Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 160


__ADS_3

Setelah beberapa jam berlalu,Jo segera merenggangkan kedua tangannya ke belakang dan juga kepalanya yang menegadah ke atas dengan kedua mata yang terpejam karena rasa lelahnya dan juga duduk terlalu lama.


"Akhirnya selesai juga,perkerjaanku" ucap Jo,dengan wajah yang tersenyum senang,tanpa membuka kedua mata terpejamnya.


Kemudian ia segera menegakkan tubuhnya kembali,saat ia merasa sudah cukup dengan renggangan kedua tangannya tadi.


Lalu ia menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore lewat 30 menit,ternyata perkerjaanya selesai lebih cepat dari jam pulangnya.Setelah sudah menatap jam tangannya,ia berniat mengambil HP miliknya,karena ia baru teringat dengan cctv yang lupa ia tutupkan tadi.


Tapi belum sempat tangannya sampai menyentuh HP miliknya yang masih bersandar di atas meja kerjanya itu,kedua matanya malah menjadi tidak bisa berkedip sama sekali,karena melihat permandangan indah yang ada di layar HP miliknya.


Terlihat di layar HP miliknya,Desi yang sedang tidur sangat pulas,tapi posisi tidurnya berbeda dengan posisi awalnya tadi.


Posisi awal yang terlihat sangat imut dan juga ada selimut yang menutup tubuhnya,sambil memeluk bantal guling di dalam selimut.


Tapi saat ini,posisi wanitanya berubah menjadi terlentang.Dan yang lebih parahnya lagi,selimut yang sedang menyelimuti tubuhnya Desi tadi sudah berpindah tempat ke lantai.


Bahkan bawah jubah mandinya Desi terbuka begitu saja dan atas jubah mandinya juga melorot karena ikatan tali di jubah mandi tersebut sudah mulai melonggar,hingga menampakkan 2 gundukan gunung kembar yang sudah menyembul hampir sempurna,dari balik jubah mandinya.


Jo masih duduk dengan posisi yang sama dan tatapan mata yang tidak berpindah sama sekali.


Tatapan kedua matanya terus tertuju pada layar HP miliknya,lebih tepatnya terus tertuju pada dada kenyal dan juga milik wanitanya yang terlihat sangat jelas di layar HP miliknya,karena kedua kakinya Desi yang terbuka lebar tepat di depan cameranya,hingga mampu membuat benda bawahnya mulai terusik dan terbangun.


karena terlalu fokus pada perkerjaannya,dari tadi ia sampai tidak menyadari pergerakan-pergerakan Desi di layar HP miliknya yang masih bersandar baik di atas meja kerjanya.


Jo juga baru tahu,kalau wanitanya memiliki sisi lain yang seperti ini.Untung saja,cctv di ruangan pribadinya hanya ada di dalam HP miliknya saja.Padahal ketika ia tidur bersama Desi kemaren,tidurnya Desi tidak begitu terlalu tidak beraturan,mungkin saja kemaren karena selalu di peluk sama dirinya sambil tiduran,jqdi gerakannya tidak begitu parah.


'Apa di rumah,setiap hari wanitanya memang selalu tidur seperti ini' pikir Jo,dengan wajah yang sudah memerah,karena sedang menahan gejolak-gejolak panas yang ada di tubuhnya.


"****" umpat Jo,dengan suara pelannya karena tidak sanggup lagi, menahan gairah yang sudah mulai menguasai tubuhnya.


Ia segera berdiri dari duduknya,sambil menyambar HP miliknya.Lalu berjalan ke arah ruangan pribadinya dengan langkah lebarnya,sambil menahan gairahnya dan membuka kancing kemeja kerjanya satu persatu.


"Sayang,kamu sendiri yang menggodaku.Jadi,jangan salahkan aku nanti" ucap Jo,dengan wajah yang sudah memerah dan terus tersenyum,setelah ia sudah berada di dalam ruangan pribadinya.


Ia segera mengunci pintu ruangan pribadinya,lalu berjalan ke arah Desi dengan langkah pelan,sambil membuang kemeja yang semua kancingnya sudah selesai ia buka semua dan menatap wajah terlelap wanitanya.


Setelah hanya menyisakan celana b*xernya saja,ia langsung naik ke atas kasur dengan gerakan pelan dan mengurung tubuh seksinya Desi di bawah kungkungannya.


