Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 181


__ADS_3

Kedua orang tuanya Jo,memang tidak akan mempercayai siapapun sebelum mereka berdua mendengar langsung dari mulut putranya.


Karena mereka berdua selalu mengajarkan tanggung jawab pada putra mereka itu.Jadi,kalau itu memang bukan bayinya Jo,Jo pasti tidak akan mengakuinya.Dan mereka berdua sangat mempercayai putra mereka itu.


"Jadi,apa kalian percaya pada apa yang di katakan oleh wanita penggoda itu?" tanya Grandma,dengan wajah penasarannya,sambil menatap kedua orang tuanya Jo secara bergantian.


"Tidak"


"Tidak"


Jawab Kedua orang tuanya Jo,dengan serentak,kemudian mereka berdua saling menatap lalu tersenyum bersama dan di ikuti yang lainnya.


"Kami percaya sama Jonathan.Tapi sebaiknya kita tunggu saja penjelasan dari Jonathan terlebih dahulu,supaya bisa lebih jelas" lanjut Daddynya Jo lagi,dengan ekspresi wajah yang penuh keyakinan kalau putranya tidak akan berbuat sampai melewati batasnya.


Lagi pula kalau Jo benar-benar telah menghamili wanita penggoda tersebut,tidak mungkin tadi Jo sibuk menggila karena sibuk mencari wanitanya yang ternyata sedang berada di Mansionnya Kusuma dan bersama mereka.


"Iya.Aku juga ingin menanyakan tentang video yang telah wanita penggoda itu perlihatkan pada kami hari itu" timpal Mommynya Jo lagi,dengan wajah yang kembali menjadi kesal,karena ia kembali mengingat c**m*n panasnya Jo bersama wanita hamil tersebut di dalam video itu.


"Tante,jangan terlalu kesal,nanti darah tinggimu bisa naik kembali" ucap Hery dengan nada candanya,sambil tersenyum,saat ia melihat wajah kesal Mommynya Jo yang terlihat lucu di matanya.


"Kau ini,dasar anak nakal" ucap Mommynya Jo,dengan nada kesalnya,sambil melempar bantal yang ia punggungi dari tadi,ke arah Hery yang dengan sigap langsung menangkap bantal tersebut.


"Maafkan aku,tante.Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja" ucap Hery,sambil tertawa kecil dan menatap wajah Mommynya Jo yang masih saja tetap terlihat kesal.


Mommynya jo hanya mampu mendengkus kesal,saat tingkah nakal putra keluarga Kusuma tersebut sudah kembali kambuh.


Ia memang memiliki riwayat darah tinggi,berbanding terbalik dengan suaminya yang lebih sehat dari dirinya.


Sedangkan yang lainnya,menjadi ikut tertawa kecil termasuk Daddynya Jo, saat mereka semua melihat tingkah lucu 2 manusia beda usia tersebut.


"Hen,putramu ini sudah menikah,tapi nakalnya masih sama saja" ucap Mommynya Jo pada Daddy yang baru saja berhenti tertawa.


"Putraku itu hanya sama kamu saja,baru akan selalu seperti itu.Kamu cukup maklumi saja..." ucap Daddy,dengan wajah yang tersenyum,sambil mengingat-ngingat kembali masa-masa Hery sudah masuk perguruan tinggi dulu.


Dulu ketika di Paris,Hery selalu mendapatkan perhatian khusus dari Mommynya Jo dan Juga Mommynya Ryan,2 keluarga tersebut juga sering bertemu dengan Hery di bandingkan dirinya karena dirinya yang sibuk dengan urusan Perusahaan.


Bahkan Mommy dari kedua sahabatnya itu selalu membagi masakan mereka kepada Hery,makanan yang terasa seperti masakan seorang Mommy bagi Hery.Maka dari itu,Hery bisa langsung akrab dengan Mommynya Jo.


Apa lagi,dari dulu Hery sudah menganggap mereka berdua seperti Mommy kandungnya sendiri karena dirinya selalu mendapatkan perhatian khusus dari Mommy kedua sahabatnya itu.


"Apa kamu tidak bisa melihat...Kalau mereka berdua itu,like father like son?" tanya Grandpa yang dari tadi sama sekali belum mengeluarkan suara emasnya itupun,langsung bertanya dengan wajah tersenyumnya.


