
Sedangkan Jo yang masih terlelap tadi,ia sudah mulai terbangun karena tidurnya yang sudah terlalu lama.
"Desi" panggil Jo,saat ia baru saja tersadar dari lelapnya,ia langsung teringat dengan Desi yang sampai saat ini belum juga berhasil ia temui.
"Auchkk" pekik Jo,sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan juga pusing,karena ia yang langsung duduk dari berbaringnya saat ia baru tersadar barusan.
"Ceklek" terdengar suara pintu kamar yang baru saja terbuka dan terlihat Sekretarisnya Jo yang berdiri dengan wajah khawatirnya.
Padahal Sekretaris tersebut sedang sibuk melengkuk-lengkukkan badannya karena rasa lelahnya.Tapi ia langsung berlari menuju kamar Tuannya,saat ia mendengar pekikan keras dari arah kamar Tuannya.
"Tuan,apa kamu tidak apa-apa?" tanya Sekretaris tersebut dengan nada khawatirnya,sambil berjalan mendekati Tuannya yang sedang memegang kepala.
"Apa kau sudah berhasil menemui di mana keberadaannya calon istriku?" tanya Jo tanpa menjawab pertanyaan dari Sekretarisnya,sambil terus memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
"Be belum Tuan" jawab Sekretaris tersebut dengan wajah bingungnya,sambil sedikit menundukkan kepalanya.Ia menjadi kembali bingung,antara mau memberitahu Tuannya atau lebih mengutamakan nyawanya.
"****" umpat Jo,dengan nada frustasinya yang bercampur kesal,sambil menatap heran ke arah wajah bingung Sekretarisnya.
"Ada di mana kamu,sayang?" gumam Jo dengan nada pelannya dan wajah bingungnya,setelah rasa pusing di kepalanya sudah angsur-angsur mengurang.
"Tuan harus berpikir dengan tenang dan sabar.Jika tidak,nanti Tuan akan bisa merusak tubuh Tuan sendiri" nasihat Sekretaris tersebut dengan nada pelannya,takut-takut kalau tuannya sampai mengamuk karena mendengar nasihat darinya barusan.
"Cih" Jo hanya mendecih dengan wajah kesalnya,tapi di pikir-pikir ada benarnya juga nasihat dari Sekretarisnya barusan.
Kemudian Jo segera berdiri dari duduknya sambil memegang kembali kepalanya yang agak sedikit pusing tapi sudah tidak begitu terasa lagi,lalu ia langsung berjalan ke arah kamar mandi dan mengabaikan tatapan bingungnya Sekretaris tersebut.
Ia harus segera membersihkan diri dan kembali mencari calon istrinya,ia harus bisa lebih fokus kali ini.
"Aku harap Tuan memang bisa berpikir dengan tenang,supaya otak cerdasnya bisa berfungsi" gumam Sekretaris tersebut dengan nada pelannya,setelah ia melihat Tuannya yang ternyata sedang berjalan ke kamar mandi,wajah bingungnya tadi juga sudah berubah menjadi tenang kembali.
Iapun langsung keluar dari dalam kamar Tuannya,ia akan menunggu Tuannya di ruang tamu saja.
"Tuan,Tuan harus sarapan atau makan siang terlebih dahulu,baru Tuan mampu mencari nona Desi" seru Sekretaris tersebut sambil berdiri dari duduknya,saat ia melihat Tuannya yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang sudah rapi dan wajah yang sudah segar kembali,malah langsung berjalan ke arah pintu keluar.
Ia sampai bingung mau mengatakan sarapan atau makan siang,karena saat ini sudah hampir jam 12 siang,jadi dari pada bingung iapun mengatakan 2 2 nya sekalian.
Sedangkan Jo,ia langsung mendengkus kesal saat ia mendengar perkataan Sekretarisnya tersebut.Lalu iapun segera berbalik badan dan berjalan ke arah meja makan dengan wajah kesalnya.
Sekretaris tersebutpun segera berjalan mendahului Tuannya,supaya bisa menyediakan makan siang yang sudah ia beli untuk Tuannya tadi.
