Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 187


__ADS_3

Grandma,Grandpa,Daddy,,Ashley,Desi dan berserta kedua orang tuanya Jo,dari tadi mereka semua langsung duduk di ruang tamu untuk menunggu Hery,setelah mereka semua sudah selesai makan siang tadi.


Dari tadi,mereka semua juga duduk dengan wajah khawatir yang bercampur bingung,karena sedang memikirkan apa yang sedang terjadi di depan sana hingga terdengar suara tembakan beberapa kali.


Kecuali dengan Grandpa dan Daddy yang hanya menampilkan wajah datarnya saja tanpa rasa khawatir sama sekali,karena mereka berdua sudah tahu siapa pelaku keributan tersebut.


"Jonathan Grandma" jawab Hery,dengan wajah khawatirnya yang bercampur kesal,sambil terus berjalan ke arah ruang tamu tempat semua orang berada.


"Ternyata anak nakal itu,kenapa dia sampai membuat keributan di luar sana? Dan kenapa juga dia sampai main tembak-tembakan di luar sana? " tanya Grandma dengan wajah penasarannnya.


Lalu beberapa detik kemudian,ia baru teringat kalau Jonathan mungkin saja sedang mencari calon istrinya.Bahkan ia juga mendengar dari putranya itu,kalau 2 malam ini anak nakal itu terus mabuk-mabukan di Club malam.


"Di mana dia sekarang?" tanya Grandma dengan wajah penasaran yang sudah berubah menjadi khawatir kembali.


Sedangkan yang lainnya,sibuk menatap ke arah Hery dengan wajah khawatir mereka juga,kecuali Grandpa dan Daddy.


Apa lagi,dengan Desi yang sudah tahu kebenaran tentang wanita hamil hari itu karena di beritahu oleh Ashley.Ia kembali merasa bersalah dan juga khawatir secara bersamaan saat ia mendengar nama Jo yang di sebut oleh Tuan Muda tersebut.


"Dia Di...."ucapannya Hery langsung terhenti,karena HP miliknya sedang berbunyi.


Hery yang tahu siapa peneleponnya,iapun segera mengangkatnya.Sedangkan yang lainnya termasuk Grandma,masih sibuk dengan wajah khawatir mereka,sambil menatap Hery yang sedang sibuk dengan teleponnya.


"Bagaimana?" tanya Hery,dengan nada tegasnya dan wajah penasarannya.


"****" umpat Hery,dengan nada kesalnya saat ia mendengar laporan dari salah satu pengawal yang sedang mengikuti Jo tadi.


"Hadang dia sebisa mungkin,jangan sampai biarkan dia berhasil masuk ke dalam sana" perintah Hery,dengan wajah seriusnya.Lalu ia segera menutup telepon mereka setelah ia baru saja mendengar jawaban baik dari pengawalnya tersebut.


"Apa yang sedang terjadi nak?" tanya Mommynya Jo,dengan wajah yang semakin khawatir karena ia mendengar Hery mengumpat dengan wajah seriusnya,pasti ada hal buruk yang sedang terjadi.Apa lagi,ini juga pasti berkaitan dengan putra mereka itu.


"Iya nak,apa telah terjadi sesuatu?" timpal Grandma,sambil melangkah maju untuk mendekati Hery.


"Jonathan sedang dalam perjalanan ke suatu tempat tante,Grandma" jawab Hery,dengan wajah kesalnya,karena pengawalnya melaporkan kalau Jo sedang menuju ke suatu tempat saat ini.


Ternyata sahabatnya itu benar-benar sudah gila,padahal sahabatnya itu sudah lama tidak melakukan hal kotor seperti itu lagi.


Bahkan ia tidak mau menyebut nama tempat itu pada semua orang,terlebih lagi pada kedua orang tuanya Jo yang mungkin akan marah besar dan juga akan menjadi semakin khawatir.


Sepertinya ia harus membiarkan Desi bertemu sama sahabatnya yang sudah mulai menggila di suatu tempat itu,dari pada nanti ia harus merasa bersalah sama kedua orang tuanya Jo,karena ia sudah berjanji untuk tidak akan membiarkan putra mereka melakukan hal yang akan merugikan dirinya Jo sendiri.


