
Sedangkan Ars,langsung menatap ke arah Tuannya dengan wajah penasarannya,saat ia sempat melihat sekilas nama Mark yang tertera di layar HP Tuannya.Lalu ia menatap tirai ruang ganti yang ada di hadapan mereka,ternyata masih tertutup.
"Apa katamu?" tanya Hery pada Mark yang ada di seberang sana,dengan wajah kagetnya,sambil berdiri dari duduk tenangnya tadi.
Ars yang masih berdiri santai tadipun,langsung tersentak kaget karena suara kaget Tuannya.Ia menatap ke arah Tuannya dan ruang ganti secara bergantian.
Untung saja nada suara kaget Tuannya tidak terlalu tinggi,hingga tidak membuat 2 wanita yang ada di dalam ruang ganti tersebut sampai berhambur keluar.
Begitu juga dengan Hery yang baru teringat kalau dirinya sedang bersama istrinya saat ini,iapun segera menetralkan rasa kagetnya dan kembali duduk,sambil mendengarkan apa yang selanjutnya di laporkan oleh Mark dari seberang sana.
"Tuan,tadi aku melihat mantan kekasihnya Tuan Jonathan sedang berjalan masuk ke dalam Perusahaannya Tuan Jonathan.Mungkin saja,wanita itu telah berbicara yang tidak-tidak,karena saat ini Nona Desi berjalan keluar dengan wajah yang sudah di penuhi air mata.Sekarang sepertinya Nona Desi sedang menuju ke arah bandara" Mark kembali menjelaskan kepada Tuannya,dengan lebih detail dari yang tadi,sambil terus menyetir dan tetap fokus pada taksi yang di naikkin oleh Desi.
Karena tadi ia hanya mengatakan kalau mantan kekasihnya Jonathan sedang berada di Perusahaannya Jonathan saat ini.Bahkan ia menelepon sambil menyetir,ia juga harus terus fokus pada taksi tersebut supaya tidak menghilang dari pandangannya.
"Tuan apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Mark,dari seberang sana,karena Tuannya hanya diam saja dari tadi.
"Bawa dia ke Mansion Daddyku saja.Jangan sampai biarkan dia melakukan penerbangan" perintah Hery,dengan nada tegasnya yang bercampur kesal,lalu ia langsung menutup telepon mereka secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Mark lagi.Ia sudah menebak dari kemaren,kalau ini yang akan terjadi.Jadi setelah mantan kekasihnya Jo,sekarang giliran dirinya yang akan membuat Jo menderita.
Untung saja tadi 2 wanita tersebut tidak mendengar suara kagetnya,ia tidak mau membuat istrinya menjadi khawatir dan juga panik.Jadi biarkan saja mereka bertemu langsung di Mansion Daddynya dan mengobrol.
(Sedangkan di seberang sana).
"Baik Tuan" jawab Mark dari seberang sana,walaupun ia sudah tahu kalau Tuannya sudah menutup telepon terlebih dahulu.
Kemudian ia menghela napas dengan pelan,ia sudah terbiasa dengan sikap Tuannya yang seperti ini.Lalu ia kembali fokus sepenuhnya terhadap taksi yang sedang di kejarnya itu,dengan wajah seriusnya.
(Kembali ke Hery).
"Dasar playboy ini,hanya bisa bermasalah dengan wanita saja.Sekarang aku akan membuatmu seperti tidak ingin hidup lagi karena telah membuat aku harus mengurus masalahmu.Merepotkan sekali..." gerutu Hery setelah ia sudah selesai bicara dan menutup telepon tersebut.Ia berbicara,dengan menggerutu kesal dan suara yang seperti gumaman tapi masih bisa di dengar oleh Ars.
"Apa aku perlu membantu Mark,Tuan?" tanya Ars, dengan wajah seriusnya yang bercampur dengan rasa penasaran.
Dirinya yang memang tidak tahu apa-apa tentang yang di bicarakan oleh Tuannya dengan Mark,hanya bisa asal menebak saja.Ia terlalu sibuk dengan perkerjaannya dan mengurus tentang pernikahan dan resepsinya yang akan di laksanakan di hari yang sama itu.Hingga membuat dirinya tidak punya waktu untuk mencari tahu tentang sahabat Tuannya Jonathan.
Jadi,ia hanya ingin memastikan kalau Mark masih sanggup mengatasi masalah yang di perintahkan oleh Tuannya.
"Tidak perlu,kau hanya perlu mengantar kami pulang saja" jawab Hery,dengan asal tanpa menatap Ars.Tapi perkataannya memang benar,karena Mark seorang saja sudah mampu mengatasinya,jadi ia tidak memerlukan tenaganya Ars lagi.
