
Jika ia tidak menekan tombol kode yang ada di bawah meja nya tadi,tombol yang di khusus kan untuk memanggil Sekretaris nya itu,pasti nyawa nya OB wanita itu akan segera hilang di tangan nya saat ini juga.
Jonathan memang selalu membawa pistol nya kemana-mana untuk jaga-jaga dan melindungi dirinya sendiri.
Banyak yang tidak mengetahui kalau Jo pernah ikut bergabung bersama Hery di dunia Mafia beberapa tahun yang lalu,kecuali orang-orang terdekat nya saja yang tahu,seperti Daddy dan yang lain-lain nya.
Tapi ia hanya membunuh jika hanya terpaksa saja,beda dengan Hery yang lebih kejam dari dirinya dan tidak akan mau memaaf kan mereka yang telah menganggu nya,walau pun kesalahan mereka hanya sedikit.
Tapi ia sendiri juga tahu kalau Hery sekarang sudah berbeda dari beberapa tahun yang lalu,semenjak terus di nasehati oleh Grandma,apa lagi sekarang sudah ada istri yang sedang hamil yang sudah mewarnai hidup sahabat nya itu.
"Apa kau tahu, apa kesalahan mu hm?" tanya Jo tanpa menoleh ke arah sekretaris nya yang sedang berdiri menegang karena merasa takut saat mendengar nada marah Tuan nya.
Tanpa merubah posisi tubuh maupun tangan nya yang terus mengajung kan pistol nya ke arah OB wanita itu,Jo terus menatap tajam ke arah OB wanita itu yang masih terus berlutut dan memohon kepada nya dengan terus bercucuran air mata.
"Ta tahu Tuan,ma maaf kan saya Tuan" jawab Sekretaris tersebut dengan nada gugup,apa lagi wajah Tuan nya terlihat sangat murka saat ini dan juga pistol yang masih ada di genggaman Tuan nya.
Ia jarang melihat Tuan nya yang seperti itu kecuali jika memang sedang sangat murka saja,ia jadi merutuki diri nya sendiri karena tidak lebih tegas terhadap OB wanita baru itu.
Padahal kemaren ia sudah melarang bahkan memperingati OB wanita itu,tapi OB wanita itu terus memohon kepada nya untuk membantu hingga membuat ia menjadi kasihan tapi ia juga tidak menyangka kalau OB wanita itu berbuat hingga membuat Tuan nya murka seperti ini.
Ntah apa yang sudah OB wanita itu perbuat,ia juga tidak tahu apa-apa.Ketika ia mendapat panggilan kode dari Tuan nya tadi,ia segera berlari dari ruangan nya tanpa berpikir panjang lagi.
Apa lagi Tuan nya tidak akan memakai panggilan kode itu,kecuali jika sedang darurat saja.Hingga membuat dirinya berlari dengan isi kepala yang bercabang-cabang karena memikir kan,ntah apa yang telah terjadi pada Tuan nya,padahal tadi pagi Tuan nya baik-baik saja.
Tapi ketika ia berhasil sampai di dalam ruangan Tuan nya tadi,ia melihat permandangan yang membuat wajah nya menjadi tegang,takut dan bingung bercampur menjadi 1.
"Kalau tahu,kenapa kau masih berdiri di sana?" tanya Jo dengan nada yang semakin tinggi sambil menahan gejolak-gejolak aneh yang terus menyerang tubuh nya.
"Cepat seret wanita j*l*ng ini ke penjara sekarang juga,bilang sama polisi kalau bukti nya belakangan" lanjut Jo lagi,dengan suara lantang nya.
"Ba baik Tuan" jawab Sekretaris tersebut dengan cepat setelah menatap wajah merah Tuan nya,tapi aneh nya itu bukan merah karena emosi tapi seperti gairah yang bercampur emosi.
Akhir nya ia segera menepis rasa penasaran nya karena takut nyawa nya juga ikut dalam bahaya,lalu ia segera menyeret OB wanita itu dengan paksa karena terus memberontak.
"Tuan,aku mohon maaf kan aku.Lain kali aku tidak akan melaku kan nya lagi" mohon wanita itu dengan air mata yang tidak berhenti dari tadi,sambil memberontak.
"Lain kali? Jika ada lain kali,nyawa kau sudah keluar dari tubuh mu saat itu juga" ucap Jo dengan nada emosi.
"Seharus nya,kau duluan yang aku bunuh tadi" lanjut Jo lagi dengan menatap tajam ke arah Sekretaris tersebut yang sedang sibuk menyeret OB wanita itu.
