
Terdengar suara berbeda yang hampir serentak,suara itu adalah suara bokongnya Ars yang langsung terduduk di lantai.Karena belum sempat bokongnya berada di atas sofa,otot-otot kedua kakinya langsung melemah,kemudian berlanjut dengan suara semburan air minum dari dalam mulutnya Daddy.
Ketika mendengar kalimat terakhir dari Ayahnya Agatha,Ars yang baru saja ingin duduk setelah selesai menuangkan air teh tadi,kedua kakinya langsung mendadak lumpuh karena terkejut.
Sedangkan Daddy yang kebetulan lagi meminum air tehnya dan sama terkejutnya dengan Ars,langsung saja Daddy menyembur kan air teh yang sudah berada di dalam mulutnya itu ke arah wajahnya Ars karena Ars yang duluan terduduk sehingga membuat Ars berada tepat di kakinya dan juga tepat dengan arah semburannya.
"Dad" panggil Ars dengan wajah kesalnya,sambil mengusap sisa air teh yang ada di wajahnya.
"Jangan salah kan aku,siapa suruh kau duduk di hadapan ku" jawab Daddy yang tidak mau di salah kan dengan wajah kaget yang sudah mengurang,ia segera meletak kan kembali gelas yang sudah kosong itu dan mengambil tisu untuk mengelap sisa air teh di sudut-sudut mulutnya.
Ia juga tersenyum tipis saat mendengar 1 kata ajaib yang tanpa sadar keluar dari mulutnya Ars,lalu ia mengelap sudut-sudut mulutnya sambil menopang kembali sebelah kaki yang sempat ia turun kan tadi karena rasa terkejutnya.
"Tuan Ars,Tuan Kusuma,apa kalian berdua baik-baik saja?" tanya Ayahnya Agatha dengan wajah takut juga khawatir,ia segera berdiri dari duduknya dan membantu Ars untuk berdiri dari terduduknya tadi.Sedangkan Ibunya Agatha hanya diam dan ikut berdiri di samping suaminya dengan wajah bodoh, khawatir dan takutnya bercampur menjadi satu,karena ia juga merasa kaget ketika melihat permandangan tidak terduga yang ada di depan matanya itu,ia jadi bingung harus berbuat apa.
"Kami baik-baik saja" jawab Daddy dengan wajah datarnya kembali,sedang kan Ars segera berdiri dari terduduknya dengan di bantu oleh Ayahnya Àgatha dan wajah kagetnya yang berubah menjadi bingung karena kembali mengingat kalimat tidak terduga dari mulut Ayahnya Agatha tadi.
"Maafkan kelancangan kami,Tuan.Perkataan aku tadi memang......" ucapan Ayahnya Agatha, langsung di sela oleh Daddy,hingga membuat Ayahnya Agatha sampai mengelap keringat dingin yang tidak mau berhenti keluar dari keningnya karena melihat wajah Tuan Kusuma yang kembali datar saat berbicara.
"Iya,perkataaanmu memang sangat tidak masuk akal" sela Daddy sambil menatap dengan hati yang kesal ke arah Ars yang baru saja duduk di sampingnya dan sedang mengelap wajah basahnya dengan tisu.
' Dasar anak ini.Hilang sudah harga diri ku,gara-gara ulah anak bodoh ini.Masa ia putra ku di lamar sama pihak wanita duluan,bukannya kami yang harus melamar duluan.Tapi ini,apa maksud mereka...Ah,mau di letak di mana wajah ku ini...' Daddy menggerutu kesal di dalam hatinya,sambil mempertahankan wajah datarnya.
"Ka kalau begitu,kami ucap kan beribu-ribu mintak maaf kepada Tuan Kusuma dan lupa kan saja apa yang sudah aku bilang tadi" ucap Ayahnya Agatha dengan cepat sambil sedikit menundukkan kepalanya sebentar,untuk menandakan kalau ia memang meminta maaf dengan tulus.Ia sangat takut,kalau-kalau ia bersama istrinya akan mendapatkan amukan dari 2 pria beda usia tersebut.
"Tunggu dulu,siapa yang menginginkan perjodohan ini?" tanya Ars dengan cepat dan nada penasarannya,matanya menelisik ke mata Ayah dan Ibunya Agatha untuk mencari kebenaran.
Sedang kan Daddy hanya mampu menghela nafas dengan pelan saat melihat ketakutan sepasang suami istri tersebut,apa lagi ia juga mendengar nada penasaran dari pertanyaannya Ars.
