
Sedangkan Ryan hanya mampu mendengus kesal,sambil duduk di kursi kebesarannya dengan malas,saat ia mendengar kalimat demi kalimat dari kedua suami istri paruh baya tersebut.
Kemudian ia menghela napas dengan berat,lalu ia memijit pangkal hidungnya untuk beberapa saat.Selama 2 tahun ia berkerja di sini,ia sudah biasa mendapatkan pertanyaan yang tidak masuk akal dari para pasiennya dan juga permintaan tidak masuk akal dari para wanita yang sedang mengejar dirinya.
Tapi kali ini berbeda,ia malah mendapatkan permintaan tidak masuk akal dari kedua orang tua dari pasiennya.Apa lagi,saat ia melihat wajah memohon kedua orang tua tersebut.Hingga membuat dirinya semakin bingung,bagaimana caranya ia menolak permintaannya mereka berdua.
"Dokter,aku mohon,tolong kami satu kali ini saja.Setelah putri kami benar-benar tidak berniat untuk bunuh diri lagi,kami akan segera membawanya pulang dan tidak akan merepotkan dokter lagi" lanjut sang istri lagi dengan janjinya,saat ia melihat sang Dokter yang hanya diam saja dengan wajah kesal yang bercampur bingung.
"Kami akan melakukan apapun yang Dokter inginkan..." lanjut sang istri lagi,dengan wajah yang sudah di penuhi air mata,hingga membuat Ryan menjadi semakin serba salah.
"Iya Dokter,kami juga akan membayar seberapa banyakpun,biaya yang akan Dokter minta" timpal sang suami yang sedang sibuk menahan rasa malunya dari tadi.
"Tuan,Nyonya, aku tidak memerlukan atau meminta apapun dari kalian.Aku hanya ingin bertanya sama kalian,apa aku terlihat seperti seorang Psikiater? " tanya Ryan,dengan wajah seriusnya,sambil menahan rasa kesalnya.
'Apa kalian berdua pikir,aku sedang kekurangan uang atau apapun itu' kesal Ryan,di dalam hatinya.
"Tuan,Nyonya,aku ini seorang Dokter bedah,tapi kalian malah memintaku untuk mendampingi putri kalian sampai sembuh...Apa kalian tidak berpikir dengan baik terlebih dahulu,sebelum kalian meminta permintaan seperti ini padaku?" lanjut Ryan lagi,sambil berdiri dari duduknya dan berputar dengan pelan untuk beberapa kali,supaya kedua orang tua tersebut bisa melihat kalau dirinya adalah seorang Dokter bukan seorang Psikiater,terlihat jelas dengan tubuhnya yang berbalut Jas Dokter.
'Apa mereka pikir,aku ini orang yang sangat santai dan tidak punya perkerjaan lain,selain hanya bisa mengurus putri mereka saja' Ryan menggerutu kesal di dalam hatinya.
"Tidak apa-apa,Dokter.Karena hanya Dokter yang putri kami inginkan.Kami sudah berusaha membujuknya,tapi putri kami tetap saja hanya menginginkan Dokter saja..." jawab sang istri,dengan air mata yang terus mengalir,sambil menyandarkan kepala lelahnya ke dada tua suaminya yang sedang memeluk dan mengelus-elus pelan punggungnya.
Ryan yang sibuk berputar pelan tadi,segera menghentikan putarannya dan menatap kedua orang tua tersebut dengan kening yang berkerut dalam,saat ia mendengar kalau putri mereka hanya menginginkan dirinya saja.
'Apa pasien wanita itu benar-benar sudah gila...Apa maksud wanita bodoh itu dan apa yang sebenarnya dia inginkan' pikir Ryan,Ryan tidak habis pikir dengan tingkah bodoh pasien wanita tersebut yang sudah berubah menjadi konyol sekarang.
Ryan menggusar rambutnya,dengan wajah frustasinya karena melihat Ibunya pasien wanita tersebut terus menangis,malahan air matanya semakin deras.Hingga mampu membuat dirinya menjadi tidak tega,ia kembali menghela napas dengan berat seperti orang yang sedang menahan beban berton-ton.
