Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab.159


__ADS_3

C**m*n mereka berdua,semakin lama semakin memanas.Setelah puas di mulutnya Desi, c**m*nnya Jo mulai turun ke leher,dengan kedua tangan yang juga ikut beraksi.


Perlahan-lahan,tapi pasti.Pakaian kerja mereka berdua mulai terlepas dari tubuh mereka satu persatu.


Hingga akhirnya,tidak ada sedikitpun kain yang bisa menjadi penghalang di antara mereka lagi.Suara merdunya Desipun mulai terdengar,saat ia merasakan kembali sentuhan-sentuhan Jo yang selalu mampu membuat dirinya menjadi tidak berdaya.


Jo tersenyum senang,saat melihat Desi yang sedang berada di bawah tubuhnya,sudah tidak berdaya dan tidak mampu menolak sentuhannya sama sekali.


Ia tersenyum, untuk beberapa detik,sambil mengulum salah satu ujung gunung kembarnya Desi dengan rakus dan penuh semangat.Sedangkan sebelah tangannya,masih sibuk meremas dan memintil ujung gunung kembarnya Desi yang sebelahnya lagi.


Desi terus mengeluarkan suara merdunya,sambil meremas rambut rapinya Jo yang sudah menjadi berantakan karena remasannya.Bahkan nadanya menjadi semakin meninggi,saat sentuhannya Jo yang menjalar semakin ke bawah,


Setelah ia merasa cukup,dengan sentuhan-sentuhan yang sudah ia berikan pada tubuh polosnya Desi.


Jo segera memposisikan benda bawahnya di depan miliknya Desi.Tapi sebelum ia memasukinya,ia sengaja bermain-main di depan miliknya Desi terlebih dahulu,karena ingin membalas rasa kesalnya tadi akibat ulahnya Desi yang terus menghindari dirinya dari tadi pagi.


" Sa sayang..." panggil Desi,dengan suara tidak berdayanya.Saat ia merasakan,kalau benda bawahnya Jo,hanya bermain-main saja di sekitar miliknya.


"Kenapa sayang?" tanya Jo,dengan wajah yang tersenyum senang,karena Desi yang mulai merasa tidak nyaman dengan kesengajaannya.


"Sa sayang,ce cepat lakukan" jawab Desi,dengan wajah yang kesal bercampur malu,sambil mengenggam tangannya Jo dengan pelan dan menatap wajah tersenyumnya Jo dengan tatapan sayunya,hingga mampu membuat Jo menjadi tidak bisa bertahan di depan miliknya lebih lama lagi.


Jo segera memasuki miliknya Desi,dengan sekali hentakan yang kuat,karena benda miliknya yang memang sudah mendesak ingin masuk dari tadi.


"Aahhh,sa sayang,,aahhhh" terdengar suara panggilannya Desi,berlanjut dengan suara merdunya lagi.


Karena Jo yang langsung mulai memaju mundurkan bawahnya dengan gerakan pelan,lalu beberapa detik kemudian, berganti dengan gerakan cepat.Hingga mampu membuat nada suara merdunya Desi menjadi semakin tinggi, tapi tetap saja terdengar merdu di telinganya Jo.


Mereka berdua terus saling berpacu,dengan berbagai macam gaya.Kadang Desi yang berada di bawah tubuhnya Jo,kadang juga Jo yang berada di bawah tubuhnya Desi ,tapi selalu Jo yang lebih mendominasi pacuan tersebut.


Sedangkan di luar ruangan,Sekretaris yang baru saja sampai di depan ruangan kerja milik Tuannya.Ia segera berbalik badan dan berjalan ke arah ruangannya kembali dengan langkah lebarnya,saat ia mendengar samar-samar tapi tidak jelas, suara-suara yang akan menggoda jiwa jomblonya.


Apa lagi,suara- suara tersebut pasti akan membuat tubuhnya panas dingin,ia tidak ingin mengulang kesalahannya kembali karena jiwa keponya kemaren.Jadi,lebih baik ia segera menyingkir dari sana.Dari pada tubuhnya harus menjadi panas dingin yang tidak punya penawarnya,hanya gara-gara ingin melapor perkerjaannya saja.