Jopun segera duduk,lalu ia langsung mengikuti saran Sekretarisnya tadi,sambil memakan makanan siangnya.
'Kenapa mereka semua sama sekali tidak bisa menemukan calon istriku,lalu pria itu siapa?" batin Jo dengan wajah herannya,sambil memakan makan siangnya dan juga menatap wajah tenang Sekretarisnya yang sedang berdiri di sampingnya.
'Padahal aku sudah meminjam dan mengerahkan anak buahnya Hery yang paling handal' lanjut Jo lagi,masih dengan membatin dalam diam.Ia juga terus memikirkan dari awal kejadian sampai saat ini,untuk menemukan apa saja kelalaiannya hingga usahanya selama 3 hari untuk menemukan Desi malah tidak berhasil sama sekali.
"Apa ada yang sudah aku lewati?" tanya Jo,dengan wajah seriusnya,setelah ia sudah menangkap kejanggalan-kejanggalan yang sudah ia lewati kemaren,ia juga teringat dengan wajah bingung Sekretarisnya tadi.
__ADS_1
Ia terus menelisik wajah Sekretarisnya yang hanya diam saja,amarahnya langsung menguar saat ia sudah menyadari kebodohannya selama 3 hari ini dan mempercayai Sekretarisnya ini.
"Katakan sekarang atau aku tembak kepalamu saat ini juga" lanjut Jo lagi,dengan nada emosinya,saat ia melihat wajahnya Sekretaris tersebut yang sudah bercampur aduk.Dari ekspresi kaget,panik,khawatir dan juga bingung.
Saat ia melihat ekspresi wajah Sekretaris tersebut yang campur aduk itu,ia menjadi semakin yakin dengan apa yang sudah berhasil ia cerna tadi tentang masalahnya ini.
"I itu..." ucapan gugupnya Sekretaris tersebut langsung di sela oleh Jo karena terlalu lama menjeda.
"Apa kau benar-benar ingin mati di tanganku?" tanya Jo,dengan nada yang semakin emosi,sambil menggerakkan sebelah tangannya,berniat ingin mengambil pistol yang sudah ia selipkan di samping pinggangnya tadi.Pistol yang sudah ia ambil dari kantornya sedari 2 hari yang lalu dan ia simpan di kamarnya.
"Maaf Tuan,Tuan Hery yang melakukan semua itu" jawab Sekretaris tersebut,dengan cepat dan nada gugupnya karena merasa takut saat ia melihat tangan Tuannya yang sudah berada di kepalanya pistol dan bersiap-siap mengambilnya.
"Rasanya,aku sangat ingin membunuhmu saat ini juga" geram Jo dengan nada emosi yang masih belum berkurang sedikitpun dan tatapan tajam ke arah Sekretaris tersebut,sambil berdiri dari duduknya.
Lalu ia segera berjalan keluar dari dalam Apartemennya dengan langkah lebarnya,ia ingin segera menuju ke tempat yang baru saja ia duga kalau selama 3 hari ini calon istrinya berada di sana.
Bahkan makan siangnya yang masih tersisa setengah porsi itu,tidak ia hiraukan lagi,karena yang ada di benaknya saat ini hanya ingin segera memastikan apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
Sekretaris tersebut yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin dan gemetar tadi,langsung menghela napas lega sambil mengelap keringat dingin yang sudah berkumpul di keningnya,saat ia melihat Tuannya sudah menghilang dari pandangannya.
"Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Sekretaris tersebut pada dirinya sendiri dengan wajah yang gelisah,sambil berjalan mondar mandir di ruang makan sana.
Padahal ia sendiri yang sudah memberi saran jitu pada Tuannya,tapi sekarang malah ia yang menjadi kebingungan dan juga gelisah.
Sedangkan Jo,ia sudah sibuk melajukan mobilnya ke arah tempat yang sangat ingin ia tuju saat ini,dengan wajah emosinya sambil menahan amarahnya dan juga terus merutuki kebodohannya selama 3 hari ini sepanjang perjalanannya.