"Tenang saja sayang,aku akan menikahimu secepatnya.Aku harap,kamu bisa bersabar sebentar lagi.Aku sangat mencintaimu,jangan pernah tinggalkan aku" lanjut Jo lagi,saat ia kembali mengingat gerutu-gerutuan kesalnya Desi tadi tapi sayangnya Desi tidak mendengar apa yang ia bicarakan barusan.Ia brbicara dengan wajah yang serius,sambil membelai pipinya Desi yang tidak merasa terganggu sama sekali.


Setelah selesai bicara dan puas menatap wajah terlelapnya Desi,Jo segera menurunkan kepalanya,lalu menc**m bibirnya Desi dengan lembut,sambil membuka jubah mandinya Desi.


Ssperti biasanya,Desi akan selalu terlambat menyadari,kalau Jo sedang mengerayangi tubuh polosnya itu,ketika ia sedang terlelap.


Desi mulai mengeluarkan suara-suara merdunya,saat kedua tangannya Jo yang sudah menjalar ke ar*a-ar*a sensitif dan bibir yang sedang melahap bibir Desi tadi,sudah turun ke leher mulusnya Desi,lalu turun ke dada empuknya Desi,hingga ke bawah miliknya Desi.

__ADS_1


Desi membuka kedua matanya dengan perlahan-lahan,saat ia merasakan sensasi-sensasi yang terasa semakin n*km*t.


"Sa sayang,,aaahhhh aaaahhhhh" panggil Desi,dengan suara lemahnya,sambil meremas rambutnya Jo,saat merasakan Jo yang sedang menyentuh dan melahap ar*a-ar*a sensitifnya.


Bahkan Desi tidak mampu untuk menolak ataupun berkata banyak lagi,karena tubuhnya terus menginginkan Jo agar menyentuh tubuhnya lebih dan lebih lagi.


"Iya sayang" jawab Jo,sambil mengarahkan benda miliknya ke miliknya Desi,bersiap-siap untuk memasukinya.


"Aaahhhh sa sayang..." panggil Desi lagi,dengan suara merdunya yang semakin meninggi,saat merasakan benda tumpul dan panjang miliknya Jo yang menghentak miliknya dengan kuat.


"N*km*t* saja sayang.Kamu pasti akan semakin menyukainya" jawab Jo,dengan suara seraknya,sambil menc**m bibirnya Desi tanpa melepaskan pernyatuan mereka.


Jo mulai memaju mundurkan miliknya,sambil menc**m bibirnya Desi.Setelah puas menc**m,ia segera melepas c**m*n mereka.Lalu ia segera memacu dengan kecepatan penuh,hingga membuat suara merdunya Desi terdengar semakin merdu di telinganya.


Akhirnya, sore itupun mereka berdua kembali melakukan pergumulan panas mereka tadi,dan baru selesai setelah jam sudah menunjukkan pukul 5 sore lewat 30 menit.


***


Di Mansion Kusuma.


Di sore hari menjelang malam,di ruang tamu Mansion Kusuma,Grandma sibuk menonton tv.Sedangkan Grandpa dan Daddy sibuk membaca koran.


Grandma yang sedang duduk santai di ruang tamu,segera menoleh ke arah pintu utama,saat ia mendengar beberapa pasang langkah kaki yang sedang melangkah masuk ke dalam Mansion.


Grandma yang memang selalu senang dalam hal menyambut cucu-cucu mereka,beda dengan Grandpa dan Daddy yang hanya fokus pada koran mereka saja,tidak terganggu sama sekali dengan suara langkah kaki yang memang sudah mereka ketahui siapa pemiliknya,melalui sapaan-sapaan para pelayan.


"Sayang,kalian sudah pulang...Sini temani Grandma nonton tv"ucap Grandma yang ditujukan untuk Ashley,sambil menepuk sofa di sebelahnya dengan pelan.Ia berbicara dengan wajah yang terus tersenyum senang, karena akan ada yang bisa di ajak bicara, saat ia ingin membahas tentang apa yang sedang ia tonton.


Tidak seperti suami dan putranya yang menghindari bicara sama dirinya dan lebih memilih untuk membaca koran saja.