(Kembali lagi ke dalam ruangan pribadinya Jo.).


Tubuh polos mereka berdua sudah di penuhi oleh keringat,karena pacuan mereka yang terlalu bersemangat.


Desi yang sudah mendapatkan perlepasan beberapa kalipun,masih merasa belum cukup.Sedangkan Jo,masih belum mendapatkan perlepasan sama sekali.


"Sa sayang,le lebih ce pat" ucap Desi,dengan suara yang tersengal-sengal karena hentakan-hentakan yang di lakukan oleh Jo pada miliknya yang terasa sangat n*km*t.


"Ba baik sayang" jawab jo,dengan suara seraknya.Dengan senang hati,ia segera melajukan kecepatan yang sengaja ia kurangkan tadi,karena ingin menikmati suara merdunya Desi lebih lama lagi.


Setelah 1 jam lamanya,mereka berdua saling berpacu,akhirnya Jo pun mendapatkan perlepasannya juga.

__ADS_1


Lalu dengan nafas yang sama-sama tersengal-sengal dan keringat yang sudah membasahi tubuh mereka berdua,Jo langsung memeluk tubuh polosnya Desi dari samping,saat ia sudah melepaskan penyatuan mereka barusan.


"Cup...Apakah masih kurang,hm?" tanya Jo,dengan wajah yang tersenyum menggoda,setelah selesai mengatur nafas tersengalnya barusan dan mengecup sekilas pipinya Desi.


Desi langsung tersenyum malu,saat mendengar pertanyaannya Jo barusan.Ia segera menyembunyikan wajah malunya ke dada kekarnya Jo.


"Jonathan" panggil Desi,dengan nada kesalnya,sambil terus menyembunyikan wajah malunya.


Sedangkan Jo,hanya tersenyum lucu sambil mengangkat tubuh polosnya Desi ke dalam gendongannya dengan pelan dan posisi kepalanya Desi yang terus menempel di dada kekarnya.


"Sayang,kenapa kamu selalu mendadak seperti ini,tanpa memberitahuku terlebih dahulu.Bagaimana kalau sampai aku terjatuh nanti..." ucap Desi,dengan nada kesalnya dan kedua tangan yang langsung merangkul lehernya Jo karena takut akan terjatuh.


"Kamu tenang saja,sayang.Aku tidak akan membiarkan itu sampai terjadi" jawab Jo,dengan wajah yang terus tersenyum,sambil menatap sebentar wajah memerahnya Desi dan cetakan-cetakan merah yang sudah ia ciptakan di seluruh tubuhnya Desi tadi.Hingga membuat dirinya semakin tersenyum puas dan juga bangga.


Lalu ia segera turun dari atas kasur dan berjalan ke arah kamar mandi,tanpa melepaskan Desi dari gendongannya.


Desi langsung tersenyum di balik dada kekarnya Jo,walaupun masih merasa malu,karena mengingat permintaan-permintaannya saat terjadi pergumulan panas tadi.


Setelah mereka berdua selesai membersihkan diri dengan di sertai sedikit candaan,mereka berdua segera keluar dari kamar mandi dengan posisi Desi yang tetap berada di dalam gendongannya Jo dan juga sama-sama sudah memakai jubah mandi.


"Kamu istirahat saja di sini ya...Aku akan keluar untuk melanjutkan perkerjaanku tadi terlebih dahulu" ucap Jo,sambil mendudukkan Desi di depan meja kaca miliknya.


"Bagaimana dengan tugasku?" tanya Desi,dengan wajah bingungnya,sambil menatap Jo,melalui meja cermin yang ada di depannya.Terlihat Jo yang sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.


"Kamu istirahat saja,tidak perlu mengkhawatirkan atau memikirkan tugasmu itu" jawab Jo,dengan wajah santainya,sambil terus mengelap rambut basahnya Desi yang sudah mulai mengering.


'Padahal tidak masalah juga,walaupun Desi tidak mengerjakan tugas manggangnya.Karena pada akhirnya,dirinya sendiri juga yang akan memberi nilai atau masukan atas perkerjaannya Desi.Lagi pula,hasil dari tugas-tugas yang telah di kerjakan oleh Desi sebelum-sebelumnya selalu bagus.Jadi,tidak ada yang perlu di khawatirkan' pikir Jo.


