Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 163


__ADS_3

"Sudah berapa menit, pasien tersebut berada di ruangan penanganan?" tanya Ryan,dengan wajah seriusnya,sambil mengambil sarung tangan.Setelah selesai memakai Jas Dokternya,ia lanjut memakai sarung tangannya sambil berjalan keluar dari ruangan kerjanya dan langsung di ikuti oleh perawat tersebut dari belakang.


Wajah tersenyum dan kesalnya tadi langsung sirna begitu saja,karena sibuk memikirkan kondisi pasien dan nyawa pasien tersebut.


"Sudah 5 menit yang lalu,Dok" jawab perawat tersebut,sambil terus mengikuti langkah lebarnya Dokter Ryan yang sedang menuju ke arah ruangan pasien tersebut.


Kemudian Ryan tidak berbicara apa-apa lagi,ia terus melangkah dengan langkah yang cepat karena pasien tersebut pasti akan kehilangan nyawa kalau sampai ia terus menunda waktu dengan melangkah lambat, hingga tidak jauh dari depan matanya terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang sedang menangis,sambil berpelukan.Tapi yang sedang menangis lebih parah adalah sang istri.


"Dokter,tolong selamatkan putri kami.Hanya dirinya satu-satunya putri kami.Aku mohon Dokter,tolong segera selamatkan putri kami" mohon sang istri pada Dokter yang ia tahu dari para perawat barusan kalau Dokter tersebut adalah salah satu Dokter hebat di rumah sakit ini.


Sang istri memohon,sambil menggoyang-goyangkan lengannya Dokter tersebut,dengan wajah yang sudah di penuhi dengan linangan air mata.


"Nyonya,mohon lepaskan dulu....." ucapan perawat tersebut,langsung terhenti,saat ia melihat isyarat tangan dari Dokter Ryan yang menandakan kalau ia tidak perlu melanjutkan perkataannya lagi dan hanya perlu diam saja.


"Nyonya,kalian tenang saja.Aku akan berusaha sebisa mungkin.Tapi Nyonya harus melepaskan tanganku terlebih dahulu,kalau tidak,aku tidak akan bisa dan akan terlambat menyelamatkan putri kalian " ucap Ryan,dengan suara sopannya,sambil menahan rasa khawatirnya dan tidak sabarannya untuk bisa segera melihat kondisi pasien tersebut.


"I iya,apa yang kamu katakan memang benar.Kalau begitu cepatlah selamatkan putri kami,kami hanya bisa bergantung padamu saja Dokter" ucap Ibunya pasien tersebut,sambil melepaskan pegangannya di lengannya Dokter tersebut,dengan wajah memohonnya dan dan sangat berharap kalau putri mereka bisa selamat,begitu juga dengan Ayahnya pasien tersebut.


"Baik nyonya,akan aku usahakan" ucap Ryan,masih dengan suara sopannya,sambil menahan rasa khawatirnya.


Lalu ia segera masuk ke dalam ruangan pasien yang memang sudah berada di depannya berdiri dan perawat tadipun langsung mengikuti langkah Dokter Ryan,sambil sedikit membungkukkan badannya ke arah sepasang suami paruh baya tersebut,sebelum ia dan Dokter Ryan benar-benar menghilang di balik pintu ruangan pasien tersebut,meninggalkan kedua suami istri paruh baya tersebut yang sedang berharap besar pada Ryan untuk berhasil menyelamatkan putri mereka.


(Di dalam ruangan pasien).


"Dokter" sapa beberapa perawat yang memang sudah berada di dalam ruangan tersebut dari tadi,sambil sedikit menundukkan kepala mereka ke arah Ryan.


"Hm" jawab Ryan,dengan singkat,sambil terus berjalan ke arah hospital bed dan menatap seorang wanita yang sedang terbaring tidak berdaya dengan wajah yang pucat dan juga kedua mata yang terpejam karena sudah tidak sadarkan diri saat wanita tersebut tiba di sini tadi.


