Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
152. Curhat sesama pria


__ADS_3

"Ya Tuhan,dasar playboy.Sebenarnya,kau ini sedang berpacaran atau hanya berkenalan? Sepertinya,tidak lama lagi,karma akan segera menghampiri dirimu" ucap Ryan dengan wajah kesalnya,ia sudah kehabisan kata-kata untuk sahabatnya yang satu ini.


"Cih,berpacaran tapi hanya tahu nama saja.Tapi dengan yang satunya lagi,kau bahkan mengajaknya naik ke atas ranjang" ucap Hery,dengan nada menyindirnya lagi.


"Wah wah,,,ternyata aku ketinggalan berita baru" timpal Ryan,dengan wajah kagetnya untuk beberapa detik,lalu langsung tersenyum lebar.Wajah kesalnya tadi,sudah menghilang ntah kemana.


Ars yang dari tadi hanya mendengar sajapun,wajah datarnya ikut menjadi kaget,tapi hanya untuk beberapa detik saja.Setelah itu,kembali ke wajah datarnya lagi,sambil menatap wajah tenang Tuannya, wajah kagetnya Jo,dan wajah tersenyumnya Ryan secara bergantian.


Ia juga baru tahu seperti Ryan,tapi Tuannya terlihat seperti sudah mengetahuinya sejak awal.


"Da dari mana,kau bisa tahu?" tanya Jo dengan nada gugupnya karena merasa malu ,setelah wajah kagetnya sudah menghilang.Ia bertanya,sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.


"Menurutmu?" tanya Hery balik,sambil menyandarkan HP miliknya ke pot bunga yang ada di atas meja tersebut dan memasangkan headset di kedua telinganya,lalu ia segera menyandarkan kembali kepalanya dengan kedua tangan yang sedang menyangga kepalanya dan kedua mata yang menatap ke arah langit,ia bahkan mengabaikan tatapan kesalnya Jo.


"****" umpat Jo,setelah beberapa menit terdiam karena sibuk berpikir.Sedangkan Ryan dan Ars masih setia menunggu lanjutan dari mereka berdua.


"Sejak kapan,kau meletakkan mata-mata di dalam Perusahaanku?" tanya Jo dengan nada yang semakin kesal,ia menjadi semakin kesal karena Hery yang terlihat santai saja.


"Sejak Perusahaan kau baru selesai di resmikan" jawab Hery,dengan nada santai,tanpa merasa bersalah sama sekali.Ia melirik wajah kesalnya Jo sekilas,lalu kembali menatap langit indah yang berada di atas kepalanya.


"Dasar sahabat tidak punya perasaan" gerutu Jo dengan wajah kesalnya,kenapa ia bisa tidak sadar kalau ada mata-mata di dalam Perusahaannya.Sedangkan Hery,hanya tersenyum saja dan terus menatap ke arah langit.


"Ingat,jangan pernah menyakitinya.Jika aku tahu,kalau kau sampai menyakitinya,kau akan tahu akibatnya di saat itu juga" ancam Hery,dengan wajah seriusnya dan di angguki kepala oleh Ryan.


"Kau tenang saja,itu tidak akan pernah terjadi" ucap Jo dengan nada bicara meyakinkan,karena hatinya memang sudah yakin kalau dirinya memang sudah mencintai Desi.


"Wah...Sepertinya,cap playboy di dirimu,sebentar lagi akan menghilang.Ku turut bahagia untuk dirimu" ucap Ryan,dengan nada yang tulus saat ia mendengar nada bicara Jo yang meyakinkan.


"Aku jadi penasaran,siapa wanita yang sudah berhasil kau ajak ke atas ranjang itu" lanjut Ryan lagi, dengan wajah penasarannya,sambil berpikir.


"Aku tahu,apakah wanita itu adalah sahabat istrinya Hery yang waktu itu terus menatap wajah jelek kau itu" lanjut Ryan lagi,karena hanya Desi yang ada di benaknya saat ini.Apa lagi,ketika ia ke kantornya Jo kemaren,Desi juga berada di sana.


Yang lebih parahnya lagi,ia mendapati kalau mereka berdua baru saja selesai berc**m*n ketika ia ke sana kemaren.


"Siapa namanya ya?..." tanya Ryan pada dirinya sendiri,sambil mengetuk-ngetuk dagunya denganr jari telunjuknya.


