
Ternyata yang ia pikirkan tadi salah,bahkan ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya tentang hasil pengecekannya barusan,tapi Jo malah sudah lebih dulu marah-marah padanya.
"Apa kau......" kelanjutan ucapan marahnya Jopun langsung terhenti karena di sela oleb Ryan.
"Hentikan,apa kau perlu sampai berlebihan seperti itu?" tanya Ryan dengan nada kesalnya,sambil menyerahkan alat Dokternya pada salah satu perawat yang ada di sana.
"Berlebihan apanya,perkataan kau tadi tidak masuk akal.Bahkan,wanitaku sampai muntah-muntah tadi hingga akhirnya tidak sadarkan diri" jawab Jo dengan wajah kesalnya,sambil menatap wajah pucatnya Desi dan wajah kesalnya Ryan secara bergantian.
"Tidak masuk akal apanya,kau bahkan tidak membiarkan aku untuk melanjutkan perkataanku tadi" jawab Ryan,dengan wajah yang semakin kesal,sambil bercekak pinggang ke arah Jo dan memikirkan kata muntah dari Jo barusan.
"Benarkah?" tanya Jo dengan kedua mata yang menelisik ke arah wajah kesalnya Ryan.
Ryanpun langsung menghela napas dengan pelan,lalu ia kembali menurunkan kedua tangannya ke tempat semula,sambil menatap kesal ke arah Jo.
"Wanitamu ini hanya sedang syok saja,sebentar lagi pasti akan sadar.Sebenarnya apa yang telah terjadi,kenapa wanitamu bisa sampai muntah-muntah dan tidak sadarkan diri?" tanya Ryan dan mengabaikan pertanyaannya Jo,sambil menatap penasaran ke arah wajah pucatnya Desi.
"Semua ini gara-gara Tuan Muda arogan itu,jika saja aku bisa menyiksa dia terlebih dahulu,mungkin saja wanitaku tidak akan berakhir seperti ini" jawab Jo,dengan wajah kesalnya,sambil mengambil kursi,lalu ia letakkan di sampingnya Desi dan mendudukinya dengan agak kasar.
"Apa maksudmu yang sebenarnya? Jangan membuatku menjadi semakin penasaran dan bingung saja" ucap Ryan dengan wajah yang ikut-ikutan kesal,sambil mengalihkan pandangannya ke arah wajah kesalnya Jo.
"Tadi siang Hery membawa Desi ke markasnya.Padahal aku hanya............................." jawab Jo dengan panjang lebar,ia menceritakan semuanya pada Ryan, dari awal Desi bertemu sama wanita hamil tersebut,lalu menghilang dan sampai Desi tidak sadarkan diri tadi.
Sedangkan Ryan,ia langsung memutar kedua bola matanya dengan malas.
Ia mengira kalau masalah yang sedang di hadapi oleh Jo sangat serius sampai membuat Desi menjadi seperti ini,tapi ternyata hanya pertengkaran kecil yang di lakukan oleh 2 pria konyol tersebut.
"Jaga baik-baik wanitamu,jangan sampai membuat wanitamu syok lagi.Aku mau pergi berisitirahat dulu" ucap Ryan,dengan nada malasnya,lalu ia langsung berjalan ke arah keluar ruangan.
"Ryan Pratama" panggil Jo dengan nada kesalnya,hingga mampu menghentikan langkah kakinya Ryan yang sudah hampir mencapai luar ruangan.
"Apa kau tidak bisa menghargai sahabatmu sedikitpun?" tanya Jo dengan nada yang semakin kesal,sambil berdiri dari duduknya dan menatap punggung lebarnya Ryan.
Padahal ia sudah berbicara panjang lebar,tapi apa yang ia dapatkan dari sahabat pendengarnya itu.Ia bukan mendapatkan kata-kata penenang atau penghibur,tapi sahabatnya itu malah pergi tanpa mengatakan apa-apa tentang yang ia ceritakan barusan.
"Bagaimana caranya,aku harus menghargai sahabat seperti kau atau kalian berdua? Apa aku harus berkata hal-hal baik tentang tingkah-tingkah kalian berdua yang sudah seperti anak kecil itu? " tanya Ryan,masih dengan wajah malasnya sambil berbalik badan dan menatap wajah kesalnya Jo.
