
"Plak plak plak plak"
"Auchk auchk auchk auchk"
terdengar suara tamparan dari Jo untuk wanita hamil tersebut dan juga suara pekikan sakit yang lemah dari mulut wanita hamil tersebut,yang terdengar hampir bersamaan.
"Ya Tuhan.Tuan,aku mohon cepatlah datang ' batin Mark dengan wajah bingungnya,saat ia melihat Jo yang langsung menampar wanita hamil tersebut.
Bahkan kedua pipinya wanita hamil tersebut terlihat sangat merah dan juga kedua sudut bibir yang sudah berdarah,akibat tamparan keras dari Jo tadi.
Bukan apa-apa,prinsip mereka semua sama,yaitu tidak akan menyakiti wanita yang sedang hamil kecuali terpaksa.
Sedangkan Jo yang baru saja selesai menampar wanita hamil tersebut,langsung tersenyum puas.Ternyata ia bukan hanya ingin membuat Hery menyerah saja,tapi ia juga ingin sekalian meluapkan rasa kesalnya pada wanita hamil tersebut yang belum sempat ia berikan pelajaran kemaren.
Mark yang merasakan dan mendengar kalau ada suara derapan kaki yang sedang sedikit berlari di belakangnya,ia segera berbalik badan untuk melihat siapa pemilik suara derapan kaki tersebut.
Wajah bingungnya yang bercampur penasaran barusan langsung menjadi kaget,saat ia sudah mengetahui siapa pemilik suara derapan kaki tersebut.
Kemudian ia segera menyingkir dari tempatnya berdiri karena ia berdiri tepat di tengah-tengah pintu,lalu ia yang berniat memanggil nona Desi,malah kembali menutup mulutnya rapat-rapat karena Desi yang telah memberi tanda untuk diam saja.
Markpun hanya mampu berdiri tegak saja,sambil menatap secara bergantian ke arah wajah pucatnya Desi dan Jonathan yang masih belum menyadari keberadaannya Desi.
"Apa sekarang,kamu masih berani mengatakan kalau bayi yang ada di kandunganmu ini adalah bayiku?" tanya Jo,dengan nada tegasnya dan wajah kesalnya,sambil mengarahkan pistol yang memang sudah berada di tangannya itu ke keningnya wanita hamil tersebut.
"Ti tidak,i itu bukan bayimu Jo.A ku hanya ingin menjebakmu saja" jawab wanita hamil tersebut,dengan wajah takutnya dan tubuh yang sudah gemetaran,sambil menahan rasa sakit di seluruh wajahnya,belum lagi tubuhnya yang sudah lemah dan hampir tidak bertenaga.
Sedangkan Desi,langsung tersenyum senang di wajah pucatnya dan juga takut.
"Kira-kira apa hukuman yang pantas aku berikan padamu?" tanya Jo,dengan nada marahnya yang bercampur kesal,sambil menekan ujung pistolnya yang masih berada di keningnya wanita hamil tersebut,hingga mampu membuat wanita hamil tersebut sampai meringis kesakitan akibat tekanan tersebut.
"A aku mo mohon,maafkan kesalahan dan keberanianku itu Jo.Anggap saja,itu hadiah dari jalinan hubungan asmara kita yang hampir 2 bulan hari itu" jawab wanita tersebut,masih dengan nada gugupnya,sambil terus menahan rasa sakit di wajah dan di tambah dengan di keningnya.
"Apa kamu pikir,aku akan semudah itu untuk memaafkan j*l*ng sepertimu,j*l*ng yang sudah berani bermain-main denganku dan telah membuat hubunganku dengan calon istriku menjadi tidak baik" ucap Jo,dengan nada kesal dan tatapan marahnya.
"Sepertinya,aku akan memulai dari kakimu ini terlebih dahulu" lanjut Jo sambil menurunkan pistolnya ke arah sebelah kakinya wanita hamil tersebut.Ia berbicara,dengan wajah tersenyum puas saat ia melihat wanita hamil tersebut langsung menangis dan terus memohon padanya.