"Baiklah,aku akan mencobanya" putus Ryan akhirnya,dengan wajah pasrahnya,sambil terus menatap kedua orang tua tersebut.
"Benarkah Dokter?" tanya sang istri,dengan nada senangnya.
"Iya,aku akan mencobanya terlebih dahulu.Jika kondisi mentalnya tidak membaik juga,kalian berdua harus segera membawanya untuk mencari Psikiater" jawab Ryan,dengan nada malasnya tapi wajahnya terlihat serius.
"Baik,terima kasih banyak Dokter.Kami tidak akan melupakan kebaikan Dokter " ucap kedua orang tua tersebut secara serentak,dengan wajah yang tersenyum senang.
"Hm" jawab Ryan,dengan singkat.
"Kalau begitu,kami akan segera mengemasi barang-barang kami dan pulang terlebih dahulu.Kami akan datang menjenguk putri kami setiap hari pada siang hari saja.Ayo,Ayah" ucap sang istri,dengan nada semangatnya.Sedangkan sang suami hanya tersenyum senang saja,tidak sebegitu semangat seperti istrinya tapi ia ikut merasa senang karena masalah tentang putri mereka sudah ada yang akan mengurusnya,ia hanya berharap kalau putri mereka benar-benar akan sembuh dan tidak berniat untuk bunuh diri lagi.Lalu mereka berdua segera berdiri dari duduknya mereka dan berjalan keluar tanpa menunggu jawabannya Ryan lagi.
__ADS_1
"Eh eh,apa kalian sedang bercanda?" tanya Ryan,saat ia baru saja selesai mencerna kata-kata Ibu dari pasien wanita tersebut,sambil berdiri dari duduknya.
Tapi terlambat,karena kedua orang tua tersebut sudah menghilang di balik pintu ruangannya.Ryan hanya mampu kembali duduk bersandar dan memijit pangkal hidungnya yang terasa semakin pusing saja,sambil memejamkan kedua matanya.
"Ternyata,putri dan kedua orang tuanya sama-sama tidak waras" gumam Ryan,dengan nada kesalnya tanpa menghentikan pijitan di pangkal hidungnya.
Beberapa saat kemudian,ia menghentikan pijitan di pangkal hidungnya,membuka kedua matanya dan juga mengangkat kepalanya.Tatapannya langsung menjadi kesal,saat ia baru saja menyadari kalau perawat wanita yang mengantar kedua orang tua tersebut masih berdiri di tempatnya tadi.
"Jika kamu masih ingin berdiri di sana dan juga berani menertawakanku.Aku akan membuat dirimu lembur,sampai 3 hari ke depan" ucap Ryan,dengan nada tegasnya,pada perawat yang ternyata perawat wanita semalam yang telah memberinya ide gila itu.
Ia berbicara,dengan nada kesalnya,sambil menatap tajam ke arah perawat tersebut yang sedang tersenyum-senyum sendiri tanpa berniat untuk keluar dari ruangannya padahal sepasang suami istri paruh baya tadi sudah keluar ntah sudah sampai mana.
"A aku akan segera keluar,Dokter" ucap perawat tersebut,setelah baru saja tersadar dari lamunan manisnya,ia segera keluar dari ruangannya Dokter Ryan dengan sedikit berlari.Ia terlalu sibuk membayangkan akan bagaimana bucinnya salah satu idolanya,yaitu bucin Dokter Ryan terhadap pasien wanita semalam.
Lalu bagaimana serunya,kalau salah satu teman serekannya yang tidak ia sukai dan sombong itu menjadi kesal karena merasa cemburu dengan kebersamaan Dokter Ryan bersama pasien wanita tersebut.
Tapi karena terlalu asyik membayangkan semua itu,ia sampai tidak menyadari kalau kedua orang tua yang ia antar tadi,sudah keluar dari ruangan Dokter Ryan.
