
Di kamar miliknya Hery.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi,Hery sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja.Ia memasang jam tangannya dan lanjut dasinya,sambil menatap wajah terlelap istrinya,dengan wajah tersenyumnya.
Setelah semuanya sudah selesai,ia berjalan ke arah kasur tempat istrinya sedang terlelap,dengan wajah yang terus tersenyum.Sebelum ia pergi berkerja,ia harus memberi istrinya kecupan pagi terlebih dahulu.
Tapi baru saja ia ingin berjongkok di depan istrinya,terdengar bunyi nada dering HP miliknya.Herypun langsung mengambilnya,setelah ia sudah melihat siapa peneleponnya,ia segera berjalan ke arah balkon kamarnya sambil mengangkat teleponnya.
"Ada apa?" tanya Hery,dengan wajah datarnya kembali,setelah ia sudah mengangkat telepon tersebut,sambil berdiri di pagar balkon kamarnya.
Terlihat ekspresi wajahnya Hery yang begitu serius karena sedang sibuk mendengarkan laporan demi laporan dari si penelepon yang ternyata adalah Mark.
"Bagus" puji Hery,ternyata Mark hampir sama seperti Ars yang selalu bisa di andalkan.Bahkan Mark sekarang sudah berada di Paris selama 5 hari ke belakang dan sudah mendapatkan informasi yang ia inginkan dengan cepat,karena ia mengutuskan Mark untuk memata-matai kekasih Jonathan yang tidak terima di putusin oleh Jonathan kemaren.
Hery kembali mendengar laporan dari Mark,dengan wajah serius yang sudah berubah menjadi tersenyum penuh arti.
"Sekarang,kau harus perintahkan bawahan yang lain untuk fokus menjaga Desi saja.Untuk Jonathan,kalian tidak perlu begitu menjaganya.Karena Jonathan bukan anak kecil lagi,ia sudah mampu menjaga dirinya sendiri,apa lagi ia masih ada anak buahnya sendiri yang berada di sampingnya" perintah Hery,dengan nada tegasnya.
Setelah ia mendengar jawaban baik dari Mark,Hery langsung menutup sambungan telepon mereka.Lalu ia memasukkan Hpnya ke dalam saku celananya dan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi lewat 40 menit.
"Jonathan,karena kau sudah berani merepotkan aku.Jangan salahkan aku,kalau nanti aku akan membuat dirimu menderita karena sibuk mencari wanitamu sampai jungkir balik " gumam Hery,dengan wajah yang terus tersenyum penuh arti,arti yang hanya dirinya sendiri saja yang tahu.
Kemudian ia segera berjalan masuk ke dalam kamarnya kembali dan berjalan ke arah istrinya berada.Lalu ia langsung berjongkok di depan perut istrinya,dengan wajah yang tersenyum bahagia.
"Cup cup cup...Sayang,baik-baik di dalam sana ya dan sekalian jaga Mommymu untuk Daddy...Daddy ingin pergi berkerja dulu" ucap Hery,setelah sudah menc**m sayang perutnya Ashley yang masih berbalut selimut itu.
Ia dan keluarganya sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran bayi mereka.Bahkan ia sudah memikirkan beberapa nama yang cocok untuk bayi mereka.Hanya saja,ia belum tahu jenis kelamin bayi mereka,jadi ia belum bisa menentukan nama bayi mereka.
Hery segera beralih ke wajah terlelap istrinya dan menatap tanda-tanda merah yang terdapat di sekeliling leher istrinya,dengan wajah yang tersenyum bangga.
Ia tidak pernah absen untuk menggempuri istri tercintanya ini,bahkan sekarang tubuh seksi istrinya masih polos karena tadi malam ia kembali menggempur istrinya hingga jam 3 pagi.
Maka dari itu,saat ia menc**m perut istrinya,ia tidak mau membuka selimut yang ada di tubuh istrinya karena ia takut kalau benda di bawahnya akan terbangun nanti.
Sudah di pastikan,ia akan kesulitan untuk menjinakkannya nanti karena ia harus segera tiba di Perusahaan miliknya dan juga harus melakukkan meeting jam 9 pagi nanti.
