Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 171


__ADS_3

Wajah kaget Ryan tadi,langsung berubah menjadi panik dan semakin gugup,saat ia melihat pasien wnaita tersebut mendongakkan kepalanya dan kedua matanya yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.


"Ka kamu tidak per.....Ehhmmmm" ucapan Ryan,langsung terhenti,karena mulutnya yang langsung di bungkam oleh pasien wanita tersebut.


Ternyata sebelum Ryan sempat mencegahnya,pasien wanita tersebut sudah berhasil menarik tengkuk lehernya Ryan dengan kuat dan langsung menc**m bibirnya Ryan tanpa peringatan lagi,saat Ryan masih sibuk berbicara barusan.


Ryan yang sedang berusaha menjauhkan bibirnya dari bibir pasien wanita tersebutpun,mulai terbuai dengan sentuhan bibirnya pasien wanita tersebut dan reflek langsung membalasnya dengan lembut tapi masih kaku.


Sedangkan 2 perawat yang masih menjadi penonton tadi,tetap menonton dengan wajah yang memerah dan tercengang karena terlalu menghayati permandangan indah yang untuk kedua kalinya itu.


Dan perawat wanita yang bernama Lani itu,menjadi semakin marah karena pria incarannya malah membalas c**m*n wanita jelek tersebut.Kedua tangannya terkepal dengan kuat karena rasa marahnya,ternyata perkiraannya tadi salah.


"Auchk,apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan rambutku" pekik pasien wanita tersebut,saat merasakan sakit di kepalanya karena rambutnya telah di tarik tiba-tiba.Bahkan, c**m*n mereka yang baru mulai memanas tadi langsung terlepas dengan paksa.


"Jangan harap,aku akan terus membuat dirimu merasakan kesakitan.Ini akibatnya,kalau kamu berani mengambil priaku" jawab Lani,dengan nada marahnya,sambil terus menarik rambut pasien wanita tersebut dengan kuat,hingga membuat wajah pasien wanita tersebut terus meringis kesakitan.


"Kamu benar-benar sudah gila,aku sama sekali tidak pernah menjadi priamu.Lepaskan atau aku akan membunuhmu saat ini juga..." ancam Ryan,dengan nada marah dan wajah seriusnya,sambil menatap tajam ke arah Lani dan juga menahan tangan Lani yang masih sibuk menarik-narik rambut pasien wanita tersebut.


Lani yang melihat tatapan tajam dari Dokter Ryan,ia pun langsung melepaskan rambutnya pasien wanita tersebut karena merasa takut dengan tatapan tajam yang baru saja ia lihat untuk pertama kalinya selama Dokter Ryan berkerja di rumah sakit ini.


"Dasar wanita gila.Kalau mau berkelahi,seharusnya kamu memperingatiku terlebih dahulu.Jadi,aku bisa mempersiapkan diri untuk melawanmu" ucap pasien wanita tersebut,dengan nada kesalnya,sambil terus mengelus-elus belakang kepalanya dengan gerakan cepat karena masih merasa berdenyut.


Sedangkan Lani,hanya bisa menatap kesal ke arah pasien wanita tersebut,karena Dokter Ryan yang masih terus menatap tajam ke arahnya.


"Kalian berdua,apa lagi yang kalian lihat.Cepat bawa wanita gila ini ke kantor polisi" perintah Ryan pada 2 perawat tersebut yang masih berdiam diri di tempatnya,karena masih merasa kaget dengan perbuatan gila Lani yang tiba-tiba tadi.


Kesabaran Ryan sudah berada di ambang batas saat ini.Di tambah lagi,kepalanya juga sedang pusing karena melihat 2 wanita ini.


Hari ini ia sangat sial,karena telah di ganggu oleh 2 wanita gila sekaligus,yang menurutnya kadar kegilaannya berbeda.


'Ternyata aku memang sudah terbebas dari sarang buaya betina,tapi sekarang aku malah masuk ke sarang singa betina' batin Ryan,dengan wajah pasrahnya yang nyaris tidak terlihat,sambil terus menatap tajan ke arah Lani.


"Ba baik Dokter" jawab 2 perawat tersebut secara serentak,lalu 2 perawat tersebut segera berjalan ke arah Lani dan menyeretnya secara paksa karena Lani terus memberontak.


