Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
Bab. 182


__ADS_3

Karena merasa penasaran,wanita tersebutpun segera menolehkan kepalanya ke arah belakang dengan perlahan.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" tanya wanita tersebut pada Ryan sambil melepaskan rangkulan kedua tangannya pada lehernya Ryan.Ia bertanya dengan wajah malunya,saat ia melihat dan baru menyadari kalau ada hampir 10 Dokter lainnya yang bercampur dengan beberapa perawat sedang menatap penasaran ke arah mereka berdua.


Ryan langsung mendengkus kesal,saat ia mendengar pertanyaan wanita tersebut.Lalu ia segera berjalan keluar dari dalam lift,sambil terus menahan rasa malunya dan melewati semua orang begitu saja.


"Eh eh,tunggu aku.Kenapa kamu suka sekali meninggalkan aku?" tanya wanita tersebut lagi,dengan wajah kesalnya,sambil mengejar langkah lebarnya Ryan.


Bahkan rasa malunya sudah menghilang begitu saja dan ia juga tidak menghiraukan lagi tatapan penasaran dari semua orang yang belum berhenti menatapnya,karena yang ia pikirkan saat ini hanya ingin menghabiskan makan siang bersama Ryan,karena sudah ada makan siang yang ia buat sendiri dan sudah ia letakkan di ruang miliknya Ryan dari sebelum ia pergi mencari keberadaannya Ryan tadi.


"Kamu ini memang benar-benar tega sekali,apa kamu tidak kasihan padaku?" tanya wanita tersebut dengan napas yang sedikit ngos-ngosan karena mengejar langkah lebarnya Ryan.


Ia segera memegang lengannya Ryan tanpa rasa malu saat ia sudah bisa menggapai lengannya Ryan,ia juga berjalan dengan sedikit pincang sambil menahan rasa ngilu di pergelangan kakinya akibat tumit heel yang patah tadi,hingga membuat pergelangan kakinya keseleo tanpa ia sadari.


Bahkan barusan ia memaksa untuk berlari,makanya rasa sakit di pergelangan kakinya semakin terasa saat ini.


Ryan yang melihat wanita tersebut menjadi semakin kesulitan berjalan karena langkah lebarnnya itu,iapun menjadi tidak tega dan langsung memelankan langkah kakinya sambil menatap sekilas ke pergelangan kakinya wanita tersebut.


Wanita tersebutpun langsung tersenyum saat ia melihat Ryan yang langsung memelankan langkah lebarnya tadi.


"Duduklah" perintah Ryan,dengan suara lembutnya dan wajah khawatirnya,setelah mereka berdua sudah berada di dalam ruangan miliknya.


Ia baru menyadari kalau ternyata pergelangan kakinya wanita tersebut sedang keseleo,saat ia melihat wajah wanita tersebut yang sedang menahan sakit dan berjalan agak pincang.


Wanita tersebutpun langsung menuruti perkataannya Ryan dan duduk di kursi kerja miliknya Ryan dengan wajah yang sedikit meringis karena tidak sanggup lagi menahan rasa ngilu di pergelangan kakinya yang sudah berubah menjadi sakit.


Sedangkan Ryan,ia menghela napas dengan berat,saat ia melihat tingkah wanita tersebut yang seenaknya saja duduk di kursi kerjanya dan rantang makan siang yang sudah berada di atas meja kerjanya.


Sudah seminggu ini wanita tersebut membawa makan siang untuknya,hingga membuat dirinya tidak perlu lagi memesan makanan ataupun pergi ke kantin Hospital untuk makan siang.


Wanita tersebut memang sangat perhatian padanya dan menunjukkan dengan jelas rasa sukanya pada dirinya.Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya Ryan,karena yang jadi masalahnya ada pada isi rantang makan siang tersebut.


Kemudian Ryan mengabaikan semua itu dan segera mengambil kasa pembalut dan cream untuk pereda nyeri sekaligus bisa untuk pencegah pembengkakan,lalu ia kembali berjalan ke arah wanita tersebut yang masih duduk dengan wajah yang meringis kesakitan.