'Dasar anak muda sekarang,mau menikah saja rumit' batin Daddy di dalam hati sambil berusaha mengontrol rasa emosi dan juga rasa kesalnya agar sepasang suami istri itu tidak merasa takut lagi.
Daddy jadi mengingat, ketika masa dirinya menikah dulu,berpacaran yang terlalu singkat dan langsung berlanjut ke pernikahan,tapi ujung-ujungnya berakhir dengan perceraian yang menyisa kan luka mendalam di hatinya.
Hery lah yang menjadikan dirinya bisa hidup dengan tegar sampai sekarang,hingga dirinya berangsur-angsur melupakan luka itu sepenuhnya.
Ternyata sesuatu yang terlalu cepat atau buru-buru itu tidak akan selalu berakhir bahagia,bahkan ada yang terlambat tapi mereka berakhir bahagia.
Ia yang hitungan 1 bulan saja,beda dengan putra-putranya yang hitungan berbulan-bulan.Tapi ia pikir-pikir lagi,bagus jugalah,dari pada nanti putra-putranya senasib seperti dirinya.
'Mungkin saja,nasib ku saja yang sedang buruk' batin Daddy lagi sambil menatap sepasang suami istri yang tidak juga menjawab pertanyaan dari Ars.
"Aku tanya sekali lagi,siapa yang mengingin kan perjodohan ini?" tanya Ars lagi dengan nada tegasnya,karena ia sudah bersabar selama 60 detik tapi kedua orang tuanya Agatha masih saja belum menjawab pertanyaannya.
"A agatha sendiri Tuan" jawab Ibunya Agatha dengan nada gugupnya sambil *******-***** kedua tangannya karena takut,tidak jauh beda dengan Ayahnya Agatha yang dari tadi mau menjawab tapi lidahnya terasa kelu karena rasa takutnya.
__ADS_1
Apa lagi saat ia mengingat penjelasan putrinya semalam,ia takut kalau jawabannya akan terlihat seperti mempermain kan Tuan Ars, hingga membuat pria wajah datar itu akan melampias kan kemarahannya pada mereka berdua nanti,mungkin saja akan melibatkan putri kesayangan mereka juga.
Ars terdiam dengan wajah tidak percayanya,sambil terus menatap wajah gugup bercampur takutnya kedua orang tuanya Agatha dan memikirkan apakah Agatha benar-benar mau menikah dengan dirinya,lalu karena cinta atau apa.
Mereka semua terdiam untuk beberapa saat,dengan eskpresi wajah yang berbeda-beda.
"Perjodohan ini,akan kami pertimbangkan.Kalian tunggu saja kabar baiknya nanti" ucap Daddy dengan nada santainya setelah diam untuk beberapa saat, sambil tersenyum demi mengurangi rasa takut dan gugupnya Suami istri tersebut.
Sedang kan Ars langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar ucapannya Daddy,ia segera menatap Daddy dengan wajah bingungnya.
"Benar kah Tuan Kusuma?" tanya Ayahnya Agatha dengan nada senangnya setelah mencerna perkataannya Daddy untuk beberapa detik barusan,wajahnya dan istrinya juga mulai tersenyum lega karena melihat wajah bersahabatnya Daddy dan juga mendengar perkataan di akhir kalimatnya Daddy.
"Tentu saja benar,aku Hendri Kusuma selalu menepati apa yang telah aku katakan.Jadi kalian tidak perlu khawatir lagi dan pulang lah dengan hati yang tenang" Jawab Daddy,ia berusaha berbicara dengan kata-kata yang enak untuk di dengar,walau pun perkataannya barusan memang jujur dan tulus dari lubuk hatinya.
Padahal jarang-jarang ia berbicara panjang lebar dengan orang luar,lebih tepatnya calon besannya nanti.Dan ia melakukan ini juga demi putra satunya ini,sepertinya kalau bagian lamar-melamar ini ia harus ambil bagian agar kedua orang tuanya tidak mampu untuk mengomelinnya nanti.
Lagi pula,ia memang harus mengambil bagian ini juga.Jika tidak,bisa hancur reputasinya nanti karena di duga sebagai pecundang yang di arti kan kalah oleh masyarakat,hanya karena putranya di lamar terlebih dahulu oleh pihak wanita,yang benar saja,apa kata dunia tentang nama tersohor keluarga Kusuma nanti.
Ars yang duduk di sampingnya dan menatapnya pun,di buat tercengang tidak percaya ketika melihat wajah tersenyumnya Daddy dan mendengar perkataan menenangkan dari Daddy tadi.