"Ap apa? kan kantor polisi.Tidak,Dokter tolong jangan lakukan ini padaku.Aku mengaku salah,aku minta maaf" ucap Lani,dengan wajah takutnya,sambil terus memberontak dari tarikan kuat 2 perawat tersebut.


Ia baru tersadar dari rasa kagetnya,saat mendengar perintah tegas dari Dokter Ryan tadi.Tapi belum sempat ia memohon maaf,dirinya sudah di seret paksa oleh 2 perawat tersebut.


Sedangkan Ryan,langsung membantu pasien wanita tersebut untuk mengelus bagian kepala yang di tarik oleh Lani tadi dan mengabaikan teriakan-teriakan permohonan maaf dari Lani,hingga menghilang di balik pintu ruangan tersebut yang sudah tertutup kembali.


"Apa masih sakit?" tanya Ryan,dengan nada seriusnya,sambil menatap pasien wanita tersebut yang terus menatap dirinya,sedari ia membantu untuk mengelus bagian kepala yang sakit tadi.

__ADS_1


Ntah kenapa dirinya menjadi tidak tega, saat ia melihat pasien wanita tersebut sedang meringis kesakitan tadi.


Tapi wajah tidak teganya,langsung berubah menjadi kesal,saat ia melihat pasien wanita tersebut terus menatap ke arahnya dengan wajah yang memerah.


Ryan segera menatap ke belakangnya, untuk mencari apa yang sedang di tatap oleh pasien wanita tersebut.Tapi ia tidak melihat kalau ada apa atau ada siapa yang sedang berada di belakangnya,ia baru teringat kalau 2 perawat tadi sedang menyeret perawat wanita gila yang bernama Lani itu,hingga hanya menyisakan mereka berdua saja.


'Apa yang di tatap oleh wanita ini? Apa wanita ini sedang menatap diriku?' tanya Ryan pada dirinya sendiri di dalam hati,sambil terus menatap wajah malunya pasien wanita tersebut tanpa menghentikan gerakan mengelusnya.


"Auchk,sakit Dokter" pekik pasien wanita tersebut,saat ia merasakan sakit di keningnya akibat sentilan jari dari Dokter Ryan.


"Apa yang sedang kamu tatap?" tanya Ryan,dengan kedua mata yang menelisik.Ia juga segera menghentikan elusan tangannya,saat ia baru menyadari kalau pasien wanita tersebut memang sedang menatap dirinya.


"Ti tidak ada " jawab pasien wanita tersebut,dengan nada gugup,sambil berpura-pura menatap ke sembarangan arah dan mengelus-elus tengkuk lehernya dengan pelan karena menjadi salah tingkah.


Ryan langsung mendengus kesal,sambil duduk bersedekap dada ke arah pasien wanita tersebut yang masih sedang salah tingkah.Padahal jelas-jelas sedang menatap dirinya,masih saja mau mengelak.


"Sepertinya,kamu sudah sangat ahli dalam berc**m*n?" tanya Ryan,masih dengan wajah kesalnya.Ryan segera mengalihkan pembicaraannya,saat ia mengingat c**m*n panas yang di mulai oleh pasien wanita tersebut tadi.


Ia sangat yakin,kalau pasien wanita tersebut sudah sering melakukan hal-hal yang intim,karena ia bisa merasakan betapa ahlinya pasien wanita tersebut saat memimpin c**m*n panas mereka tadi.


"Sudah berapa banyak pria yang sudah kamu c**m dan ......" ucapan Ryan dengan kedua mata yang menelisik ke arah wajah pasien wanita itu,langsung di sela oleh pasien wanita tersebut dengan cepat.


"Hilangkan pikiran kotormu itu dari dalam kepalamu,aku tidak seperti yang kamu pikirkan" sela pasien wanita tersebut,dengan nada kesalnya,karena ia bisa menebak apa isi pikiran Sang Dokter tentang dirinya,melalui wajah seriusnya Sang Dokter.


"I itu...Pokoknya aku bukan wanita yang seperti kamu pikirkan barusan" jawab pasien wanita tersebut,dengan nada kesalnya,sambil memalingkan wajahnya ke samping,karena merasa malu kalau harus menatap kedua matanya Sang Dokter.


"Jadi?" tanya Ryan,ia sama sekali tidak mengalihkan tatapan kedua matanya dari wajah kesalnya pasien wanita tersebut.