"Dasar perawat tidak tahu terima kasih,lain kali aku tidak akan mau menolong kalian lagi kalau kalian sedang tertimpa masalah nanti" umpat Ryan,dengan menggerutu kesal.
Apa lagi,saat ia baru menyadari atas kesengajaan perawat tersebut yang secara tidak langsung telah menjebaknya tadi malam dan 4 perawat yang lainnya juga ikut menertawainya.
Padahal selama di sini,ia sudah akrab dan banyak membantu 5 perawat tersebut.Contohnya dengan membantu membayar sedikit hutang mereka,kadang-kadang Ryan juga suka mentraktir mereka,kadang-kadang juga suka membeli mainan untuk anak-anak mereka.Tapi apa yang ia dapat,ia malah mendapatkan jebakan yang membuat dirinya menjadi semakin repot.
"Kenapa hidupku tiba-tiba menjadi kacau,hanya dalam semalam saja" gumam Ryan lagi,dengan nada kesalnya,sambil mengusap wajahnya dengan pelan.
Kemudian ia segera melanjutkan perkerjaannya,lalu dengan wajah tidak bersemangatnya ia memeriksa hasil-hasil pemeriksaan pasien yang masih tersisa 2 orang yang harus ia tangani untuk sore hingga malam hari nanti.
***
Di kediaman keluarga Wijaya.
Kedua orang tuanya Agatha sedang duduk di ruang tamu dengan wajah yang terus tersenyum bahagia dari tadi,karena putrinya sebentar lagi akan di lamar oleh salah satu pria hebat yang mereka kagumi,tentunya juga baik,bisa menjaga dan menyayangi putri mereka.
Mereka berdua yang malam semalam telah di beritahu oleh putri mereka,tentang kabar baik ini.Mereka berduapun segera menyiapkan makanan yang terbaik untuk menyambut kedatangan keluarga yang berpengaruh tersebut.
Sedangkan Agatha,duduk di samping Ibunya dengan wajah gugupnya,sambil terus menatap pintu rumahnya yang memang sudah terbuka lebar karena ingin menyambut kedatangan keluarga calon suaminya.
Ia juga merasa senang karena kedua orang tuanya yang tidak mempermasalahkan status yatim piatunya Ars,tapi ia tetap saja gugup karena akan di lamar oleh pria yang ia cintai,hanya saja ia tidak seperti sahabatnya Ashley yang ketika akan di lamar malah menjadi gugup sampai sibuk mondar-mandir tidak jelas.
__ADS_1
Sudah 1 jam lamanya mereka ber 3 menunggu,karena mereka ber 3 bersiap-siap terlalu cepat,mungkin karena terlalu bersemangat dan juga bahagia.
Beberapa saat kemudian,terdengar suara beberapa mobil mahal yang sedang berhenti di depan rumahnya keluarga Wijaya,jam di dinding juga sudah menunjukkan tepat pukul 7 malam.
Agatha dan kedua orang tuanya segera berdiri dari duduk mereka dan berjalan ke arah pintu utama ,saat mereka mendengar suara mobil tersebut.
Terlihat satu persatu keluarga Kusuma yang keluar dari dalam mobil mahal tersebut,termasuk juga Ars,Ashley dan Hery dan juga para orang tua.
Setelah mereka semua sudah keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah pintu utama,Agatha dan kedua orang tuanya segera menyambut dengan wajah yang tersenyum senang,kecuali Agatha yang sedang tersenyum gugup.
"Tuan besar,Nyonya besar,Tuan,Tuan dan Nona,silakan masuk.Kami sudah menyediakan makan malam yang terbaik untuk kalian semua" sambut Ayahnya Agatha,dengan nada senangnya,saat ia melihat keluarga berpengaruh tersebut memang ada di depan rumahnya saat ini,karena ia sempat merasa tidak percaya pada ucapan putrinya malam semalam.
"Iya,semoga saja makanan-makanan terbaik yang sudah kami siapkan,tidak akan mengecewakan kalian semua" lanjut Ibunya Agatha,dengan wajah yang tersenyum bahagia juga,sambil sedikit menundukkan kepalanya,begitu juga dengan suaminya.
