Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 185


__ADS_3

"Terima kasih banyak Dok,karena telah menjaga dan mengantar putri kami pulang" timpal Ibunya wanita tersebut,dengan wajah yang ikut tersenyum senang dan juga tulus karena Sang Dokter mau menjaga dan mampu membuat putri mereka tersenyum lepas kembali.


Karena ia tahu,putrinya pasti banyak merepotkan Dokter tersebut ketika berada di rumah sakit.Dirinya saja juga sampai terus di buat kesal karena dapur rumahnya menjadi berantakan terus,gara-gara ulah putri nakalnya itu.


"Tidak masalah nyonya,sudah menjadi tugas seorang Dokter kalau ada pasien yang tidak sengaja aku temu sedang terluka" jawab Ryan,dengan nada menyindir,sambil menatap santai ke arah wajah tidak bersalahnya wanita tersebut.


Wanita tersebut memang sudah bukan pasien lagi,tapi setiap hari selalu ada di rumah sakit,sudah seperti menjadi pasien tetapnya saja.


"Tapi,tetap saja aku harus berterima kasih Dok.Dan Dokter juga tidak perlu memanggilku dengan sebutan nyonya,panggil saja tante..." ucap Ibunya wanita tersebut,dengan wajah yang terus tersenyum senang,sambil menatap wajah senangnya putrinya itu.


Sepertinya putrinya menyukai Dokter tersebut,tapi dirinya sama sekali tidak masalah karena yang jadi masalahnya hanya suaminya saja.Lagi pula,menurutnya Dokter tersebut terlihat baik dan juga penyayang,terlihat dari perhatian panjang lebarnya tadi.


"Baik tante" ucap Ryan,dengan wajah yang tersenyum ramah.


"Ingat,pesan-pesanku tadi.Kalau kamu tidak melakukan seperti yang aku pesankan tadi,jangan harap bisa bertemu denganku lagi" ancam Ryan,ia takut kalau wanita tersebut akan melupakan pesan-pesannya setelah ia pergi dari sana dan membuat kaki yang keseleo itu menjadi semakin parah.


Sedangkan Ibunya wanita tersebut hanya tersenyum saja,ia sama sekali tidak marah pada Sang Dokter yang sudah berani mengatur putrinya,karena ia tahu kalau itu untuk kebaikan putrinya juga.


"Baik Dok" jawab wanita tersebut,dengan nada kesalnya saat ia melihat kalau Sang Dokter tidak mempercayainya kalau ia akan melakukan semua itu.


"Kalau begitu,aku harus pergi dulu tante.Karena aku masih ada perkerjaan lagi di rumah sakit" lanjut Ryan lagi,dengan wajah seriusnya tapi tetap tersenyum ramah sambil menatap Ibunya wanita tersebut.Karena memang jadwal operasinya sebentar lagi,jadi ia harus segera tiba di rumah sakit saat ini juga.


"Baiklah.Sekali lagi,terima kasih Dok" jawab Ibunya wanita tersebut,tanpa mengurangkan wajah tersenyum senangnya tadi.


"Baik tante.Aku pergi dulu.Tante tidak perlu mengantarku lagi,aku bisa sendiri.Tante jaga putri tante saja" ucap Ryan,sambil menahan Ibunya wanita tersebut yang sedang ingin berjalan melewatinya.


"Baiklah Dok" ucap Ibunya wanita tersebut,walaupun merasa tidak enak,ia tetap mengiyakan perkataannya Dokter tersebut saat ia melihat wajah seriusnya Dokter tersebut.


"Hati-hati di jalan Dok"


"Hati-hati di jalan Dok"


ucap anak dan Ibu tersebut,secara serentak,dengan wajah yang tersenyum tulus ke arah Sang Dokter.


"Baik tante,terima kasih" jawab Ryan,sambil menatap Ibunya wanita tersebut.


Lalu ia langsung berbalik badan setelah menatap sekilas ke arah wajah kesalnya wanita tersebut dan segera berjalan keluar kamar dengan wajah yang terus tersenyum,hanya dirinya sendiri saja yang tahu apa alasannya yang telah membuat ia terus tersenyum.