Kalau aku tidak salah,namanya Desi.Iya,namany Desi.Tebakanku benarkan?" tanya Ryan lagi,ia berbicara dengan nada lambat karena ia sudah lupa-lupa ingat dengan namanya Desi.


Sedangkan Ars dan Hery,masih setia dengan diam dan wajah datar mereka.


"Waktu itu?" tanya Jo,dengan wajah kesal yang sudah berubah menjadi penasaran sedari Ryan mulai mengoceh tadi,ia juga mengabaikan pertanyaannya Ryan.


"Iya,waktu di acara pernikahannya Hery bersama istrinya waktu itu" jawab Ryan,dengan nada kesalnya kembali karena Jo yang telah mengabaikan pertanyaannya.


"Kau masih ingat,ketika kita makan bersama di dalam 1 meja bundar waktu itu?" tanya Ryan dengan wajah seriusnya.


"Ketika kita makan bersama itulah.Wanita yang bernama Desi itu,terus menatap wajah jelek kau itu.Hanya saja,kau tidak menyadarinya karena sibuk kesal dengan Hery.Aku sudah menasehatinya,tapi ternyata ia tidak mau mendengarkanku" lanjut Ryan lagi,setelah Jo sudah menjawab kalau dia mengingatnya melalui anggukan kepalanya.Ia berbicara dengan wajah malasnya saat ia mengingat kembali tatapan memujanya Desi yang di tujukan untuk Jo,terlihat menggelikan di matanya.


Jo langsung tersenyum bahagia,saat mendengar kalimat Ryan yang panjang lebar itu.Ternyata Desi sudah mencintai dirinya,sejak awal mereka bertemu.Karena terlalu bahagia,ia bahkan tidak memperdulikan kata jelek dari Ryan.

__ADS_1


Tapi senyuman bahagianya,perlahan-lahan menghilang karena memikirkan tentang isi nasehat apa yang sudah Ryan berikan pada Desi.


"Memangnya,apa isi nasehat yang sudah kau berikan pada Desi? Kau saja jomblo.Memangnya,apa yang bisa di nasehatkan oleh pria jomblo?" tanya Jo,dengan nada mengejek dan wajah yang penasaran.


"Tentu saja,aku menyuruhnya untuk menjauhi kau sebelum dia menyesal karena kau itu seorang playboy" jawab Ryan dengan wajah tenangnya,ia bahkan tidak terganggu sama sekali dengan ejekannya Jo padanya.


"Dasar sahabat tidak bermanfaat...Kau sama Hery sama saja,sama-sama sahabat tidak punya perasaan " umpat Jo,dengan nada kesalnya,sambil menatap 3 sahabatnya secara bergantian.


"Dan,sudah berapa puluh kali,aku bilang sama kau.Jangan memasukkan patung hidup di dalam obrolan kita" lanjut Jo lagi,dengan nada menyindir yang di tujukan kepada Ars yang hanya diam saja dari tadi.


Ia meluapkan rasa kesalnya pada Ars yang masih tetap terlihat biasa saja.Tapi memang benar,tiap kali mereka video call seperti ini Ars termasuk Mark juga,hanya diam saja sepanjang video call sedang berjalan,mereka berdua hanya sekali-kali menimpali pembicaraan dari para sahabat mereka itu.


"Memangnya apa yang salah dengan patung hidup ini? Lagi pula,patung hidup ini tidak menganggu obrolan kalian" ucap Ars yang baru untuk pertama kalinya bersuara,dari menerima panggilan video call tadi.


"Kau memang tidak menganggu kami,tapi kau sudah menganggu pandangan mataku" ucap Jo,dengan wajah malasnya.Tuan dan Asistennya ,sama-sama menyebalkan saja.Sedangkan Ryan hanya terus tertawa,sedari Jo mengatakan patung hidup.


"Tapi,tunggu dulu,kenapa wajah datar kau terlihat berbeda malam?" tanya Jo,dengan wajah yang heran dan kedua mata yang menelisik ke arah kedua matanya Ars yang terlihat sedang memancarkan kebahagiaan.


"Sama,aku dari tadi juga merasakannya" ucap Ryan,sambil menatap Ars dengan tatapan yang sama seperti Jo.


"Tentu saja berbeda.Karena pria bodoh itu,baru saja mendapatkan cintanya,setelah meninggalkan semua perkerjaannya padaku" ucap Hery,dengan nada kesalnya tapi wajahnya masih tetap datar.Ia berbicara sambil melirik 3 sahabatnya itu sebentar,lalu ia kembali menatap ke arah langit.


