Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 177


__ADS_3

"Tuan" panggil Sekretarisnya Jo,dengan suara paniknya saat ia melihat kerah temannya yang sedang di cengkram oleh Tuannya.Ia juga segera berlari mendekat ke arah Tuannya,di ikuti oleh beberapa anak buahnya yang memang terus mengekor dari belakangnya tadi.


"Tuan jangan begini,apa kau tidak malu di lihat sama orang banyak" tegur Sekretaris tersebut,dengan nada kesalnya,sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Tuannya yang masih berada di kerah baju temannya.


Akhirnya hilang sudah sikap formalnya,karena sudah bingung harus bagaimana cara menegur Tuannya yang sudah mulai menggila,mungkin sebentar lagi akan lebih menggila dari yang saat ini.


"Apa kau bilang? Saat ini,kau masih berani bilang tentang malu.Sementara calon istriku ntah berada di mana saat ini..." ucap Jo,saat ia mendengar teguran dari Sekretaris tersebut,bahkan Sekretaris tersebut sudah berani melepaskan paksa cengkraman tangannya dari kerah bajunya pria tersebut.


Ia bertanya,dengan nada tingginya,sambil mengalihkan tatapan tajamnya dari pria yang tadi ke arah Sekretarisnya.


"Iya,tapi Tuan tidak akan bisa menemui nona Desi kalau Tuan mencarinya dengan emosi begini" jawab Sekretaris tersebut,dengan wajah seriusnya,sambil menahan kesal di dalam hati.


Dulu ia adalah sahabat sekampus dengan Jo,hanya saja mereka berbeda kelas.Kebetulan mereka bertemu dan berkerja sama Jo di Paris.Ia sudah mengikuti Jo dalam beberapa tahun ini,ia bisa melihat kalau Jo adalah seorang sahabat yang baik dan tidak perhitungan.Kecuali kalau ada yang menganggunya, ia pasti akan membalasnya dengan balasan yang setimpal atau bahkan lebih kejam.


Tapi kali ini,ia sedang berada di situasi yang serba salah.Jadi,mau tidak mau ia harus memihak yang memang harus di pihak,walaupun ia harus melihat Tuannya yang akan frustasi untuk waktu yang tidak akan ia ketahui.


"Apa kau ingin di pecat sekarang?" tanya Jo,dengan wajah marahnya yang bercampur kesal,sambil terus menatap tajam ke arah Sekretarisnya itu.


"Iya,silakan Tuan pecat saja.Aku akan menerimanya dengan lapang hati" jawab Sekretaris tersebut,dengan wajah pasrahnya.


"Kau" geram Jo,dengan wajah kagetnya yang bercampur marah,sambil menunjuk menggunakan jari telunjuknya tepat di depan wajahnya Sekretaris tersebut.


Tidak mungkin kan ia memecat Sekretarisnya tersebut,hanya gara-gara belum menemui wanitanya.Lagi pula,wanitanya pergi gara-gara kesalahannya juga karena ia tidak bicara jujur pada wanitanya.


"Jika saja ada pistol di saku celanaku saat ini,aku pasti akan langsung melubangi kepalamu sekarang juga.Sekarang cepat periksa keberadaannya calon istriku" perintah Jo,dengan nada kesalnya,sambil menarik jari telunjuknya dari hadapan wajahnya Sekretaris tersebut dan menyodorkan HP miliknya ke arah Sekretaris tersebut.


Tapi perkataannya memang benar,karena pistolnya masih berada di lemari dekat kantornya yang ia simpan dengan kunci kode jempolnya hingga tidak ada yang bisa mengambilnya kecuali dirinya sendiri.


"Baik Tuan" jawab Sekretaris tersebut dengan cepat dan langsung mengambil HP milik Tuannya karena ia sudah mengerti apa maksud dari perintah Tuannya barusan.


Lalu ia berjalan sedikit menjauh dari Tuannya,sambil tersenyum lega karena Tuannya tidak jadi memecatnya.Begitu juga dengan pria yang tadi,ia segera menjauh dari sana dan kembali ke tempat semulanya,saat ia melihat kode mata dari temannya itu.


Sedangkan jo,ia segera duduk di kursi yang baru saja di sediakan oleh salah satu anak buahnya,sambil kembali melihat-lihat di sekitarnya dan menatap kesal ke arah Sekretarisnya yang sedang duduk di kursi dengan laptop di atas meja.


