
17 tahun kemudian...
Di salah satu sebuah sekolah menengah atas yang terbaik,terlihat 2 pria remaja yang sangat tampan dan juga seorang gadis yang sangat cantik, yang baru saja sampai di sekolah mereka pada jam 6 pagi lewat 30 menit.
Mereka ber 3 berjalan masuk ke dalam sekolah dengan pesona,kharisma dan aura khas mereka masing-masing.Dan jangan lupa sama tatapan yang sama tegas dan tajam di mata mereka ber 3,karena gen mereka ber 3, 90 % lebih mengikuti gen Daddy mereka dari pada Mommy mereka.
Ya,mereka ber 3 adalah putra dan putrinya Hery Kusuma bersama Ashley Richard,Avaro Kusuma,Alice Kusuma,dan Adnan Kusuma/Arsenio Kusuma
Terlihat style rambut sang kakak yang lebih rapi dan wajah yang terlihat lebih dewasa,yang kedua juga memiliki style rambut yang rapi dan wajah yang sangat cantik.Berbeda dengan sang adik bungsu mereka yang memiliki style rambut yang terlihat lebih keren dari sang kakak,menurut dirinya dan para wanita manapun yang melihatnya,kecuali kedua kakaknya tersebut.
Dan saat ini mereka ber 3 sudah sama-sama di kelas 12,beberapa minggu lagi mereka akan tamat dan kuliah di luar negeri.
Terlihat deretan rapi dari semua siswa siswi di sekolah tersebut,karena di jam-jam seperti ini memang waktunya untuk mereka semua melihat permandangan yang menurut mereka semua sangat indah dan tidak boleh di lewat kan itu.
"Kakak,lihatlah,tatapan memujanya para wanita itu.Selalu saja mampu membuat aku merasa geli" ucap Alice pada kakaknya yang sedang berjalan di sampingnya,dengan nada kesalnya sambil menatap malas ke arah deretan para siswi yang berada di sekolah tersebut dan sedang menatap ke arah kakak dan adiknya tanpa berkedip,termasuk teman-teman sekelas mereka.
"Apa bedanya sama tatapan para pria itu? Menurutku,itu sama-sama menggelikan" tanya Adnan dengan wajah yang tersenyum mengejek ke arah kakak perempuannya itu,sambil menaik turunkan alisnya dan juga merangkul pundak kakak perempuannya dengan pelan.
"Ah,tampannya"
"Ah,manisnya"
"Perfect"
"My handsome man(pria tampanku)"
"Sweet (manis)"
Langsung terdengar sorakan mendamba, suara teriakan kecil yang di penuhi rasa kagum dan juga tatapan penuh damba dari semua para siswi,saat mereka semua melihat wajah tersenyumnya Adnan Kusuma.
Dan sorakan dan teriakan tersebut mampu membuat Adnan langsung merasa kesal,iapun segera menampilkan wajah datarnya kembali tanpa melepaskan rangkulan tangannya pada pundaknya Alice.
Mereka ber 3 sudah terbiasa menghadapi permandangan keramaian yang seperti itu sedari berada di bangku TK, dan mereka ber 3 selalu mengabaikan mereka semua,karena memang seperti itulah sikap datar mereka.
"Cepat singkirkan tanganmu dari pundakku..." ucap Alice dengan nada kesalnya,sambil menatap tajam ke arah Adnan adik laki-lakinya itu.
Beginilah yang tidak ia sukai,keributan berisik yang terjadi akibat ketampanan dari kakak dan adiknya tersebut yang terlalu sempurna di matanya semua orang.
Di tambah lagi dengan adiknya yang suka sekali menganggunya di saat memiliki kesempatan,kecuali kakaknya yang hampir tidak pernah menganggunya,hanya selalu memperingatinya tentang keamanan dirinya dan hanya berbicara dengannya jika kakaknya itu merasa perlu saja.
Ya,walaupun terdengar agak menyebalkan tapi masih mendingan dari pada di bandingkan sama adiknya yang lebih menyebalkan karena tingkah nakalnya itu.
