
Ryan langsung menghela napas lega,saat ia melihat kalau wanita tersebut sudah terlelap dan berisiknya juga sudah. ikut menghilang karena pengaruh obat penenang tersebut.Lalu ia menatap perawat wanita yang telah memberinya ide gila tadi dengan tatapan kesalnya.
"Sekarang kamu..." ucap Ryan,dengan nada kesalnya,tapi kemudian ia menghentikan ucapannya,lalu ia menghela napas dengan berat.
"Ya sudahlah,kali ini aku maafkan.Tapi tidak lagi,untuk lain kali" lanjut Ryan lagi,dengan wajah kesalnya yang bercampur pasrah.
Perawat wanita tersebut juga tidak sepenuhnya bersalah,karena dirinya sendiri juga yang mau menuruti apa kata perawat wanita tersebut tadi.Coba saja,ia menyuruh perawat wanita atau perawat pria lainnya saja yang melakukannya tadi.Tapi karena rasa lelahnya,ia juga ingin segera menyelesaikannya dengan cepat,jadi ia tidak mampu berpikir panjang lebar lagi.
"Terima kasih,Dok" ucap perawat wanita tersebut,dengan wajah tegangnya tadi yang sudah berubah menjadi tersenyum lega karena kali ini ia tidak jadi di hukum ataupun di pecat.
"Sekarang kalian bersihkan lantai ruangan ini dan rapikan kembali pakaian pasien wanita itu" perintah Ryan,dengan wajah kesal yang sudah mengurang,sambil terus menatap pasien wanita yang sudah terlelap itu.
'Memang terlihat lumayan cantik,tidak begitu buruk,tubuhnya juga langsing,dada yang berisi,dan juga rambut panjang yang melengkapi kecantikan wajahnya.Tapi sayangnya,tingkahnya terlalu bodoh dan juga mulutnya terlalu berisik' pikir Ryan.
Dan Ryan,paling tidak suka dengan wanita yang seperti itu.Maka dari itu,ia lebih suka menyendiri dari pada berpacaran dan berdebat dengan wanita setiap hari.
"Baik,Dok" jawab ke 5 perawat tersebut secara serentak.
Kemudian Ryan langsung berbalik badan,setelah ia cukup lama menatap wajah cantik pasien wanita tersebut.
Lalu ia segera berjalan keluar dari ruangan tersebut,dengan langkah lebar.Tapi saat ia sudah berada di luar ruangan,kedua orang tuanya pasien wanita tersebut langsung menyerbu dirinya dengan beberapa pertanyaan tanpa jeda.
"Dok,bagaiamana dengan putri kami? Apa putri kami baik-baik saja? Apa Dokter sudah berhasil menyelamatkan putri kami?" tanya sang Ibu,dengan wajah yang sangat sembab,karena tidak berhenti menangis dari tadi.
Sedangkan sang ayah tidak banyak bicara,tapi ia juga sedang menanti jawaban dari sang Dokter dengan wajah yang penuh harap,ia sangat berharap kalau putri kesayangan mereka itu baik-baik saja.
"Putri kalian sudah baik-baik saja,putri kalian sudah berhasil aku selamatkan.Beruntung, kalian membawanya ke sini dengan tepat waktu.Hanya saja... " ucap Ryan,dengan suara sopannya,lalu ia menjeda ucapannya di akhir kalimatnya.
Wajah tersenyum lega yang baru saja menghiasi di wajah kedua orang tuanya pasien wanita tersebut langsung berganti dengan ekspresi wajah yang khawatir,saat mereka mendengar jedaan akhir kalimat dari Dokter tersebut.
"Hanya saja apa Dok?" tanya sang Ibu,dengan wajah yang semakin khawatir.
"Hanya saja,jika overdosis obat terjadi karena disengaja oleh putri kalian untuk melukai dirinya sendiri, umumnya selain penanganan yang sudah aku lakukan tadi, pasien memerlukan intervensi psikiatri dan melakukan perawatan lebih lanjut" jawab Ryan,dengan wajah seriusnya,sambil menatap wajah sedih sang Ayah dan wajah sembab sang Ibu yang terlihat sangat jelas kalau sang Ibu sangat menyayangi putri mereka.