"Baiklah,kalau begitu kami akan pulang dulu dan menunggu kabar baik dari Tuan Kusuma" ucap Ayahnya Agatha dengan tersenyum senang sambil berdiri dari duduknya dan di ikuti oleh istrinya,lalu mereka berdua sedikit menunduk kepala mereka ke arah Daddy.
"Baik" jawab Daddy dengan wajah yang terus tersenyum,ia juga ikut berdiri sebagai tanda kalau dirinya dan suami istri tersebut juga bisa saling menghormati.
Dirinya memang jarang melakukan hal ini,tapi kali ini karena yang menemui dirinya adalah orang terpenting putranya dan juga kedua sumi istri tersebut terlihat sangat tahu sopan santun,jadi ia tidak begitu mempermasalahkan tenaga yang terkuras sedikit untuk hal-hal yang tidak suka ia lakukan ini.
"Satu lagi,mulai sekarang dan lain kali jika kita bertemu lagi,panggil saja namaku Hendri" ucap Daddy lagi sambil menatap wajah kaget kedua suami istri itu.
"Me memangnya boleh,Tuan Kusuma? Apa tidak akan terlalu lancang?" tanya Ayahnya Agatha dengan nada gugup dan wajah tidak percayanya,ia bertanya karena ingin memastikan kalau pendengarannya memang tidak salah.Karena ia pernah mendengar kalau untuk akrab dengan Tuan Kusuma,akan sangat sulit,apa lagi untuk dirinya yang hanya dari Perusahaan kecil saja.
"Tentu saja tidak,karena...." jawab Daddy,ia menghentikan perkataannya saat baru tersadar kalau rencananya ingin melamar Agatha harus di sembunyikan dulu.
"Sudah,pokoknya panggil saja namaku,jika kalian ingin mendengar kabar baik dari ku nanti..." lanjut Daddy lagi,wajah tersenyumnya sudah bercampur kesal karena mengingat kembali perkataan yang tidak masuk akal dari Ayahnya Agatha tadi.
"Baiklah Tu...Hen Hendri.Kalau begitu kami pulang terlebih dahulu dan terima kasih karena telah menyambut kedatangan kami dengan baik" ucap Ayahnya Agatha dengan cepat dan sedikit gugup,saat melihat wajah kesalnya Daddy.
"Baik,jangan sungkan.Kalau begitu,sampai jumpa lagi...." ucap Daddy dengan nada santai dan wajah yang kembali tersenyum,sambil melirik Ars sekilas.Lalu ia kembali menatap kedua suami istri itu yang sedang sedikit menundukkan kepala mereka ke arahnya.
Sedangkan Sekretaris yang dari tadi sedang menahan tawa karena melihat adegan demi adegan yang di lakukan oleh Tuan Ars dan Tuan besarnya.Ia pun segera berjalan ke arah pintu dan membukanya untuk mempersilakan kedua suami istri yang mau pulang itu dan bersiap-siap untuk mengantar mereka berdua hingga di depan Perusahaan.
"Baik,sampai jumpa lagi" ucap Ayahnya Agatha dengan wajah tersenyumnya,lalu ia segera berlalu dari hadapan Daddy dan mengandeng istrinya yang hanya bisa terdiam saja dari tadi.Tapi untung saja istrinya masih bisa berpikir dengan jernih, hingga sebelum berjalan keluar dari ruangan itu,istrinya masih sempat menundukkan kepalanya sedikit ke arah Tuan Kusuma dan Tuan Ars sebagai tanda hormatnya.
"Kenapa kamu hanya diam saja dari tadi?" tanya Ayahnya Agatha kepada istrinya, setelah mereka berada di dalam lift.
__ADS_1
"Katanya mau membantu ku bicara,waktu berada di rumah tadi..." lanjut Ayah lagi dengan nada menyindirnya sambil menatap wajah istrinya.
"Maafkan aku Yah,lidah ku tiba-tiba saja kaku saat berada di dalam ruangan tadi..." jawab Ibu dengan jujur dan wajah yang cenges-ngesan,sambil menatap wajah tersenyum suaminya.
Ia terlalu gugup dan juga takut,hingga membuat lidahnya terasa kaku.
"Sudah,tidak apa-apa" ucap Ayah sambil memikirkan sesuatu.
"Yah, ternyata mereka tidak sekejam yang Ayah bilang kemaren ya.Apa lagi,Tuan yang bernama Hendri itu terlihat sangat menghormati kita" ucap Ibu,ia bahkan lupa kalau masih ada Sekretaris tadi yang 1 lift dengan mereka.
"Ibu,kapan Ayah bilang begitu?" tanya Ayah dengan wajah kesalnya,sambil memberi kode mata kepada istrinya.