Setelah 40 menit berlalu,mobil miliknya Jo pun sampai di tempat tujuannya.Jopun segera keluar dari dalam mobilnya,lalu ia langsung berjalan ke arah pintu gerbang Mansion yang ada di depannya.
Mansion yang sudah lama tidak bisa ia kujungi karena Sang Tuan Muda yang telah melarangnya,dengan alasan takut kebersamaan bersama istrinya Sang Tuan Muda tersebut akan terganggu oleh keberadaannya.
Padahal banyak yang bisa ia temui di dalam Mansion tersebut,yang benar saja,tidak mungkin kan selama berada di dalam Mansion tersebut, ia akan terus berada di sekitar Sang Tuan Muda dan istrinya.
Dan Jo sangat tahu,kalau sahabatnya itu memang sengaja ingin membuat dirinya kesal.Tapi kali ini,ia harus berusaha untuk bisa masuk ke dalam Mansion tersebut.
"Cepat buka gerbangnya atau nyawa kau akan mati di tanganku..." perintah Jo pada beberapa pengawal yang sedang berdiri tegap di balik gerbang Mansion tersebut,sambil memgeluarkan pistolnya dan ia arahkan pada beberapa pengawal tersebut.
"Maafkan kami Tuan,tapi kami hanya menerima perintah dari Tuan kami saja" jawab salah satu dari beberapa pengawal tersebut,karena dari hari itu ia sudah di pesan sama Tuan Muda mereka untuk tidak boleh membuka pintu gerbang untuk sahabat Tuan Mudanya yang bernama Jonathan tersebut.
"Kalian..." geram Jo dengan nada emosinya,sambil menatap kesal ke arah Mansion megah milik Daddynya Hery tersebut.
"Dor dor dor" terdengar beberapa kali suara dari pistol yang sedang Jo tembakkan ke udara,Jo langsung mengarahkan ujung pistol ke udara dan menembakkannya sebanyak 3 kali karena merasa emosi,geram dan juga kesal,karena dirinya masih saja tetap tidak di beri izin untuk masuk ke dalam Mansion tersebut.
Dan suara tembakan tersebut mampu membuat beberapa pengawal tersebut langsung terlonjak kaget,bahkan Tuan Muda mereka dan yang lainnya yang sedang asyik makan siang bersamapun ikut terlonjak kaget.
Herypun segera berjalan ke arah keluar Mansion untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi,ia juga tidak lupa memesan yang lainnya untuk tetap melanjutkan makan siang mereka kembali dan juga harus tetap berada di dalam saja.
"Apa-apaan kamu ini hah?" tanya Hery,dengan nada kesalnya,setelah ia tahu siapa yang sedang membuat keributan di waktu makan siang mereka.
__ADS_1
Sedangkan Jo,ia masih berdiri di balik pintu gerbang sana,sambil menatap kesal ke arah Hery yang sedang berjalan ke arahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" tanya Hery dengan wajah kesalnya,setelah ia sudah berada di hadapannya Jo dan di batasi pagar yang menjulang tinggi tersebut.
"Apa memang begini caramu,jika sedang ingin berkunjung ke kediaman sahabatmu?" tanya Hery lagi,dengan wajah yang tersenyum polos,saat ia sudah menangkap sesuatu di wajah kesalnya Jo yang hanya berdiri dalam diam saja.
Ternyata sahabatnya itu sudah mengetahuinya,tapi ia masih ingin membuat sahabatnya itu lebih kesal lagi.
"Cih,apa kau tidak bisa menyuruh pengawalmu untuk membuka pintu ini untukku terlebih dahulu?" tanya Jo balik,setelah ia selesai berdecih dan juga mendengkus kesal.
"Tidak,caramu berkunjung tadi telah membuat makan siangku terganggu.Jadi,lebih baik kau pulang saja" jawab Hery,dengan wajah tidak berdosanya,sambil terus menatap wajah merahnya Jo yang sedang menahan amarah.