"Ja jadi apanya?" tanya pasien wanita tersebut,ia berpura-pura tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan singkatnya Sang Dokter.Ia bertanya,sambil menahan rasa malunya dan menatap ke arah Sang Dokter.


"Kamu tahu apa maksudku..." jawab Ryan,dengan ekspresi wajah yang tenang tapi hatinya terus dag dig dug sedari dirinya berdekatan dengan pasien wanita tersebut.Ntah kenapa,hatinya mulai tidak bisa di kontrol dan ia juga menjadi penasaran dengan kehidupan pribadi pasien wanita tersebut.


"A aku hanya pernah berpacaran beberapa kali saja,ketika kami berpacaranpun hanya melakukan sekedar c**m*n saja.Setelah itu,aku hanya mengikuti perintah dari Ayahku untuk menuruti perjodohan-perjodohan yang telah Ayahku ajukan.Dan satu lagi,aku masih perawan sampai saat ini" jelas pasien wanita tersebut dengan panjang lebar dan wajah malunya,sambil terus menatap kedua matanya Sang dokter yang masih sibuk menelisik ke arahnya.


Ia sudah seperti menjelaskan kepada kekasihnya yang sedang salah paham pada dirinya saja,padahal mereka berdua hanya sekedar status pasien dan Dokter saja.


"Memangnya apa peduliku,kalau kamu itu masih perawan atau tidak?" tanya Ryan,dengan nada santainya,sambil terus menatap wajah pasien wanita tersebut yang sudah mulai merasa kesal karena mendengar pertanyaan darinya.


Padahal sejujurnya,Ryan tersenyum lega di dalam hatinya,saat ia mendengar penjelasan panjang lebarnya pasien wanita tersebut.


Ia sendiri juga bingung dengan perasaan anehnya ini,hanya saja ia baru menyadari kalau berdebat dan berbicara dengan pasien wanita tersebut ternyata seru juga dan membuat dirinya nyaman.

__ADS_1


"Kamu... Dasar pria menyebalkan" ucap pasien wanita tersebut,dengan nada kesalnya,sambil mengambil bantal tidur miliknya.Lalu ia segera memukul Sang Dokter dengan kuat, menggunakan bantal yang telah ia ambil tadi.


"Auchk,apa yang kamu lakukan? " tanya Ryan,dengan nada tenangnya yang bercampur sedikit rasa kesal,sambil berdiri dari duduknya tadi.Lagi-lagi ia harus menahan senyumnya,saat ia melihat wajah malu pasien wanita tersebut yang langsung berubah menjadi sangat kesal.


"Kamu masih bertanya,apa yang sedang aku lakukan.Tentu saja,aku ingin membunuhmu saat ini juga" jawab pasien wanita tersebut,dengan nada yang semakin kesal,sambil terus memukul Sang dokter yang masih berdiri di sampingnya.Padahal ia sudah berbicara dengan panjang lebar dan mengabaikan rasa malunya,tapi Sang Dokter malah memberinya pertanyaan yang menyebalkan.


Sedangkan Ryan yang sudah kewalahan untuk menahan pukulan bantal yang bertubi-tubi dari pasien wanita tersebut,ia langsung mundur beberapa langkah ke belakang supaya pasien wanita tersebut tidak bisa memukulnya lagi.


"Dasar pria tidak punya perasaan" ucap pasien wanita tersebut,masih dengan nada kesalnya,sambil melempar bantal yang ia pegang dengan kuat ke arah wajah Ryan yang sedang berusaha menjauh dari jangkauannya.


"Aku kan hanya bertanya saja.Kamu sendiri yang menanggapinya terlalu berlebihan.Dan apa kamu sanggup membunuhku,hanya dengan menggunakan bantal ini..." ucap Ryan,sambil menangkap bantal yang telah di lemparkan ke arahnya oleh pasien wanita tersebut.


"Sudah,jangan di cari lagi.Lagi pula,semua barang yang ada di sini tidak akan mampu untuk membunuhku" lanjut Ryan lagi,dengan wajah yang tersenyum karena sudah tidak sanggup menahan senyumnya lagi,saat ia melihat pasien wanita tersebut yang menjadi semakin berlipat kesalnya dan juga tingkah-tingkah lucunya.