Sebenarnya ia paling malas mau berangkat ke sekolah bersama kedua pria tersebut,tapi apa boleh buat.Daddynya yang mengatur semuanya,apa lagi ia juga tidak ada alasan untuk menolak perintah dari Daddynya karena mereka ber 3 1 sekolah,bahkan berada di tingkat yang sama dan mengambil jurusan yang sama juga,yaitu IPA.
__ADS_1
"Kalau aku tidak mau,memangnya kamu akan bagaimana?" tanya Adnan dengan nada santainya dan masih tetap menampilkan wajah datarnya,sambil terus berjalan ke kelas mereka dan menatap lurus ke depan.
Sedangkan Avaro,ia hanya diam saja dari tadi dengan wajah datarnya.Kedua adiknya itu memang selalu bertengkar,jadi ia sudah tidak merasa heran lagi.
Bahkan rasanya,ia malas mau berjalan berdampingan sama kedua adiknya itu.Tapi mau bagaimana lagi,itu adalah perintah dari Daddynya karena takut ada yang akan menganggu adik perempuannya itu.Ia juga tahu,kalau mereka ber 3 terus di awasi oleh paman Ars dan yang lainnya.
Padahal dari kecil mereka ber 3 sudah mulai mempelajari ilmu bela diri,dan sudah di tebak kalau adik perempuannya itu tidak akan mudah untuk di ganggu sama siapapun,bahkan jika penganggunya pria.
"Kakak... " panggil Alice dengan wajah yang memberengut kesal,sambil menarik dan bergelayut manja di lengan kakaknya yang memang sedang berjalan di sampingnya.Karena Alice berada di tengah-tengah kedua pria tampan tersebut.
"Adnan Kusuma" panggil Avaro dengan nada tegasnya,sambil terus melangkah tanpa menatap ke arah wajah adiknya yang sudah mulai kesal itu.
"Oke,oke" jawab Adnan dengan cepat dan nada kesalnya,lalu ia langsung menarik kembali tangannya dari pundak kakaknya tadi.
Tangannya sudah pernah beberapa kali di pelintir oleh kakak Avaronya itu karena suka menganggu kakak perempuannya,kali ini ia tidak akan mau mengulanginya lagi dan membiarkan tangannya menjadi bengkak lagi dan tidak mampu bergerak untuk beberapa hari.
Dan satu lagi,ilmu bela diri kakaknya itu lebih ahli dari pada mereka berdua dan yang lainnya(putranya Ars dan yang lainnya),jadi mau melawanpun ia tidak akan mungkin bisa mengalahkan kakaknya itu.
"Dasar pengadu" umpat Adnan dengan nada pelannya dan juga kesal,sambil menatap ke depan dengan wajah datarnya kembali dan juga memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya seperti kakak laki-lakinya.
'Rasakan...' batin Alice dengan wajah yang tersenyum puas,sambil terus mengandeng lengan kakaknya,dan kakaknya tidak pernah mempermasalahkannya.
"Lihatlah,sebentar lagi kalian akan mendengar suara berisik" ucap Adnan dengan nada pelan dan wajah yang kembali mendengkus kesal saat ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan cepat ke arah mereka,lalu ia kembali menampilkan wajah datarnya.
Avaro yang sedang mengikuti arah pandangnya Adnan,iapun langsung mengerti tapi wajahnya tetap saja datar.Berbeda dengan Alice yang langsung tersenyum senang.
"Iya,kami baru saja sampai.Di mana kakakmu?" tanya Alice dengan wajah yang tersenyum,sambil memeluk Elena dengan pelan.
"Biasa kak,kakakku ada di kelasnya" jawab Elena dengan wajah yang tersenyum senang,sambip membalas pelukan dari kakak sepupunya itu.
"Kalian berdua seperti tidak pernah bertemu saja,padahal tiap hari juga selalu bertemu" ucap Adnan dengan nada malas dan wajah datarnya,lalu ia segera berjalan pergi mengikuti langkah kakaknya yang baru saja melangkah pergi meninggalkan mereka.
Ia sudah bosan melihat putri dari paman Danielnya ini,setiap berada di sekolah selalu saja datang menghampiri mereka dengan suara berisiknya.Lebih baik ia jadi seperti kakaknya saja,pura-pura tidak mendengar dan pura-pura tidak melihat.
