Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 176


__ADS_3

Baru saja Sekretaris tersebut ingin menekan nama kontaknya Tuan Hery,tapi pemilik nama tersebut malah sudah meneleponnya terlebih dahulu.Hampir saja HP miliknya terjatuh ke bawah kakinya,kalau saja ia tidak menangkapnya dengan cepat.


Ia menjadi kaget,baru ini kali pertamanya Tuan Hery yang sangat berpengaruh itu meneleponnya duluan,karena biasanya ia yang selalu menelepon pria yang berpengaruh itu duluan,saat ia di perintahkan oleh Tuannya untuk melakukan tugas yang harus membutuhkan bantuan ?Tuan Hery.


"Hal hallo,ada apa Tuan?" tanya Sekretaris tersebut,setelah ia sudah mengangkat telepon tersebut,dengan wajah waspada yang bercampur rasa penasarannya yang tidak bisa di lihat oleh Tuan Hery.


"Kau tidak perlu melakukan apa yang di perintahkan oleh Tuanmu tadi.Kau hanya perlu mengatakan kalau kalian telah kehilangan jejak wanita Tuanmu itu.Apa kau mengerti...?" jawab Hery,sekalian bertanya.


Karena ia sudah lama bersama Jonathan sahabatnya itu,ia langsung bisa tahu apa tindakan yang akan di lakukan oleh Jo di saat sedang mengalami situasi seperti ini.


"Da dari mana Tuan tahu apa yang di perintahkan oleh Tuan kami?" tanya Sekretaris tersebut,dengan nada gugup karena merasa kaget dan juga heran kenapa Tuan Hery bisa mengetahui apa yang telah di perintahkan oleh Tuannya padanya.


"Kau tidak perlu tahu,kau hanya perlu melakukan apa yang telah aku katakan tadi" jawab Hery,dengan nada tegasnya yang bercampur kesal.Karena menurutnya,Sekretaris tersebut terlalu cerewet.


"Ta tapi Tuan......." belum sempat Sekretaris tersebut menyelesaikan kalimatnya,ucapannya sudah di sela oleh Tuan Hery dengan cepat.


"Kau lebih memilih Tuanmu atau nyawamu sendiri?" tanya Hery,dengan nada yang semakin tegas dan wajah kesalnya yang tidak bisa di lihat oleh Sekretaris tersebut.


"Ten tentu saja,aku lebih memilih nyawaku Tuan" jawab Sekretaris tersebut,dengan nada gugup karena merasa takut dan juga bingung secara bersamaan.


Bagaimana ia tidak menjadi takut dan juga bingung,di satu sisi adalah Tuannya tapi di sisi lainnya adalah nyawanya sendiri.Jika ia memilih Tuannya,Tuannya mungkin hanya akan menggila untuk beberapa hari saja.Sedangkan nyawanya,mungkin saja akan menghilang begitu saja karena Tuan Hery lebih mengerikan dari pada Tuannya.


"Bagus.Kalau begitu,sekarang kau lakukan tugasmu dengan baik" perintah Hery,masih dengan nada tegasnya.


"Baik Tuan" jawab Sekretaris tersebut,sambil menatap layar HP miliknya karena Tuan Hery langsung menutup telepon mereka, saat dirinya baru saja selesai menjawabnya tadi.


"Aku harus melakukan apa sekarang?" tanya Sekretaris tersebut pada dirinya,dengan wajah bingungnya.


Sepertinya sekarang ia harus segera ke bandara yang telah tuannya sebutkan tadi terlebih dahulu,Tuannya pasti akan menggila duluan di sana sebelum ia sampai di sana nanti.


"Sepertinya ini salah satu malam terberatku di sini,aku harus menjawab apa saja nanti,kalau Tuan bertanya..." lanjut Sekretaris tersebut lagi,dengan wajah pasrahnya dan terlihat seperti sedang berpikir keras,sambil mengubah haluan mobilnya ke arah tujuan yang sama dengan Tuannya.


Ia juga menyetir sambil menelepon kenalannya yang ada di bandara tersebut,supaya mau berkerja sama dengannya jika di haruskan.


(Di bandara ********).