"Tidak perlu mengejekku.Masih lumayan aku yang pandai berc**m*n,dari pada kamu yang c**m*nnya masih kaku begitu.Kalau ada yang tahu kalau c**m*nmu begitu payah,sudah di pastikan tidak akan ada wanita yang mau bercinta denganmu" ucap pasien wanita tersebut,dengan senyum mengejeknya yang bercampur kesal karena berhasil membalas Sang Dokter,sambil bersedekap dada dan menatap wajah tersenyumnya Sang dokter yang ia kira sedang mengejeknya.


Ia langsung menghentikan gerakan mencarinya di atas kasur tadi,karena memang benar apa yang di katakan oleh Sang Dokter kalau di dalam ruangan tersebut sama sekali tidak terdapat barang-barang berbahaya yang bisa ia jadikan untuk membunuh Sang Dokter.


"Coba kamu ulangi sekali lagi..." perintah Ryan,dengan nada kesalnya,sambil melangkah maju ke arah pasien wanita tersebut yang hanya berjarak beberapa langkah itu dengan langkah cepatnya.


"C**m*nmu itu sangat payah,aku yakin kalau tidak akan ada wanita yang.....A apa yang ingin kamu lakukan?" perkataan pasien wanita tersebut yang terdengar lantang barusan,langsung menjadi gugup karena tanpa ia sadari kalau wajahnya Sang Dokter sudah berada di depan wajahnya.


Pasien wanita tersebut, baru saja ingin menjauhkan wajahnya dari wajahnya Ryan.Tapi terlambat,karena Ryan langsung menarik tengkuknya dan menerkam bibirnya pasien wanita tersebut dengan lembut,sambil memejamkan kedua matanya.Ryan bahkan ******* dengan asal dengan mengikuti nalurinya saja.


"Ehhmmm " terdengar gumaman tertahan dari mulutnya pasien wanita tersebut,ia langsung berusaha untuk memberontak,saat Sang Dokter tiba-tiba saja menerkam bibirnya.


Tapi hanya untuk beberapa detik saja,karena c**m*n dan l*m*t*nnya Sang Dokter berhasil membuai dirinya,hingga membuat dirinya reflek memejamkan kedua matanya dan membalas c**m*n dari Sang Dokter dengan senang hati.


C**m*n mereka berduapun,semakin lama semakin panas.Saat Ryan merasa sudah cukup dengan pelajaran yang ia berikan pada pasien wanita tersebut karena telah berani mengatakan kalau c**m*nnya payah,iapun segera melepaskan l*m*t*nnya mereka.Jika tidak,bisa-bisa ia akan lepas kontrol karena benda bawah miliknya yang sudah mulai terbangun akibat c**m*n panas mereka tadi.


Ryan langsung tersenyum lucu,saat ia melihat pasien wanita tersebut yang masih saja memejamkan kedua matanya.


"Bagaimana? Apa c**m*nku masih terasa payah?" tanya Ryan,dengan wajah seriusnya kembali dan nada pelannya tapi masih mampu menyadarkan dan membuat kedua matanya pasien wanita tersebut langsung terbuka.


"Hah!? su sudah tidak..Eh eh bu bukan,maksudku masih tetap payah" jawab pasien wanita tersebut,dengan nada gugup dan juga wajah malunya.Padahal c**m*n Sang Dokter barusan sudah oke dan lumayan,hanya saja ia malu mau mengakuinya.


Apa lagi ia merasakan kedua tangannya Sang Dokter yang berada di tengkuk lehernya tadi sudah turun ke pinggulnya dengan erat,hingga membuat dirinya menjadi semakin gugup karena jarak tubuh mereka yang sangat dekat.


"Benarkah? Tapi yang aku lihat,sepertinya tadi kamu sangat menikmatinya,hingga tidak rela untuk membuka mata.Aku mengira,tadi itu kamu masih menginginkannya lagi" ucap Ryan,dengan nada santainya,sambil terus menatap wajah pasien wanita tersebut yang sudah menjadi semakin memerah.


"Ti tidak,bukan seperti itu.Mungkin saja,matamu sedang bermasalah" ucap Pasien wanita tersebut,dengan wajah yang semakin malu,sambil sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sepertinya perkataanmu benar,mungkin kedua mataku memang sedang bermasalah" ucap Ryan,sambil melirik sekilas jam tangannya,dengan wajah serius yang sedang menahan tawa,karena ia melihat pasien wanita tersebut yang sampai tertunduk malu.Ia jadi tidak tega,mau menggoda pasien wanita tersebut lagi.


__ADS_2