"Ya ya,perkataanmu itu memang benar Dad.Aku rasa,sebentar lagi darahku benar-benar akan naik kalau terus berdebat dengan cucu dan putramu ini" ucap Mommynya Jo,dengan nada candanya,sambil menatap malas ke arah wajahnya Hery yang terus tersenyum lebar.


Semuanya langsung kembali tertawa kecil,saat mereka semua mendengar candaan dari mommynya Jo.


"Sudah sudah,kalian ber 3 sama saja,like father like son" timpal Grandma yang di tujukan untuk cucu,putra dan suaminya.Ia berbicara dengan nada candanya sambil menggeleng-gelangkan kepalanya dengan pelan,tapi perkataanya memang benar adanya.


Grandma dan Daddy hanya mampu mendengkus kesal saja,saat mereka berdua mendengar perkataannya Grandma,sedangkan yang lainnya kembali tertawa kecil.


"Lalu,bagaimana menurut kalian dengan calon menantu pilihan putra kalian itu?" lanjut Grandma,setelah tawa mereka semua sudah mulai mereda.Ia sudah dari tadi ingin menantakan hal ini,tapi harus tertunda karena candaan dari duplikat-duplikat suaminya tadi.

__ADS_1


"Baik"


"Baik"


Jawab kedua orang tuanya Jo secara bersamaan dengan jujur,sambil tersenyum senang.


"Aku rasa juga begitu.Tapi aku menjadi sangat senang karena kalian berdua selalu kompak dalam berpendapat.Tidak seperti yang satunya lagi,tidak ada yang bisa ia ajak berpendapat" ucap Grandma yang sengaja menyindir putranya itu,dengan wajah yang tersenyum kesal,sambil menatap putranya yang kebetulan memang sedang menatapnya juga.


"Mom,kenapa kamu malah menatapku?" tanya Daddy dengan nada bingungnya,sambil menatap heran ke arah Grandma,karena masih belum menyadari sindiran dari Mommynya gara-gara ia baru saja sibuk membaca pesan dari anak buahnya yang memang terus melaporkan tentang Jo setiap saat.


"Hendri,apa kau tidak ingin seperti mereka berdua.Bisa bersama-sama memberikan pendapat tentang anak.Bisa....." ucapannya Grandma langsung terhenti,saat Daddy menyela dengan cepat.


"Mom,apa kamu tidak bosan terus menanyakan hal yang sama?" tanya Daddy dengan wajah kesalnya saat ia baru saja menyadari tatapan kesal yang Mommynya berikan padanya tadi.


Setelah selesai berbicara,ia segera meminum teh miliknya tadi yang belum ia sentuh sama sekali karena belum haus.Tapi saat ini,tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering karena mendengar pertanyaan Mommynya.


"Tidak" jawab Grandma dengan cepat.


"Apa kau tidak melihat,betapa bahagianya mereka berdua,karena selalu ada tempat saling bercerita,tempat saling berbagi pendapat,tempat saling berbagi cerita dan pastinya bisa menemanimu di hari tua nanti.Kau bisa melihat putramu sendiri atau putramu yang satu lagi Ars" lanjut Grandma lagi,dengan wajah yang tersenyum senang,sambil mengalihkan tatapan matanya ke arah kedua orang tuanya Jo.


Grandma merasa senang karena sibuk memikirkan,betapa bahagianya dirinya kalau putra satu-satunya dan sudah menjadi duda sekian lama itu bisa menikah lagi.


Daddy hanya mampu mendengkus kesal,saat ia mendengar perkataan panjang lebar Mommynya.Bahkan teh yang ia minum tadi hanya perlu sekali teguk saja karena sedang merasa kesal,itupun segelas teh yang ia minum tadi masih belum mampu membasahi tenggorokannya.


Sedangkan yang lainnya,langsung tertawa kecil,saat mereka melihat wajah kesalnya Daddy.


"Dan yang lebih bagusnya lagi,kau bisa berbagi ranjang bersama seseorang.Kecuali kalau kau sudah tidak memiliki gairah lagi,mungkin kau tidak akan memerlukan pendamping hidup lagi" lanjut Grandma lagi,dengan sengaja menggoda putranya,sambil tersenyum lebar ke arah wajah putranya yang semakin kesal.


"Mom...Apa kamu tidak punya pembahasan yang lain?" panggil Daddy dengan nada kesal yang panjang,sekalian bertanya pada Grandma,dengan wajah kesalnya.


