Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
151. Jo yang sedang menggoda Desi


__ADS_3

"Baguslah" gumam Jo dengan nada pelannya dan wajah yang tersenyum bahagia.Sepertinya,ia harus berterima kasih sama Tuhan atas rasa traumanya Desi.Karena berkat rasa traumanya Desi,mereka berdua bisa bertemu dan bisa melangkah sejauh ini.


"Apa kamu sedang berbicara sesuatu?" tanya Desi dengan wajah penasarannya karena tidak mendengar gumamannya jo,sambil menatap wajah tersenyumnya Jo.


"Tidak ada" jawab Jo dengan cepat dan wajah yang terus tersenyum,sedangkan Desi hanya diam saja dengan wajah bingungnya saat melihat wajah tersenyumnya Jo.


"Tapi,kenapa kamu bisa mengejarku tanpa merasa malu sama sekali?Bahkan kamu tidak berhenti untuk mencari kesempatan agar bisa menatap wajahku" tanya Jo dengan tersenyum menggodanya,sambil menatap ke arah Desi dan jalan secara bergantian.


"Dasar " umpat Desi sambil memukul lengannya Jo beberapa kali,dengan wajah yang memerah karena merasa malu bercampur kesal saat mendengar godaannya Jo.


'Apanya yang tanpa merasa malu sama sekali.Aku hanya mencoba memberanikan diri untuk mengejar cintaku saja,walaupun harus malu-maluin terlebih dahulu' batin Desi di dalam hatinya.


"Aku kan,hanya mengatakan yang sebenarnya saja.Kenapa kamu malah menjadi kesal?" tanya Jo dengan wajah yang tanpa merasa bersalah sama sekali,sambil tertawa kecil dan pura-pura mengelus-elus lengannya yang tidak sakit sama sekali.


"Jonathan..." panggil Desi dengan nada tinggi dan juga wajah yang semakin kesal,karena Jo yang tidak mau berhenti menggodanya.


"Oke oke,aku tidak akan menggodamu lagi" jawab Jo dengan cepat,saat melihat kedua tangannya Desi yang sudah melayang ke udara dan bersiap-siap ingin memukul lengannya lagi.


"Dasar,pria menyebalkan" ucap Desi,dengan memberengut kesal.Lalu,ia segera menarik kedua tangannya kembali dan bersedekap dengan wajah yang kesal dan bibirnya yang mengerucut ke depan hingga membuat Jo gemas dan ingin mencicipinya kembali.


"Sudah,jangan menampilkan wajah seperti itu lagi.Kalau tidak ingin,aku melahapnya lagi" ucap Jo dengan nada seriusnya dan wajah yang tersenyum,sambil menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai di depan rumahnya Desi.


"Dasar mesum " umpat Desi dengan nada kesalnya,sambil menormalkan kembali bibir kerucutnya karena takut bibirnya akan benar-benar di lahap oleh Jo.


Sedangkan Jo hanya terus tersenyum,sambil terus menatap bibir seksinya Desi tanpa berkedip.


Desi segera bersiap siap membuka pintu mobil,saat baru menyadari kalau mereka sudah sampai di depan rumahnya,tanpa mengucap sepatah katapun pada Jo karena ia masih merasa kesal.


Tapi belum sempat ia berhasil membuka pintu mobilnya Jo,sebelah tangannya malah di tarik oleh Jo terlebih dahulu hingga tubuhnya Desi langsung berada di dalam pelukannya Jo dalam sekejap.


"Jo,,, ehhmmmmm" panggilan kesalnya Desi langsung di bungkam oleh bibirnya Jo dengan rakus.


Desi yang awalnya ingin memberontak,tapi gerakan kedua tangannya langsung terhenti saat ia juga terbawa suasana dan malahan ia juga membalas c**m*n tiba-tiba dari Jo barusan.


Jo segera menelusuri setiap rongga-rongga yang ada di dalam mulutnya Desi,saat merasakan kalau Desi membalas c**m*n yang ia berikan.Ia bahkan menekan tengkuk belakangnya Desi agar l*m*t*n mereka bisa lebih dalam lagi.


Setelah beberapa menit berlalu,mereka berduapun segera melepaskan c**m*n panas mereka karena Desi yang sudah hampir kehabisan nafas.