"Jo sedang berniat ingin membunuh seseorang Grandma ,tante,paman" lanjut Hery lagi,dengan wajah yang berusaha untuk tetap tenang,walaupun hatinya terus bertanya-tanya apakah Jo sudah sampai ke tempat itu atau apakah anak buahnya sanggup menghadang pria yang sudah mulai menggila itu.


Ia berbicara,sambil melihat wajah kagetnya Grandma,kedua orang tuanya Jo,Desi dan terakhir istrinya.


"Apa? " tanya Grandma,masih dengan nada kagetnya,sambil terus menatap wajah tenang cucunya.


"Maksudmu apa nak?" tanya Mommynya Jo,dengan wajah yang menjadi semakin khawatir,saat ia mendengar perkataannya Hery.


Sedangkan Daddynya Jo yang juga merasa kaget,ia segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya,supaya istrinya itu bisa lebih tenang dalam menanggapi pernyataannya Hery barusan.


"Maksudku,Jonathan........"ucapannya Hery langsung terhenti,karena Desi yang sedang menyelanya.

__ADS_1


"Tuan,ayo cepat antar aku ke tempatnya Jonathan berada" pinta Desi dengan kalimat yang seperti memerintah tanpa ia sadari karena terlalu khawatir terhadap Jo.


Ia berbicara ,sambil berlari ke arah keluar Mansion tanpa menunggu jawaban dari hery.Hingga mampu membuat Tuan Muda tersebut,langsung mendengkus kesal.Baru kali ini ia di perintah sama orang lain,selain keluarganya sendiri,terutama istrinya.


"Tuan,cepat,aku mohon...Sebelum semuanya terlambat" mohon Desi,dengan wajah memelasnya saat ia melihat Tuan Muda tersebut masih berdiam diri di tempatnya.Desi berbicara,sambil menangkupkan kedua tangannya seperti sedang memohon ke arah Tuan Hery.


"Pergilah" perintah Grandma dengan nada tenangnya karena sudah mengerti,tapi sejujurnya ia masih merasa khawatir dengan Jo.


Tapi di situasi seperti ini,perkataannya Desi barusan memang masuk akal.


"Baik Grandma" jawab Hery,dengan wajah nada tenangnya,sambil menahan rasa kesalnya.


"Kalian tenang saja,tidak akan ada yang terjadi apa-apa sama Jonathan" lanjut Hery lagi,untuk menenangkan Grandma dan kedua orang tuanya Jo.


Grandma dan kedua orang tuanya Jopun,hanya mampu menganggukkan pelan kepala mereka dengan wajah khawatir mereka.


"Aku pergi sebentar ya?" tanya Hery pada istrinya yang sudah mengerti dan juga ikut-ikutan merasa khawatir.


Grandpa dan Daddy yang dari tadi hanya diam sajapun,langsung memutar kedua mata mereka dengan malas,saat mereka berdua melihat tingkah konyolnya Tuan Muda tersebut.


Hery yang sudah mendapatkan anggukan kecil dari istrinyapun,langsung berjalan ke arah keluar di mana Desi sudah menunggunya.


Desi yang masih setia menunggu tadipun,segera menunggu dan mengikuti langkahnya Hery,karena jika ia ingin mendahului Hery,ia tidak tahu mana satu mobil yang akan di pakai oleh Hery.


Sedangkan Grandma dan kedua orang tuanya Jo,hanya mampu berdiri dengan wajah pasrah dan juga khawatir.


Bahkan mereka semua belum sempat mendengar penjelasan dari Hery,jadi mereka semua hanya bisa menunggu hasil dari apa yang sedang akan di lakukan oleh Hery saat ini.


Sedangkan di dalam mobilnya Hery,Hery sedang menampilkan wajah kesalnya karena harus menjadi supir untuk Desi.


Karena merasa kesal dan juga khawatir dengan Jo yang benar-benar akan melakukan hal gila itu,ia jadi lupa untuk memanggil salah satu pengawalnya saja yang mengantar Desi ke tempatnya Jo berada.


