
"Baik,Adelard Atmajaya.Tunggu dan lihat saja.Beberapa tahun lagi,aku pasti akan membuat segala yang mustahil bagi orang lain,akan menjadi mudah bagiku " ucap pria gemuk tersebut dengan wajah yang tersenyum yakin,tanpa mengalihkan pandangan dari kedua matanya Adelard.
"Cih..." lagi-lagi Adelard kembali berdecih saat ia kembali mendengar nada yakin dan percaya dirinya pria gemuk tersebut.Bahkan pria gemuk tersebut bisa tahu nama lengkapnya,padahal dirinya tidak pernah mencantumkan nama lengkapnya sedari pendaftaran sekolah TK dulu,begitu juga dengan ke 3 Tuan Muda dan Nona Mudanya.
"Sepertinya kamu sudah mencari tahu semuanya?" tanya Adelard dengan nada santainya.
"Tentu saja sudah.Bukankah aku harus mengetahui semuanya,supaya aku bisa menyeimbangkan kemampuanku sama mereka semua di masa depan nanti" jawab pria gemuk tersebut dengan nada yang masih sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Siapa namamu?" tanya Adelard dengan wajah yang pura-pura tidak tahu,dan mengabaikan nada percaya dirinya pria gemuk tersebut yang sudah mampu mulai membuat dirinya merasa kesal.
Padahal ia dan yang lainnya sudah tahu,tapi ia hanya mencari pembahasan lain saja sebelum ia pergi dari sana.
"Namaku Daffin Matheau" jawab pria gemuk tersebut dengan nada santainya.
"Baiklah...Selamat berjuang Daffin,semoga beruntung" ucap Adelard dengan wajah datarnya dan ucapan doa yang tulus,sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya pria yang bernama Daffin tersebut.
Lalu ia segera memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan langsung berjalan pergi dari hadapannya Daffin begitu saja,tanpa menunggu jawabannya Daffin lagi.
"Terima kasih" gumam Daffin dengan nada pelannya,sambil terus menatap punggung lebarnya Adelard dengan wajah yang tersenyum senang.Dan ia juga sangat tahu kalau Adelard hanya berpura-pura bertanya saja.
Tapi walaupun begitu,paling tidak,saat ini sudah ada 1 anggota keluarga dari wanita yang ia cintai tersebut yang sudah mulai terlihat mendukung dirinya.
Ia sudah bertekad akan berusaha semampunya merubah dirinya supaya menjadi pantas untuk wanita yang ia cintai itu di masa depan mereka nanti.
Kemudian ia kembali menampilkan wajah santainya,lalu ia segera berbalik badan dan berjalan ke arah kelasnya.
***
Di kelasnya twin.
"Bagaimana?" tanya Avaro pada Adelard yang baru saja masuk dan duduk di sampingnya,dengan nada santainya tanpa mengalihkan kedua matanya dari buku belajarnya.
"Apa pria itu masih belum menyerah?" timpal Adnan dengan nada santainya juga,sambil menoleh ke belakang untuk melihat wajah datarnya Adelard.
Sedangkan Alice,ia hanya duduk bersandar di depannya Avaro dengan tas sekolah yang sudah berada di punggungnya,sambil memejamkan kedua matanya dengan kedua telinga yang sedang terpasang headset.Tapi Avaro,Adnan dan Adelard sangat tahu kalau Alice tidak benar-benar sedang mendengar lagu.
Karena mereka ber 3 memang duduk berdekatan di dalam kelas tersebut,sedangkan Adelard yang beda 1 tingkat sama mereka ber 3,ia baru saja masuk ke dalam kelas ini karena saat ini sudah jam pulang.
Jadi,di dalam kelas tersebut hanya ada mereka ber 4 dan beberapa murid yang lainnya saja yang berada di luar kelas karena yang lainnya lagi sudah pulang semua.
"Sepertinya pria itu tidak akan pernah menyerah,Tu,Kak" jawab Adelard dengan nada bingungnya sambil memerhatikan ekspresi wajahnya Avaro,ia juga segera merubah panggilannya ke Avaro saat ia melihat tatapan tajamnya Avaro yang sudah tertuju padanya.