Tanpa banyak bicara lagi,Ryan segera memeriksa pasien wanita tersebut dengan di bantu oleh beberapa perawat yang memang sedang menunggu Ryan tadi.


Setelah selesai memeriksa pasien wanita tersebut dengan sangat teliti,Ryan segera melakukan langkah pertama,yaitu memompa perut.Ini dilakukan untuk mengeluarkan zat-zat dari perut.


Lalu Ryan melanjutkan langkah kedua,yaitu Pemberian arang aktif. Arang aktif dapat menyerap obat yang sudah berada di saluran pencernaan.


Setelah langkah kedua sudah selesai,Ryan langsung melanjutkan langkah ke 3 yaitu memancing muntah untuk mengeluarkan zat-zat yang membahayakan dan apa yang telah di lakukan oleh Ryan,berhasil membuat pasien tersebut memuntahkan isi perutnya.


Selanjutnya,setelah perawat sudah selesai membersihkan sisa muntahan di sekitar mulut pasien tersebut,Ryan segera memasang selang pernapasan pada pernapasannya pasien tersebut.


Untung saja permasalahan pada pernapasan pasien tersebut tidak begitu parah dan pasien tersebut juga belum sampai koma,saat di bawa ke rumah sakit tadi.Makanya,Ryan masih mampu menyelamatkan pasien tersebut.

__ADS_1


Coba saja,kalau tadi pasien tersebut sampai sudah koma,baru di bawa ke rumah sakit ini,ia juga pasti hanya bisa memasrahkan pada yang di atas saja.


Sekarang hanya tinggal langkah terakhir,Ryan akan memberi obat tambahan pada pasien tersebut.Obat yang memang di anjurkan pada pasien yang terkena kasus overdosis tertentu,karena pasien tersebut tidak sampai koma dan juga obat-obatan yang di telan oleh pasien tersebut tidak begitu terlalu banyak.Jadi,ia akan memberikan obat lain yang berguna sebagai penawar obat yang sesuai dengan kadar overdosisnya pasien saja.


Hanya saja,pemberian obat tersebut harus menunggu sampai pasien tersebut sadarkan diri terlebih dahulu,baru ia bisa menyuruh pasien tersebut untuk meminum obat sendiri.


"Sekarang,kalian bereskan sisanya.Aku ingin beristirahat dan pulang" ucap Ryan,sambil menghela napas lega dan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam tepat.Ia segera membuka sarung tangannya dan membuangnya ke tong sampah.


"Baik,Dokter" jawab beberapa perawat tersebut secara serentak,sambil menghela napas lega juga.Untung saja, Dokter Ryan masih belum pulang ke rumah tadi dan masih berada di dalam ruangannya.


"Dok,pasiennya sudah sadarkan diri..." ucap salah satu perawat,hingga mampu membuat Ryan yang sudah berbalik badan ke arah pintu keluar ruangan tadi,kembali berbalik badan lagi ke arah tempat pasien tersebut sedang berbaring lemah.


Ryan menatap pasien wanita tersebut dalam diam,terlihat wanita tersebut mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan pelan,karena baru tersadar dari tidak sadarkan dirinya tadi.


Beberapa saat kemudian,kedua mata wanita tersebut sudah mulai terbuka dengan sempurna tapi nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya.


"Apa aku sudah mati?" tanya wanita tersebut,dengan wajah yang berharap kalau dirinya memang sudah mati,sambil memegang kepalanya karena merasa agak pusing.


Sedangkan beberapa perawat dan Ryan,masih berdiri di sekeliling wanita tersebut dalam diam dan terus menatap wanita tersebut dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.


Terlebih lagi dengan Ryan,ia menjadi tidak habis pikir dan merasa bingung dengan cara pikiran wanita tersebut,padahal masih banyak yang sedang berjuang untuk bisa hidup lebih lama,tapi wanita tersebut malah ingin mengakhiri hidupnya begitu saja.


Tidak,ia tidak mau mempercayai kalau dirinya masih bernyawa.Ia segera beralih menatap pria yang memakai Jas Dokter,dengan wajah frustasinya dan air mata yang mulai mengalir dari kedua matanya.