Ars langsung tersenyum puas,saat mendengar nada kesal Tuannya.Sedangkan Jo dan Ryan,juga tidak mau kalah sama Ars,bahkan mereka berdua langsung tertawa dengan keras setelah Hery selesai berbicara.


'Akhirnya,ada juga yang mampu membuat Hery kesal,setelah sedari tadi hanya terdengar nada sombong dan wajah datarnya saja'pikir Jo dan Ryan secara bersamaan.


***


Di Perusahaan Kusuma Group.


Besok paginya,di depan Perusahaan Kusuma Group.Terlihat sepasang kekasih yang baru saja keluar dari dalam mobil,sepasang kekasih yang hubungan asmaranya,baru saja terjalin dengan jelas.


Yah,sepasang kekasih tersebut adalah Ars dan Agatha yang baru saja sampai di Perusahaannya Hery.Karena mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih,jadi Ars langsung menjemput Agatha di rumahnya Agatha tanpa di suruh lagi.


Terlihat Ars yang sedang berjalan sambil merengkuh pinggulnya Agatha agar tubuh mereka berdua bisa lebih merapat,ia berjalan dengan wajah yang datar tapi tatapan kedua matanya terus memancarkan kebahagiaan.


Agatha hanya mampu tersenyum malu dan sekali-kali menyapa para karyawan yang sedang melewati mereka.Walaupun ada saja, beberapa karyawan yang menatap tidak suka ke arahnya.Tapi ia hanya mengabaikannya karena yang terpenting baginya,hanyalah tanggapan dari Ars saja.


Sedangkan Sekretarisnya Hery yang memang sudah datang duluan,langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap Ars dan Agatha dengan kening yang mengerut dalam karena melihat perubahan besar sama dirinya Ars.


Padahal,semalam Ars dan Agatha masih seperti biasanya.Tapi pagi ini,mereka berdua datang dengan 1 mobil dan mereka berdua terlihat sangat dekat dan juga wajah datarnya Ars yang terlihat berseri dan lebih hidup dari pada sebelumnya.


"Auchk" pekik Sekretaris tersebut dengan nada tingginya sambil mengelus-elus pucuk kepalanya yang terasa sangat sakit dengan gerakan cepat.Karena kepalanya di ketuk dengan keras oleh Ars,menggunakan pena yang biasa selalu Ars bawa dan Ars selipkan di saku kemejanya.


"Apa kau tidak punya perkerjaan,sampai harus berdiri di sini sepagi ini?" tanya Ars,dengan wajah kesalnya sambil menatap Sekretaris tersebut yang sedang berdiri di depan ruangannya dan juga masih sibuk mengelus pucuk kepalanya.


"A Ada Tuan.Ma maafkan aku,Tuan" jawab Sekretaris tersebut,dengan nada gugupnya dan wajah pasrahnya saat ia baru menyadari kesalahannya sambil menahan rasa sakit di kepalanya dan berdiri tegak menghadap ke arah Tuan Ars.


Ia berdiri terpaku karena terkejut melihat perubahannya Tuan Ars yang hanya dalam semalam saja,sampai tidak menyadari kehadiran Tuan Ars yang sudah ada di depan matanya.Lebih parahnya lagi,ia berdiri terpaku di depan ruangannya Tuan Ars.

__ADS_1


"Kalau begitu,apa kau sudah bisa menyingkir dari hadapanku sekarang?" tanya Ars dengan nada yang semakin kesal.


Sedangkan Agatha,dari tadi hanya mampu menahan senyumnya karena melihat wajah pasrah Sekretaris tersebut.


"Bisa Tuan" jawab Sekretaris tersebut,dengan cepat dan ia juga segera menyingkir dari hadapannya Tuan Ars.Karena terlalu gugup,ia jadi lupa untuk menggeserkan tubuhnya ke samping.


"Lain kali,kalau kau seperti ini lagi.Saat itu tiba,gaji 1 bulan kau akan aku tarik kembali" peringat Ars ,dengan nada seriusnya.


"Tidak akan ada lain kali lagi,Tuan" jawab Sekretaris tersebut,dengan cepat dan wajah kagetnya bercampur khawatir,ia jadi mengkhawatirkan uang bulananny saat ini.