"Apakah kamu ini memang tuli?" tanya Avaro dengan nada kesalnya,sambil menendang kursi yang di duduki oleh Adelard dengan sedikit kuat hingga kursi tersebut bergeser sampai ke sudut kelas tersebut.
Sedangkan Adelard yang memang sedari tadi sudah waspadapun segera bangun dari duduknya dengan cepat dan melangkah sedikit menjauh dari kursi tersebut,sebelum Tuan Muda tersebut sempat menendang kursi tersebut.
__ADS_1
"Bukankah sudah aku katakan,kamu tidak perlu berlaku formal ,dan kamu hanya perlu memanggil nama saja" lanjut Avaro lagi,dengan nada tegasnya,sambil menyimpan buku belajarnya ke dalam tas sekolahnya.
Padahal ia sudah berpuluh-puluh kali berpesan pada Adelard,tapi Adelard tetap saja tidak mau mendengarnya kalau ia tidak berbuat kasar seperti ini,ataupun menampilkan tatapan tajamnya.
"Maaf..." jawab Adelard dengan nada santainya,sambil berjalan mendekat ke arah Adnan yang sedang tertawa kecil karena melihat dirinya yang sedang di marahi oleh Tuan Muda tersebut.
"Apa pria itu benar-benar tidak takut mati?" tanya Adnan dengan wajah herannya ,sambil memakai tas sekolahnya dan berdiri dari duduknya saat ia melihat kakak pertamanya yang sudah sibuk memakai tas sekolah.
"Tidak.Bahkan ia berkata kalau ia sanggup bertaruh nyawa untuk mendapatkan cintanya Alice" jawab Adelard dengan nada seriusnya,sambil menatap ke arah Alice yang masih tetap dengan posisi awalnya tadi.Ia tidak mau mengulangi kesalahannya tadi dan kembali mendapatkan pukulan kecil dari Nona Muda tersebut.
"Lumayan...Terdengar seperti pria yang cukup pendirian dan tangguh" ucap Avaro dengan nada santainya,sambil berdiri dari duduknya.
"Tidak,menurutku pria itu sangat lemah.Dan aku sangat tidak menyukai pria yang lemah seperti pria gemuk itu" timpal Adnan dengan nada kesalnya,sambil mendekat ke arah Alice.
Beberapa detik kemudian...
"Auchk...Adnan Kusuma,apa kamu tidak bisa berhenti untuk tidak mengangguku?" tanya Alice dengan nada kesalnya,sambil mengelus-elus keningnya yang terasa sakit karena sentilannya Adnan.
Sedangkan Adnan,ia langsung tertawa kecil saja saat ia melihat wajah kesalnya Alice saat ini.
"Apa kamu sudah mulai memikirkan pria gemuk itu?" tanya Avaro,masih dengan nada santainya,sambil berjalan pelan melewati Adnan dengan langkah santainya.
"Tidak,kakak kalau bicara jangan sembarangan..." jawab Alice dengan nada kesalnya,sambil berdiri dari duduknya dengan cepat dan menatap kesal ke arah punggung kakaknya itu.
"Apa yang di katakan oleh kakak barusan memang benar...Kamu tidak perlu berpura-pura lagi.Berpura-pura tidak perduli,tapi diam-diam mencuri dengar" ucap Adnan dengan wajah yang tersenyum ngejek,sambil menarik sebelah headsetnya Alice dengan gerakan pelan,lalu ia segera melangkah pergi mengikuti kakak pertamanya dengan langkah lebarnya karena ia tidak mau kembali mendapat amukan dan beradu bela diri sama kakak perempuannya itu.
Dan sebenarnya ia mencuri dengar bukan karena perduli,tapi ia hanya merasa penasaran dan sedikit kasihan sama pria gemuk tersebut karena belakangan ini pria gemuk tersebut terus saja di beri bogeman mentah sama adiknya Adnan.
"Dasar kurang ajar" gumam Alice dengan nada yang masih kesal karena Adnan tidak pernah berubah dan sangat jarang memanggilnya kakak.,sambil menekan tanda play di lagu yang ada di HPnya yang telah ia stopkan tadi karena sibuk ingin menguping pembicaraannya 3 pria datar tadi.