Padahal tadi ia memang sudah berniat untuk pergi ke tempat tersebut,tapi ternyata Desi sudah lebih dulu berinisiatif dari pada dirinya.


Tapi ia juga jadi bertanya-tanya apakah Desi berani masuk ke dalam tempat itu,setelah Desi tahu kalau tempat itu seperti apa.


Akhirnya setelah 45 menit berlalu,perjalanan yang hanya di temani oleh suara hembusan angin dan aura mencengkam itupun sampai juga di tempat tujuan.


Desi langsung menghela napas lega,saat ia merasakan kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan,karena Tuan Hery yang sudah menghentikan mobilnya.


Bahkan di dalam perjalanan tadi,ia terus merutuki dirinya di sepanjang perjalanan sambil melirik wajah kesalnya Tuan Hery,karena telah berani menyuruh Tuan Muda tersebut.Tapi mau bagaimana lagi,ia harus melakukannya,supaya Jonathan tidak sampai membunuh orang dan menambah dosa.


"Setelah membuat diriku menjadi supir...Apa kamu juga ingin menyuruhku membuka pintu mobil untukmu?" tanya Hery dengan nada kesal di balik wajah datarnya,tanpa menatap ke arahnya Desi.


"Ti tidak perlu,Tuan" jawab Desi,dengan nada gugupnya karena merasa merinding dengan wajah datarnya Tuan Hery.


Kemudian ia segera membuka pintu mobil ,setelah ia selesai bicara,lalu di ikuti oleh Hery.


"Apa lagi yang kamu tunggu? Bukankah kamu ingin mencari Jonathan tadi?" tanya Hery,setelah ia sudah berada di luar mobil dan menatap Desi yang hanya berdiri saja dan sibuk menatap sebuah ruko yang ada di depannya,ruko yang setinggi 3 lantai tapi selebar 10 ruko.


"Jonathan ada di dalam" lanjut Hery lagi,dengan nada kesalnya kembali,sambil bersedekap dada.

__ADS_1


Ternyata benar,apa yang sudah ia pikirkan tadi,mana ada wanita yang berani datang dan mausk kedalam markasnya kecuali Grandma.Tapi sahabat istrinya ini,sudah berlagak sombong terlebih dahulu sebelum mengetahui di mana tempat tujuannya.


"Apa Tuan tidak salah tempat?" tanya Desi dengan tubuh merindingnya,sambil menatap sekilas ke arah suami sahabatnya itu,lalu kembali menatap ruko yang berada tidak jauh dari depan matanya itu.Di tambah lagi dengan keberadaan sekitar belasan pria yang bertubuh tegap dan juga bertato,mereka semua berdiri tegak di setiap sudut dan sisi ruko tersebut.


'Berdiri di depan ruko tersebut saja,tubuhnya sudah merinding,bagaimana kalau dirinya sampai masuk ke dalam...' pikir Desi,sambil terus menatap ruko tersebut dan menunggu jawaban dari Tuan Hery.


Markasnya Hery memang seperti ruko dan terlihat biasa saja,tapi udara di sekitarnya terasa sanggup membuat nyalinya menjadi ciut.


Hery langsung menghela napas dengan pelan karena sedang berusaha mengusir rasa kesalnya yang menjadi semakin bertambah,saat ia mendengar pertanyaan dari Desi tadi.


"Tuan" panggil beberapa anak buahnya Hery sambil sedikit berlari ke arah Hery,saat mereka melihat Tuan mereka yang sedang berdiri di samping mobil.


"Hm" jawab Hery,dengan singkat dan kedua tangan yang masih bersedekap,sambil menatap datar ke arah beberapa anak buahnya.


"Tuan,Tuan Jonathan baru saja berhasil masuk ke dalam kurungan wanita hamil itu.Kami sudah mencoba menahannya,tapi Tuan Jonathan tetap terus menggila dari tadi.Jadi,kami tidak punya pilihan lain,selain membiarkannya masuk,Tuan" lapor salah satu anak buahnya Hery,dengan cepat dan panjang lebar.Ia melapor,sambil memegang sebelah tangannya yang terkena tembakan yang di tembakkan oleh Tuan Jonathan tadi.