"Kamu ada di mana,sayang? Kembalilah padaku " gumam Jo,dengan wajah lelahnya,sambil menggusar rambutnya dengan kasar.


"Kenapa bisa jadi begini.Aku sedang menantikan kedatangan Daddy dan Mommy.Kenapa malah wanita j*l*ng itu yang datang" lanjut Jo lagi,dengan wajah emosi yang bercampur kesal.


Ia sudah tidak bersemangat untuk menelepon kedua orang tuanya lagi,karena sudah puluhan kali ia menelepon sedari hari itu tapi jawaban kedua orang tuanya tetap sama,kalau mereka berdua belum bisa datang ke sini.


Ia sudah mulai kelelahan karena terus berlari dari tadi,belum lagi detakan jantungnya yang sudah tidak beraturan karena merasa khawatir,marah,kesal,panik,dan juga bingung,semuanya bercampur menjadi satu di saat yang bersamaan.


Karena terlalu mengkhawatirkan dan memikirkan keberadaannya Desi,ia sampai tidak menyadari kalau ada beberapa orang yang sedang mengamati dirinya sedari tadi,ia juga tidak menyadari kejanggalan-kejanggalan yang ada.


(Di dalam sebuah mobil).

__ADS_1


Berbeda dengan Jo yang sedang gelisah,3 orang beda usia yang sedang berada di dalam mobil di sudut parkiran sana,malah masih setia duduk dengan tenang dan terlihat sangat menikmati permandangan yang ada di hadapan mereka.


"Paman,apa yang kau rasakan saat ini?" tanya pria yang duduk di samping kemudi tersebut,dengan nada santainya,tanpa menatap kedua suami istri paruh baya yang sedang duduk di belakangnya,karena ia sibuk memikirkan dan menebak apa yang sedang terjadi di depan mereka saat ini.


"Biasa saja.Apa kau tidak mempunyai pertanyaan yang lain?" jawab pria paruh baya tersebut dan sekalian bertanya balik,sambil terus menatap Jo.


"Apa yang paman pikirkan saat ini?" tanya pria muda tersebut sambil menahan kesal,tanpa mengalihkan pandangannya dari Jo yang sedang duduk dengan gelisah.


"Tidak ada" jawab pria paruh baya tersebut.


"Kau itu bertanya pada orang yang salah nak.Suamiku ini sudah biasa melihat yang seperti ini,hanya saja ini berbeda dari yang biasanya" timpal sang istri,karena biasanya kalau di Paris,Jo yang di kejar hingga ke bandara tapi ini malah Jo yang mengejar hingga ke bandara.


"Iya,bibi benar.Sepertinya tidak lama lagi,kalian berdua akan segera mendapatkan menantu..." ucap Willy,sambil tersenyum tipis.


Ya,mereka ber 3 adalah kedua orang tuanya Jo yang di jemput paksa oleh Willy atas perintah dari Daddynya Hery,karena Hery tahu kalau Willy akan datang ke kota ini,jadi ia sekalian meminta Daddynya untuk menyuruh Willy supaya bisa membawa kedua orang tuanya Jo ke Mansionnya Daddy dengan selamat.


Bahkan Hery memerintahkan salah satu Sekretarisnya yang ada di Paris untuk membantu menyelesaikan sisa perkerjaan Daddynya Jo.


Karena kedua orang tuanya Jo memang mengenal baik dengan orang-orang yang berkaitan baik sama putra mereka,begitu juga dengan Willy yang memang sudah mengenal Jo dan keluarganya.


Dan mereka ber 3 sama-sama melakukan penerbangan hari ini.Saat mereka sudah tiba tadi dan sudah berada di dalam mobil dan juga ingin segera pergi dari sana,tapi kebetulan mereka melihat permandangan yang tidak terduga ini.


Bahkan mereka sudah mengamati permandangan tidak terduga ini,sedari Mark berjalan masuk ke dalam bandara tadi dan sibuk mendekati Desi.


"Iya,aku juga berharap kalau yang kau katakan barusan akan benar-benar terjadi.Rumah kami selalu terasa sepi,karena tidak ada yang menemani kami" ucap Mommynya Jo,dengan wajah yang tersenyum,sambil menatap suaminya dan ke arah Jo secara bergantian.