"Katakan saja,kalau aku sudah mati.Aku sudah tidak ingin hidup di dunia ini lagi.Coba katakan padaku,kalau aku sudah mati" ucap wanita tersebut,dengan nada memohon,sambil menggoyang-goyangkan Dokter yang ia tatap barusan.


"Iya,kamu sudah mati dan kamu sudah berada di surga sekarang" jawab Ryan,dengan wajah yang tersenyum paksa,sambil menahan rasa kesalnya.


Sedangkan beberapa perawat yang memang masih berada di dalam ruangan tersebut,hanya mampu menahan tawa mereka,saat mereka semua kembali melihat kesabarannya Dokter Ryan dalam menangani pasien yang seperti ini.Mereka juga merasa bangga,karena bisa mengikuti setiap penanganan pasien yang melibatkan Dokter Ryan.


"Benarkah?" tanya wanita tersebut,dengan wajah tidak percayanya,sambil menatap wajah Dokter pria yang ada di depan matanya itu.


"Tentu saja benar.Apa menurutmu,kalau kamu masih berada di dunia atau di dalam neraka,kamu akan bisa melihat pria tampan sepertiku ini?" jawab Ryan,dengan suara lembutnya,sambil menatap wanita tersebut dan memegang dengan lembut,tangan wanita tersebut yang sibuk menggoyang-goyangkan lengannya tadi.


Wanita tersebut segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan,sambil terus menatap wajah tampannya Dokter pria tersebut.Tapi bukan karena menurutnya,perkataannya Dokter pria tersebut masuk akal.Hanya saja menurutnya,wajah Dokter pria tersebut memang terlihat tampan di matanya.


"Jadi,apakah kamu ingin bisa terus menatap wajah tampanku ini?" tanya Ryan,masih dengan wajah yang tersenyum paksa,sambil mengelap air mata wanita tersebut dengan menggunakan jari jempolnya.Tapi di dalam hatinya,ia sedang terus berusaha menahan rasa kesalnya karena melihat pikiran bodoh wanita tersebut dan juga semakin merepotkan dirinya dengan tingkah bodoh tersebut.


Wanita tersebut segera mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan pelan,sambil tersenyum senang,saat ia mendengar pertanyaannya Dokter pria tersebut.

__ADS_1


Dokter Ryan,langsung mengangkat kepalanya ke atas sebentar dan memutar bola matanya dengan kesal.Lalu ia kembali menurunkan kepalanya dan tersenyum paksa lagi ke arah pasien wanita tersebut.


"Kalau begitu,kamu harus minum obat dulu ya..." ucap Ryan,sambil memberi kode pada salah satu perawat yang masih sibuk menahan tawa.


Perawat tersebutpun langsung menghentikan aksi menahan tawanya,lalu ia segera mengambil obat yang di maksudkan oleh sang Dokter dan berjalan ke arah sang dokter.


Tapi belum sempat Ryan mengambil obat yang sedang di sodorkan oleh perawat tersebut,tangannya yang sedang mengenggam tangan wanita tersebut tiba-tiba di hempas ke udara oleh wanita tersebut.


"Kamu membohongiku,aku tidak mau minum obat.Aku hanya ingin segera pergi dari dunia tidak adil ini saja.Aku tidak mau minum obat" ucap wanita tersebut,dengan nada tinggi,sambil menatap dengan wajah marahnya ke arah pria wajah tampan yang telah membuat dirinya hampir menuruti semua yang di katakan oleh pria tampan tersebut.


Karena terkesima sama pesona yang di miliki oleh Dokter pria tersebut,ia menjadi tidak bisa membedakan antara dunia manusia dan surga ataupun neraka yang telah di sebutkan oleh Dokter pria tersebut.Tapi ia segera tersadar dari rasa terkesimanya,saat ia mendengar kata obat dari Dokter pria tersebut.Bahkan nyawanya yang belum terkumpul penuh langsung menjadi penuh dan juga tubuh lemahnya tadi langsung menjadi sedikit bertenaga.