'Mungkin juga jiwanya sudah terganggu atau juga sudah menjadi gila,karena sedang patah hati' lanjut Ryan lagi,di dalam hatinya.
"Baik,kami akan segera membawa putri kami ke psikiatri,Dok" ucap sang Ayah,dengan cepat dan sedikit tersenyum lega.Karena ia mengira kalau putrinya terkena penyakit yang serius karena efek dari overdosis tadi atau apa gitu,begitu juga dengan sang Ibu,sama seperti sang Ayah.
"Hm,baguslah kalau begitu" jawab Ryan,dengan wajah yang tersenyum ramah,sambil menahan tubuh lelahnya.
'Iya,memang seharusnya kalian segera membawanya ke psikiatri,agar wanita bodoh itu tidak akan merepotkanku lagi' lanjut Ryan lagi,di dalam hatinya.
"Dok,kalau begitu.Apa kami sudah boleh melihat putri kami sekarang?" tanya Sang Ibu,dengan nada tidak sabarannya dan masih tersisa ekspresi khawatir di wajahnya,karena masih belum sepenuhnya merasa lega,sebelum ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau putrinya itu memang baik-baik saja.
"Tentu saja boleh,tapi kalian harus tunggu sebentar lagi,setelah putri kalian sudah di pindah ke ruang rawat.Tapi nyonya dan Tuan tidak boleh menganggu putri kalian,karena putri kalian baru saja melewati masa kritis dan saat ini masih sedang masa istirahat.Jika kalian ingin menemaninya di sini, juga tidak masalah. ..." jawab Ryan,dengan panjang lebar.
__ADS_1
'Kalau perlu,sekalian saja bawa putri kalian pulang sekarang, juga tidak masalah' lanjut Ryan lagi,tapi ia hanya mampu bicara di dalam hatinya saja.Karena tidak mungkin juga ia bicara seperti itu pada sepasang suami istri paruh baya tersebut,sedangkan putri mereka masih harus memerlukan rawat inap untuk masa permulihan.
"Baik Dok,kami mengerti" jawab sang Ibu pasien wanita tersebut,dengan nada senangnya karena di perbolehkan masuk ke ruang rawat putrinya.
"Terima kasih banyak,Dok" lanjut sepasang suami istri tersebut,secara bersamaan.Dan bertepatan dengan terbukanya pintu ruangan yang ada di belakangnya Ryan.
"Hm" jawab Ryan,dengan singkat sambil berbalik badan dan menatap wajah terlelap pasien wanita tersebut.
Terlihat 3 perawat sedang mendorong brankar yang atas brankarnya terbaring pasien wanita tadi dengan wajah tenangnya karena sudah terlelap akibat pengaruh obat.
Sedangkan sepasang suami istri paruh baya tersebut,langsung mengikuti 3 perawat tersebut,dengan sedikit berlari dan juga sang suami yang memeluk sang istri karena takut istrinya yang sudah lemah itu akan terjatuh akibat belum makan dari tadi dan terus menangis dari tadi,sambil terus menatap wajah tenang putri mereka dengan wajah bersalahnya.
Ryan yang masih berdiri di tempatnya tadi,hanya mampu mengusap wajah tampannya yang lelah dengan pelan.Kemudian tanpa sadar,ia menyentuh bibir tebalnya yang telah di cicipi oleh pasien wanita tadi.
"Kenapa aku malah memikirkan pasien wanita itu lagi.Aku harus segera pulang dan merendamkan tubuh lelahku ini,kalau perlu aku akan merendam kepalaku juga.Jika tidak,mungkin sebentar lagi aku akan menjadi gila,gara-gara pasien wanita itu" ucap Ryan,dengan suara pelannya,sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan untuk mengusir bayangan bibir pasien wanita yang telah mencicipi bibirnya tadi.
Lalu Ryan segera berbalik badan dan berjalan ke arah ruangannya untuk mengambil kunci mobil dan menukarkan Jas Dokternya dengan jaket kesayangannya,tanpa menyadari 2 perawat yang sibuk membersihkan ruangan tadi sudah keluar dan berdiri di depan pintu ruangan,sambil menatap sang Dokter dengan senyuman lucu karena telah mendengar ucapan pelannya sang Dokter.