"Dan kamu,kamu juga sama-sama menyebalkan.Kamu....Ya sudahlah,aku sudah capek,aku mau pulang saja" ucap Alice lagi,dengan nada yang semakin kesal,tapi ia bingung ntah mau ia luapkan pada siapa rasa kesalnya ini.Jadi pada akhirnya, iapun tidak melanjutkan luapan kesalnya lagi,dan memilik untuk pulang saja.
Lalu ia segera melangkah pergi mengikuti langkahnya kedua pria datar yang sudah melangkah menjauh itu,dan langsung di ikuti oleh Adelard dari belakangnya.
Sedangkan Adelard,ia hanya mampu menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan saat ia kembali melihat perdebatan kecil yang memang sudah menjadi tontonannya yang selalu terjadi hampir setiap hari itu.
***
Di Mansion Kusuma.
Terlihat Great-Grandma dan Great-Grandpa yang sedang duduk santai di ruang tamu,sambil menonton TV bersama suaminya, putranya Hendri dan juga menantunya Angel.
Beberapa menit kemudian,terdengar suara beberapa pasang langkah kaki dari arah belakang mereka.
"Great Grandma,aku sudah pulang" teriak Alice dari arah belakang dengan wajah yang tersenyum senang,sebelum ia berhasil memeluk nenek buyutnya dari belakang.Nenek buyut mereka yang sudah berusia hampir 90 tahun,begitu juga dengan Kakek buyut mereka.
__ADS_1
"Bagaimana sekolahmu hari ini,hm?" tanya Great Grandma dengan wajah yang tersenyum senang juga,sambil mengelus-elus pelan pucuk kepalanya Alice yang berada di atas pundaknya dengan penuh kasih sayang.
Memang seperti inilah tingkah manjanya cicit perempuannya ini kalau sudah pulang sekolah,tapi ia sangat menyukainya.
"Baik-baik saja.Berjalan lancar seperti biasanya,Great Grandma" jawab Alice,sambil mengangkat kepalanya dengan pelan dan berjalan ke arah sampingnya Great Grandma dengan melewati samping sofa tersebut,lalu ia langsung duduk dan memeluk Great Grandma dengan manja.
Kemudian di susul dengan Avaro dan Adnan dari belakangnya,lalu mereka berduapun langsung duduk di sampingnya Hendri Grandpanya mereka dengan wajah datar mereka dan juga tanpa suara.
"Dasar wanita manja" gumam Adnan dengan nada pelan dan kesalnya setelah ia sudah duduk dengan baik di sofa tersebut,sambil menyandarkan kepalanya ke belakang karena merasa lelah,habis pulang dari sekolah.
Alice yang mendengar gumaman kesalnya Adnanpun hanya cuek saja dan terus memeluk Great Grandma dengan sayang.
Sedangkan Great Grandpa,Grandpa dan Grandma,mereka ber 3 hanya mampu menonton TV sambil menghela napas pelan saat mereka melihat permandangan yang memang sudah sering mereka lihat itu.
"Kalian sudah pulang?" tanya Mommy (Ashley) yang baru saja turun bersama Daddy (Hery) yang masih terus merengkuh pinggulnya.
'Sudah melihat,tapi tetap saja bertanya' batin Adnan dengan wajah malasnya.Apa lagi saat ia melihat pelukan mesranya Mommy bersama Daddynya yang tidak pernah berubah itu.
"Mom,Dad,kapan kalian pulang?" tanya Alice dengan wajah senangnya dan juga penasaran,saat ia melihat Mommy dan Daddynya yang ternyata sudah pulang dari bulan madu mereka yang ntah sudah ke berapa kalinya.
"Iya,kami baru saja pulang dari 1 jam yang lalu" jawab Momny dengan nada santainya,sambil berjalan ke sampingnya Great Grandpa dan duduk di sana bersama Suaminya Hery.