"Baiklah" jawab Desi,dengan wajah pasrahnya,sambil menatap wajah tampannya Jo yang ada di pantulan cermin yang berada di depannya.


"Bagus,anak yang baik.Aku akan mengecek sisa berkas-berkas yang di bawa oleh Sekretarisku tadi,terlebih dahulu.Cup..." ucap Jo,sambil mengecup sekilas bibir merah jambu alaminya Desi,dengan wajah yang tersenyum senang,karena Desi mau menuruti perkataannya.


Karena dari tadi pagi,ia memang berniat untuk menyuruh Desi agar mau beristirahat.Karena ia bisa menilai kalau wanitanya kurang tidur,terbukti dari tadi pagi wanitanya terus menguap.


Kemudian Jo segera memberi handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya Desi tadi,pada Desi.Lalu ia segera berjalan masuk ke dalam walk-in closet untuk berganti pakaian yang lebih rapi lagi,karena pakaiannya tadi sudah berantakan akibat cara buka mereka yang terburu-buru tadi.


Sedangkan Desi,hanya mampu mendengus kesal.Memangnya ia harus melakukan apa,saat berada di dalam ruangan pribadi ini sendirian.Tapi,Jo sepertinya memang tidak mau mendengar ada bantahan dari mulutnya.


Setelah 2 menit berlalu,terlihat Jo sedang berjalan keluar dari dalam walk-in closet miliknya,dengan pakaian yang sudah rapi dan wajah tampan yang terlihat semakin tampan di kedua matanya Desi.


Sedangkan Desi,ia sudah selesai dengan sisa rambut basahnya yang masih belum terlalu kering tadi.Saat ini,dengan wajah yang tersenyum bahagia dan tanpa berkedip,ia terus menatap wajah tampannya Jo yang sedang berjalan ke arahnya.


Jo langsung tersenyum geli dan juga merasa lucu,karena tatapan mendambanya Desi yang kembali kambuh.


"Auchk" pekik Desi,dengan nada pelannya,sambil mengelus-elus keningnya yang terasa ngilu karena di sentil oleh Jo.

__ADS_1


"Jonathan,sakit tahu.." panggil Desi,dengan nada kesalnya,sambil menatap wajahnya Jo yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.


"Menyebalkan sekali...Ehmm" gerutuannya Desi,langsung di sambut dengan bungkaman bibirnya Jo yang hanya berdurasi singkat itu.


"Apa aku memang sangat tampan,hingga kamu sampai tidak merasa bosan untuk terus menatap diriku?" tanya Jo,dengan wajah yang tersenyum menggoda,setelah c**m*n singkat mereka sudah terlepas.


"Ti tidak juga sih.Hanya saja,belum waktunya untuk aku merasa bosan" jawab Desi,dengan wajah yang tersenyum malu,sambil menatap kedua matanya Jo yang sedang menatapnya juga.


'Tentu saja,sangat tampan.Dan aku akan terus menatapnya kalau punya kesempatan,karena sampai kapanpun,aku tidak akan pernah bosan untuk menatap wajah tampanmu itu' lanjut Desi,di dalam hatinya.


"Baiklah,terserahmu saja,begitu juga bagus.Ingat,beristirahatlah,jangan melakukan yang aneh-aneh di dalam sini,aku akan segera menyelesaikan sisa perkerjaanku tadi" ucap Jo,dengan nada menggodanya,sambil sedikit mengacak-acak rambutnya Desi yang sudah rapi.


Kemudian,ia segera berbalik badan dan berjalan menuju ke ruang kerjanya dengan wajah yang terus tersenyum,karena telah berhasil menggoda Desi kembali dan juga karena rasa bahagianya.


"Kalau bosan,tidur saja.Aku akan membangunkanmu,setelah aku selesai mengerjakan perkerjaanku nanti.Dan juga,jangan lupa memimpikan aku di dalam tidurmu" ucap Jo,dengan nada seriusnya yang bercampur godaan,sebelum ia benar-benar menghilang dari balik pintu tersebut dengan senyum yang tidak mengurang sama sekali di wajah tampannya dan mengabaikan wajah kesal wanitanya.