Ia sudah bosan melihat tingkah 2 pria tersebut,yang tidak pernah berubah dari dulu.Jika bertemu,mereka berdua selalu bertingkah seperti anak kecil seperti ini.Makanya dari itu,ia lebih suka menghindar dari pada harus terlibat di dalam pertikaian anak kecil dan dunia hitam mereka berdua.
"Bukan seperti itu juga.Lagi pula,dia yang mulai duluan.Tidak mungkin kan aku harus diam saja,sementara dia sibuk menyembunyikan wanitaku dan sedang menertawakanku di kejauhan sana,ia juga sudah membuatku menjadi seperti orang gila" jawab Jo dengan memberengut kesal,sambil kembali duduk dengan kasar.
"Dan satu lagi,aku bukan anak kecil" lanjut Jo lagi dengan wajah kesalnya,tanpa menatap ke arah Ryan.
Ryan kembali mendengkus kesal saat ia mendengar perkataannya Jo,walaupun perkataannya Jo ada benarnya juga tapi tetap saja tingkah mereka berdua sama-sama seperti anak kecil.
"Kenapa kau tidak mencoba untuk mencari kesempatan supaya bisa bertemu atau langsung menelepon Daddy atau Grandma saja? Dari pada kau harus menantang Tuan muda itu" ucap Ryan dengan nada seriusnya.
Sedangkan Jo,ia hanya diam saja dengan wajah kesal yang sudah mulai berkurang,karena apa yang di katakan oleh Ryan ada benarnya juga.
__ADS_1
"Sudahlah,aku sudah bosan melihat kalian berdua seperti ini" lanjut Ryan lagi,dengan nada malasnya,sambil berbalik badan.
Ia yang berniat ingin melangkah keluar,kembali mengurungkan niatnya,saat ia teringat kalau masih ada hasil dari pengecekannya Desi yang belum ia sampaikan pada Jo,tentang rasa mual yang di rasakan oleh Desi tadi dan kenapa Desi bisa sampai tidak sadarkan diri.
"Ingat pesanku baik-baik,kau harus jaga wanitamu baik-baik.Jangan biarkan dia menjadi syok lagi,jangan sampai biarkan dia kelelahan dan juga jangan sampai biarkan dia banyak pikiran,Dan satu lagi,setelah wanitamu sudah sadar nanti,bawalah dia cek ke Dokter kandungan supaya kau bisa tahu apa penyebabnya dia bisa sampai muntah-muntah dan tidak sadarkan diri" tambah Ryan lagi dengan nada santainya,lalu ia langsung berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari Jo lagi.
Saat ia mendengar ceritanya Jo tadi,semangatnya untuk memberitahu kabar baik tersebut pada Jo jadi langsung menghilang begitu saja.Jadi karena sudah malas berbicara banyak,iapun langsung memberitahu Jo dengan kalimat yang secukupnya saja.
"Hei,tunggu dulu" seru Jo dengan wajah bingungnya,sambil berdiri.Ia langsung mendengkus kesal,saat ia melihat Ryan yang ternyata sudah menghilang dari hadapannya saat ini.
Kemudian ia kembali duduk,lalu ia menatap wajah pucatnya Desi sambil mencerna parkataannya Ryan tadi.
Beberapa saat kemudian...
Ia langsung tersenyum bahagia,saat ia sudah berhasil mencerna semua perkataannya Ryan tadi.Kemudian ia segera mengecup keningnya Desi yang masih belum sadarkan diri,lalu ia mengambil tangannya Desi dan mengelus-elusnya dengan lembut.
Beberapa puluh menit berlalu,karena tubuhnya juga terasa sangat lelah,Jopun sampai tertidur di tangannya Desi dengan posisi duduk.
Terlihat Desi yang sudah mulai sadarkan diri dan mengerjap-gerjapkan kedua matanya dengan pelan,sambil memerhatikan sekitar tempat ruangannya berada.
Saat ia ingin menggerakan tangannya,ia merasakan seperti ada beban di tangannya,lalu iapun segera menoleh ke arah sampingnya untuk melihat apa penyebab tangannya menjadi terasa berat.
"Jo" panggil Desi dengan nada lemahnya,sambil menatap wajah tampannya Jo yang terlihat lelah itu, sedang terlelap dengan beralaskan sebelah tangannya.