Desi masih sibuk berdiri di depan FIDS atau sistem yang berisi jadwal-jadwal penerbangan.Ia mencoba untuk tenang dan berpikir keras tentang tempat mana yang akan ia datangi saat ini.


Karena jika ia tidak pergi ke suatu tempat saat ini juga,sudah di pastikan Jonathan pasti akan mencarinya sampai ke rumah.Mengingat foto-foto dan video yang tadi ia lihat saja,mampu membuat hatinya menjadi sesak.Makanya ia ingin menjauh dari pria brengsek itu terlebih dahulu,supaya hatinya tidak semakin sakit saat melihat wajah pria brengsek itu.


Bahkan tadi ia sampai mengendap-ngendap masuk ke rumahnya sendiri untuk mengambil Atm,pasport dan yang lain-lainnya,yang seperlunya saja.Untung saja kedua orang tuanya sedang sibuk di Cafe karena Cafe mereka hari ini sangat sibuk.


Hingga membuat kedua orang tuanya tidak begitu memerhatikan putrinya yang sedang mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah sampai keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


Saat Desi sedang sibuk berpikir,tiba-tiba saja suara dari seorang pria malah mengagetkannya.


"Nona tidak perlu banyak berpikir lagi..Sekarang ikutlah denganku..." ucap Mark yang baru saja sampai di bandara tersebut,dengan nada pelannya.


Desi langsung berbalik badan dengan wajah kagetnya.


"Siapa kamu? Dan kenapa aku harus mengikutimu?" tanya Desi,dengan wajah penasarannya dan juga waspada,sambil menelisik seluruh tubuh pria yang tidak ia kenal ini.Tapi tidak terlihat seperti seorang penjahat,karena pakaian pria tersebut sangat rapi,di tambah lagi wajah tampannya.Bahkan,pria tersebut sama sekali tidak memiliki salah satu ciri-ciri penjahat.


"Nona tidak perlu tahu aku siapa.Tapi nona harus mengikutiku saat ini juga,karena nona Ashley sedang dalam bahaya saat ini" jawab Mark,dengan wajah yang di buat seserius mungkin,karena ia harus segera membawa sahabat nona mudanya pergi dari bandara ini,sebelum Tuan Jonathan sampai di sini.


"Apa katamu? Ashley dalam bahaya? apa yang sudah terjadi sama Ashley,kenapa Ashley bisa sampai dalam bahaya? Bukankah semalam Ashley baik-baik saja?..." tanya Desi,dengan wajah khawatirnya,sambil berjalan agak mendekat ke arah pria tersebut.Rasa waspadanya tadi langsung saja,menghilang begitu saja.


"Jika nona ingin tahu,nona harus segera ikut denganku sekarang" jawab Mark,dengan nada yang sudah mulai kesal,sambil melihat keluar bandara,takut-takut kalau Tuan Jonathan sudah ada di luar bandara.Ia juga sambil memberi kode pada beberapa anak buahnya yang mengikutinya tadi,untuk segera mengubah cctv di bandara tersebut yang tertuju pada dirinya bersama sahabat nona mudanya ini.


"Baiklah,ayo cepat" ajak Desi,dengan wajah yang semakin khawatir,sambil berjalan melewati pria tersebut.Karena terlalu khawatir dengan keadaan sahabatnya,ia sampai melupakan keselamatannya,apakah pria itu berbahaya atau tidak dan seorang penjahat atau tidak.


"Baik nona" jawab Mark,dengan kepala yang menggeleng pelan dan menghela napas dengan pelan,sambil mengikuti langkah kaki sahabat nona mudanya tersebut.


Wanita ini memang benar-benar,bahkan kadar kecerobohannya lebih tinggi dari nona mudanya.Coba saja kalau dirinya adalah seorang penjahat,mungkin saja,ntah apa yang akan terjadi sama sahabat nona mudanya ini.Mark hanya mampu mengeluh di dalam hatinya saja.


Tapi di situasi seperti ini,menurutnya tidak buruk juga,dari pada mereka harus bertemu dengan Tuan Jonathan nanti.