Anak buahnya Hery tidak bisa berbuat terlalu banyak,karena yang mereka hadapi adalah sahabatnya Tuan mereka,hingga membuat mereka semua menjadi serba salah dan lebih banyak mengalah.


Bahkan Mark sendiri menjadi tidak berdaya,ketika Tuan Jonathan mengancam akan melukai dirinya sendiri,setelah selesai membabi buta tadi sampai berhasil menembak sebelah tangan salah satu dari mereka.


Markpun tidak berani mengabaikan ancaman dari jonathan itu,karena ia tahu kalau Jonathan yang dulu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


Hanya saja ia tidak tahu kalau Jonathan yang sekarang sudah berubah atau tidak,jadi ia tidak mau mengambil resiko.


"Apa kamu sudah dengar? Apa kamu masih ingin berdiri di sana atau pulang saja?" tanya Hery,dengan nada kesalnya,sambil menatap darah di sebelah tangan anak buahnya yang sedang melapor tadi.


"A aku akan masuk ke dalam saja" jawab Desi,dengan nada ragu-ragunya,tapi ia tetap berjalan masuk ke arah ruko tersebut dengan mengikuti langkah anak buahnya Hery yang sedang menunjukkan jalan padanya.


Hery langsung menggeleng-geleng pelan kepalanya,saat ia melihat ekspresi takut di wajahnya Desi.Untung saja tadi istrinya tidak manja dan meminta untuk ikut bersama,bisa-bisa ia yang menjadi kebingungan saat ini.


"Pergilah ke rumah sakit" perintah Hery pada anak buahnya yang masih setia menunggu jawaban darinya itu.


"Baik Tuan,terima kasih Tuan" jawab anak buah yang sedang terluka itu sambil membungkuk hormat ke arah Tuan mereka,lalu ia berjalan ke mobilnya dan meninggalkan teman-temannya untuk menemani Tuan mereka.


Sedangkan Hery hanya diam saja,lalu ia kembali mendengkus kesal,sambil menatap tajam ke arah markas miliknya itu,tatapan tajam itu seolah mampu tembus pandang sampai di titik sahabatnya Jonathan berada.


Ternyata sahabatnya itu benar-benar tidak bermain-main dengan perkataannya.Kalau saja ia tidak memikirkan bayi yang tidak berdosa itu,mungkin ia akan membiarkan Jo menggila saja dari pada harus repot-repot menjadi supir untuk Desi.


"Kenapa malah aku yang menjadi kesal saat ini,harusnya aku hancurkan saja Perusahaan barunya itu kemaren,supaya rasa kesalku hilang.Jadi,aku tidak perlu lagi bermain-main dengannya sampai seperti ini" gumam Hery,dengan wajah kesalnya,sambil berjalan masuk ke dalam markasnya.


Anak buahnya yang lain tadipun,langsung mengikuti langkah Tuannya mereka dalam diam.


(Di dalam markas).


Mark sedang berdiri dengan wajah kesalnya,sambil terus menatap dan mengikuti Jonathan yang baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan yang menjadi tempat pengurungan wanita hamil hari itu,wanita hamil yang telah berani merusak hubungannya Jo bersama Desi.


Terlihat wanita hamil tersebut yang sedang terikat berdiri di sebuah tiang,dengan tubuh yang sudah lemah tidak berdaya karena tidak mau makan.


Wajah pucatnya langsung tersenyum senang,saat ia melihat siapa yang sedang masuk ke ruangan tersebut.


Tapi hanya untuk beberapa detik saja,karena wajah tersenyum senangnya itu langsung berubah menjadi takut,saat ia melihat mata tajam dan juga ekspresi wajahnya Jo yang terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Jo,a ada apa denganmu?" tanya wanita hamil tersebut dengan nada gugupnya dan juga lemah karena merasa semakin takut saat ia melihat Jo yang terus berjalan ke arahnya.


__ADS_2