"Mudah-mudahan saja, pasien wanita itu jodohnya Dokter Ryan.Aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana cara Dokter Ryan berpacaran" ucap salah satu perawat tersebut,dengan nada senang,sambil membayangkan gaya pacaran yang akan di lakukan oleh sang Dokter.
Karena mereka sama sekali tidak pernah melihat Dokter Ryan yang sudah menjadi idola mereka itu,mendekati wanita,bahkan belum ada wanita yang berhasil mendapatkan hatinya,apa lagi merasakan bibirnya.Jadi,ia menjadi sangat penasaran sekarang.
"Isi doa aku juga sama sepertimu,untung saja Dokter Ryan tidak menyuruh salah satu di antara kita untuk melakukan ide bagus dariku tadi.Aku juga tidak perlu mencuci kamar mandi di jam 12 tengah malam begini" ucap perawat yang satunya lagi,sambil tersenyum puas dan juga senang karena jebakan tidak langsung darinya berhasil dengan sempurna,bahkan ia tidak mendapatkan hukuman apapun dari Dokter Ryan.
"Hahaha,kamu memang pintar.Ayo sudah malam,kita juga harus beristirahat" ajak salah satu perawat tadi,sambil mengandeng temannya yang telah memberi ide bagus pada Dokter Ryan tadi.
Lalu 2 perawat tersebutpun langsung berjalan pergi dari sana,dengan wajah yang senang dan tertawa kecil bersama,karena sibuk melanjutkan pembicaraan mereka tentang Dokter Ryan tadi.
***
Hospital Medical Centre.
Keesokan paginya,Ryan yang sudah kembali berkerja dan sudah berada di depan rumah sakit,tempat ia berkerjapun segera berjalan masuk ke dalam rumah sakit,dengan wajah yang terus tersenyum sambil menyapa para perawat dan Dokter yang sedang berjalan berlawanan dengan dirinya.
Terlihat kemeja rapi yang berbalut jas kerja miliknya sedang melekat di tubuh berototnya dan senyum ramah yang terus menghiasi wajah tegasnya,menjadikan kadar ketampanannya menjadi berkali-kali lipat.
Setelah sampai di dalam ruangannya,ia segera menukarkan Jas kerja miliknya dengan Jas Dokternya dan duduk di kursi kebesarannya,sambil menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 7 pagi tepat.
Pagi hari ini,ia sedikit terlambat karena kelelahan akibat pasien wanita malam tadi.Biasanya jam 6 pagi ia sudah berada di rumah sakit,tapi lantaran ia memiliki posisi yang tinggi.Jadi,tidak akan ada yang berani menegurnya.
"Tok tok tok " terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.
"Masuk" jawab Ryan,tanpa mengalihkan tatapannya pada beberapa lembar hasil pemeriksaan dari salah satu pasiennya yang akan ia tangani beberapa menit lagi.
"Semua persiapannya sudah selesai,Dok.Karena Dokter juga sudah sampai,apakah operasinya sudah bisa kita mulai,Dok?" tanya perawat tersebut,sambil menunggu jawaban dari sang Dokter.
__ADS_1
"Baik,kalau begitu ayo kita mulai sekarang saja" jawab Ryan,dengan wajah seriusnya,sambil berdiri dari duduknya,lagi pula hanya tinggal beberapa menit saja jadwal operasinya.
Lalu ia segera berjalan keluar dari ruangan miliknya,sambil membawa lembar-lembaran hasil pemeriksaan dari salah satu pasiennya yang saat ini harus melakukan operasi pengangkatan usus buntu.
Beberapa jam kemudian...
Saat ini,jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.Ryan sedang duduk di kursi kebesarannya,ia baru saja selesai makan siang di kantin rumah sakit tadi,setelah ia selesai menangani beberapa operasi yang memang harus melibatkan dirinya.
