Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 164


__ADS_3

Sedangkan 4 perawat lainnya,hanya mampu mendengar samar-samar saja,karena sibuk fokus pada pasien wanita tersebut.Dan pasien wanita tersebut tidak mendengar sama sekali,karena ia hanya fokus pada obat yang sudah berpindah tangan ke tangannya Dokter pria tersebut.


"Cepat buka mulutmu...Atau aku akan melakukannya dengan cara memaksa" ucap Ryan,dengan pura-pura mengancam,sambil berjalan mendekati wanita tersebut kembali.


"Ka kamu jangan macam-macam,aku akan menuntutmu atas pemaksaan dan ketidak sopananmu ini" ucap wanita tersebut,dengan nada gugupnya karena merasa takut dengan ancaman Dokter pria tersebut.Tapi walaupun ia merasa takut,ia tetap terus meronta dan segera menutup mulutnya rapat-rapat saat ia melihat Dokter pria tersebut sudah berada di dekatnya.


"Silakan saja.Jadi,cepat buka mulutmu,setelah itu kamu bisa segera memenjarakan aku" ucap Ryan,dengan wajah seriusnya,sambil terus berusaha membuka mulutnya wanita tersebut yang sudah tertutup sangat rapat.


Sedangkan wanita tersebut tidak berniat membuka mulutnya sama sekali,bahkan ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya agar Dokter pria tersebut menjadi kesulitan untuk memaksanya.


"Dok,aku punya ide yang bagus..." ucap perawat wanita yang sedang berada di sampingnya Ryan itu,dengan wajah malunya.Ia segera bersuara,saat ia melihat Dokter Ryan yang sedang kewalahan menghadapi berontakan wanita tersebut.


"Apa?" tanya Ryan,dengan wajah penasarannya,sambil menghentikan gerakan tangannya dan sedikit menjauh dari wanita tersebut.


Perawat wanita tersebut segera mendekatkan mulutnya ke telinganya Ryan untuk bisa membisikkan apa ide bagus yang akan ia sampaikan,dengan menjijitkan kedua kakinya karena tubuh Ryan yang memang lebih tinggi darinya.


"Apa kamu sedang tidak waras?" tanya Ryan,dengan wajah kagetnya dan nada tingginya,setelah ia selesai mendengar isi bisikan perawat wanita tersebut,sambil terus menatap perawat wanita tersebut.


"I iya.Eh bu bukan,tentu saja aku masih waras Dok" jawab perawat wanita tersebut,dengan gugup karena merasa kaget sekaligus takut karena suara tingginya Dokter Ryan,sambil sedikit menundukkan kepalanya dan *******-***** ujung seragam perawat miliknya.


"Lalu,mengapa kamu memberi ide seperti itu padaku? Dan,ide bagus seperti apa itu? Yang benar saja,bagus dari mananya,coba" ucap Ryan,dengan nada kesalnya.Apa lagi,saat ia mengingat isi bisikan perawat wanita tersebut yang menyuruh dirinya untuk memberi pasien wanita tersebut minum obat dengan cara melalui mulut.


"Ha hanya itu saja,satu-satunya pilihan yang ada agar kita tidak perlu melakukan pemaksaan yang lebih jauh lagi,Dok" jawab perawat wanita tersebut,masih dengan nada gugup dan wajah takutnya.


Sedangkan 4 perawat lainnya yang masih sibuk memegang kaki dan tangannya pasien wanita tersebut,hanya mampu terdiam dengan wajah penasarannya karena memikirkan apa sebenarnya ide temannya itu,hingga mampu membuat sang Dokter menjadi kesal.


"Kamu sedang membisikkan apa sama Dokter pria ini?" tanya wanita tersebut,dengan wajah penasaran yang bercampur takut,sambil terus menatap perawat wanita tersebut untuk menuntut jawaban dari pertanyaannya,tapi sia-sia saja karena perawat wanita tersebut tidak berniat untuk menjawab pertanyaan darinya.


Perawat wanita tersebut hanya diam saja,sedangkan Ryan langsung berjalan ke arah sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.Lalu ia segera duduk di atas sofa tanpa memperdulikan tatapan penasaran dan takut pasien wanita tersebut.