"Baik Grandma,apa tontonan kita hari ini Grandma?" tanya Ashley,dengan nada senangnya juga.Apa lagi saat pulang dari kantor suaminya tadi,ia kembali singgah di salah satu restoran lainnya lagi untuk mengisi perutnya yang kembali merasa lapar.Jadi,suasana hatinya menjadi semakin baik karena terus dapat memakan makanan enak.


Terlebih lagi,ia sudah terbiasa menemani dan mendengar celotehannya Grandma,saat sedang menonton bersama.


Sedangkan Hery dan Ars yang masih berdiri tadi, segera duduk di sofa.Hery yang duduk di sampingnya Grandpa dan Ars yang duduk di sampingnya Daddy.


"Grandpa,sepertinya akan ada kabar baik sebentar lagi" ucap Hery,setelah ia sudah duduk di sampingnya Grandpa,sambil manatap wajah santainya Ars yang sedang menatap Daddy.Tapi ia sangat tahu,kalau Asistennya itu pasti sedang bingung saat ini.


'Pria tua ini,memang tidak seru' batin Hery dengan hati yang kesal,karena Grandpa yang tidak mau menanggapi perkataannya tadi.


"Jangan mengataiku" tegur Grandpa,dengan suara pelannya.Ia menatap Hery dan Ars secara bergantian.Lalu ia kembali sedikit menundukkan kepalanya dan melanjutkan membaca korannya.Ia paling malas,kalau sedang fokus pada sesuatu,cucunya atau siapa saja yang datang menganggunya,kecuali istrinya.


Sedangkan Hery,hanya mampu mendengus kesal karena Grandpa mengetahui apa yang sedang ia batinkan tadi.


Lalu dengan wajah yang tersenyum bshagia ia beralih menatap istri dan Grandma yang sibuk mengobrol sambil menonton.

__ADS_1


Dan Daddy yang baru menyadari,kalau ada Ars yang mengikuti Hery pulang ke Mansion,saat Ars duduk di sampingnya.Tapi,ia hanya melirik sekilas saja melalui ekor matanya.


Sepertinya,ia bisa menebak apa tujuan Ars duduk di sampingnya.Soalnya,biasanya Ars hanya berdiri saja.Ars tidak akan mau duduk kalau tidak sedang ada urusan pribadi atau sedang mengadakan acara-acara tertentu.


Para lelaki terdiam untuk beberapa saat.Lalu terdengar suara Ars yang sedang berbisik di samping telinganya Daddy,sedangkan Grandpa dan Hery hanya mendengar dalam diam,Grandma dan Ashley masih sibuk dengan obrolan mereka sambil sekali-kali melirik ke arah Daddy dan Ars yang sedang duduk berdempetan.


"Dad..." panggil Ars,sambil mendekat ke tubuhnya Daddy dan berbisik di telinganya daddy.


"Hm" jawab Daddy,dengan singkat dan wajah datarnya,sambil terus menatap koran yang masih ia pegang tanpa membacanya.Ia sudah tidak berniat untuk membaca koran lagi,karena ingin mendengar apa yang ingin di katakan oleh Ars,ia juga sudah mulai risih dengan tubuh mereka yang sudah merapat.


"Dad,ada yang mau aku katakan..." ucap Ars lagi,dengan nada ragunya.Tapi ia juga tidak punya pilihan yang lain lagi,selain menuntut janji Daddy kemaren,lagi pula Grandma juga sudah bersuara dari awal ia berada di sini.


"Kenapa sekarang kau menjadi seperti anak kecil?" tanya Daddy,dengan wajah yang mulai kesal,karena Ars yang tidak bicara langsung ke intinya saja.Ia bertanya,sambil melipat koran yang ia baca tadi.


"Dad,kamu harus menepati janji yang kemaren" ucap Ars,dengan wajah yang tersenyum malu dan suara yang pelan,karena harus meminta keluarganya Hery sebagai wakil dari kedua orang tuanya yang sudah tidak ada,untuk melamar calon istrinya.Bahkan,ia juga mengabaikan pertanyaannya daddy.


Padahal,waktu sebelum ia datang tadi,ia sudah begitu percaya diri untuk mengatakan niatnya pada keluarganya Hery.Tapi saat ia sudah berada di depan keluarganya Hery,ia malah menjadi tidak begitu percaya diri dan juga merasa segan mau merepotkan keluarga tersebut karena status dirinya yang kurang beruntung,yaitu yatim piatu.