"Tok tok tok" terdengar lagi,suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk" jawab Ryan,setelah ia selesai menghela napas dengan pelan karena merasa lelah,sambil menatap pintu ruangannya dengan wajah penasarannya.
"Ceklek" terdengar suara pintu yang di buka dari luar.
"Dok,kedua suami istri ini,ingin bertemu dengan anda..." ucap perawat yang sudah berada di dalam ruangan kerjanya Ryan tersebut.
"Silakan duduk dulu" ucap Ryan,dengan wajah penasarannya,sambil terus menatap wajah bingung dan malunya kedua orang tuanya pasien wanita yang telah merepotkannya semalam.
"Terima kasih Dok" ucap kedua orang tuanya pasien wanita tersebut ,dengan wajah yang bingung bercampur malu,sambil duduk berhadapan dengan Dokter pria tersebut.
"Mengapa atau ada apa kalian ingin bertemu denganku? Apa masih ada yang tidak bisa :kalian mengerti?" tanya Ryan,masih dengan wajah penasarannya.
Karena seingat dirinya,ketika sebelum ia sibuk di dalam operasi tadi,ia sudah menyuruh Asisten wanitanya untuk kembali memberi penjelasan secara detail tentang kondisi kesehatan pasien wanita semalam itu pada kedua oramg tuanya.
"Bukan begitu,Dok.Sebenarnya tujuan kami ingin bertemu dengan Dokter,karena kami hanya ingin meminta sedikit bantuan padamu Dok..." jawab wanita paruh baya tersebut,dengan nada ragu-ragunya,sambil terus menatap wajah sang Dokter dengan harap-harap cemas.
"Memangnya apa yang harus aku bantu? Selagi aku bisa,aku pasti akan membantu kalian semampuku" ucap Ryan,dengan wajah yang semakin penasaran.
"Kami ingin mintak bantuan sama Dokter,agar Dokter mau mendampingi putri kami sampai sembuh.Karena putri kami terus menolak untuk pergi ke klinik psikiatri" jawab pria paruh baya tersebut,dengan satu tarikan napas.
Ia juga merasa malu dengan permintaan konyolnya,tapi demi putri mereka,merekapun harus memberanikan diri, menebalkan muka mereka dan berusaha mengabulkan permintaan konyol yang menurut putri mereka,hanya permintaan kecil saja.
"Apa?" tanya Ryan,dengan wajah kagetnya,sambil berdiri dari duduknya.
"Apa kalian...Coba Tuan ulangi lagi,perkataan Tuan tadi..." ucap Ryan,ia yang awalnya ingin mengatakan kalau kedua suami istri yang ada di depannya itu tidak waras,tapi ia menelan kembali kata-katanya karena merasa kata-kata yang sudah ia telan kembali itu,terdengar sangat tidak sopan.
Terlebih lagi,kedua suami istri tersebut adalah orang tua.Jadi,ia memilih untuk mencoba mendengarnya kembali,mana tahu saja,pendengarannya sedang bermasalah.
Sedangkan perawat yang mengetuk pintu tadi,hanya tersenyum,saat melihat wajah kagetnya sang Dokter,walaupun ia juga ikut merasa kaget dengan permintaan mereka berdua.
"Dokter,kami ingin meminta bantuan darimu,agar mau mendampingi putri kami sampai sembuh" ulang sang suami,sambil menahan malu.
"Maafkan kelancangan kami ini,Dokter.Tapi ini kemauan dari putri kami,kami tidak mampu menolaknya" lanjut sang suami lagi,dengan wajah memohonnya.
"Kalau Dokter tidak mau membantu kami,putri kami mengancam kalau dia akan bunuh diri kembali setelah sudah sembuh nanti" lanjut sang Ibu lagi,sambil menangis,karena memikirkan putrinya yang akan kembali bunuh diri nanti.
__ADS_1
Kali ini putri mereka selamat,bagaimana kalau lain kali tidak bisa selamat.Dan ia tidak mau sampai putri mereka meninggalkan mereka,hanya gara-gara mereka tidak mau menuruti permintaan putri mereka.Sudah cukup,kesalahan mereka yang lalu,yang telah menyebabkan putri mereka bertekad ingin bunuh diri semalam.