Akhirnya mereka semuapun terus lanjut mengobrol tentang awal mulanya Desi yang sibuk mengejar Jo hingga sampai Jo menggila seperti sekarang,tentang resepsi pernikahan Ars dan Hery yang akan di laksanakan secara bersamaan dan juga tentang lamaran yang akan di utarakam oleh kedua orang tuanya Jo pada kedua orang tuanya Desi.


Hanya saja,Hery melewatkan hubungan terlarangnya Jo bersama Desi karena tidak ingin merusak suasana hati mereka yang bagus hari ini.


Mereka semua mengobrol dengan di sertai canda tawa sebelum Grandma benar-benar membiarkan kedua orang tuanya Jo untuk pergi beristirahat dari perjalanan panjang mereka berdua tadi,Daddynya Hery yang masih setia menduda tersebutpun tidak luput dari canda dan sindiran mereka semua.


Bahkan mereka semua tidak lagi memperdulikan dan mempertanyakan keberadaan Jonathan yang masih sibuk berada di jalanan dengan mobil yang tidak berhenti melaju karena sedang sibuk mencari calon istrinya yang menurut Jo,ntah menghilang kemana.


Sedangkan Ashley dan Agatha yang berada di kamar tamu dan sibuk menghibur Desi tadi,sekarang mereka ber 3 malah menjadi sibuk saling curhat,tanpa ingin tahu apa yang sedang di obrolkan oleh para orang tua yang ada di bawah sana.


***


(Untuk Jonathan,author biarkan dia mencari sampai frustasi dulu ya.Author mau beralih ke Ryan sejenak)😁.


Hospital


Besoknya di Hospital Medical Centre,semuanya masih berjalan seperti biasanya,tapi tidak dengan Ryan.


Karena dalam seminggu ini ia terus di ganggu oleh pasien wanita yang hari itu,tapi anehnya ia tidak terlalu begitu merasa risih dengan gangguan-gangguan yang diberikan oleh wanita tersebut,hanya saja sekali-kali ia merasa kesal gara-gara pikiran mesumnya wanita tersebut dan juga ia menjadi sedikit kerepotan akibat tingkah wanita tersebut.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang lewat 10 menit,Ryan yang baru saja keluar dari ruang operasi,langsung berjalan menuju ke arah lift untuk bisa ke ruang miliknya.

__ADS_1


"Dokter" panggil seorang wanita dari belakangnya Ryan,sambil berlari mengejar langkah lebarnya Ryan.


Ryan yang mendengar suara wanita tersebut,hanya mampu mendengkus kesal tanpa menghentikan langkah kakinya,karena ia sudah tahu siapa wanita tersebut melalui suara wanita tersebut yang memang sudah sangat ia hapal itu.


"Dokter,tunggu aku" lanjut wanita tersebut lagi,dengan nada tinggi dan cuek saja terhadap tatapan risih dan senyum lucu dari para perawat yang sedang berpapasan dengan mereka berdua.


Wanita tersebut segera mempercepat langkahnya,saat ia melihat Sang Dokter yang sudah berhasil masuk ke dalam lift dan juga pintu lift yang sudah mulai mau tertutup.


"Kritt"


"Krak"


"Achhkk"


Terdengar suara pintu lift yang sedang di tahan dan berlanjut dengan suara patahnya tumit sandal heelnya wanita tersebut dan serentak dengan suara pekikan tertahan dari mulut wanita tersebut karena hampir terjatuh kalau saja Ryan tidak segera menangkap tubuhnya yang barusan sedang kehilangan keseimbangan.


Beberapa perawat yang memang kebetulan ingin menaiki lift yang sama dengan Dokter Ryan,hanya mampu berdiri dan menatap pintu lift yang sudah tertutup itu dengan wajah tercengang dan rasa tidak percaya mereka dan juga tatapan iri gara-gara tidak bisa berada di posisi wanita yang ada di dalam lift tersebut.


Mereka semua jadi bertanya-tanya di dalam hati,apakah wanita tersebut sudah berhasil meluluhkan hati sang idola mereka.


Karena mereka melihat Dokter Ryan yang telah menjadi salah satu idola mereka itu,sedang berdiri di dalam lift,sambil memeluk seorang wanita dengan posisi tubuh wanita tersebut setengah miring yang berada di dalam pelukan Dokter Ryan.