"Apa aku pernah mengingkari janjiku?" tanya Daddy,dengan nada kesalnya,sambil menyingkirkan koran yang sudah ia lipat tadi ke atas meja.


"Tidak" jawab Ars,dengan cepat dan wajah bersalahnya karena melihat wajah kesalnya Daddy.Padahal ia tidak bermaksud menuduh,ia hanya bingung harus bagaimana cara bicaranya.


"Sudahlah.Kau ini,sudah berapa ratus kali aku bilang.Kalau kau menginginkan sesuatu,kau tidak perlu berpikir 2 kali,kau bisa langsung saja mencari kami.Apa kau masih tidak mengerti,sampai sekarang? Walaupun aku tidak pernah berjanjipun,dan kau memintanya,kami pasti akan mengabulkannya" ucap Daddy,dengan ekspresi tulusnya,sambil menahan rasa kesalnya dan menatap wajah bersalahnya Ars dan tidak menyadari kalau Grandma dan Ashley sedang menatap mereka berdua dengan ekspresi wajah yang penasaran.


Sedangkan Hery dan Grandpa yang sudah melipat korannya,hanya menatap Daddy dan Ars dengan wajah tenangnya saja


Rasanya Daddy ingin sekali memukul kepalanya Ars dengan sekuat tenaga atau mengomeli Ars dengan lebih panjang lagi,karena Ars sangat jarang menuntut atau meminta apa-apa sama dirinya ataupun sama kedua orang tuanya,begitu juga dengan Mark.Sekali mau meminta,Ars malah seperti mau di minta hutang saja.


Tapi saat ia melihat wajah bersalahnya Ars,iapun mengurungkan niatnya tadi,karena tidak mau terlalu perhitungan atas rasa kesalnya.


Padahal,mereka sudah menganggap Ars dan Mark seperti putra dan cucu mereka sendiri.Tapi Ars dan Mark masih tetap saja, selalu merasa sungkan pada mereka.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Grandma,dengan mata yang menyelidik ke arah 2 pria beda usia itu.Ia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


Karena wajah datar putranya sangat sulit untuk bisa di tebak,begitu juga dengan suaminya dan juga cucunya Hery,mereka ber 3 paling ahli kalau membuat orang menjadi bingung dan juga penasaran.


"Mommy tanya saja sendiri,pada cucumu yang satu ini" jawab Daddy,dengan wajah tidak bersalahnya.


"Dan kau,menjauhlah dari tubuhku..." ucap Daddy,sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.Ia masih sedang menahan rasa kesalnya,dengan wajah datarnya.


Sedangkan Ars,hanya mampu menggaruk-garukkan tengkuk lehernya yang tidak gatal.Ia juga segera menjauh dari tubuhnya Daddy dan berdiri dari duduknya.


Padahal ia meminta bantuan dari Daddy untuk melanjutkan niatnya,tapi lihatlah,Daddy malah sengaja membuat dirinya menjadi kebingungan untuk bicara.


Walaupun Grandma sudah bersuara waktu itu untuk segera membawa calon istri pada Grandma,tapi karena ini permintaan pertamanya pada keluarga yang sudah ia ikuti dari kecil.Jadi,ia agak merasa malu karena mereka sudah repot-repot menampung dirinya dan Mark.Bahkan mereka menyekolahkan dirinya dan Mark dengan sangat baik tanpa meminta balasan sama sekali,tapi sekarang ia malah kembali merepotkan mereka untuk melamar calon istrinya,belum lagi soal pernikahannya nanti.

__ADS_1


"Ars...Apa telah terjadi sesuatu? Katakan saja,Grandma pasti akan membantumu" tanya Grandma,dengan wajah yang semakin penasaran dan mulai merasa khawatir,saat melihat ekspresi ragu-ragu di wajahnya Ars.Ia juga takut kalau sedang terjadi sesuatu yang buruk.Ia bertanya,sambil mendekat lebih dekat ke arah Ars.Karena rasa khawatirnya dan penasarannya,tontonannya tadipun menjadi tidak asyik lagi.


Sedangkan Ashley,ia segera mendekat ke suaminya,dengan wajah penasaran yang sama dengan Grandma.Herypun,langsung memeluk istrinya yang sudah berada di sampingnya,dengan pelukan sayang.


__ADS_2