"Malam ini,kamu tinggal di Apartemenku saja ya?" tanya Jo dengan suara yang pelan dan nafas yang masih memburu,sambil mendekatkan keningnya di keningnya Desi.


"Aku tidak bisa,Jo.Karena Ayahku akan mengurungku,kalau aku tidak pulang seperti beberapa hari lalu" jawab Desi dengan wajah bingungnya.


Padahal,itu hanya akal-akalannya saja karena ia tidak ingin menginap di Apartemennya Jo.


Ia takut, kalau ia nginap di sana lagi,pasti ia akan terus di gempur oleh Jo lagi.


Kemudian ia akan hamil,lalu bagaimana kalau Jo tidak mau menikahinya nanti.Kedua orang tuanya pasti akan malu dan di ejek oleh para tetangga karena dirinya hamil tanpa suami.


"Benarkah?" tanya Jo dengan kedua mata yang sedang menelisik wajahnya Desi.Ia bertanya sambil berusaha mengendalikan bendanya yang sudah mulai bangun dari ia menc**m Desi tadi.


"Tentu saja benar,ngapaen juga aku harus berbohong..." jawab Desi dengan wajah yang berpura-pura kesal,agar Jo tidak mengetahui kebohongannya.

__ADS_1


"Baiklah.Sekarang pulanglah dan moga mimpi indah ya...Cup..." ucap Jo,setelah ia terdiam untuk beberapa saat.Ia berbicara dengan wajah pasrahnya saat ia melihat wajah kesalnya Desi,sambil mengecup sekilas bibirnya Desi yang masih terlihat basah karena ulahnya tadi.


Kemudian Jo segera menjauhkan keningnya dari keningnya Desi dan melonggarkan pelukannya agar Desi bisa keluar dari dalam mobilnya,walaupun sebenarnya ia tidak rela tapi ia juga tidak bisa memaksa Desi.


"Baiklah,kamu juga harus bermimpi indah ya...Kalau perlu kamu harus mimpiin aku,sayang" ucap Desi,ia mencoba menghibur Jo yang terlihat tidak bersemangat tanpa ia tahu kalau Jo tidak bersemangat karena apa.


"Itu sudah pasti" ucap Jo dengan wajah yang tersenyum,apa lagi saat ia mendengar kata sayang dari Desi hingga mampu membuat dirinya tersenyum lebih lebar lagi.


Desi menganggukkan kepalanya dengan pelan,lalu ia segera membuka pintu mobil.Kemudian Desi segera keluar dari sana dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Jo yang juga sedang membalasnya.


Ia menatap mobilnya Jo yang mulai menjauh dari pandangannya dengan wajah yang tersenyum senang bercampur sedikit bingung sambil menyentuh bibir bengkaknya karena Jo menc**mnya dengan sangat rakus tadi.


Ia bingung,harus bagaimana menghadapi Jo.Apa lagi Jo terlihat tidak berniat ingin menikahinya,bahkan Jo tidak pernah mengatakan cinta padanya.


Setelah mobil miliknya Jo sudah menghilang dari pandangannya,ia segera berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan langkah kecilnya.


Walaupun masih merasa bingung,wajahnya tetap terus tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan untuk mengusir pikiran-pikiran aneh dari kepalanya,karena mengingat c**m*n mereka tadi,


Seperti baru di c**m oleh Jo saja,padahal sudah berkali-kali.Tapi seperti itulah,c**m*nnya Jo selalu mampu membuat dirinya tersenyum dan ingin mengulang kembali kebersamaannya bersama Jo di atas ranjang,seperti yang sebelum-sebelumnya.


Sementara di dalam mobil miliknya Jo,Jo sibuk menidurkan benda di bawahnya yang masih belum berhasil ia tidurkan lagi,sambil fokus menyetir.


"Sepertinya,aku harus segera masuk ke dalam kamar mandi,setelah sampai di Apartemen nanti"gumam Jo dengan suara pelannya dan juga wajah tersiksanya,sambil mengelus-elus benda di bawahnya yang masih terbangun itu,dengan gerakan yang pelan.


Ia jadi heran,biasanya kalau bersama wanita-wanita yang lain,ia selalu mampu mengendalikan diri.


Tapi sekarang,kalau sedang berdekatan dengan Desi,ia malah tidak mampu mengendalikan diri.Apa mungkin,lantaran terlalu lama menjomblo atau karena ia mencintai Desi.