"Kalian tidak perlu begitu sungkan sama kami dan juga tidak perlu terlalu repot-repot,kami semua tidak pernah memilih soal makanan.Kami datang sebagai keluarga,karena sebentar lagi kita akan menjadi keluarga juga" ucap Grandma,dengan wajah yang terus tersenyum bahagia,sambil mengandeng tangan suaminya dan menatap sekilas ke arah wajah tersenyum gugupnya Agatha yang terlihat cantik di matanya.
"Tidak apa-apa,kami tidak merasa di repotkan sama sekali Nyonya.Ayo Tuan besar,Nyonya,dan yang lainnya,silakan masuk" ucap kedua orang tuanya Agatha secara serentak,sambil merentangkan sebelah tangannya dan sedikit mundur,untuk memberi jalan masuk pada keluarganya Kusuma.
Keluarga Kusumapun langsung masuk,dengan ekspresi khas masing-masing.Sedangkan Ashley segera memeluk Agatha,dengan wajah yang tersenyum bahagia,saat hanya mereka saja yang tertinggal di belakang dengan suaminya yang terus berada di sampingnya.
Di ruang makan,terlihat mereka semua yang sudah duduk dengan rapi dan memulai makan malam mereka dengan lahap dan tanpa suara sama sekali,karena 2 keluarga tersebut sama-sama tidak menyukai adanya keributan di saat sedang makan bersama.
Tapi tiba-tiba saja suaranya Grandma,langsung menghentikan gerakan makan-memakannya semua orang,terutama Ars dan juga Agatha.
"Apa kalian belum puas lagi,saling menatapnya.Sudah dari teras rumah tadi,Grandma melihat kalian saling menatap.Seperti sudah lama tidak bertemu saja,padahal setiap hari juga bertemu di kantor" tegur Grandma,dengan wajah kesalnya,karena acara makan malamnya terganggu dengan tatapan cinta mereka berdua.
Ars dan Agatha langsung menjadi salah tingkah dan menggaruk-garukkan tengkuk mereka yang tidak gatal,dengan wajah yang memerah karena merasa malu.
Sedangkan yang lainnya,hanya bisa menahan senyuman mereka saja,saat mereka melihat salah tingkahnya sepasang anak muda yang akan menikah itu.
"Apa perlu,kalian berdua Grandma nikahkan besok saja...Jadi,kamu tidak perlu takut lagi,kalau calon istrimu akan hilang dari pandanganmu" lanjut Grandma lagi,dengan nada menyindirnya dan wajah kesal yang sudah berkurang.Ia malah menjadi ikut menahan senyum,saat melihat wajah malunya Ars dna juga Agatha.
"Tidak perlu,Grandma" jawab Ars,dengan cepat,sambil menatap ke arah Grandma dengan wajah memohonnya.
Bagaimana jadinya,kalau Grandma memang benar-benar menikahkan mereka berdua besok.Sedangkan ia belum mempersiapakan apa-apa lagi selain hanya hadiah untuk calon mertuanya saja,ia kan ingin membuat pernikahan yang megah juga untuk Agatha.
"Ya sudah,kalau begitu ayo kita makan lagi.Kalian harus bisa bersabar sampai kalian sudah menikah nanti,baru kalian berdua bisa saling menatap sampai sepuas kalian" ucap Grandma,dengan nada menyindirnya lagi dan masih menahan senyumnya,begitu juga dengan yang lainnya.
Kemudian Grandma menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan,lalu iapun segera melanjutkan makan malamnya dan di ikuti dengan yang lainnya.
__ADS_1
Sedangkan Ars dan Agatha,hanya mampu berusaha menetralkan rasa malu mereka saja,karena lagi-lagi Grandma kembali menyindir mereka berdua.
Tapi kedua tangan mereka berdua tetap mengikuti Grandma dan yang lainnya,memakan makan malam yang belum sempat mereka sentuh karena sedang sibuk saling menatap dengan penuh cinta tadi.