Lagi-lagi Mark kembali di buat geleng-geleng kepala oleh sahabat nona mudanya ini,saat ia melihat wanita yang ceroboh dan sok-sok an tersebut sedang kebingungan mencari mobil miliknya.


"Mobilnya yang warna hitam itu nona" ucap Mark,setelah ia sudah berada di dekat tempat Desi berdiri,sambil menunjuk mobil hitam miliknya yang berada di samping kiri itu.


Sedangkan Desi,langsung memberi kopernya pada pria tampan yang terlihat seperti pria baik-baik menurut penilaiannya sendiri.Lalu tanpa berpikir panjang lagi,ia segera berjalan menuju ke mobil yang di tunjuk oleh pria tersebut dan masuk ke dalam mobil tersebut,karena terlalu mengkhawatirkan sahabatnya Ashley.


Mark segera ikut masuk ke dalam mobil miliknya,setelah ia selesai menyimpan kopernya Desi di belakang mobilnya.


'Apa setiap wanita memang ceroboh seperti itu.Ah sudahlah,ngapaen juga aku memikirkannya.Kalau iyapun,juga bukan urusanku' batin Mark,dengan sedikit menggeleng-geleng pelan kepalanya,sambil melirik Ke arah Desi melalui cermin yang ada di atas kemudinya.


Terlihat wajah sembab sahabatnya Nona mudanya itu yang sedang menampilkan ekspresi khawatir,hanya saja kedua matanya sudah tidak begitu bengkak lagi.


Lagi-lagi Mark kembali menghela napas dengan pelan,sejak ia berada di sini,ia selalu di perintah oleh Tuannya untuk mengurus yang berkaitan dengan wanita.Padahal,biasanya ia hanya mengurus tentang senjata atau musuh-musuhnya yang lainnya saja.


"Nona,bisa berikan HP milikmu padaku sebentar..." pinta Mark,dengan wajah seriusnya.


"Baiklah" jawab Desi,sambil mengeluarkan HP miliknya dari dalam tasnya.Walaupun sempat ragu,tapi ia tetap memberikannya pada pria tersebut.


Sedangkan Mark,segera mengambilnya dan mematikannya dan juga membuang no kartu yang ada di dalam HP tersebut keluar jendela.


"Hei,apa yang kau lakukan dengan kartuku? " tanya Desi,dengan nada kesalnya,saat ia melihat pria tersebut membuang kartunya dengan santai.

__ADS_1


"Nona tenang saja,sebentar lagi pasti akan ada penggantinya.Ini ambillah,tapi nona jangan menghidupkannya dulu.Jika nona ingin melihat keadaan Nona Ashley,nona harus menuruti perkataanku" jawab Mark,sambil memberi HP tersebut ke Desi kembali.


Sedangkan Desi,hanya diam saja,saat ia mendengar ancaman dan perkataan panjang lebarnya pria tersebut.Ia segera mengambil HP miliknya dan menuruti apa yang di katakan oleh pria tersebut,dengan wajah pasrah dan bingungnya.


Lalu Mark segera melajukan mobil miliknya,beberapa saat kemudian ia langsung tersenyum lega,saat ia melihat wajah frustasinya Jonathan dari jendela mobil miliknya Jonathan yang sedang melaju berlawanan arah dengan mobil miliknya.


Untung saja saat ini ia sedang memakai mobil miliknya yang memiliki kaca jendela anti tembus pandang,jadi Jonathan tidak akan mampu melihat mereka berdua.


'Akhirnya...Setelah ini,aku bisa tidur dengan nyenyak' batin Mark,dengan tersenyum senang di dalam hati,karena di dalam sebulan ini ia di perintah oleh Tuannya untuk terus mengawasi pergerakan sahabat istri Tuannya ini dan wanita j*l*ng yang telah menjadi pembuat onar tadi.


Mobil merekapun lewat begitu saja tanpa di sadari oleh jo sama sekali,selama di perjalanan merekapun terus di hiasi wajah khawatirnya Desi dan beberapa pertanyaan-pertanyaan tentang Nona mudanya dari Desi tapi hanya terus di jawab singkat olehnya.


(Di bandara ********).