"Cepat katakan,di mana Desi?" tanya jo dengan nada tingginnya dan juga wajah kesalnya,ia sudah malas berbasa-basi lagi sama sahabatnya itu.
"Kau ini sepertinya memang sudah gila,karena telah bertanya wanitamu kepadaku.Jangan bertanya kepadaku,aku tidak tahu kemana wanitamu pergi" jawab Hery,dengan wajah yang tersenyum mengejek ke arah wajah kesalnya Jo.
"Memangnya mataku ada di mana-mana,sampai bisa mengetahui di mana calon istrimu berada?" lanjut Hery lagi,dengan nada santainya dan wajah polosnya.
Sedangkan Jo langsung mendengkus kesal.Baiklah,kali ini ia akan menggunakan salah satu kartu ASnya,supaya Tuan arogan tersebut akan lebih memilih untuk menyerah dari pada terus menyulitkan dirinya.Karena ia tidak akan bisa menang,kalau di suruh berdebat dengan Tuan Muda Arogan tersebut.
"Bukankah memang begitu? Bahkan matamu,sudah seperti angin di sekitarku" jawab Jo,dengan nada kesalnya.
Sedangkan Hery terus tersenyum,ia bahkan tidak tersinggung ataupun kesal dengan perkataannya Jo barusan.
"Aku tanya sekali lagi,kau mau katakan di mana Desi atau aku akan melakukan hal yang tidak bisa kau duga?" tanya Jo,dengan wajah seriusnya,sambil terus menatap wajah tersenyumnya Hery yang langsung berubah menjadi bingung.
"Lakukan saja.Lagi pula,aku tidak perduli,kau mau melakukan apapun" jawab Hery dengan suara menantangnya dan wajah yakinnya,sambil menelisik wajah seriusnya Jo.
Ia bertanya-tanya di dalam hati,apa sebenarnya yang ingin di lakukan oleh Jo.Sahabatnya itu,tidak akan begitu bodoh sampai akan melakukan hal-hal gila,kecuali terdesak.
Tapi ia baru tersadar kalau saat ini kan,mungkin bisa menjadi saat terdesak bagi sahabatnya itu.
"Baiklah,kalau begitu siap-siap saja,sebentar lagi kau akan melihat nyawa seorang wanita yang akan berakhir di tanganku" ucap Jo,masih dengan nada dan wajah seriusnya,sambil tersenyum tipis.
"Ah,satu lagi.Mungkin akan di tambah dengan 1 bayi " lanjut Jo lagi,dengan sengaja mengatakan hal itu,supaya sahabatnya itu akan bepikir untuk mengalah padanya.
Karena ia memang berkata serius saat ini,jadi kalau saja sahabatnya itu masih saja terus membuatnya menjadi kacau seperti ini,ia akan melakukan apa saja yang ingin ia lakukan saat ini.
Kemudian ia langsung berbalik badan,lalu ia berjalan ke arah mobilnya sambil memasukkan kembali pistolnya ke tempatnya semula dan tersenyum dengan penuh arti karena ternyata otak cerdasnya berguna juga di saat seperti ini.
Wajah yakinnya Hery tadipun,langsung berubah menjadi khawatir,saat ia sudah mulai bisa menebak apa maksud perkataannya Jo tadi.
"Cepat ikuti dia" perintah Hery dengan nada tegasnya,setelah ia melihat mobilnya Jo yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.Lalu iapun langsung berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam Mansion kembali dengan langkah lebarnya.
"Baik Tuan" jawab salah satu pengawal tadi sambil membungkuk hormat ke arah punggung lebar Tuannya,lalu ia segera berlari ke arah mobil Tuannya dan langsung melajukannya untuk bisa mengikuti sahabatnya Tuan Mudanya tadi.
"Siapa?" tanya Grandma dengan wajah khawatirnya sambil berdiri dari duduknya dan di ikuti oleh yang lainnya juga,setelah mereka semua melihat Hery yang sedang berjalan masuk ke dalam ruang tamu.
__ADS_1