"Jonathan Smith" panggil Desi dengan nada tingginya dan juga wajah yang sedang menahan rasa takut dan juga rasa mual yang datang tiba-tiba secara bersamaan.
Jonathan yang sedang sibuk mengarahkan pistolnya ke arah kakinya wanita hamil tersebutpun,ia langsung menolehkan kepalanya ke belakang,saat ia mendengar suara wanita yang sudah ia rindukan selama 3 4 hari ini.
"De Desi" panggil Jo balik,dengan wajah kagetnya,saat ia melihat wanita yang sedang ia rindukan itu sudah berada di hadapannya saat ini.
Tapi bukan itu yang membuat dirinya kaget dan yang menjadi masalahnya Jo,karena menurut Jo, yang jadi masalahnya adalah Desi sedang berada di tempat yang salah saat ini.
Dan yang ia tahu,sepanjang perjalanan dari luar sampai ke dalam sini,ada banyak musuh yang sedang di siksa oleh para anak buahnya Hery dan ruangan-ruangan itu selalu tidak di kunci rapat oleh anak buahnya Hery.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu tidak takut akan masuk ke dalam penjara?" tanya Desi dengan nada marah yang bercampur kesal,sambil terus menahan rasa mualnya yang sudah mendesak ingin keluar.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Jo dan mengabaikan pertanyaannya Desi.Memangnya siapa yang berani memenjarakannya,kalau masalahnya ini ada keterlibatannya sama keluarganya Kusuma.
__ADS_1
Jo segera menyimpan pistolnya,lalu ia berjalan ke arah Desi,dengan wajah khawatirnya saat ia melihat wajah pucatnya Desi,sambil menatap sekilas ke arah Hery yang berada tidak jauh dari belakang punggungnya Desi dan sedang berjalan santai ke arah mereka.
Sepertinya ia sudah mendapatkan jawabannya,saat ia melihat keberadaannya Tuan Muda dari keluarga Kusuma tersebut.
"Kamar mandi ada di mana?" tanya Desi tanpa menjawab pertanyaannya Jo,sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Ia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi,isi perutnya yang sudah mendesak ingin keluar saat ini,karena penampakan-penampakan mengerikan dan ceceran darah yang ia lihat tadi terus terbayang-bayang di kepalanya.
"Kamar mandi?" tanya Jo dengan wajah bingungnya,kenapa Desi malah jadi bertanya tentang kamar mandi.
Beberapa detik kemudian...
"Tahan sebentar ya" ucap Jo dengan nada lembutnya,sambil mengelus-elus punggungnya Desi dengan pelan.
Sedangkan Desi,ia hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan pelan,karena ia sibuk menahan rasa mualnya yang terus menyerang dirinya tanpa jeda.
"Mark" panggil Jo,setelah ia mengerti kenapa Desi ingin mencari kamar mandi,saat ia melihat wajah pucatnya Desi yang seperti sedang menahan sesuatu.
"A ada apa Tuan?" tanya Mark dengan nada bingungnya,karena terlalu sibuk menikmati adegan demi adegan yang ada di hadapannya barusan.
"Cepat tunjukkan di mana kamar mandinya Mark" jawab Jo dengan nada kesalnya,karena Mark yang tidak cepat tanggap terhadap situasi yang ada di sekitar mereka.
"Baik Tuan" jawab Mark dengan cepat,sambil tersenyum cenges-ngesan.Lalu ia segera berjalan keluar ruangan untuk menunjukkan di mana letak kamar mandi mereka pada sepasang kekasih itu.
Jonathanpun segera mengendong Desi ala bridal style,lalu langsung mengikuti langkah kakinya Mark.
Sedangkan wanita hamil tersebut yang sudah sangat ketakutan tadi,langsung menghela napas lega,saat ia melihat Jo dan yang lainnya sudah keluar dari dalam ruangan tersebut.
Jo yang sudah berada di depan kamar mandi yang sudah di tunjukkan oleh Mark,ia langsung menatap kesal ke arah Hery yang sedang berdiri tidak jauh dari kamar mandi tersebut,sebelum ia benar-benar membawa Desi masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jo dengan nada khawatirnya,tanpa menghentikan pijitannya.