Karena putranya sudah banyak kali bergonta ganti kekasih tapi tidak ada satupun di antara mereka yang menjadi kekasih yang sesungguhnya.Bahkan mereka hanya menjadi kekasih dalam hitungan bulan saja,sampai dirinya menjadi malas dan tidak begitu mau memperhatikan putranya lagi.


"Tapi yang kali ini berbeda,Dad" ucap Mommynya Jo,dengan wajah yang terus tersenyum senang,sambil memperhatikan wajah kusut putranya dari jauh.


Daddynya jo hanya diam saja,walaupun sebenarnya ia juga sepemikiran dengan istrinya dan Willy.Hanya saja,ia tidak ingin terlalu menjabarkannya dengan panjang lebar.


Sedangkan Willy,langsung mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan pelan.Pertanda, kalau dirinya juga setuju dengan perkataan Mommynya Jo barusan.


"Bagaimana menurut kalian,tentang wanita yang tadi?" tanya Willy,dengan nada seriusnya.


"Sepertinya yang kali ini,lebih baik dari yang sebelumnya.Hanya saja,wanita itu terlihat agak polos" jawab Daddynya Jo,dengan wajah seriusnya.


"Iya,benar apa yang di katakan oleh pamanmu.Tapi wanita itu,terlihat seperti wanita baik-baik dan juga cantik.Lihat saja,pakaiannya tidak terlalu terbuka seperti wanita yang sebelum-sebelumnya.Jadi,kali ini kedua mataku tidak perlu merasa sakit lagi kalau saat akan bertemunya nanti" timpal Mommynya jo,dengan wajah yang terus tersenyum senang.


Sudah dari dulu,ia sangat menginginkan putranya segera menikah.Bahkan ia sering beradu mulut dengan beberapa mantan kekasihnya Jo karena tidak menyukai cara pakaian dan cara bicara mantan kekasihnya Jo yang tidak punya sopan santun sama sekali.


Beda lagi dengan suaminya yang selalu tenang,walaupun ia kesal sama putranya sudah bergonta ganti kekasih sebanyak puluhan kali.Ia selalu memaklumi putranya yang tidak ingin menikah muda karena masih ingin bebas,tapi ia selalu berpesan pada putranya supaya tidak sampai melewati batas.


"Aku juga berpikir sama seperti kalian berdua.Tapi bibi,aku rasa bukan hanya kedua matamu saja yang tidak sakit,tapi mulutmu juga tidak akan mengeluh dan pasti akan menyenangkan kalau mengobrol sama calon menantumu itu" ucap Willy,dengan ekspresi yakin di wajahnya,sambil menoleh ke belakang untuk menatap Mommynya Jo sebentar.

__ADS_1


Seperti inilah Willy,kalau sudah berada di dekat orang-orang yang sudah akrab dengannya.Ia selalu menyesuaikan bicaranya dengan siapa saja yang mengobrol dengannya.


Jika dengan keluarga Kusuma,ia selalu bicara datar karena wajah mereka datar semua.Hanya sekali-kali ia berbicara santai seperti ini,terutama sama Grandma,ia pasti akan bicara santai seperti sekarang ini.


Beda dengan kedua orang tuanya Jo,karena mereka berdua tidak selalu menampilkan wajah datar,jadi ia lebih suka berbicara santai tapi tetap terdengar sopan.


"Perkataanmu barusan memang benar,sepertinya aku juga menyukainya.Sepertinya kedatangan kami kali ini akan lama berada di sini.Benar kan Dad?" jawab Mommynya Jo dan sekalian bertanya pada suaminya.Ia berbicara dengan nada semangatnya,sambil memepuk lengan suaminya.


"Kita lihat dan dengar saja dulu,apa yang akan di katakan oleh Tuan Kusuma itu.Bahkan mobil yang dari tadi ingin membawa kita saja,belum bergerak sama sekali.Karena kita harus sibuk menunggu seorang pria muda yang tidak pernah pacaran itu sedang berpikir tentang hubungan asmara putra kita" jawab Daddynya Jo,dengan nada santainya,sambil menatap wajah semangat istrinya.