"Kalian tidak berhak menghalangi keinginanku atau aku akan bunuh diri di depan kalian,saat ini juga" ucap wanita tersebut,dengan wajah frustasinya,sambil berniat bangkit dari tempat berbaringnya.


Sedangkan Ryan yang langsung merasa kaget,karena tiba-tiba tangannya di hempas oleh wanita tersebut.Reflek, ia langsung menahan tubuh wanita tersebut dengan menekan kedua tangan wanita tersebut di kiri kanan kepalanya wanita tersebut.


"Coba saja,kalau kamu bisa" ucap Ryan,dengan wajah marahnya bercampur kesal karena baru kali ini ia tidak berhasil membujuk pasien agar mau meminum obat.


"Ten tentu saja,aku bisa.Lepaskan dulu tanganku..." ucap wanita tersebut,dengan nada gugupnya,saat ia melihat wajah marahnya Dokter pria tersebut.Tapi kedua kakinya,masih saja tetap meronta ingin turun dari atas hospital bed tersebut.


"Jangan harap,sebelum kamu mau menuruti apa kataku" ucap Ryan,dengan nada tingginya tepat di depan wajah wanita tersebut.


"Ka kamu juga,ja jangan harap aku mau menuruti perkataanmu.Aku tidak akan pernah mau meminum obat,kecuali kamu mau memberi aku minum obat pencabut nyawa.Karena aku sudah tidak mau hidup lagi di dunia ini" ucap wanita tersebut,dengan nada gugup dan wajah malunya,karena wajah Dokter pria tersebut yang hanya berjarak 3 cm saja dengan wajahnya.


"Apa kalian di gaji,hanya untuk menonton saja?" tanya Ryan,dengan nada yang semakin tinggi dan semakin kesal dan ia juga mengabaikan perkataan bodohnya wanita tersebut,sambil menatap tajam kearah beberapa perawat yang sedang berdiam diri saja tanpa melakukan apa-apa tanpa melepaskan genggaman tangannya pada kedua tangan wanita tersebut.


Padahal sudah terlihat jelas,kalau ia tidak bisa menangani sendiri pasien wanita tersebut.Tapi beberapa perawat tersebut malah seperti penonton yang sedang menonton sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


"Ba baik Tuan" jawab 5 perawat tersebut,dengan nada gugup mereka secara serentak dan cepat,karena merasa takut dengan tatapan tajamnya Dokter Ryan.


Ryan pun langsung kembali menatap wajah gugupnya wanita tersebut,dengan tatapan tajam yang berubah menjadi kesal.


2 perawat pria segera memegang kedua kakinya wanita tersebut dengan sekuat tenaga,karena kedua kaki wanita tersebut terus meronta tanpa henti.


Dan 2 perawat wanita lainnya segera memegang kedua tangannya wanita tersebut,sedangkan 1 perawat wanita lagi hanya mampu berdiri di samping Dokter Ryan saja karena 4 temannya sudah mampu memegang wanita tersebut dengan baik.


"Cepat bawa ke sini obat yang tadi" ucap Ryan,dengan nada tegasnya,sambil melepaskan genggamannya pada kedua tangan wanita tersebut tanpa mengalihkan tatapannya ke arah lain,karena sudah ada 2 perawat yang sudah menggantikannya untuk mengenggam kedua tangan wanita tersebut.


"Jangan memaksaku,karena kamu tidak akan pernah bisa memaksaku untuk meminum obat" ucap wanita tersebut,dengan wajah gugup yang sudah mengurang karena wajah mereka yang hampir tidak berjarak tadi sudah menjauh.

__ADS_1


"Dasar wanita,merepotkan.Jika memukul wanita,tidak akan di penjara,aku pasti akan memukul wanita ini dengan senang hati" gumam Ryan,dengan pelan,sambil menghela napas dengan berat.Tapi gumamannya hanya bisa di dengar oleh 1 orang perawat wanita yang sedang berada di sampingnya itu saja,perawat wanita tersebutpun,hanya bisa menahan tawanya saja.


__ADS_2