"Apa aku terlihat baik-baik saja?" tanya Desi balik,dengan nada kesalnya.
'Apa Jo tidak bisa melihat dengan baik,dan ini semua terjadi gara-gara Jo,hingga membuat dirinya harus datang ke sini dan berakhir seperti ini' pikir Desi.
"Hoek hoek hoek" Desi kembali memuntahkan isi perutnya,habis sudah makanan siang yang ia lahap tadi.
"Bu bukan begitu maksudku....Apa saja yang sudah kamu makan tadi? " tanya Jo lagi setelah Desi sudah menyelesaikan muntahannya.Ia bertanya dengan wajah bingungnya saat ia mendengar nada kesalnya Desi
Padahal seharusnya,ia yang menjadi kesal karena hari itu Desi pergi begitu saja tanpa kabar,hingga membuat dirinya hampir saja benar-benar menjadi gila.Tapi sekarang,kenapa malah wanitanya ini yang menjadi kesal padanya.Walaupun begitu,ia tetap merasa senang,karena berhasil membuat wanitanya keluar dari persembunyiannya.
"Aku begini bukan salah makan,tapi aku mual karena tadi aku melihat hal-hal yang menakutkan di sana" jawab Desi dengan nada lemahnya,sambil menyandarkan kepalanya ke dada kekarnya Jo.
Lagi-lagi Jonathan kembali mendengkus kesal,ntah harus ia lampiaskan kepada siapa rasa kesalnya.Bisa-bisanya Hery membawa Desi ke sini,apakah Tuan muda tersebut memang tidak punya hati sama sekali.
Padahal yang ia harapkan tadi,kalau Hery akan mencegahnya dan membawanya ke hadapannya Desi.Kenapa yang terjadi,malah kebalikannya.
"Kenapa kamu malah jadi datang ke sini,kamu kan bisa meneleponku" ucap Jo dengan nada sedihnya sambil terus memijit tengkuk lehernya Desi,padahal ia terus menunggu telepon dari Desi tapi nyatanya Desi tidak meneleponnya sama sekali.
"Apa kamu tidak merindukanku sedikitpun?" tanya Jo lagi,dengan wajah penasarannya.Kenapa juga Desi harus menunggu sampai ia berbuat seperti ini,baru mau datang menemuinya.
__ADS_1
"Des" panggil Jo dengan wajah bingungnya,karena Desi hanya diam saja dari tadi.
"Sayang" panggil Jo lagi,sambil menundukkan kepalanya untuk bisa melihat wajahnya Desi.
"Sayang,apa yang sedang terjadi padamu?" tanya Jo dengan wajah khawatirnya yang sudah bercampur panik,lalu ia segera kembali mengendong Desi dan keluar dari dalam kamar mandi dengan sedikit berlari.
Sedangkan di luar kamar mandi,Mark dan Hery langsung menjadi kaget,saat mereka berdua melihat wajah paniknya Jo yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan sedang mengendong Desi yang sudah tidak sadarkan diri.
"Lihatlah,apa yang sudah kau lakukan" ucap Jo dengan nada kesalnya yang bercampur panik,sambil menatap kesal ke arah Hery tanpa menghentikan langkah lebarnya.
"Mark,kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat antarkan mereka ke rumah sakit" perintah Hery pada Mark yang hanya sibuk menatap punggung lebarnya Jo saja.
Ia harus segera memerintahkan Mark,sebelum Jo berteriak keras dan memanggil namanya dari luar sana dan kejadian tentang dirinya menjadi supir tadi akan terulang kembali.
"Baik Tuan" jawab Mark dengan cepat,lalu ia segera berlari kencang untuk mengejar langkah cepatnya Tuan Jonathan.
"Aku mana tahu,kalau wanitamu itu begitu lemah sampai menjadi pingsan begitu.Lagi pula,wanitamu sendiri yang memaksa untuk datang kesini.Tidak mungkin kan,aku tidak mengizinkannya pergi dengan alasan kalau kau ada di markasku" gumam Hery dengan wajah kesalnya,sambil memijit pangkal hidungnya karena merasa sedikit pusing.Tapi yang ia gumamkan itu memang benar,Grandma saja memerintahkan dirinya untuk mengantar Desi,tidak mungkin ia mengatakan keberadaannya Jo pada Grandma dan kedua orang tuanya Jo.