Ia sudah tahu kalau Willy dari tadi sibuk menyimak kejadian yang ada di hadapan mereka tadi,padahal dengan sekali lihat saja ia sudah bisa menebak.Mungkin begitu juga dengan Willy,hanya saja Willy memang selalu suka mengulur waktu dengan dirinya.


"Bahkan Sekarang sudah lewat tengah hari,untung saja ketika di dalam pesawat tadi kita sudah makan duluan.Jadi,hanya badan kita saja yang lelah saat ini" lanjut Daddynya Jo lagi,dengan wajah yang sedang menahan senyum,sambil menatap Willy yang sedang menatap kesal ke arah dirinya.


Walaupun ia juga merasa sedikit penasaran dengan wanita yang sedang di kejar oleh putranya itu.Tapi ia harus mendengar langsung dari putranya atau putranya Tuan Kusuma yang telah memaksanya berserta istrinya untuk datang ke sini sebelum perkerjaannya selesai.


Sedangkan istrinya,langsung tersenyum lucu,saat ia melihat wajah kesalnya Willy yang terlihat lucu di kedua mata tuanya.


"Cih,apa kau tidak bisa bicara singkat saja,paman? Kau tidak perlu bicara panjang lebar seperti itu,aku juga akan mengerti.Tadi aku bukan sedang berpikir tentang putra playboymu itu tapi aku hanya sedang menikmati wajah kacau putra kalian saja" ucap Willy,dengan nada kesalnya,sambil kembali menolehkan kepalanya ke depan.


'Untung saja orang tua.Jika tidak,pasti akan aku tinggalkan di luar sana' Willy menggerutu kesal di dalam hatinya.


"Apa lagi yang kau tunggu,cepat jalan" perintah Willy,pada supir milik Daddynya Hery yang hanya terdiam saja dari tadi.Ia berbicara,dengan nada tingginya dan juga kesal.


"Ba baik Tuan" jawab Supir tersebut,dengan nada gugupnya karena merasa kaget.Lalu ia segera melajukan mobil ke arah tempat tujuan,dengan wajah seriusnya.


"Pantasan saja,Tuanmu selalu mengkhawatirkan dirimu.Apa kau tidak ingin mencoba untuk mencari kekasih dan menikah?" tanya Daddynya Jo,dengan wajah seriusnya,sambil menatap punggung kepalanya Willy yang sedang bersandar.


"Iya,Bibi juga setuju dengan perkataan pamanmu barusan.Tentang kedua orang tuamu itu,hanya masa lalu.Jadi,jangan terlalu memikirkannya dan terus hidup di masa lalu" timpal Mommynya Jo,dengan wajah sedihnya,sambil menatap punggung kepalanya willy juga.


"Jangan keras kepala,usiamu sudah tidak muda,Wil..."lanjut Daddynya Jo lagi.


"Iya,kau tenang saja.Saat pernikahanmu nanti,kami pasti akan menjadi walimu dengan senang hati" lanjut Mommynya Jo lagi,dengan nada semangatnya.


Sedangkan Willy hanya bisa mendengus kesal,saat ia mendengar kalimat demi kalimat dari kedua orang tuanya Jo barusan.


Kemudian ia menghela napas dengan pelan,ia tahu kalau kedua orang tuanya Jo mengatakan semua itu dengan hati yang tulus.Tapi,dirinya benar-benar tidak mau memikirkan tentang pernikahan.


"Paman,Bibi....Kalian berdua sama saja dengan pria tua itu...Apa kalian tidak bosan,terus berbicara masalah yang sama.Dan kalian juga tahu kalau jawaban yang akan kalian dapat, tetap akan sama seperti sebelum-sebelumnya" jawab willy,dengan nada kesalnya.


"Dasar anak ini...Kenapa kau keras kepala sekali?" tanya Daddynya Jo,dengan wajah kesalnya,sambil menghela napas dengan pelan.


Berbicara dengan Willy,memang harus memiliki stok kesabaran yang banyak,supaya tidak sampai naik darah.


Sedangkan Mommynya Jo,hanya mampu tertawa kecil,karena melihat keras kepalanya willy dan wajah kesal suaminya.

__ADS_1


Akhirnya,selama di perjalananpun.Mereka ber 3,terus saling menyindir dan saling bercanda,hingga mampu melupakan sejenak tentang putra mereka.


__ADS_2