Apa lagi,tidak ada Ars yang bisa menggantikannya,karena Ars sedang sibuk dengan penyeleksian atas hotel yang mau mereka pakai untuk resepsi nanti dan juga pengurusan yang lainnya.
"Cup cup...Honey,aku pergi berkerja dulu ya" pamit Hery pada istrinya yang masih sedang terlelap itu,setelah ia selesai mengecup lama bibir istrinya dan berlanjut dengan mengecup kening istrinya.
Sedangkan Ashley,hanya sedikit mengeliat saja.Ia terlihat sangat lelah karena pergumulan panas yang telah mereka lakukan malam tadi,hingga membuat dirinya tertidur dengan sangat pulas.
Herypun tersenyum,ia bisa memaklumi kelelahan yang di alami oleh istrinya.Lalu ia segera berdiri dari berjongkoknya dan berjalan keluar dari dalam kamarnya,menuju ke arah mobilnya berada.
Supir yang sedang menggantikan posisinya Ars untuk sementara itu,langsung melajukan mobil tersebut,saat ia melihat Tuannya sudah duduk dengan baik di dalam mobil.
__ADS_1
***
Hospital Medical Centre.
Sudah seminggu ini,kesabaran Ryan terus di uji oleh pasien wanita yang kemaren itu dan ia juga harus menginap di dalam rumah sakit selama seminggu ini.
Jika orang-orang yang tidak tahu apa-apa,pasti akan mengira kalau mereka berdua itu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.Tapi mereka semua tidak tahu,kalau sang Dokter melakukan semua itu dengan terpaksa.
Bagaimana tidak,selama seminggu ini Ryan harus terus berada di samping pasien wanita tersebut,saat ia sudah tidak memiliki jadwal perkerjaan lagi.Ia juga melakukan banyak hal untuk pasien wanita tersebut,dengan wajah kesalnya.
Contohnya,seperti mengingatkannya untuk minum obat,memapahnya ke kamar mandi,membacakan cerita untuknya dan menyuapinya makan dan masih banyak yang lainnya lagi,yang menurut Ryan,sangat merepotkan dirinya.
Seperti sekarang ini,Ryan sedang sibuk menyuapi pasien wanita kemaren yang mau buhuh diri itu.Ryan menyuapi wanita itu tanpa bersuara sama sekali,tapi ia menatap kesal ke arah wanita tersebut yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
Sedangkan wanita tersebut,terus menatap wajah kesalnya sang Dokter,sambil tersenyum manis.Tapi di dalam hatinya,ia tersenyum puas karena berhasil mengerjai sang Dokter tersebut.
Ketika ia sadar kemaren,kedua orang tuanya langsung mengajaknya untuk ke klinik psikiatri,setelah sudah keluar dari rumah sakit nanti.Tentu saja hal itu telah membuat dirinya kesal setengah mati,apakah Dokter pria itu berpikir kalau dirinya sudah gila.Makanya,ia akan membuat Dokter pria itu menjadi gila bersama dirinya.
Setelah lama terdiam,Ryan sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.Ryan kembali bersuara,tapi masih dengan wajah kesalnya.
"Apa kamu tidak merasa malu? Seperti anak kecil saja.Bahkan anak kecilpun mampu melakukan hal sekecil ini" ucap Ryan,dengan nada menyindirnya,sambil mengelap sisa makanan di sudut-sudut bibirnya wanita tersebut dengan menggunakan tisu,karena makanan yang ia suapkan sudah habis.Salah satu kegiatan yang harus ia lakukan selama seminggu ini.
Padahal tadi pagi,ia sengaja datang pada jam 8 pagi,karena jam sarapan pagi wanita tersebut jam 7.Tapi saat ia datang,ternyata wanita tersebut masih terus menunggu dirinya.Bahkan wanita tersebut mengancam,kalau dia tidak akan makan,kecuali hanya dirinya yang menyuapi.
Ia juga,tidak pernah merasa sekesal ini.Biasanya kalau berhadapan sama sahabat-sahabatnya,ia selalu bisa mengontrol rasa kesalnya.Tapi kali ini,dengan wanita tersebut,ia sudah tidak mampu untuk menahan rasa kesalnya lagi.