Elena yang mendengar nada malasnya kakak sepupunya itupun langsung tersenyum cenges-ngesan.Ia sudah terbiasa dengan mulut menyebalkan kakak sepupunya itu,dan ia dan kakak-kakak sepupunya itu berbeda 2 tahun,ia duduk di bangku kelas 10 saat ini.Berbeda dengan Darien Richard,sang kakak yang hanya beda 1 tahun saja,dan saat ini duduk di bangku kelas 11.
Sedangkan Alice,ia hanya terus tersenyum dan mengabaikan kata-kata malas dari adiknya yang sudah menjadi makanan mereka sehari-hari itu.
Lalu ia segera mengandeng tangannya Elena dengan pelan dan membawanya ke kelasnya sebentar karena sebentar lagi akan terdengar bunyi bel masuk kelas,sambil mengobrol dan bercanda tawa setelah ia selesai melirik sekilas ke arah pria gemuk yang ada di ujung lorong sana yang seperti biasanya selalu saja memperhatikan dirinya dari jarak jauh sana ataupun dari jarak dekat,tapi lebih sering dari jarak jauh.
'Mengapa wanita itu selalu terlihat sempurna...' gumam pria gemuk tersebut dengan nada pelan,sambil terus menatap punggung dan rambut indahnya wanita yang bernama Alice Kusuma tersebut.
"Apa kamu masih belum jera juga? Atau kamu memang masih menginginkan bogeman mentah dari Tuan Muda Adnan lagi?" tanya Adelard Atmajaya dengan wajah datarnya,sambil mengalihkan pandangannya dari punggung Nona Mudanya beralih ke pipinya pria gemuk tersebut yang terlihat masih sedikit bengkak karena bekas bogeman mentah dari Adnan 2 hari yang lalu
__ADS_1
Ya,Adelard Atmajaya adalah putranya Arska Atmajaya, ia sudah mengikuti jejak Daddynya dari umur 6 tahun.Dan tahun ini di umurnya yang baru masuk 18 tahun ini,ia sudah mengerti banyak hal dan ia juga sudah hampir bisa menjadi seperti Daddynya.
Bahkan ia juga sudah memiliki kemampuan bela diri dan memiliki skill menembak yang sangat bagus seperti Avaro,Alice dan Adnan,hanya saja ia juga masih belum bisa mengalahkan Avaro,begitu juga dengan Alice dan Adnan.
"Apa kamu tidak takut,kalau wajahmu ini akan hancur dan tidak bisa utuh lagi nanti?" tanya Adelard lagi saat ia melihat pria gemuk tersebut hanya diam saja,dengan nada santainya sambil bersedekap dada.
Ia merasa heran sama pria gemuk tersebut,padahal sudah di beri bogeman mentah oleh Adnan hitungan puluhan kali,tapi tetap saja tidak jera-jera.
Masih saja menatap Alice dengan tatapan cinta,hanya saja pria gemuk tersebut tidak pernah menganggu Alice.Jadi ia,Adnan dan yang lainnyapun tidak ingin sampai keterlaluan dalam memberi pelajaran.
Dan yang membuat Adnan sampai selalu memberinya bogeman mentah,karena pria gemuk tersebut terus mengikuti kakak perempuannya kemana-mana,seperti seorang penguntit.Padahal sudah di beri peringatan tapi masih saja tetap melakukannya.
Dan sampai ambang batasnya,Adnan langsung memberikan bogeman mentahnya saat Adnan melihat pria gemuk tersebut mengikuti Alice dengan jarak dekat.Sekarang pria gemuk tersebut masih saja tetap menatap dengan tatapan cintanya untuk Alice.
"Tidak,aku tidak akan pernah jera dan berhenti melakukannya,walaupun nyawaku yang jadi taruhannya" jawab pria gemuk tersebut dengan wajah yakinnya,sambil tersenyum senang saat ia melihat wajah tersenyumnya Alice dari jarak jauh.
"Lagi pula,saat ini aku menatapnya dari jarak jauh" lanjut pria gemuk tersebut lagi,dengan nada santainya dan wajah yang sedikit tersenyum.Karena memang,ia akan mendapatkan bogeman mentah dari pria datar tersebut,tapi ketika ia menatap dari jarak dekat saja.