"Dad,jangan menatapku seperti itu.Beberapa hari ini,aku benar-benar sudah tidak memukul orang lagi..." ucap Adnan tiba-tiba dengan jujur dan wajah santainya,sambil menatap serius ke arah Daddynya yang sedari tadi terus menatap tajam ke arahnya.
"Honey,sudah berapa kali aku katakan,jangan seperti itu lagi sama anak-anak..." tegur Ashley dengan nada kesalnya,sambil menatap tajam ke arah suaminya.
"Honey,apa kamu tidak lihat...Aku bahkan belum berkata 1 katapun pada putra kesayanganmu itu..." jawab Hery dengan nada menyindirnya dan wajah malasnya,sambil menatap heran ke arah istrinya.
Ia heran pada istrinya,kenapa istrinya selalu membela Adnan,padahal Adnan selalu memukul teman-teman sekolah ataupun sekelasnya.Walaupun Adnan memiliki alasan,tapi alasan putra bungsunya itu tidak masuk akal.Karena Adnan selalu saja memukul setiap pria yang mencoba mendekati Alice,bahkan hanya mengedipkan sebelah mata mereka saja,Adnan pasti akan memukul mereka dengan lumayan parah.
"Kamu memang tidak berbicara,tapi tatapan tajammu itu telah menyakiti putraku" ucap Ashley dengan nada yang masih saja kesal,sambil memalingkan wajahnya ke depan dengan wajah yang berpura-pura merajuk.
"Ya sudah.Aku yang salah,aku minta maaf ya,Honey..." pinta Hery dengan nada lembutnya sambil memeluk istrinya dari samping dengan sayang, setelah ia menatap penuh permusuhan ke arah putranya Adnan untuk beberapa detik.Dan langsung di tanggapi dengan tatapan permusuhan juga oleh Adnan.
Gara-gara putranya,ia harus kembali membujuk istrinya karena istrinya adalah wanita yang paling tidak mau ia sakiti,walaupun ia tahu kalau istrinya hanya berpura-pura saja.
Ashleypun langsung tersenyum senang,karena di peluk sayang oleh suaminya,lalu ia langsung mengenggam lembut tangan suaminya yang sedang berada di perut datarnya.Herpun langsung ikut tersenyum,saat ia melihat wajah tersenyum istrinya itu.
Sedangkan Avaro, Adnan, dan yang lainnya hanya mampu menahan tawa di dalam hati mereka,kecuali Great Grandma,Mommy dan Alice yang langsung tertawa kecil.
"Mom,Dad,bukankah seminggu lagi Mom dan Dad baru akan pulang? Kenapa malah hari ini pulangnya?" tanya Alice dengan wajah penasarannya,sambil menatap ke arah Mommy dan Daddynya yang masih tetap duduk berpelukan dengan mesra dan wajah tersenyum mereka.
"Karena Mommymu sudah tidak sabar ingin mengantar kalian ke Paris" jawab Daddy dengan nada santainya,sambil menyandarkan kepalanya ke belakang,sama seperti Adnan.
"Iya,benar apa yang di katakan oleh Daddy kalian barusan.Dan Daddy dan Mommy sudah mencari tempat kuliah yang terbagus, dan juga tempat tinggal untuk kalian ber 3 " timpal Mommy dengan nada senangnya,karena beberapa minggu lagi setelah anak-anaknya tamat,ia dan suaminya akan mengantar ke 3 anaknya itu untuk tinggal dan belajar di Paris untuk beberapa tahun ke depan.
__ADS_1
Sebenarnya masih ada sekitar 2 bulan lagi baru mereka semua akan berangkat,tapi lantaran permintaan kedua putra tampannya mereka itu yang meminta agar berangkat lebih awal.Jadi,mèreka berduapun hanya mengabulkannya saja.Lagi pula,mau berangkat awal atau lambatpun,bagi mereka tetap sama saja.
"Biasanya yang sering aku lihat,para orang tua akan merasa sedih kalau anak-anaknya akan kuliah di luar negeri dan berada jauh dari pantauannya.Tapi sepertinya hanya Mommy seorang yang aneh.Merasa senang saat anak-anak Mommy akan berada di jarak yang jauh..." ucap Alice dengan nada pelannya,sambil menatap heran ke arah Mommynya.