"Tidak" jawab wanita tersebut,sambil terus menatap wajah kesalnya sang Dokter.
Ntah kenapa,tiba-tiba saja jantungnya kembali berdetak lebih cepat,sama seperti yang sebelum-sebelumnya.Wajahnya juga sudah mulai memerah.
"Pletak.Wanita gi,,bodoh,apa yang sedang kamu tatap?" tanya Ryan,sambil mengetuk kening wanita tersebut dengan menggunakan lekukan jari telunjuknya,sedikit kuat.
Ia bertanya,dengan kening yang mengerut dalam,karena wanita tersebut terus menatap ke arahnya,padahal ia sudah selesai mengelap sisa makanan di mulut wanita tersebut.Bahkan,hampir saja ia menyebut gila pada wanita tersebut,karena merasa sangat kesal.
"Auchk,Dokter.Sakit tahu..." pekik wanita tersebut,sambil mengelus-elus keningnya yang terasa ngilu,akibat ketukan jari Dokter pria itu.
"Siapa yang suruh kamu melamun.Apa yang kamu tatap barusan?" tanya Ryan lagi,dengan wajah kesal yang bercampur penasaran,sambil menatap ke arah 2 perawat pria dan wanita yang berada di belakangnya dan sedang tersenyum ke arahnya.
"Ti tidak ada" jawab wanita tersebut,dengan gugup dan wajah yang semakin memerah.
'Kenapa aku menjadi sangat bodoh,kenapa lamunanku sampai ketahuan sama Dokter tampan ini.Bagaimana ini?' wanita tersebut terus merutuki dirinya sendiri di dalam hatinya,padahal selama 6 hari ke belakang,ia selalu berhasil menyembunyikan rasa terpesonanya pada Dokter tampan tersebut.
"Owh,aku tahu.Apa kamu sedang menatap pria ini?" tanya Ryan,sambil menunjuk ke arah perawat pria yang dari tadi sedang berdiri di belakangnya itu.
Wajah malunya wanita tersebut,langsung menjadi kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah lain,tapi secara tidak sengaja kedua matanya terarah ke tag namanya sang Dokter.
__ADS_1
'Ryan Pratama,ternyata namanya bagus juga seperti wajah tampannya' batin wanita tersebut,sambil terus tersenyum di dalam hati dan tetap bertahan dengan wajah kesalnya.
Sedangkan perawat pria tersebut,hanya mampu mendengus kesal saja,karena sang Dokter sama sekali tidak peka.Padahal yang di tatap oleh wanita tersebut bukan dirinya,tapi Sang Dokter sendiri,hanya saja Sang Dokter tidak menyadarinya.
'Di mana-mana,pria itu memang begitu,selalu tidak peka.Makanya pria yang bisa mengerti langsung apa yang di inginkan oleh pasangannya tanpa pasangannya bicara itu,sangat sulit untuk di temui.Mungkin saja,harus mencarinya sampai ke lubang semut' batin perawat wanita yang berdiri di sebelah perawat pria tersebut,sambil menghela napas dengan pelan,untuk beberapa kali.
"Kenapa kamu malah diam saja? Apakah berarti yang aku katakan tadi itu,memang benar.Apakah kamu memilihku untuk mendampingimu karena ingin mendekati pria ini? Kalau memang benar begitu,hari ini juga pria ini akan menggantikan aku untuk mengurus semua keperluanmu di sini,bagaimana? Jadi,kamu tidak perlu terus mencuri pandang lagi pada pria ini" lanjut Ryan lagi,wajah kesalnya langsung berubah menjadi senang,karena dapat menebak tatapan cinta wanita tersebut untuk perawat pria itu.Jadi,dengan begitu,ia bisa segera lepas dari kerepotan selama seminggu ini.
Lagi-lagi wanita tersebut dan kedua perawat itu,kembali mendengus kesal secara bersamaan,saat mereka ber 3 mendengar tebakan salah dari Sang Dokter.
"Tidak perlu" jawab wanita tersebut,dengan nada kesalnya,sambil membalikkan badannya kearah berlawanan dengan tempat Ryan duduk.