__ADS_1
'Ntah bagaimana nasib ku ,setelah ini...' batin Sekretaris tersebut di dalam hati dengan wajah yang mulai berkeringat dingin saat ia tahu kalau perkataan Tuan nya yang di tuju kan untuk dirinya.
Sekretaris tersebut tidak berani menatap wajah Tuan nya dan terus menyeret OB wanita itu dengan tenaga penuh nya,karena wanita itu tidak berhenti memberontak.
Setelah melihat punggung Sekretaris nya menghilang dari balik pintu,Jo segera menopang kan tubuh nya yang mulai tidak seimbang di atas meja kerja nya karena dari tadi terus menahan efek dari obat perangsang yang telah di beri oleh wanita j*l*ng itu,ia juga mengabai kan sederet permintaan maaf dari OB wanita itu.
Ia memegang tepian meja dengan kuat,nafas nya sudah memburu saat ini.Sedang kan pistol yang ia pegang tadi,sudah tergeletak di atas meja kerja nya.
Ia segera melepas kan kancing-kancing kemeja nya dengan tangan yang sudah tidak menentu,saat merasa kan panas di tubuh nya yang semakin membara.
Saat ini hanya ada wajah Desi saja di benak nya,ia memerlu kan seorang wanita untuk penawar dari tubuh membara nya saat ini.
Tapi,tidak mungkin Desi,mereka hanya sepasang kekasih dengan paksaan saja.Tapi ia juga tidak ingin wanita lain,di dalam benak nya hanya ada bayangan Desi saja saat ini.
Akhir nya ia memilih untuk memasuki ruangan pribadi nya,ia berjalan dengan tubuh yang tidak seimbang,berkali-kali ia menahan tubuh panas nya di dinding.
Setelah beberapa menit,Jo pun sampai di depan pintu ruangan pribadi nya dengan susah payah.
"Ceklek" terlihat Desi yang sedang terlelap tanpa selimut yang menutupi tubuh langsing nya,dengan Kemeja dan rok pendek yang Desi pakai,hingga membuat tubuh inti Jo yang sedang terangsang pun menjadi semakin terangsang saat melihat paha mulus nya Desi yang terlihat jelas di mata nya.
Desi yang sedang terlelap ,sama sekali tidak menyadari kehadiran Jo di dekat nya,ia bahkan tidak mendengar teriakan memohon nya OB wanita itu tadi,ternyata benar kata Hery kalau 3 wanita yang bersahabat itu memang ceroboh semua.
"Maaf kan aku ya.." gumam Jo dengan nada bersalah nya,tapi ia sudah tidak bisa menahan nya lagi.Semakin ia menahan,ia semakin tersiksa.
Tubuh nya sudah tidak bisa berkerja sama dengan hati nurani nya saat ini.Yang ia tahu,ia harus segera menuntas kan apa yang tubuh nya ingin kan saat ini.
Jo segera menyentuh leher mulus nya Desi dengan lembut mengguna kan bibir miliknya,lama-kelamaan sentuhan itu menjadi h*s*p*n.Jo terus mengh*s*p dengan kedua tangan yang sambil membuka kancing kemeja milik nya Desi dengan gerakan cepat,hingga membuat tidur nya Desi menjadi terganggu tapi tidak sampai membuat nya terbangun.
Desi yang merasa terganggu,hanya mengeliat kan tubuh nya saja karena masih sangat ngantuk.
Ia mengeliat sambil mendesah pelan saat merasa kan benda kenyal yang sedang menyentuh kulit leher nya hingga menjadi basah dan perlahan-lahan turun ke atas dada nya,kesadaran nya masih saja belum kembali karena mengira kalau itu hanya mimpi.
Jo yang mendengar Desi yang sedang mendesah pelan pun,membuat benda di bawah nya semakin bersemangat untuk menerobos gawang yang tertutup itu.
Kemeja milik nya Desi sudah terlempar ke atas lantai karena ulah nya Jo,Jo menatap 2 bukit kembar yang masih terbungkus baik di depan nya itu dengan tatapan lapar.
Pelan tapi pasti,ia segera menjulur kan kedua tangan nya untuk membuka kaitan kaca mata itu dengan gerakan cepat tapi Desi tetap saja terlelap tanpa tahu kalau itu bukan mimpi.
Tatapan mata nya Jo menjadi semakin bergairah setelah kaca mata itu terlepas sepenuh nya dari tubuh atas nya Desi,terlihat berisi,montok dan juga indah ,ia segera melahap 2 bukit kembar milik nya Desi dengan sebelah tangan yang terus memilin ujung bukit kembar milik nya Desi.