Sedangkan wanita tersebut,hanya mampu mendengkus kesal saja,karena tadi ia mendengar ucapan terima kasih dari Sang Dokter tapi hanya di tujukan untuk Ibunya saja.


Setelah Sang Dokter sudah menghilang di balik pintu kamar putrinya,Sang ibu segera merecoki putrinya dengan berbagai pertanyaan karena rasa penasarannya.


Sedangkan putrinya,ia pun langsung berterus terang tanpa rasa malu sama sekali dan wajah yang terus tersenyum senang,karena putrinya tersebut memang selalu bercerita apapun padanya tanpa di tutupi sama sekali.


***


Di sebuah Club malam.


Di dalam Club malam yang cukup terkenal itu,Hery dan Ars sedang duduk tidak jauh dari meja bar yang ada di dalam sana.Dan di meja bar tersebut adalah tempat duduk sahabatnya mereka yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Yah,sahabat mereka tersebut adalah Jonathan.Terlihat jelas di meja bar sana,kalau Jonathan benar-benar sedang tidak baik-baik saja.Bahkan pakaiannya sudah berantakan dan wajah yang sudah merah karena terus meneguk wine yang memang sudah ia pesan tadi.


Sedangkan Sekretarisnya dan beberapa anak buahnya,masih setia berdiri di samping Tuan mereka,sambil menjaga Sang Tuan dengan wajah lelah mereka dan juga sebentar-sebentar melirik jam tangan mereka yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Sudah dari jam 7 malam tadi Tuan mereka berada di dalam Club malam ini,dan dari tadi juga Tuan mereka terus meneguk minuman terlarang tersebut sambil menyebut nama calon istrinya dan juga terus meracau tidak jelas,hingga sudah ada 3 botol wine yang kosong dan saat ini Tuan mereka baru saja kembali membuka botol ke 4.


Untung saja Tuan mereka hanya terus menyesapnya sedikit demi sedikit dari tadi.Coba kalau Tuan mereka langsung meneguknya gelas pergelas,bisa di pastikan kalau Tuan mereka sudah tumbang dari tadi.


Maka dari itu,Tuan mereka masih bertahan hingga jam 11 malam seperti ini.Hanya saja kondisi Tuan mereka sangat tidak enak di pandang,karena sudah dengan pakaian yang sudah terbuka beberapa kancing,rambut yang acak-acakan dan juga bau minuman yang sangat menyengat di seluruh tubuhnya.


Bahkan untuk duduk saja,Tuan mereka seperti sudah tidak mampu,karena tidak mampu lagi menjaga keseimbangan tubuh kekarnya itu.


"Tuan" seru Sekretarisnya Jo yang memang sudah berdiri di samping Tuannya dari tadi,ia langsung saja menangkap tubuh Tuannya yang akan terjatuh karena sudah tidak sadarkan diri.


Sekretaris tersebut,hanya mampu menghela napas dengan berat saat melihat kondisi Tuannya saat ini.Ia menjadi ikut sedih dan rasanya ia sangat ingin memberitahu Tuannya kalau nona Desi sedang berada di tangannya Tuan hery,hanya saja ia tidak tahu pasti kalau wanita Tuannya bersama siapa saja.


Tapi yang pastinya, ia juga tidak ingin kehilangan nyawanya,bahkan dirinya masih belum menikah.Tidak mungkin kan,nyawanya melayang terlebih dahulu sebelum ia sempat menikah.


"Maafkan aku,Tuan.Saat ini,nyawaku lebih penting Tuan" gumam Sekretaris tersebut dengan nada pelannya,sambil membawa tubuh Tuannya yang sudah tidak berdaya itu pulang dan di bantu oleh anak buah yang lainnya.