Ryan duduk sekitar 2 menit di sofa,dengan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa,sambil memijit pangkal hidungnya dengan pelan dan memejamkan kedua matanya dan juga sedang memikirkan ide bagus dari perawat wanita tersebut yang menurutnya,kalau itu adalah ide gila.


Padahal ia belum sempat mengistirahatkan tubuh lelahnya sama sekali,tapi sekarang ia harus menghadapi tingkah bodoh wanita ini.


Setelah selesai memikirkannya,Ryan segera membuka kedua matanya dan menatap ke 4 perawat tersebut yang mulai kewalahan memegang pasien wanita tersebut,terbukti dengan mereka ber 4 yang harus di bantu oleh perawat wanita yang sedang nganggur tadi.


Ryan kembali menghela napas dengan berat beberapa kali,saat memikirkan ia harus melakukan ide gila tersebut,sambil menatap 2 pil obat yang masih berada di dalam genggamannya.Apa lagi saat ia melihat jam tangannya yang sudah hampir jam 12 malam,sepertinya ia tidak mempunyai pilihan lain lagi.


"Dok..." panggil perawat wanita yang nganggur tadi,dengan suara tidak begitu tinggi tapi mampu menyadarkan Dokter Ryan yang telihat sedang berpikir keras.

__ADS_1


Ryan segera berdiri dari duduknya,setelah ia tidak mampu menemukan cara yang lain sama sekali.Lalu ia segera berjalan ke arah pasien wanita tersebut,dengan wajah yang ia buat setegas mungkin padahal hatinya sedang dag dig dug,karena selama ini ia belum pernah bersentuhan bibir sama wanita sama sekali.


"Aku tanya sekali lagi,kamu mau meminum obat ini atau ingin aku memberimu minum obat dengan cara memaksa?" tanya Ryan,setelah ia sudah berada di dekat wanita tersebut.


"Tidak,aku tetap tidak akan mau meminum obat,walaupun harus di paksa sama kamu.Aku tidak takut dengan ancamanmu itu" jawab wanita tersebut,dengan ekspresi yakin di wajahnya tapi ia juga merasa takut.Tekadnya untuk bunuh diri masih menguasai hatinya,hingga membuat dirinya berani menantang Dokter pria tersebut.


"Baiklah,kalau memang itu yang kamu inginkan" ucap Ryan,dengan wajah seriusnya,sambil menetralkan degupan jantungnya yang sudah mulai tidak teratur.


"Cepat ambilkan air minum untukku.." perintah Ryan,dengan nada tegasnya tanpa menoleh ke arah perawat wanita tersebut.


Ia berbicara,sambil terus menatap 2 pil obat yang ada di genggamannya itu,dengan ekspresi wajah yang ragu.Tapi ia harus melakukannya,agar adegan yang merepotkannya tadi bisa segera selesai dan dirinya juga bisa segera mengistirahatkan tubuh lelahnya ini.


"Dok,ini air minumnya" ucap perawat wanita nganggur tadi,setelah ia sudah berada di dekat Dokter Ryan dengan segelas air putih yang sedang ia sodorkan ke arah Dokter Ryan.


Ryan segera mengambil air putih yang berada di tangan perawat wanita tersebut,lalu ia menatap pil obat dan segelas air putih yang ada di kedua tangannya secara bergantian.


Sedangkan ke 4 perawat yang memang sedang sibuk menatap Dokter Ryan dan langsung bisa menebak apa isi ide bagus dari salah satu temannya tadi,langsung tersenyum lucu,saat mereka melihat dokter Ryan yang menjadi ragu-ragu untuk melakukan ide bagus yang di sarankan oleh salah satu perawat tadi.


"Dokter" panggil perawat wanita yang nganggur tadi,dengan suara pelannya,untuk menyadarkan Dokter Ryan dari keraguan dan kebingungannya.


"Hm" jawab Ryan,sambil menatap perawat wanita tersebut.