Sedangkan Desi,terus menatap pintu yang sudah kembali tertutup itu,dengan wajah kesalnya,sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan karena ulahnya Jo.


"kamu itu yang aneh.Memangnya,aku akan melakukan apa di dalam sini.Aneh-aneh apanya,di dalam sini kan,hanya ada aku sendiri saja.Memangnya apa yang bisa aku lakukan dengan ragaku sendiri..." gerutu Desi,dengan wajah kesal dan bibir mengerucutnya.


Padahal yang di maksud oleh Jo, dengan melakukan aneh-aneh itu,bukan mengarah ke hubungan intim.


Tapi yang di maksud oleh Jo adalah,melamun,atau tersenyum sendiri contohnya.Atau memukul-mukul kepala dengan pelan mungkin.Karena setahu jo,kalau wanita yang sedang malu di depan prianya,sesudah pria itu pergi,wanita itu akan melakukan hal-hal aneh seperti itu.


"Dan yang barusan itu,tanpa kamu bilang,aku juga akan melakukannya" Desi kembali melanjutkan gerutuan kesalnya,dengan wajah yang tersenyum malu.Tapi hanya sebentar saja,karena wajahnya kembali berubah menjadi kesal ,akibat rasa kesalnya pada Jo.


"Di ajak menikah tidak mau,tapi terus mengajak bergulat.Dasar pria brengsek,dasar pria tidak tahu diri" gerutu Desi lagi,dengan berserta umpat-umpatannya.


Walaupun ia terus mengumpat Jo,tapi ia heran.Karena cintanya kepada Jo bukan berkurang,tapi malah bertambah.


"Kenapa aku tidak bisa berhenti untuk mencintai pria menyebalkan itu?Apakah ini yang di sebut dengan cinta buta? " tanya Desi pada dirinya sendiri,dengan wajah yang tersenyum bercampur kesal.Kemudian ia langsung menghela nafas dengan berat dan agak panjang.


"Sudahlah,lebih baik aku tidur saja" ucap Desi lagi,karena sudah bosan menggerutu sendiri.Ia segera merebahkan diri di atas kasur empuk miliknya Jo dan menarik selimut hingga sebatas dadanya tanpa berniat menukarkan jubah mandinya dengan pakaian kerjanya,lalu ia segera memejamkan kedua matanya,mencoba untuk tidur saja..


Lagi pula,tubuhnya juga memang sedang lelah.Karena beberapa hari ini,ia sering tidur larut karena mengerjakan tugas-tugas dari kuliahnya di rumahnya.Di tambah lagi,dengan pergulatan panas yang mereka berdua lakukan tadi.


Setelah 10 menit berlalu,karena memang sedang lelah juga,akhirnya terdengar juga dengkuran halus dari nafasnya Desi.Pertanda,kalau Desi sudah terlelap dengan nafas yang tenang.


Sedangkan Jo,sibuk tertawa kecil sambil mengerjakan perkerjaannya.Ia mengerjakan perkerjaannya,sambil menatap layar HP miliknya yang ia sandarkan di atas meja kerjanya.


Terlihat Desi yang sedang tertidur pulas, di layar HP miliknya Jo.Sedari ia mulai mengerjakan perkerjaannya tadi,ia sudah langsung membuka camera di ruangan pribadinya yang hanya terdapat di HP miliknya saja.


Bukan hanya bisa melihat ekspresi wajahnya Desi yang terus berubah,bahkan ia juga bisa mendengar gerutu-gerutuannya Desi dengan sangat jelas.


Karena tanpa Desi sadari,dari awal Jo mendirikan anak Perusahaan miliknya ini,ia sudah meletakkan cctv di setiap tempat,termasuk ruangan pribadinya.Hanya saja,khusus di dalam ruangan pribadinya,Jo sudah merubahnya,supaya hanya bisa di lihat di HP pribadi miliknya saja.

__ADS_1


Setelah ia melihat Desi yang sudah tertidur pulas,iapun langsung fokus pada perkerjaanya,agar bisa cepat selesai.


__ADS_2