Ars hanya bisa mendengus kesal saja,padahal ia hanya berniat ingin membantu saja.Lalu iapun tidak berbicara lagi dan menunggu calon istrinya keluar dari dalam ruang ganti,begitu juga dengan Hery yang sedang menunggu istrinya juga.
Beberapa saat kemudian,2 wanita yang sedang di tunggu oleh Hery dan Arspun,keluar dari balik tirai tersebut dan berjalan ke arah Hery dan juga Ars dengan wajah yang terus tersenyum bahagia dan tangan yang saling bergandengan.
"Apa sudah selesai,Honey?" tanya Hery,dengan nada lembutnya,sambil berdiri dari duduknya.Wajah kesalnya tadi langsung saja menghilang ntah kemana,saat melihat wajah bahagia istrinya.Sedangkan Ars,hanya mampu memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Sudah Honey.Mari kita pulang ,aku sudah sangat lelah sekarang" jawab Ashley,dengan nada manjanya,sambil melepaskan gandengannya pada Agatha,lalu ia segera mengandeng tangan suaminya.
Agatha juga segera mengandeng tangan calon suaminya,sedangkan Ars langsung menyambut gandengan tangannya Agatha dengan senang hati.Hari ini ia hanya bisa pasrah saja karena tidak bisa leluasa untuk bermesraan bersama calon istrinya.
__ADS_1
Kemudian mereka ber 4 pun langsung berjalan keluar dari dalam butik tersebut,setelah mereka sudah melakukan pembayaran atas foto pre wedding dan gaun pengantin yang telah mereka pilih tadi.
Ars pun segera melajukan mobil tanpa banyak bicara lagi,seperti biasanya.Selama di dalam perjalanan,hanya suara Ashley dan Agatha saja yang menghiasi perjalanan mereka ber 4.Sedangkan Ars dan Hery hanya diam saja,dan sesekali menjawab dengan singkat kalau sedang di tanya oleh Ashley ataupun Agatha.
(Di Perusahaan JS).
"Aku bilang,kamu tidak perlu mengejar wanita murahan itu lagi.Karena kamu harus......"
"Plak"
ucapannya Bella langsung di akhiri oleh suara tamparan di pipi mulusnya,sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya.
"A apa ya yang kamu lakukan,Jonathan?" tanya Bella,dengan nada gugupnya karena merasa takut dengan kemarahannya Jo saat ini,sambil memegang pipinya yang sudah merah karena mendapat tamparan kuat dari Jo barusan.
Bahkan sudut bibirnya terlihat sedikit berdarah,ia juga sampai terduduk di lantai karena tamparan kuat tersebut.
"Kamu masih berani bertanya? Aku sudah bilang padamu,kalau kamu tidak boleh mengatai calon istriku.Apa kamu masih tidak sadar diri,kalau sebenarnya kamulah yang wanita murahan.Bahkan kamu lebih lebih parah dari murahan" jawab Jo,dengan nada emosinya dan tatapan tajamnya,sambil mencengkram lehernya Bella dan sedikit mengangkatnya.
"Jo Jonathan,a apa yang kamu la lakukan? Le lepaskan aku" pinta Bella,dengan suara yang terputus-putus,sambil berusaha melepaskan cengkraman kuat tangannya Jo di lehernya.
"Lepaskan katamu.Aku sudah memperingatimu dari kemaren,tapi kamu masih berani datang ke sini dan membuat calon istriku terluka.Bahkan kamu sudah berani membuat calon istriku sampai menangis.Sekarang aku akan membuat dirimu tahu,akibat dari perbuatan tidak tahu malumu ini" ucap Jo,sambil terus menambah kekuatan cengkramannya pada lehernya Bella.
"Tuan,wanita ini akan mati kalau Tuan teruskan..." peringat Sekretaris tersebut,dengan wajah paniknya yang bercampur bingung,sambil berjalan mendekat ke arah Tuannya tapi ia sama sekali tidak berani untuk membantu melepaskan cengkraman tangan Tuannya di lehernya Bella.
Tapi sepertinya Jo tidak lagi mau memperdulikan peringatan dari Sang Sekretaris tersebut,saat ini tubuhnya sudah di kuasai oleh amarah karena ulah wanita j*l*ng tersebut.
Sekretaris tersebut menjadi semakin bingung dan serba-salah,ia terus memikirkan cara untuk menenangkan Sang Tuan.Lalu ia segera bersuara kembali,saat ia baru saja teringat 1 nama.
Dan ternyata usahanya Sekretaris tersebut berhasil,karena Jo langsung melepaskan cengkramannya dari lehernya Bella,saat ia mendengar nama Desi yang di sebutkan oleh Sekretaris tersebut.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk...." Bella langsung terbatuk-batuk dengan wajah pucatnya,saat Jo sudah melepaskan cengkraman dari lehernya.