"Dokter sudah bisa memulainya" ucap Perawat wanita tersebut,dengan wajah yang tersenyum malu,karena sibuk membayangkan Dokter Ryan yang akan melakukan ide bagus darinya tadi,begitu juga dengan 4 temannya yang juga sibuk menunggu dengan tidak sabaran.


Sedangkan Ryan,ia langsung meminum air putih tersebut hingga setengah gelas terlebih dahulu,supaya bisa membasahi kerongkongannya dan mana tahu saja bisa sekalian mengurangi degupan jantungnya yang semakin berdegup kencang.


Kemudian ia segera memasukkan 2 pil obat tersebut sekaligus,tanpa banyak bicara lagi.Lalu ia segera meminum sisa air putih tadi dan memberikan gelas kosong yang ia pegang pada perawat wanita tersebut,sambil terus menahan air putih dan 2 pil obat tadi agar tetap berada di dalam mulutnya.


"Hei hei,tung tunggu...A apa yang ingin kamu lakukan?" tanya pasien wanita tersebut,saat ia melihat Dokter pria tersebut yang semakin mendekat ke arahnya,dengan mulut yang masih berisi pil obat dan juga air putih.


"Aku peringatkan,kamu jangan macam-macam ya.Kamu pasti akan menyesal nanti,kalau berani berbuat macam-macam padaku" lanjut wanita tersebut lagi,sambil terus memberontak,dengan wajah yang semakin panik dan juga takut,saat ia melihat Dokter pria tersebut tidak menghiraukan kata-katanya,malah sibuk memegang kedua sisi kepalanya dengan erat.


"Kalau kamu tidak percaya,aku akan....eehhmmm" ucapan wanita tersebut,langsung terhenti,karena mulutnya langsung di bungkam oleh Dokter pria tersebut.


Pasien wanita tersebut yang kedua kaki dan kedua tangan,berserta kepalanya telah terkunci rapat,bahkan tidak memberinya ruang untuk bergerak sedikitpun,ia hanya mampu pasrah saja karena tidak mampu untuk melawan lagi.


"Glek" terdengar suara pil pertama yang sudah berhasil di telan paksa oleh wanita tersebut.


"Glek" 1 detik kemudian,kembali terdengar pil kedua yang juga sudah berhasil di telan oleh wanita tersebut.

__ADS_1


Ryan yang merasa,kalau 2 pil obat tersebut sudah di telan oleh wanita tersebut dengan baik.Iapun berniat untuk segera melepaskan bungkamannya dari bibir wanita tersebut,tapi baru saja ia ingin menjauhkan bibirnya dari bibir wanita tersebut.


Wajahnya malah terpaku tanpa melepaskan bungkamannya tadi,bahkan ia mulai memejamkan kedua matanya,begitu juga dengan wanita tersebut.


Sedangkan ke 5 perawat tersebut,mereka malah menjadi tercengang dengan adegan c**m*n yang mereka tonton saat ini.


Padahal tujuan awalnya hanya untuk menyalurkan obat saja,namun malah berubah menjadi c**m*n panas.Tapi mereka bahkan tidak berniat untuk menegur sang Dokter,tapi kedua mata mereka menonton adegan tersebut tanpa mau berkedip.


Beberapa saat kemudian...


"A apa yang sedang kamu lakukan hah?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya ,sambil mengelap sudut bibirnya yang masih terasa basah dan menatap kesal ke arah wanita tersebut,ia juga segera menjauh kan wajahnya dari wajah wanita tersebut.Setelah ia tersadar karena merasakan benda miliknya yang mulai terbangun,iapun segera melepaskan paksa lidah wanita tersebut yang sibuk membelit lidahnya.


"Me memangnya apa yang sudah aku lakukan ?... Bukankah,kamu sendiri yang duluan menerkam bibirku..." jawab wanita tersebut,dengan wajah malunya,sambil menetralkan detakan jantungnya.


Ia yang awalnya sedang berusaha memberontak,tapi saat ia merasakan bibir seksinya Dokter pria tersebut yang sedang memaksa untuk membungkam mulutnya.Iapun jadi terbawa suasana dan ingin merasakan bibir seksi yang telah menggodanya sedari wajah mereka berdua di dalam posisi hampir tidak berjarak tadi.