Lalu kedua tangannya Dokter Ryan yang sedang berada di punggung dan pinggulnya wanita tersebut,bahkan bibir mereka berdua hanya berjarak 3 cm saja.Hingga membuat hati mereka menjadi iri sekalian meleleh karena mereka seperti baru saja menonton drama korea secara live.


"Apa kamu tidak bisa,kalau tidak merepotkanku sehari saja?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya,sambil menetralkan degupan jantungnya yang kembali tidak karuan seperti sebelum-sebelumnya,tanpa melepaskan pegangan kedua tangannya di tubuh wanita tersebut.


"Apa kamu ingin aku lepaskan saja tubuhmu ini?" tanya Ryan lagi,dengan wajah yang semakin kesal karena wanita tersebut terus menatap wajah dan bibirnya.


'Dasar mesum' kesal Ryan di dalam hati,karena ia sangat tahu apa yang sedang ada di dalam pikiran wanita tersebut.


"Ja jangan,aku tidak ma....." ucap wanita tersebut dengan cepat,tapi ia tidak mampu menyelesaikan kalimatnya barusan,karena bibirnya yang langsung bersentuhan dengan bibirnya Ryan gara-gara ia menarik tengkuk lehernya Ryan dengan kuat.


Sedangkan Ryan, langsung menjadi kaget.Tapi ia hanya diam saja,sambil menatap ke dalam matanya wanita tersebut.


Sedangkan wanita tersebut yang merasa tidak mau membuang kesempatan bagus ini begitu saja,ia segera menggerakkan bibirnya berniat untuk melahap bibir tebalnya Ryan,bibir yang telah membuat dirinya selalu membayangkannya di setiap waktu.


Tapi baru saja ia memejamkan kedua matanya dan berhasil ******* bibir tebal tersebut,saat lidah miliknya baru saja ingin menelusuri ke dalam rongga-rongga mulutnya Ryan,tiba-tiba saja......


"Ehm ehm" dehem beberapa dokter dan perawat lainnya,saat mereka semua yang sedang menunggu lift karena ingin turun ke lantai bawah,tapi mereka semua malah melihat permandangan yang tidak akan mereka semua sangkakan.


Ryan yang baru saja memejamkan kedua matanya dan mulai menikmati lumatannya wanita tersebutpun,langsung membuka kedua matanya kembali dan langsung melepaskan pegangan kedua tangannya di tubuhnya wanita tersebut karena merasa kaget.


"Achkk" terdengar pekikan tertahan dari mulut wanita tersebut,karena tubuhnya yang hampir saja akan terjatuh ke lantainya lift,untung saja pegangan kedua tangannya di tengkuk lehernya Ryan kembali menguat kembali saat ia langsung menyadari kalau tubuhnya akan terjatuh.


"Dokter" panggil wanita tersebut dengan nada kesalnya,sambil menatap wajah Sang Dokter yang sedikit tinggi darinya.


"Kenapa Dokter tega sekali? Kalau barusan aku terjatuh bagaimana? Apa salahnya memberitahuku terlebih dahulu,sebelum mau melepaskanku " lanjut wanita tersebut lagi,dengan wajah kesalnya dan bibir yang sedikit mengerucut ke depan.Bahkan ia masih tetap memeluk Ryan,tapi kali ini dengan posisi berdiri.


"Apakah kamu bisa sedikit menjauh dariku?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya dan wajah datarnya,sambil menahan degupan jantungnya yang dari tadi terus berdegup,malahan menjadi semakin kencang karena kedua gunung kembarnya wanita tersebut sama sekali tidak berjarak dengan dada kekarnya.


Walaupun ia memakai kemeja,tetap saja ia bisa merasakan betapa kenyalnya 2 buah gunung kembarnya wanita tersebut.Tapi ia bukan hanya harus menahan degupan jantungnya saja,ia juga harus berusaha menyembunyikan rasa malunya karena para pelaku deheman tadi sedang sibuk menatap dirinya dengan tatapan ekspresi yang berbeda-beda.

__ADS_1


"Memangnya kenapa harus menjauh?" tanya wanita tersebut yang tidak rela menjauh dari tubuh kekarnya Ryan,bahkan ia belum menyadari kalau banyak banyak pasang mata yang sedang memerhatikan mereka berdua.


"Kamu kenapa sih?" tanya wanita tersebut,saat ia melihat wajah kesal dan tatapan kode dari Sang Dokter yang menyuruh dirinya untuk menoleh ke arah belakang.


__ADS_2