Karena suaranya terlalu pelan,hingga lelapnya Jo sama sekali tidak terganggu,mungkin juga karena memang sedang sangat lelah akibat kejadian-kejadian sebelumnya.
Lalu ia mengangkat sebelah tangannya lagi untuk mengelus pucuk kepalanya Jo dengan pelan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Jo dengan suara ngantuknya,saat ia yang langsung terbangun karena elusan tangannya Desi di pucuk kepalanya.
Sedangkan Desi,ia langsung mengangguk pelan tanpa mengalihkan tatapannya dari wajahnya Jo yang selalu terlihat tampan di matanya,walaupun wajah ngantuk sekalipun.
"Syukurlah,cup cup cup cup cup" ucap jo dengan wajah yang tersenyum senang,saat kesadarannya sudah terkumpul,sambil mengecup seluruh wajahnya Desi yang sudah tidak sepucat tadi lagi.
Desi yang masih lemah itupun,terus tersenyum senang saat ia mendapatkan kecupan yang bertubi-tubi dari Jo.
"Ini minumlah sedikit" lanjut Jo lagi,sambil menyodorkan segelas air putih yang baru saja ia ambil.Desipun langsung meminumnya,setelah Jo membantunya untuk mengubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk.
"Aku ada di mana?" tanya Desi dengan nada pelannya setelah ia selesai minum,sambil mengamati setiap sudut ruangan tersebut.
"Kamu ada di rumah sakit.Apa kamu tidak tahu,seberapa khawatirnya aku saat melihatmu tidak sadarkan diri tadi" jawab Jo dengan panjang lebar dan wajah seriusnya,sambil terus mengenggam tangannya Desi.
"Maaf" ucap Desi dengan wajah bersalahnya,saat ia melihat wajah seriusnya Jo yang menandakan kalau pria itu memang sangat mengkhawatirkan dirinya tadi.
"Sudah, tidak apa-apa.Yang terpenting,sekarang kamu sudah baik-baik saja.Cup..." jawab Jo dengan suara lembutnya,lalu ia kembali mengecup keningnya Desi.
Desipun kembali tersenyum senang saat ia mendapatkan kecupan dari Jo lagi.Tapi beberapa detik kemudian,senyumnya langsung menghilang karena baru saja ia teringat sesuatu.
__ADS_1
"Aku baru teringat,kenapa kamu bisa sampai berada di tempat mengerikan seperti itu? Kamu juga berniat ingin membunuh wanita hamil itu.Apa sekarang kamu sudah gila?" tanya Desi dengan nada kesalnya,sambil menatap wajah bingungnya Jo.
"Itu...Iya,aku memang sudah gila,gila karena sibuk mencarimu di mana-mana,tapi aku sama sekali tidak bisa menemuimu.Ternyata kamu malah bersenang-senang di Mansionnya keluarga Kusuma" jawab Jo dengan nada kesalnya,wajah bingungnya tadi langsung berubah menjadi kesal.
"Habis wanita itu tiba-tiba saja,datang dengan perut hamilnya.Aku kan,jadi emosi melihatnya" jawab Desi dengan wajah bersalahnya yang bercampur malu dan juga kesal,sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Jo langsung menghela napas dengan pelan,saat ia kembali melihat wajah bersalahnya Desi.Lalu ia segera memegang dan mengangkat dagunya Desi,hingga mereka berdua sedang saling bertatapan saat ini.
"Dengarkan aku,lain kali apapun yang terjadi,kau harus mempercayaiku.Jangan pernah mempercayai orang lain lagi.Apa kamu mengerti?" ucap Jo dengan wajah seriusnya,sambil mengenggam pelan kedua pipinya Desi.
"Apa kamu masih meragukanku?" tanya Jo dengan wajah kecewanya,saat ia melihat ekspresi ragu-ragu di wajahnya Desi.
"Bukan begitu,hanya saja..." jawab Desi dengan wajah bingungnya dan menjeda kalimatnya.
"Hanya apa?" tanya Jo dengan tidak sabaran dan wajah yang ikut-ikutan bingung dan juga penasaran.