"Cih..." decih Adelard dengan wajah yang tersenyum mengejek,saat ia mendengar jawaban dan melihat wajah tersenyumnya pria gemuk tersebut.
"Aku tahu kalau cinta kamu kepada Nona Muda sangat tulus.Tapi sepertinya kamu harus berpikir 2 kali untuk melanjutkan niatmu itu,jika kamu masih menyayangi nyawamu ini..." ucap Adelard dengan nada seriusnya dan wajah datarnya kembali.
"Aku rasa,itu tidak perlu.Karena aku percaya kalau aku pasti akan bisa mendapatkan cintanya" jawab pria gemuk tersebut dengan wajah seriusnya,sambil terus menatap punggungnya Alice yang baru saja berbelok ke dalam kelasnya.
"Apa kamu yakin?" tanya Adelard dengan nada santainya,sambil menolehkan kepalanya ke arah pria gemuk tersebut.
"Yakin...Bahkan aku sangat yakin" jawab pria gemuk tersebut dengan wajah yang di penuhi oleh ekspresi yakin,ia juga ikut menolehkan kepalanya ke samping,di mana salah satu pria yang ia lihat selalu berwajah datar itu sedang berdiri di sampingnya dari tadi.Bahkan tadi saja,pria datar ini datang dari belakangnya secara tiba-tiba,walaupun sedikit membuatnya kaget.
Pria yang setahu dirinya,kalau pria tersebut adalah putranya Asisten dari keluarga Kusuma.Dan mungkin juga,pria yang ada di sampingnya ini kelak akan menjadi Asistennya kakak atau adiknya wanita yang ia cintai itu.
"Apa kamu juga yakin kalau kamu mampu melewati kedua pria kejam itu? Bahkan untuk menyentuhnya saja,kamu tidak akan mampu" tanya Adelard lagi setelah ia menatap datar ke arah wajah pria gemuk tersebut untuk beberapa detik.
"Mungkin tidak untuk sekarang,tapi aku yakin kalau untuk beberapa tahun lagi aku akan mampu melewati mereka berdua" jawab pria gemuk tersebut dengan wajah tenangnya,sambil menatap berani ke arah kedua mata tajamnya pria tersebut.
'Walaupun nanti aku tidak bisa mengalahkan mereka berdua,tapi aku sangat yakin kalau aku pasti bisa mendapatkan kepercayaan mereka berdua dan juga cintanya.Bahkan aku akan berusaha semampuku untuk mendapatkan kepercayaan dari seluruh keluarganya' batin pria gemuk tersebut.
"Sepertinya kamu memang sudah memiliki tekad yang kuat.Baiklah,aku akan menunggu hari itu tiba" ucap Adelard dengan wajah seriusnya,sambil menatap ke dalam kedua matanya pria gemuk tersebut yang di penuhi kejujuran dan juga tekad.
"Baik.Sampai hari itu tiba,aku harap kamu tidak akan terkejut" ucap pria gemuk tersebut dengan nada candanya tapi terdengar seperti serius,sambil berbalik badan menghadap pria tersebut.
"Baik,aku akan menunggunya" jawab Adelard dengan jujur.Karena ia jadi penasaran,apa pria gemuk tersebut benar-benar akan mampu melewati kedua pria kejam itu dan juga akan benar-benar membuat dirinya terkejut nanti.
Apa lagi saat tadi ia mendengar nada bicara pria gemuk tersebut yang terdengar serius dan juga penuh tekad.
__ADS_1
'Sepertinya di masa depan nanti kita akan menjadi sahabat baiķ' batin Adelard dengan wajah datarnya.Ia sudah lama memperhatikan tingkah laku dan usaha pria gemuk tersebut yang sibuk mengikuti Nona Mudanya karena hanya ingin menatap wajah Nona Mudanya saja.
Dan tidak ada yang melewati batas pada perilaku pria gemuk tersebut,dia hanya sekedar menatap dalam diam saja.Dan bahkan baru kali ini pertama kalinya dirinya bicara langsung sama pria gemuk tersebut.