerah terlarangnya itu.
Rasanya Ryan ingin sekali melepaskan genggaman nya saja,pada kedua paha wanita tersebut ke lantai aspal yang ada di parkiran tersebut.Tapi hatinya merasa tidak tega,apa lagi dengan kondisi pergelangan kaki wanita tersebut yang seperti itu.
Setelah pintu mobil di sampingnya kemudi sudah berhasil di buka dengan bantuan dari wanita tersebut,Ryan segera mendudukkan wanita tersebut ke dalam mobil.
"Cup" terdengar kecupan pelan di pipinya Ryan,saat ia sedang sibuk membungkukkan badannya agak ke bawah karena tidak mau sampai kepala wanita tersebut terbentur atap mobilnya.
"Apa lagi yang kamu lakukan?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya setelah wanita tersebut sudah ia dudukkan di samping kemudi dengan baik.
"Tidak ada,aku tidak melakukan apa-apa" jawab wanita tersebut dengan wajah yang tersenyum manis dan wajah tidak berdosanya.
__ADS_1
Sedangkan Ryan,ia hanya mampu mendengkus kesal saja,saat ia melihat senyum manis dan wajah tidak berdosanya wanita tersebut.
Apa wanita tersebut tidak tahu,karena berkat tingkah mesumnya wanita tersebut,benda miliknya hampir saja terbangun.Kalau saja sudah terbangun,ia pasti akan kesulitan untuk menidurkannya karena tidak mendapatkan pelampiasan yang tepat.
Lalu iapun langsung menutup pintu mobil tersebut dan berjalan ke arah pintu kemudi dengan wajah kesalnya.Wanita tersebut langsung tersenyum puas karena lagi-lagi ia berhasil membuat Sang Dokter menjadi kesal.
"Apa kamu memang sudah sering menyentuh benda milik pria?" tanya Ryan dengan nada kesalnya dan wajah yang penasaran,setelah mereka berdua sama-sama sudah berada di dalam mobil.
"A apa? apa katamu tadi?" tanya wanita tersebut,dengan wajah kagetnya,sambil mengalihkan tatapam lurusnya tadi ke arah wajahnya Sang Dokter.
"Aku tanya,apa kamu memang sudah sering menyentuh benda miliknya pria?" tanya Ryan lagi,sambil melajukan mobilnya.
Wanita tersebut langsung mendengkus kesal,saat ia sudah memperjelas pendengarannya lagi.Ia sangka barusan ia salah dengar,tapi ia tidak menyangka kalau ternyata Sang Dokter benar-benar menanyakan hal yang ia sangka salah dengar itu.
"Apa maksudmu? Benda apanya? " tanya wanita tersebut balik,dengan wajah yang berpura-pura tidak mengerti,sambil mengalihkan tatapannya ke depan kembali.
"Apa perlu,aku memperlihatkannya padamu langsung?" tanya Ryan,dengan wajah yang semakin kesal,saat ia melihat wanita tersebut yang seperti tidak mau menjawab.
"Atau kamu benar-benar memang sudah sering menyentuh benda miliknya pria?" tanya Ryan lagi,dengan pikiran yang sudah bercabang-cabang ke arah negatif karena sedang memikirkan apa yang ia katakan barusan.
Karena yang ada di pikirannya saat ini,kalau wanita tersebut memang sudah sering menyentuhnya ,maka sudah di pastikan kalau mereka mampu melakukan yang lebih jauh lagi.
Ntah kenapa,hatinya menjadi tidak karuan,karena memikirkan semua itu.
"Enak saja.Aku sama sekali belum pernah menyentuhnya" jawab wanita tersebut,dengan cepat saat ia mendapatkan tuduhan tidak benar dari Sang Dokter.
'Melihatnya saja aku belum pernah,bagaimana aku bisa menyentuhnya' lanjut wanita tersebut lagi di dalam hatinya.
"Aku hanya pernah ....." lanjut wanita tersebut lagi,dengan nada pelannya,sambil menatap malu ke arah Sang Dokter dan menjeda kalimatnya.
"Hanya pernah apa?" tanya Ryan,dengan nada menuntutnya karena merasa semakin penasaran,sambil mengurangkan laju mobilnya dan menatap ke arah wajahnya wanita tersebut.
"Hanya pernah,aku hanya pernah sering membayangkannya saja..." jawab wanita tersebut,dengan wajah malunya dan nada yang lamban.Ia sedikit menundukkan kepalanya,karena malu mau menatap ke arah wajahnya Ryan.
"Apa? Membayangkan?" tanya Ryan,dengan wajah tidak percayanya.Ternyata di otak kecilnya wanita tersebut memang selalu di penuhi dengan pikiran mesum.
"Dasar mesum" lanjut Ryan lagi,dengan wajah tidak percayanya dan juga kesal,sambil menggeleng-geleng pelan kepalanya dan melajukan kembali laju mobil yang tadi ia pelankan menjadi sedang.
'Dasar wanita tidak tahu malu,apa harus di jawab dengan jujur juga...' lanjut Ryan lagi di dalam hatinya,hatinya memang lega saat ia mendengar jawaban dari wanita tersebut yang jauh dari pikiran negatifnya.
Tapi tetap saja ia kesal,lagi pula bagaimana cara wanita tersebut membayangkannya,sedangkan dia saja sama sekali belum pernah melihatnya.Memikirkan itu,Ryan jadi bertanya-tanya apa wanita tersebut sudah sering melihatnya,belum pernah menyentuhnya tapi belum tentu belum pernah melihatnya kan.
"Jadi,kenapa tadi tanganmu bisa kesasar?" tanya Ryan,masih dengan nada kesalnya,ia kembali mengungkit kejadian di samping mobilnya tadi.
"I itu,hanya reflek saja" jawab wanita tersebut,dengan nada lamban dan juga wajah malunya karena bingung mau jawab apa,sambil mengusap-usap keningnya dengan pelan.
Tapi ia benar-benar tidak bermaksud begitu,tadi itu ia hanya ingin melepaskan rasa kesalnya saja.Kebetulan mendapatkan kesempatan untuk menggoda Sang Dokter,iapun tidak mau kesempatan tersebut menjadi sia-sia.
"Reflek?" tanya Ryan,lagi-lagi ia harus kembali menggeleng-geleng pelan kepalanya karena merasa bingung harus menanggapi wanita tersebut seperti apa.
__ADS_1
Ntah ia harus mengucapkan rasa syukur atau rasa senang atau juga rasa sedih atau juga rasa bahagia karena sudah bertemu wanita seperti ini.
"Apa kamu memang seperti itu sama setiap pria?" tanya Ryan,dengan wajah penasarannya,sambil fokus sama jalan di depannya.