"Kau bawa wanita j*l*ng ini ke markasnya Hery.Ingat,jika sampai wanita j*l*ng ini kabur.Akan aku pastikan,kalau kepalamu tidak akan berada di tempatnya lagi nanti" perintah Jo,dengan nada tegasnya yang bercampur amarah tanpa menatap ke arah Sekretaris tersebut,karena ia terus menatap tajam ke arah Bella yang masih terduduk di lantai dan sibuk terbatuk-batuk.
"Baik Tuan" jawab Sekretaris tersebut,sambil menghela napas lega,karena ia berhasil menggagalkan pelenyapan nyawa yang akan di lakukan oleh Tuannya tadi.
Kemudian Jo menatap sekilas ke arah beberapa foto dirinya bersama Bella yang berserakan di lantai lalu ia kembali menatap tajam ke arah Bella.
"Dasar wanita j*l*ng,aku memang sangat bodoh karena pernah menjadikanmu sebagai kekasihku" umpat Jo,dengan wajah emosinya,sambil menatap wajah takutnya Bella yang sedang terbatuk-batuk.
Jika saja,ia tidak sedang memikirkan keberadaannya Desi saat ini.Mungkin saja wanita j*l*ng ini akan ia bunuh saat ini juga,bahkan ia tidak akan memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya Bella lagi.Tapi saat ini,ia harus mencari keberadaan Desi terlebih dahulu.
"Periksa foto-foto itu dan ambil HP milik wanita j*l*ng itu.Ingat peringatanku tadi,jika kau ingin kepalamu masih berada di tempatnya" perintah Jo lagi,dengan nada tegasnya dan tatapan tajamnya.Lalu ia segera berlari keluar dari dalam ruangannya,tanpa menunggu jawaban dari Sekretarisnya lagi.
"Ba baik Tuan" jawab Sekretaris tersebut,dengan nada gugupnya karena merasa takut dengan isi peringatan dari Tuannya,sambil menatap punggung Sang Tuan yang sudah menghilang di balik pintu tersebut.
Kemudian ia segera berbalik badan dan mengambil beberapa foto yang berserakan di lantai itu.Lalu ia menatap marah ke arah Bella yang baru saja selesai menormalkan detakan jantungnya karena hampir kehabisan oksigen tadi.
__ADS_1
"Cepat ikut aku sekarang" ucap Sekretaris tersebut,dengan nada geramnya,sambil menyeret paksa Bella yang sibuk memberontak.
Marah,emosi,kesal,jijik,semua rasa itu bercampur menjadi satu dihatinya Sekretaris tersebut,karena wanita j*l*ng ini telah membuat hidupnya menjadi berepotan,bahkan nyawanya yang akan menjadi taruhannya nanti.
"Tidak,aku mau mengikutimu.Cepat lepaskan aku.Kedua orang tua Tuanmu tidak akan memaafkanmu,kalau sampai terjadi apa-apa sama bayi kami" ancam Bella,dengan wajah marahnya,sambil terus memberontak.
"Cih,ternyata kamu masih berani mengancamku,setelah membuat Tuanku menjadi seperti itu" ucap Sekretaris tersebut,dengan nada yang semakin emosi,sambil menghentikan langkahnya dan mengeluarkan pisau lipat yang memang selalu ia bawa kemana-mana,salah satunya untuk ia gunakan dalam situasi seperti ini.
Ia jadi menyesal karena telah membawa Bella ke ruangan Tuannya,ia memang mengetahui tentang Bella,tapi ia tidak tahu kalau Sang Tuan sudah memutuskan hubungannya bersama Bella.Hingga terjadilah,kejadian yang tidak akan ia sangka ini.
"Apa kamu masih ingin mengancamku lagi?" tanya Sekretaris tersebut,dengan wajah marahnya,sambil menekan ujung pisau lipatnya di lehernya Bella yang sudah mulai gemetaran karena kali ini ia merasa benar-benaran ketakutan,akibat ujung pisau lipat tersebut yang telah berhasil sedikit menggores kulit lehernya.
Akhirnya Bella hanya mampu mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan pelan dan mengikuti langkah kakinya Sang Sekretaris tersebut yang masih menampilkan wajah marahnya yang bercampur kesal.Bahkan, Bella tidak mampu berbuat apa-apa saat HP miliknya di ambil oleh Sekretaris tersebut.
(Kembali ke Jonathan).
"****" umpat Jo,dengan nada emosinya,sambil menggusar rambutnya dengan kasar dan memukul setir mobil miliknya yang sedang melaju.