Ars langsung melanjutkan langkahnya setelah mendengar jawaban dari Sekretaris tersebut dan masuk ke dalam ruangannya,sambil terus membawa Agatha di dalam rengkuhannya.


Sedangkan Sekretaris tersebut,langsung bernafas lega sambil mengelus-elus dadanya dengan pelan,saat mendengar suara pintu yang di tutup dari dalam ruangan dan melihat Ars yang sudah menghilang dari pandangannya.


Kemudian Sekretaris tersebut,segera berjalan ke arah ruangannya dan kembali melanjutkan perkerjaannya.


(Di dalam ruangan Ars).


"Apa tidak sebaiknya,aku berada di ruangan yang biasa saja?" tanya Agatha,dengan wajah bingungnya dan berdiri di sampingnya Ars,karena Ars tidak mengizinkan dirinya berbeda ruangan dengan Ars.


Padahal biasanya,ia 1 ruangan dengan para karyawan wanita yang lainnya.Jadi,kalau ia 1 ruangan bersama Ars,pasti karyawan yang iri dan tidak suka padanya akan bertambah semakin banyak.


"Tidak perlu,kamu di sini saja,1 ruangan bersamaku" jawab Ars,setelah sudah duduk di kursi kerjanya.


"Apa kamu tidak suka 1 ruangan denganku?" tanya Ars,dengan nada kesalnya,sambil menatap wajah bingungnya Agatha yang bercampur malu.


"Bu bukan itu maksudku.Aku hanya,,,, aachk..." jawaban serba salahnya Agatha,langsung terhenti dan di akhiri dengan pekikan tertahannya Agatha.


Karena Ars menarik pinggulnya dengan kuat,hingga membuat dirinya langsung terduduk di atas kedua kaki kokohnya Ars.Ia segera merangkul lehernya Ars karena takut akan terjatuh.


"A apa yang kamu lakukan ? Ba bagaimana,kalau ada yang melihatnya?" tanya Agatha dengan nada gugup dan wajah malunya,karena posisi mereka berdua terasa sangat intim dan wajah mereka berdua juga hampir tidak berjarak.


"Tidak akan ada yang berani masuk ke dalam ruanganku ini" jawab Ars,sambil menatap bibir merah dan kedua mata indahnya Agatha secara bergantian.


"Pokoknya kamu harus 1 ruangan bersamaku,kamu tidak perlu memikirkan mereka semua.Ingat,aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi dari mulutmu ini" lanjut Ars lagi,dengan wajah yang tersenyum dan menyentuh bibir merahnya Agatha dengan menggunakan jari jempolnya hingga membuat Agatha menjadi semakin gugup dan juga malu.


Ia tahu apa yang sedang di khawatirkan oleh Agatha,tapi ia benar-benar tidak suka,kalau mereka berdua harus berbeda ruangan.


"Ta tapi....... eehhmmm" Agatha yang ingin kembali membantah,harus mengurungkan niatnya karena tiba-tiba saja mulutnya langsung di bungkam oleh Ars sebelum ia sempat berbicara banyak.


Ars terus menc**m bibirnya Agatha yang memang sedang di incar olehnya dari tadi.Kemudian ia sedikit mengigit ujung bibirnya Agatha,lalu setelah Agatha membuka mulutnya, ia segera mengabsen di setiap rongga-rongga mulutnya Agatha tanpa ada yang di lewatinya.


Sedangkan Agatha yang masih merasa kaget tadi,segera membuka mulutnya saat merasakan sakit di bibirnya karena di gigit oleh Ars.Ia menjadi bingung hingga mulutnya menjadi kaku.Apa lagi ia juga tidak berpengalaman sama sekali di dalam berc**m*n.


Mereka berdua terus berc**m*n dengan sangat lembut dan dengan kedua mata yang terpejam.Ars hanya ingin menyalurkan rasa bahagianya saja tanpa ***** sama sekali karena mereka berdua sekarang sudah bersama dan sudah menjadi sepasang kekasih.


Karena mereka terlalu menikmati c**m*nnya,hingga mereka tidak menyadari pintu ruangan yang sedang di buka dari luar ruangan.


"Brakk...." terdengar suara pintu yang di tutup dengan keras,hingga membuat sepasang kekasih yang sedang berc**m*n itu menjadi terkejut bukan main,bahkan c**m*n mereka langsung terlepas dengan wajah kaget mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2