"Aku akan menuntutmu atas pelecehan yang sudah kamu lakukan ini.Kalian semua harus menjadi saksiku,di kantor polisi nanti" lanjut wanita tersebut lagi,dengan wajah yang pura-pura marah,sambil berusaha menghilangkan rasa malunya.


"Kamu..." ucap Ryan,dengan nada dan wajah yang semakin kesal,sambil menetralkan degupan jantungnya yang sedang berdegup semakin kencang tadi.Sepertinya ia sudah kehabisan kata-kata,karena apa yang di bilang oleh wanita tersebut juga ada benarnya.


"Apa? Kenapa dengan aku?..Dasar pria tidak tahu malu,apa begini cara seorang Dokter menangani pasiennya?" tanya wanita tersebut yang sengaja semakin menyudutkan Dokter pria tersebut,karena ia tidak mau di salahkan,walaupun ia memang bersalah juga.


"Cepat lepaskan aku sekarang,kalian semua pasti akan menyesal karena telah melakukan semua ini padaku" lanjut Wanita tersebut lagi,sambil terus memberontak.


Sedangkan Ryan yang semakin kesal,karena kehabisan kata-kata dan juga tubuhnya yang semakin lelah.Ia segera menoleh ke arah 5 perawat tersebut,rasa kesalnya malah menjadi berkali-kali lipat.


Rasanya ia ingin marah saat ini dan meluapkan semua rasa kesalnya pada 5 perawat tersebut dan juga pasien wanita tersebut,tapi karena degupan jantungnya masih ada,iapun hanya bisa menampilkan wajah kesalnya saja.


"Apa kalian semua benar-benar hanya di gaji untuk menjadi patung saja? Apa aku perlu melaporkan kalian pada atasan kalian?" tanya Ryan,dengan nada tingginya,sambil menatap kesal ke arah ke 5 perawat tersebut yang masih sibuk tercengang tanpa melepaskan genggaman kuat mereka pada pasien wanita tersebut.


"Ja jangan Dok..." jawab Ke 5 perawat tersebut,dengan cepat dan nada gugup mereka,setelah mereka baru saja tersadar dari rasa tercengang mereka tadi karena suara tingginya Dokter Ryan.


"Kamu,cepat lakukan tugasmu sekarang.." perintah Ryan pada salah satu perawat tersebut,sambil memberi isyarat melalui kedua matanya.


"Ba baik Dok" jawab salah satu perawat tersebut yang langsung mengerti dengan isyarat kedua matanya sang Dokter tersebut.


"Hei hei,tung tunggu.Apa lagi yang kamu lakukan sekarang? " tanya wanita tersebut,saat ia melihat salah satu perawat tersebut berjalan ke arah gantungan kantong infusnya dan sedang menyuntikkan sesuatu ke penghubung yang akan menghubungkan suntikan tersebut ke dalam kantong infus miliknya.


"Cepat kamu perintahkan,agar perawatmu menghentikan apa yang akan dia lakukan.Jika tidak,aku benar-benar akan memenajarakna kalian semua saat ini juga" lanjut wanita tersebut lagi,dengan wajah takutnya,ia jadi berpikir apakah dirinya akan di bunuh secara perlahan oleh Dokter pria tersebut karena telah berani mengancam akan menuntut dan memenjarakan mereka semua.

__ADS_1


Ia segera mencari-cari keberadaan kedua orang tuanya,tapi nihil,kedua orang tuanya sama sekali tidak berada di dalam ruangan tersebut.Pikirannya menjadi semakin buntu,ia kembali menatap Dokter pria tersebut yang hanya diam saja dari tadi,sambil terus menatap ke arah dirinya


"Jika tidak,begini saja.Kamu tinggal bilang saja,apa yang kamu inginkan? Atau mungkin kamu menginginkan uang? Berapa banyak uang yang...." ucapan wanita tersebut,langsung terhenti.Karena suara berisiknya perlahan-lahan menghilang,akibat obat penenang yang di suntikkan oleh salah satu perawat tadi.


__ADS_2