"Tuan" panggil Sekretaris tersebut dengan wajah kagetnya dan mendongakkan kepalanya ke arah 2 pria yang baru saja ia sadari keberadaan mereka itu.Ia segera mengehntikan langkahnya,saat ia hampir saja ingin melewati Tuan Hery dan Tuan Ars yang sedang duduk santai sambil menyesap minuman mereka di meja yang ingin ia dan yang lainnya lewati.


Karena terlalu fokus sama Tuannya,ia sampai tidak menyadari kalau ada 2 pria yang sedang menjadi penentu hidup matinya saat ini sedang berada di dalam sana juga.


"Hm"


"Hm"


"Pergilah,antarkan Tuan kalian pulang dengan selamat" perintah Ars,dengan nada tegasnya sambil mengibaskan sebelah tangannya dengan pelan ke arah keluar pintu keluar Club tersebut.


"Baik Tuan" jawab Sekretaris dan yang lainnya secara serentak,lalu mereka semuapun segera membungkukkan badan mereka semua untuk memberi hormat kepada 2 pria berpengaruh tersebut,sebelum mereka semua benar-benar pergi dari sana dan membawa Tuannya mereka pulang.


"Dasar" umpat Hery,dengan ekspresi wajah yang heran,karena tadi ia melihat Sekretaris tersebut dan yang lainnya yang sama sekali tidak berani menegur Tuan mereka,dan hanya bisa menunggu hingga Tuannya tumbang saja.


Tiba-tiba saja,ia menjadi teringat ketika ia mabuk berat kemaren karena kejadian yang telah menimpa istrinya itu.Ia jadi tersenyum lucu,karena ia sedang membayangkan wajah kesalnya Ars pada waktu itu.


"Apa tidak Tuan sudahi saja? Sepertinya,Tuan Jonathan sudah lumayan menderita" tanya Ars dengan nada santainya,sambil menatap punggungnya Jonathan dan yang lainnya yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.


Ars jadi merasa sedikit kasihan sama Jonathan,karena sudah 3 hari ini Jo terus mencari Desi yang ntah menghilang kemana.


Bahkan Jo sudah meminjam anak buahnya Hery untuk mencari Desi,tapi tetap saja tidak bisa ia temui karena Desi sudah sepeti hilang di telan bumi.


Tanpa ia tahu,kalau Desi sedang berada di Mansion Daddynya Hery.Apa lagi Jo lebih banyak mengandalkan anak buahnya Hery,tentu saja ia tidak akan bisa menemui Desi di mana-mana.,walaupun itu ke lubang semut selalipun.


Akhirnya Jo menjadi frustasi karena tidak dapat menemukan Desi,jadilah ia 2 malam ini terus berada di Club malam ini untuk melampiaskan rasa kesal dan juga rasa frustasinya.


"Siapa suruh dia begitu bodoh,bahkan ia tidak menyadari akan kejanggalan-kejanggalan yang ada .Lihat saja dulu,apa lagi yang akan ia lakukan pada besok hari...Aku masih ingin melihatnya lagi..." jawab Hery,dengan wajah yang tersenyum puas sambil menyesap minumannya tadi.Lamunannya tadipun buyar begitu saja,karena pertanyaannya Ars.


'Dasar kurang kerjaan,seperti anak kecil saja' batin Ars,saat ia mendengar jawaban Tuannya.

__ADS_1


'Terserahmu sajalah Tuan,yang penting hatimu senang' batin Ars dengan wajah pasrahnya.


"Apakah kamu sedang mengataiku saat ini?" tanya Hery dengan wajah datarnya,sambil menatap ke arah wajah pasrahnya Ars.


"Aku mana berani Tuan" jawab Ars,dengan wajah pasrah yang sudah berubah menjadi malas.Malam sudah larut,jadi ia malas mau berdebat dengan Tuannya lagi.


Sedangkan Hery hanya tersenyum tipis di balik wajah datarnya,untung saja ada sahabat sekalian saudaranya ini yang bisa ia ajak untuk menemaninya di sini supaya bisa melihat wajah kacau sahabatnya Jonathan tadi.