Bisa-bisa,ia akan terkena dampak buruk dari perbuatannya Jo.Karena dirinya pasti akan kena amukan dari Grandma dan kedua orang tuanya Jo,sebelum Jo sendiri yang mendapatkannya terlebih dahulu.
Berbeda sama istrinya yang sudah mengerti dan mengetahui soal markasnya.Maka dari itu,tadi Ashley tidak banyak protes dan membiarkan dirinya pergi begitu saja.
Tapi kemudian wajah kesalnya Hery berubah menjadi tersenyum senang,karena ia kembali berhasil membuat Jo menjadi kesal secara tidak sengaja.
Lalu ia segera berjalan keluar dari dalam markasnya tersebut dan di ikuti oleh beberapa anak buahnya yang berniat mengantar Tuan mereka itu sampai ke depan markas,ia berjalan dengan langkah santainya dan tersenyum tipis di balik wajah datarnya itu.
Sepertinya ia harus segera memberitahu tentang Desi yang sedang di bawa ke rumah sakit itu,sebelum ia mendapatkan amukan kecil dari Grandma dan yang lainnya.
Hospital Medical Centre.
Setelah berada di luar rumah sakit,Jo langsung meletakkan tubuh tidak berdayanya Desi ke atas brankar yang telah di sediakan oleh para perawat.Lalu ia segera mendorong brankar tersebut dan mengikuti langkah para perawat,sambil mencari sosok sahabatnya Ryan.
"Ryan,cepat tolong periksa Desi" pinta Jo dengan nada paniknya,pada Ryan yang kebetulan baru saja keluar dari ruang operasi dan memang kebetulan juga sedang berjalan ke arahnya.
Padahal banyak Dokter lain,tapi seperti itulah Jo sama seperti Hery yang lebih suka Ryan yang menanganinya.
"Apa yang telah terjadi pada wanitamu?" tanya Ryan dengan wajah penasarannya yang bercampur khawatir,ia langsung mengikuti Jo dari belakang.
Sedangkan Jo,ia hanya diam saja dan terus mendorong brankar tersebut hingga dirinya juga ikut ke dalam tanpa ada yang berani mencegahnya,karena mereka semua tahu kalau pria tersebut adalah sahabat baiknya Dokter mereka dan juga sahabatnya putra pemilik rumah sakit ini.
"Apa kau tidak bisa keluar terlebih dahulu?" tanya Ryan dengan wajah kesalnya pada Jo yang sedang berdiri tidak jauh darinya,sambil terus memeriksa Desi.
"Tidak" jawab Jo dengan singkat,sambil terus menatap wajah pucatnya Desi yang masih belum sadarkan diri.
Ryanpun hanya mampu menghela napas dengan pelan,saat ia mendengar jawabannya Jo barusan.Untungnya Jo tidak pelit seperti Hery yang tidak memperbolehkannya memeriksa dengan cara biasanya,jadi ia tidak perlu merasa begitu kesal terhadap tingkah konyolnya Jo saat ini.
"Bagaimana?" tanya Jo dengan wajah khawatirnya,sambil mendekat ke arah Ryan.
"Jangan khawatir,wanitamu baik-baik saja" jawab Ryan dengan wajah tenangnya,sambil menjeda kalimatnya dan mengemas alat-alat Dokternya.
__ADS_1
"Dokter apaan kau ini? Apa matamu sedang bermasalah? Wajah wanita ku terlihat sangat pucat,tapi kau masih bisa bilang kalau wanitaku sedang baik-baik saja..." tanya Jo dengan nada marahnya dan juga pertanyaan yang bertubi-tubi tanpa jeda.
Ryan yang tadi mengira kalau tingkah sahabatnya Jo ini lebih mendingan dari pada Hery,akhirnya iapun langsung mendengkus kesal juga,saat ia mendengar pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari mulutnya Jo.