__ADS_1
Desi langsung meremas rambut nya Jo dengan pelan karena tubuh nya merasa kan sensasi yang baru pertama kali nya ia rasa kan,ia juga terus mengeluar kan suara merdu nya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelum nya.
Jo yang mendengar suara merdu nya Desi yang semakin meninggi itu,membuat gejolak-gejolak panas yang ada di tubuh nya semakin berkobar-kobar.
kedua tangan nya Jo segera membuka penghalang yang ada di bawah nya Desi dan juga penghalang yang ada di bawah nya sendiri tanpa melepas kan h*s*p*n nya di 2 bukit kembar itu.
Sebelah tangan nya segera menyentuh titik sensitif yang ada di bawah nya Desi sambil terus mengh*s*p tubuh atas Desi,setelah semua penghalang yang ada di bawah nya Desi tadi sudah tergeletak di atas lantai,bernasib sama dengan kemeja dan yang lain nya.
Hingga membuat Desi tersentak kaget dengan sentuhan nya Jo di ar*a sensitif nya,ia semakin meremas rambut nya Jo dan suara merdu nya juga semakin kuat.
Tapi beberapa detik kemudian ia merasa kan seperti ada benda tumpul yang ingin menerobos masuk ke dalam tubuh nya,membuat ia merasa kan sakit di ar*a sensitif nya.
Perlahan-lahan ia membuka mata nya yang terus terpejam dari tadi,mata nya langsung membulat saat melihat Jo yang sedang berlutut di depan ar*a sensitif nya dan kedua kaki yang sedang mengurung tubuh polos nya Jo.
"Aacchk" pekik Desi sambil menegak tubuh nya ke sandaran kasur milik nya Jo dengan gerakan cepat hingga membuat tubuh mereka berdua menajdi berjauhan saat kembali merasa kan sakit saat merasa kan benda tumpul yang ternyata milik nya Jo itu kembali ingin menetobos masuk ke dalam tubuh nya.
"A a apa yang kau laku kan?" tanya Desi dengan gugup dan wajah kaget nya,saat menyadari tubuh nya yang sudah tanpa sehelai kain pun,ia segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos nya.
Jo menggusar rambut miliknya dengan kasar saat tidak berhasil menerobos masuk,padahal hanya tinggal sedikit lagi,ternyata untuk memasuki perawan sulit juga.
"Maaf kan aku,aku harus melaku kan nya" jawab Jo dengan nada pasrah dan juga suara yang semakin berat,karena hasrat nya yang belum sempat tersalur kan.
"Apa kau tidak waras ?" tanya Desi dengan nada tinggi nya sambil menguat kan genggaman tangan nya di selimut yang menutup tubuh tanpa kain nya itu,ia terkejut saat mendengar jawaban nya Jo yang tidak tahu malu itu.
Padahal dari kemaren pria itu terus menolak dirinya,tapi sekarang apa ini...
'Dasar wanita munafik' umpat Jo di dalam hati dengan wajah kesal nya.Padahal wanita aneh ini dari kemaren sangat mengingin kan dirinya,kenapa sekarang malah balik bertanya,apa kah dirinya waras atau tidak.
"Aku di jebak oleh OB wanita tadi,aku tadi telah meminum kopi yang sudah ia beri obat perangsang tanpa mencurigai nya" jawab Jo dengan jujur sambil menahan sesuatu yang yang berada di dalam tubuh nya sedang ingin mendesak untuk keluar.
Sedang kan Desi terdiam dengan wajah kaget dan juga takut karena mendengar jawaban nya Jo dan juga melihat benda di bawah nya Jo yang terlihat besar dan panjang ,terlihat sangat mengeri kan di mata nya.
"Ya sudah,tidak apa-apa kalau kamu tidak mau.Aku akan mencari yang lain saja" lanjut Jo lagi dengan nada pasrah dan juga wajah yang serius.
Ia akan mencari salah satu karyawan wanita nya saja,kalau ia tidak segera melepas kan nya,ia takut tubuh nya akan kenapa-kenapa atau mungkin saja akan mati.
Semua karyawan wanita nya selalu menatap nya dengan tatapan lapar,ia hanya perlu memilih nya saja,ia yakin hasrat nya akan segera tersalur.
Padahal ia hanya mengingin kan tubuh nya Desi saja,apa lagi ini yang pertama bagi dirinya.Tapi ia juga tidak bisa memaksa kan permintaan aneh nya ini kepada Desi dan ia juga tidak bisa mengendali kan tubuh nya saat ini.
__ADS_1