"Tuan,sudah hampir jam 12 malam.Apa kamu berniat ingin menginap di sini saja,malam ini?" tanya Ars,dengan nada kesalnya.Lalu ia segera meminum habis jus miliknya,karena Tuannya mengajak dirinya ke sini untuk menemani Tuannya sudah hampir 3 jam yang lalu,dan sekarang Tuannya masih saja bisa duduk dengan santainya.


Tadinya ia mengira kalau Tuannya ingin datang membawa sahabatnya pulang atau memberitahu tentang keberadaaannya nona Desi,tapi ternyata Tuannya malah hanya duduk diam saja dari tadi sambil menyesap winenya dan lebih banyak menatap wajah kacau sahabatnya itu.


Sedangkan Hery,langsung melihat jam tangannya yang ternyata memang benar-benar sudah hampir jam 12 malam.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"tanya Hery dengan wajah kesalnya,sambil berdiri dari duduknya.Ia baru teringat sama istrinya yang pasti sedang menunggunya pulang.


"Dasar Asisten tidak berguna" lanjut Hery dengan nada kesalnya.Kemudian ia segera meraih jaketnya yang ia letakkan di sandaran kursi duduknya tadi,lalu ia langsung berjalan keluar dari Club malam tersebut tanpa menunggu jawabannya Ars lagi.


Sedangkan Ars,ia hanya mampu mendengkus kesal saja,saat ia mendengar pertanyaan dari Tuannya tadi.


"Dasar majikan yang hanya bisa seenaknya saja" gumam Ars dengan nada kesalnya,lalu ia segera berjalan dengan sedikit berlari untuk mengejar langkah lebar Tuannya itu.


Padahal Tuannya sendiri yang sudah mengajaknya ke tempat yang jarang ia masuki ini,Tuannya juga terlihat senang karena bisa melihat wajah kacaunya Jonathan tadi.


Tapi sekarang,Tuannya malah mengatakan dirinya tidak berguna.Jika saja ia boleh menyiksa Tuannya saat ini,mungkin saja akan ia lakukan dengan senang hati.


"Tidak di tegur salah,di tegur juga salah" lanjut Ars lagi dengan nada pelannya,sambil terus berlari kecil dan menghela napas berkali-kali dengan di sertai wajah kesalnya.


***


Di Apartemennya Jonathan.


Besok paginya,seorang pria yang hanya bisa mabuk-mabukan saja 2 malam ini,masih terlelap di atas kasur miliknya dengan pakaian yang sudah di ganti.


Untung saja,tadi malam Sekretarisnya berinisiatif untuk mengelap badan Tuannya dan memakaikan pakaian pengganti pada tubuh Tuannya.Jika tidak,mungkin penampilan Tuannya yang sedang berada di atas kasur saat ini akan terlihat menjadi tidak enak di pandang karena pakaian kusutnya dan juga bau minumannya yang sangat menyengat.


Sedangkan Sekretarisnya Jo,ia baru saja kembali dari memeriksa wanita j*l*ng yang membuat Tuannya menjadi seperti ini.


"Apa Tuan belum bangun?" tanya Sekretaris tersebut pada anak buah yang lainnya,setelah ia sudah berada di dalam Apartemen Tuannya.


"Belum Tuan" jawab salah satu anak buahnya Jo,sambil sedikit menundukkan kepalanya ke arah Sekretaris tersebut.


Sekretaris tersebutpun hanya diam saja dan hanya mampu menghela napas dengan pelan,sambil berjalan ke arah sofa dan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.


"Lama-lama aku yang akan ikut-ikutan menjadi frustasi seperti Tuan" gumam Sekretaris tersebut dengan nada pelannya,karena merasa lelah.


Ia harus mengurus tentang Perusahaan,ia juga harus mengurus wanita j*l*ng tersebut dan ia juga harus mengurus Tuannya yang saat ini masih terlelap di atas kasur.


Hingga membuat dirinya,harus bergerak lebih cepat dari biasanya.Bahkan,ia belum sempat beristirahat sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2