"Bukankah......" ucapan Ibu langsung terhenti saat sudah mengerti kode mata dari sang suami.
"Iya,Ayah memang tidak ada bilang tadi.Aku yang salah ingat Yah,tapi mereka berdua memang terlihat baik Yah" lanjut Ibu lagi,dengan jujur dan wajah yang tersenyum sambil menatap wajah kesalnya Ayah yang sudah mulai mengurang.
Sedangkan Sekretaris tersebut hanya tersenyum saja,saat melihat tingkah lucu kedua suami istri itu.
"Iya,mereka berdua memang terlihat baik,beda dengan yang aku dengar di luar sana" ucap Ayah yang sepemikiran dengan sang istri,yang langsung di tanggapi oleh anggukan kepala dari istrinya.
Beberapa puluh detik kemudian....
"Bu,apa kamu mendengar kalau tadi Tuan Ars memanggil Tuan Hendri dengan panggilan Dad?" tanya Ayah dengan suara pelannya.
"Iya,aku mendengarnya" jawab Ibu dengan wajah bingungnya karena tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya.
"Bukankah,Tuan Hendri hanya mempunyai 1 putra saja? Tadi Tuan Ars memanggil Tuan Besar tapi berubah menjadi Dad" tanya Ayah dengan wajah penasarannya bercampur bingung,ia bahkan lupa kalau istrinya itu lebih tidak mengetahui apa-apa,melebihi dari dirinya.
"Mana aku tahu,Yah.Aku saja baru mengenal mereka berdua,Ayah sudah bertanya tentang anak Tuan itu" jawab Ibu dengan wajah kesalnya sambil menatap ke depan sambil mengerucutkan bibirnya sedikit ke depan.
Apa lagi,saat ia mengingat kalau di perjalanan ke sini tadi,suaminya hanya menjawab singkat saja pertanyaan-pertanyaan darinya dan terus menampilkan wajah takut dan juga khawatir di hadapannya,alhasil suaminya berhasil membuat dirinya ikut-ikutan merasa takut dan juga khawatir.
"Ya tuhan" gumam Ayah sambil mengusap wajahnya dengan pelan,ia baru menyadari kalau istrinya memang lebih tidak tahu apa-apa dari dirinya.
"Tuan Ars adalah putranya Tuan Kusuma,Tuan Wijaya..." ucap Sekretaris tersebut dengan tiba-tiba dan wajah tersenyumnya,ia yang kasihan saat melihat wajah bingungnya Tuan Wijaya pun segera bersuara agar Tuan Wijaya tidak salah paham mengenai hubungan antara Tuan Ars dan Tuan Kusuma.
"Bukan kah....." ucapan Ayahnya Agatha langsung terhenti karena di sela oleh Sekretaris tersebut.
"Tuan Ars adalah anak yatim piatu,tapi karena Tuan Ars yang merupakan Asisten juga salah satu sahabat terbaik dari putranya,maka dari itu Tuan Kusuma sudah menganggap Tuan Ars seperti putranya sendiri,hanya saja Tuan Ars masih belum terbiasa untuk memanggil dengan panggilan yang di inginkan oleh Tuan Kusuma" jelas Sekretaris tersebut dengan panjang lebar,sambil menatap wajah tidak percayanya Tuan Wijaya.
"Ternyata Tuan Ars anak yatim piatu,kasihan juga ya,tapi untung saja ada malaikat yang seperti Tuan Hendri yang mau menjadikan Tuan Ars sebagai putranya.Jadi,Tuan Ars tidak akan kehilangan sosok orang tua" ucap Ibu dengan eskpresi wajah yang kasihan,tapi beberapa detik kemudian berubah menjadi tersenyum tulus karena ikut senang atas keberuntungan yang di dapatkan oleh Ars.
"Ibu benar,ternyata pria muda itu hanya terlihat saja kejam dan kuat,tapi di dalam wajah datarnya itu tersimpan banyak luka di masa lalunya" ucap Ayahnya Agatha dengan nada pelannya,ia juga sepemikiran dengan istrinya.
__ADS_1
"Iya Tuan Wijaya benar,Tuan Ars..............." Sekretaris tersebut pun bercerita tentang awal mulanya Hery dan Ars dan juga Mark bertemu,juga tentang panti asuhan mereka yang hanya memiliki kebutuhan yang pas-pasan saja,hingga mengikuti Hery ke Paris untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi dan bersama sampai sekarang.
Mereka pun mengobrol sambil berjalan keluar dari Perusahan dengan eskpresi yang berubah-ubah,hingga akhirnya kedua orang tuanya Agatha pun masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah mereka.