"Aku harus segera menikahi Desi,aku mau kami bisa terus bersama.Jika tidak,aku bisa gila karena terus memikirkan Desi.Lagi pula,pasti keturunanku juga sudah mulai berkembang di dalam sana" gumam Jo lagi,dengan wajah yang penuh harap dan tersenyum bahagia.Ia berharap kalau mereka sudah menikah dan adanya bayi mereka nanti,akan membuat hidup mereka berdua menjadi semakin bahagia.


………


Di Apartemen Jonathan Smith.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam,tapi Jo masih betah duduk di balkon kamar miliknya sambil menyesap segelas wine dengan perlahan, sedikit demi sedikit.


Saat ia sampai tadi,ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bermain solo.Setelah ia selesai,ia segera mengambil winenya dan berjalan ke arah balkon dan duduk di sana hingga saat ini.


"Dreett dreett dreett " terdengar suara HP miliknya Jo,yang menandakan kalau ada yang menelepon.


"Dasar wanita tidak tahu malu,apa sebenarnya yang di inginkan oleh wanita j*l*ng itu.Padahal aku sudah mengirimkannya uang yang banyak.Bodoh,kenapa aku bisa sampai berpacaran sama wanita j*l*ng itu" umpat Jo dengan wajah gusarnya bercampur kesal,ia menggerutu sendiri di balkon kamarnya.


Ia terus menatap HPnya yang terus berbunyi itu dengan tatapan yang semakin kesal,lalu ia segera menonaktifkannya HPnya,mencabut kartu yang ada di dalam HPnya itu dan mematahkannya menjadi 2.


"Teleponlah semaumu" gumam Jo setelah kartunya sudah terpatah menjadi 2,ia langsung melemparnya ke tanah tanpa berpikir 2 kali lagi.


Untung saja, kartu itu bukan no pribadinya.Kartu itu hanya ia gunakan untuk menelepon para klien-klien saja.Jika ia melenyapkan kartu itu,tidak jadi masalah karena selalu ada no HP Sekretarisnya yang biasanya selalu menjadi wakil darinya,jadi para klien-klien tersebut bisa langsung menghubungi Sekretarisnya kalau saja HPnya tidak bisa di hubungi.


Dan malam ini,ia di buat kesal sama wanita yang ia jadikan pacar beberapa waktu yang lalu.2 Hari yang lalu ia menelepon wanita tersebut memakai kartu itu,bermaksud ingin memutuskan wanita tersebut.


Tapi wanita yang ia kenal sebagai wanita yang suka menjual tubuhnya kepada pria-pria kaya itu, tidak mau putus dengan berbagai alasan.

__ADS_1


Padahal ia juga sudah mengirim uang yang banyak,agar wanita itu tidak menganggu dirinya lagi.Tapi ternyata wanita itu lebih tamak dari perkiraannya,wanita itu bahkan menginginkan saham Perusahaannya yang di Paris sebagai penawaran akhirnya.


Memangnya dirinya bodoh,sampai harus mengorbankan Perusahaan milik Daddynya yang telah di turunkan kepada dirinya.


Hanya saja,ia mengkhawatirkan,bagaimana kalau wanita itu sampai nekad datang ke sini dan mengacaukan rencananya untuk memberi kejutan pada Desi.


"Awas saja, kalau wanita j*l*ng itu sampai berani mengacaukan rencana yang sudah aku atur.Aku pasti akan membuat tubuh wanita j*l*ng itu seperti kartu yang tadi,mungkin saja akan lebih parah dari kartu yang tadi" gumam Jo lagi,dengan nada kesalnya.


"Apa sebaiknya,aku menelepon pria menyebalkan itu saja" tanya Jo pada dirinya sendiri,dengan wajah yang masih kesal,sambil menggusar rambutnya hingga menjadi sedikit acak-acakan.Mana tahu saja,dengan menelepon sahabatnya itu,rasa kesalnya bisa menghilang.


Ia segera mengambil HP miliknya yang ada di atas meja dan berada di samping HPnya yang sudah ia nonaktifkan tadi.


HP yang selalu ia gunakan untuk hal-hal pribadi,juga menerima dan mengirim email-email yang penting.