"Hanya saja,aku ingin tahu kalau kamu mengatakan semua itu padaku sebagai apa?" tanya Desi dengan wajah yang harap-harap cemas,walaupun Ashley sudah mengatakan kalau Jo sudah mencintai dirinya tapi ia masih ragu dan ingin memastikannya sendiri.
"Apa kamu menganggap kita ini sebagai 2 manusia yang sedang saling melepaskan nafsu saja tanpa cinta sama sekali?" tanya Desi lagi dengan nada kesalnya,saat ia melihat Jo yang hanya diam saja dengan wajah yang bingung.Ia berbicara,sambil berusaha mendorong dada kekarnya Jo tapi malah tidak bergerak sama sekali.
"Aku mencintaimu,aku sangat mencintaimu.Apakah kamu masih tidak bisa melihat sendiri,hasil dari ulah kamu sendiri? Karena kamu sudah berhasil membuat aku jatuh cinta padamu.Dan aku akan segera menikahimu dalan bulan ini" jawab Jo dengan cepat dan satu tarikan napas dan juga wajah seriusnya,sambil terus mengenggam kedua pipinya Desi,ia langsung mengerti saat ia melihat wajah kesalnya Desi.
"Apa kamu masih memerlukan buktinya,kalau aku memang sangat mencintaimu?" tanya Jo dengan wajah bingungnya,saat ia melihat Desi hanya terdiam dengan wajah bengongnya.
"Ti tidak,tidak perlu.Tapi yang kamu katakan barusan,memang serius kan? " jawab Desi dan sekalian bertanya,dengan wajah tidak percayanya.
"Apa aku perlu menyeberangi lautan dan menggapai bintang untukmu,supaya kamu mau mempercayaiku?" tanya Jo dengan nada pelannya,sambil menahan kesal dan berniat ingin menarik kembali kedua tangannya dari kedua pipinya Desi.
"Tidak,tidak perlu.Aku sudah mempercayaimu,aku hanya ingin memastikannya saja kalau pendengaranku saat ini benar-benar tidak salah" jawab Desi dengan wajah yang tersenyum lucu karena melihat wajah kesalnya Jo dan perkataan konyolnya Jo barusan.Lalu ia segera menarik kedua tangannya Jo yang sudah mulai menjauh dari wajahnya itu,hingga mampu membuat wajah mereka menjadi semakin dekat.
Sedangkan Jo yang tadi sedang menahan rasa kesal,ia langsung tersenyum bahagia,saat ia mendengar kalimat demi kalimat dari Desi barusan.
"Aku juga sangat mencintaimu" lanjut Desi lagi dengan wajah yang tersenyum bahagia.
"Kalau yang itu,aku sudah tahu sayang" ucap Jo dengan wajah yang terus tersenyum bahagia,sambil menatap kedua matanya Desi lalu pelan-pelan turun ke bibir Desi yang masih sedikit pucat itu.
Desi yang sudah mengertipun,hanya mampu terbaring pasrah dengan wajah malunya.
Tapi baru saja bibir mereka mau bertemu,tiba-tiba saja......
"Ceklek" terdengar suara pintu ruangan tersebut yang sedang terbuka,dan suara tersebut mampu menghentikan gerakan dan menggagalkan c**m*n mereka berdua yang belum sempat terjadi itu.
Mereka berduapun langsung menolehkan kepala mereka ke arah pintu ruangan tersebut dengan wajah yang penasaran dan juga kesal.
Terlihat Grandma,Grandpa,Daddy,Kedua orang tuanya Jo,lalu berlanjut dengan Hery,Ashley,Agatha dan Ars yang terakhir.Terlihat mereka semua yang sedang berjalan masuk satu persatu dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.
Tadi mereka semua sudah mau datang ke rumah sakit untuk menjenguk Desi,tapi karena Hery yang sudah menelepon Ryan dan Ryan mengatakan kalau Desi masih belum sadarkan diri dan sudah ada Jo yang menjaganya,jadi mereka semuapun menjadi agak tenang dan juga agak santai dalam perjalanan mereka ke sini.
__ADS_1
Wajah Jo yang sudah berubah menjadi kaget itu,malah menjadi semakin kaget saat ia melihat sepasang suami istri paruh baya yang sangat ia kenal itu yang sedang berjalan di belakangnya Daddynya Hery.