Jo yang sudah sampai dan juga sudah keluar dari dalam mobilnya,segera berlari masuk ke dalam bandara dengan wajah khawatirnya,karena takut akan kehilangan Desi.


Kenalan Sekretarisnya Jo yang sudah mendapat telepon dari temannya itupun segera mendekat ke arah Jo yang baru saja masuk ke dalam bandara dan sibuk mencari sosok calon istrinya,ke sana sini.


"Tuan,apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pria yang bertugas mengecek tiket para penumpang tersebut,dengan wajah yang di buat setenang mungkin.Ia juga di telepon mendadak tadi,hingga persiapan dirinya belum sepenuhnya siap.


Jo yang sibuk mencari dan melihat ke seluruh sudut bandara tadi,langsung menghentikan langkah kakinya ,saat ia mendengar ada suara pria yang sedang memanggilnya.


"Apa kau temannya Sekretarisku?" tanya Jo,sambil terus menelisik wajah pria tersebut,karena ia sudah lupa-lupa ingat dengan wajah pria tersebut yang hanya bertemu beberapa kali saja.


"Iya Tuan,saya temannya Tuan" jawab pria tersebut.


Berbeda dengan Jo yang lupa-lupa ingat,pria tersebut masih ingat dengan jelas majikan temannya itu.


"Apakah kalian sudah menutup pernerbangan di sini,sebelum 40 menit yang lalu?" tanya Jo,dengan wajah seriusnya,sambil mengeluarkan HP miliknya dan mencari fotonya Desi yang ia ambil secara diam-diam kemaren.


"Sudah Tuan" jawab pria tersebut,dengan wajah yang pura-pura serius.Padahal ia sama sekali tidak melakukannya,hanya saja barusan ia segera mengumumkan agar para penumpang istirahat terlebih dahulu selama 1 jam ke depan,supaya Tuan Jonathan tidak merasa curiga padanya.


"Bagus.Sekarang katakan padaku,di mana wanita ini?" tanya Jo,dengan wajah yang mulai tenang.


"Maaf Tuan, wanita yang sedang Tuan cari tersebut,tetap tidak ada di sini.Tadi Sekretarisnya Tuan sudah memberi identitas lengkap dan fotonya ke saya.Saya juga sudah mengeceknya dari tadi,tapi saya tetap tidak bisa menemuinya Tuan " jawab pria tersebut,sambil melihat di sekitarnya,apakah temannya itu sudah tiba di sana.


Gara-gara ingin menolong temannya itu,nyawanya mulai tidak aman saat ini.Tapi perkataannya barusan memang benar adanya,karena ia benar-benar tidak menemui nama wanita yang sedang di cari tersebut di daftar para penumpang yang ada di dalam penerbangan 1 jam sebelumnya,bahkan dari 3 jam sebelumnyapun ia juga tidak menemukannya.


"Apa? Apa kau sedang berbohong?" tanya Jo,dengan wajah tidak percayanya,sambil melihat di sekitarnya juga,mana tahu saja wanitanya sedang berada di antara keramaian tersebut.


Bagaimana ia bisa mempercayai perkataan dari pria tersebut,jelas-jelas titik GPS miliknya Desi ada di sini.Apa lagi setahunya penerbangan sudah di tutup selama 1 jam ke belakang.Jika wanitanya tidak ada di sini,lalu di mana wanitanya saat ini.


"Ten tentu saja tidak,Tuan." jawab pria tersebut,dengan nada gugupnya karena takut ketahuan.

__ADS_1


"Cepat katakan dimana calon istriku...Kau tahu kan,apa akibatnya jika kau berani membohongiku?" tanya Jo,dengan nada emosi,sambil mencengkram kerah bajunya pria tersebut.


"A aku su sudah mengatakan yang sebenarnya Tuan" jawab pria tersebut,dengan suara yang terputus-putus karena lehernya mulai merasa seperti tercekik.Ia berbicara,dengan sebelah tangannya yang berusaha menahan cengkramannya Jo dan sebelah tangannya lagi yang memberi tanda mundur kepada teman-temannya yang sedang ingin membantunya.


__ADS_2