Ia segera mencari nama kontaknya Hery,lalu ia langsung menekan tombol untuk video call.Ia bahkan berlanjut mencari nama Ryan dan memencet tombol video call juga,karena ia baru teringat kalau Hery hanya bisa membuat rasa kesalnya semakin bertambah saja.


Ia yang tadi ingin membatalkan video call yang sudah terhubung ke Hery,tapi lantaran sudah terhubung dan langsung di angkat oleh Hery.Ya sudahlah,ia pun melanjutkannya saja.


"Apa kau tidak tahu sopan santun?" tanya Hery,dengan wajah datarnya yang bercampur kesal saat wajahnya Jo sudah terlihat di layar HPnya.Ia bertanya sambil berjalan ke arah balkon kamar miliknya dan duduk bersandar di kursi yang ada di balkon kamarnya karena takut menganggu tidur istrinya.


Jo langsung mendengus kesal,saat mendengar pertanyaannya Hery dan melihat wajah datarnya Hery di layar HPnya.Lalu beberapa detik kemudian,terlihat wajah Ryan di layar HPnya.


"Memangnya kalau meneleponmu harus pakai sopan santun? Aku rasa tidak perlu..." jawab Jo dengan nada kesalnya.


Sedangkan Hery yang baru ingin membalas lagi,la harus mengurungkan niatnya karena keduluan oleh Ryan.


"Ada apa kau.....Apa yang sedang terjadi padamu,bro?" tanya Ryan dengan kening yang mengernyit heran.Pertanyaannya jadi berubah karena melihat wajah kesal dan rambut acak-acakannya Jo di layar HPnya.


Dirinya yang awalnya, sedang duduk bersandar di sandaran kasur dengan santai.Ia langsung menegakkan tubuh malasnya,saat melihat rambut sahabatnya yang biasanya selalu rapi.Tapi kali ini,ia malah melihat rambut sahabatnya yang sedang berantakan.


"Tidak ada,hanya saja ada seorang wanita yang sedang mencari masalah denganku saat ini" jawab Jo,ia memulai curhatnya dengan wajah malasnya dan juga kesal saat mengingat kembali wanita j*l*ng yang telah menganggunya beberapa hari ini.


"Wajar saja,wanitamu kan ada di mana-mana.Itu sudah menjadi resikomu sendiri.Tidak perlu mengeluh pada kami" ucap Hery dengan nada menyindirnya.


"Apa yang di katakan oleh Hery,ada benarnya juga.Kau itu,aku sudah menyuruhmu bertobat dari dulu.Tapi kau tidak mau mendengarkan ucapanku.Akibatnya,ya begitulah" ucap Ryan yang tidak tahu apa-apa tentang kebersamaan Jo dan Desi,ia juga sependapat dengan Hery.


Ia berbicara dengan wajah malasnya karena dirinya sudah bosan mau menasehati Jo lagi, sambil mencari nama kontaknya Ars,lalu ia segera memencet no kontaknya Ars setelah sudah mendapatkannya.


Begitulah mereka ber 4.Kadang-kadang kalau punya kesempatan,mereka ber 4 akan saling mengobrol dan bercanda.


Bahkan kadang-kadang juga ber 5 dengan Mark,hanya saja Mark sering sibuk dengan urusan mafianya yang Hery serahkan pada Mark.


Sedangkan Jo,lagi-lagi langsung mendengus kesal saat mendengar perkataan 2 sahabatnya itu,sambil merapikan rambut acak-acakannya.


Beberapa detik kemudian,terlihat wajah datar dan kening berkerutnya Ars karena melihat Jo yang sedang merapikan rambutnya yang masih acak--acakan.Kening berkerutnya,perlahan-lahan menghilang saat rambutnya Jo sudah rapi kembali.


"Kau itu,sok tahu" ucap Jo,dengan nada kesalnya sambil menyesap winenya yang masih tersisa setengah gelas.


"Memangnya,siapa wanita yang telah berani mencari masalah denganmu?" tanya Ryan dengan wajah penasaran nada seriusnya,tapi wajahnya tersenyum saat melihat wajah kesalnya Jo yang masih belum mengurang sama sekali.


"Aku juga tidak begitu mengenal wanita itu,aku hanya tahu namanya saja" jawab Jo dengan wajah malasnya bercampur kesal.

__ADS_1


__ADS_2