"Kalau kamu sedang meragukan keuangan pria ini,kamu tenang saja.Pria ini mampu untuk menghidupi kamu dan membeli barang-barang mahal untukmu"ucap Ryan,dengan nada semangatnya.Ia harus bisa mengambil kesempatan ini,lalu mengorbankan salah satu perawat prianya untuk melepaskan dirinya sendiri.
'Kalau perlu,aku akan memberikan semua tabunganku untuk kalian.Supaya wanita gila ini tidak akan bisa mengangguku lagi' batin Ryan.
'Apa Dokter gila ini berpikir,kalau aku ini hanya menginginkan uang dan kemewahan saja' batin wanita tersebut,dengan wajah yang kesal.
"Kamu bisa mencobanya terlebih dahulu.Aku yakin,pria ini pasti akan bisa mengurusmu lebih baik dari aku.Dan juga,cepat lambat kalian pasti akan bisa bersatu" lanjut Ryan lagi,saat ia melihat wanita tersebut hanya diam saja.Ia berbicara,sambil berdiri dari duduknya dan menyuruh perawat pria itu untuk duduk di posisinya tadi.
Ryan yang memang tidak begitu ingin mengenal kata cinta terlebih dahulu,karena ia lebih memilih untuk mengejar kariernya terlebih dahulu.Jadi begitulah,cara bicaranya.Tidak terdengar manis,ia hanya pandai ceplas-ceplos saja.
"Kalau begitu,aku akan pergi terlebih dahulu ya.Semoga kalian berhasil..." lanjut Ryan lagi,dengan wajah yang tersenyum senang karena ia mengira kalau rencananya sudah berhasil.
"Selangkah saja kamu keluar dari ruangan ini,aku pastikan kamu akan segera melihat mayatku" ucap wanita tersebut,dengan nada tingginya,saat langkah kakinya Ryan yang sudah hampir melewati batasan pintu keluar ruangan tersebut.
Ryan kembali mendengus kesal,saat ia mendengar wanita tersebut telah mengeluarkan ancaman terkuatnya.Lalu iapun langsung berbalik badan dan berjalan ke arah ranjang pasien wanita tersebut,dengan wajah pasrahnya yang bercampur kesal dan langkah tidak bersemangatnya.
Sedangkan perawat pria yang hanya bisa pasrah tadi,langsung kembali ke posisinya semula,sambil menahan tawanya,begitu juga dengan perawat wanita tersebut.
"Apa maumu sebenarnya? " tanya Ryan,sambil duduk di kursi yang ia duduki tadi,sambil menatap wajah kesalnya wanita tersebut yang sudah berbalik badan dan berhadapan dengannya.
"Apa yang kamu inginkan,uang,mobil,rumah atau Apartemen mewah? Katakan saja,aku pasti akan mampu membelikannya untukmu.Tapi kamu harus berjanji,jangan mengangguku lagi" tanya Ryan,dengan nada kesalnya.Ia sudah menyerah untuk bersikap baik.
Bisa saja ia langsung mengusir wanita tersebut dari rumah sakit ini.Apa lagi,Hery berserta keluarga Kusuma pasti akan selalu mendukung apapun yang ingin ia lakukan.Hanya saja,ia tidak mau terlalu membuat keributan.
"Atau kamu menginginkan Mansion yang mewah? Aku juga sanggup membelikannya untukmu" tanya Ryan lagi,karena wanita tersebut hanya diam saja,dengan wajah kesalnya.
"Aku tidak mau apa-apa" jawab wanita tersebut,dengan nada kesalnya,sambil terus menatap wajah kesalnya Dokter tampan tersebut.
"Kalau kamu tidak menginginkan apa-apa,lalu buat apa kamu mengangguku sampai seperti ini? Cepat katakan saja,tidak perlu malu-malu.Aku pasti sanggup mengabulkan permintaanmu" tanya Ryan,dengan nada putus asanya,karena wanita tersebut malah tidak tergiur dengan penawarannya tadi.
'Anggap saja,aku ini jin pengabul 3 permintaan' batin Ryan dengan wajah kesalny.
"Baiklah,aku hanya menginginkan hatimu saja.Bagaimana?" tanya wanita tersebut,dengan wajah kesal yang sudah berubah menjadi tersenyum jahil.
__ADS_1