Karena Jo sedang menyetir saat ini,setelah ia kehilangan jejaknya Desi di luar Perusahaan tadi,ia segera masuk ke dalam mobilnya dan berniat untuk mengejar Desi yang ntah sudah menghilang kemana.
Untung saja HP dan kunci mobil miliknya masih berada di dalam saku celananya,belum sempat di keluarkan olehnya dari tadi pagi karena sibuk berolah raga bersama Desi.Jadi,ia tidak perlu naik ke atas lagi untuk mengambil HP dan kunci mobil miliknya.
Tapi ia sudah menyetir selama 20 menit,ia tidak juga melihat ada Desi di sekitar jalanan Perusahaannya,akhirnya ia segera mengeluarkan Hpnya karena baru teringat dengan GPS miliknya Desi yang telah diam-diam ia hubungkan ke miliknya kemaren.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Apa kamu benar-benar ingin pergi jauh dari sisiku,sebelum kamu mendengar penjelasan dariku terlebih dahulu..." ucap Jo,dengan nada kesal dan wajah frustasinya,sambil menatap titik lokasi keberadaannya Desi saat ini.
"Wanita ini,memang benar-benar.Seharusnya kamu mendengarkan penjelasan dariku terlebih dahulu,setelah itu baru lakukan apa saja maumu.Aku juga pasti tidak akan sefrustasi seperti ini" lanjut Jo lagi,dengan nada yang semakin kesal,saat ia memikirkan Desi yang telah mempercayai perkataannya Bella begitu saja.
Ia segera menelepon Sekretarisnya,sambil memutar arah kemudinya ke arah bandara yang di tuju oleh Desi barusan.
"Sekarang juga,kamu segera suruh kenalanmu yang ada di bandara ********,untuk menutup semua penerbangan pada saat ini sampai 1 jam ke depan.Aku tidak mau tahu,bagaimana caramu melakukannya.Aku hanya tahu kalau kau akan melakukannya sesuai dengan perintahku tadi" perintah Jo,setelah Sekretarisnya sudah mengangkat telepon darinya.
Kemudian ia langsung menutupnya tanpa ingin tahu bagaimana reaksi Sekretarisnya yang berada di seberang sana,lalu ia kembali fokus menyetir,supaya perjalanan yang masih memakan waktu 40 menit itu bisa lebih cepat dari 40 menit.
(Di depan markasnya Hery).
Sekretarisnya Jo yang baru saja sampai dan berhenti di depan markasnya Hery,langsung menghela napas dengan berat sambil menatap layar HPnya yang masih menyala tapi peneleponnya sudah menutup teleponnya terlebih dahulu,bahkan ia belum sempat mengeluarkan suaranya sedikitpun.
Ia memang memiliki kenalan di bandara yang Tuannya sebutkan tadi.Tapi haruskah ia meminta kenalannya itu untuk menutup semua penerbangan di saat ini.Yang benar saja,apakah Tuannya sudah gila.
Kalau Di Paris, keluarganya Jo mungkin punya kekuasaan.Tapi di sini,Tuannya masih baru dan kekuasaan Tuannya juga masih belum mampu untuk memerintah orang untuk menutup semua penerbangan,mau ia ada kenalan sekalipun.Kecuali ia meminta bantuan dari keluarga Kusuma.
"Bawa ini dan bawa dia ke dalam,lalu kurung dia di dalam sana.Ingat,jaga dia baik-baik,jangan sampai kabur" perintah Sekretaris tersebut kepada 2 anak buahnya yang ikut dengannya tadi,sambil memberi kartu identitasnya Tuannya supaya anak buahnya Tuan Hery bisa mengenal 2 anak buahnya tersebut.
"Baik Tuan" jawab 2 anak buah tersebut,sambil menyeret paksa Bella yang sedang kembali! berusaha memberontak di dalam mobil.
Sekretaris tersebut kembali menghela napas dengan berat,sambil menatap punggung Bella yang telah di bawa oleh 2 anak buahnya,bahkan ia mengabaikan teriakan-teriakannya Bella yang tidak terima karena di bawa ke sini.
__ADS_1
Kemudian ia segera melajukan mobil miliknya ke arah Perusahaan Tuannya kembali,karena ia harus mengurus sisa perkerjaan yang di tinggalkan oleh Tuannya tadi dan masih ada 1 kali pertemuan lagi,setelah itu ia juga harus langsung datang ke markasnya Tuan Hery kembali untuk memeriksa anak buahnya yang sedang menjaga Bella karena ia harus menjaga keamanan kepalanya juga.
Ia menyetir,sambil menatap HP miliknya.Ia menjadi bingung,antara mau mencoba untuk menelepon kenalannya atau langsung menelepon Tuan Hery saja.