"Auchk" pekik wanita tersebut,karena tiba-tiba saja Snag Dokter berlutut di hadapannya dengan posisi sebelah lutut yang berada di atas sebelah lututnya dan menarik kakinya,walaupun Sang Dokter menarik kakiknya dengan pelan tapi tetap saja ia merasakan sakit.


"Apa yang ingin Dokter lakukan?" tanya wanita tersebut,dengan wajah malunya,saat ia melihat Sang Dokter meletakkan kakinya yang keseleo itu di atas lututnya Sang Dokter.Ia berbicara, sambil menahan bawa dressnya yang hampir saja terangkat ke atas.


'Ya Tuhan' batin Ryan sambil mempertahankan wajah santainya,karena sedang mengkhawatirkan pergelangan kaki wanita tersebut,ia sampai lupa kalau wanita tersebut sedang memakai dress.Hampir saja,tadi ia melihat permandangan yang tidak bisa ia bayangkan.


Ryanpun segera berdiri dari berlututnya setelah sudah meletakkan kembali kaki wanita tersebut ke bawah dengan pelan-pelan,lalu ia berjalan beberapa langkah untuk mengambil kursi yang biasanya di gunakan untuk para pasien.


Setelah ia sudah duduk di kursi tersebut,Ryan kembali menarik kaki wanita tersebut untuk ia letakkan di atas pahanya.


"Auchkk" pekik wanita itu,sambil mengelus-elus keningnya yang terasa ngilu karena baru saja di sentil oleh Ryan.


"Apa kamu ini tidak bisa,kalau tidak menampilkan wajah menggelikanmu itu?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya,saat ia melihat wajah wanita tersebut yang terus teesenyum dan terus menatap dirinya.


Tapi sebenarnya di balik nada kesalnya barusan,ia sedang menahan senyumnya karena wajah menggelikan wanita tersebut terlihat menggemaskan di matanya.


"Apa kamu juga tidak bisa,kalau dalam sehari saja jangan menyentil keningku?" tanya wanita tersebut,dengan nada kesalnya,karena selama seminggu ini keningnya selalu saja menjadi sasaran empuk untuk Sang Dokter.

__ADS_1


Hilang sudah rasa senangnya berganti dengan rasa kesal.Padahal baru saja ia merasa senang karena pria yang mulai menarik perhatiannya ini tidak seperti pria-pria mesum yang ia kenal sebelum-sebelumnya dan ternyata Sang Dokter bisa juga perhatian sama wanita.


Hingga membuat cintanya terhadap Sang Dokter, cinta yang baru saja tumbuh itu menjadi semakin bertambah di hatinya.


"Auchk,pelan-pelan saja Dok...." pekik wanita tersebut dengan nada pelan,saat ia kembali merasakan sakit di pergelangan kakinya.


"Tahan sedikit,hanya sebentar saja" ucap Ryan,dengan wajah seriusnya,sambil memijit pelan pergelangan kaki wanita tersebut yang keseleo itu.


Ia juga menghela napas lega,karena ternyata keseleonya tidak parah,hanya sedikit bengkak saja,terlihat sedikit mermar biru di pergelangan kaki wanita tersebut.


ia menjadi merasa bersalah karena tadi ia telah terlalu cuek pada wanita tersebut.


Wanita tersebutpun mau tidak mau langsung menurut,saat ia melihat wajah seriusnya Sang Dokter.Walaupun ia terus meringis tapi tatapan kedua matanya tidak beralih dari wajah tampannya Sang Dokter.


"Kenapa kamu ini selalu ceroboh?" tanya Rayn,dengan nada kesalnya,sambil mengoles sedikit cream ke pergelangan kaki wanita tersebut setelah selesai memijit.


Karena wanita tersebut,selama 1 minggu ini sudah beberapa kali hampir terjatuh,hanya saja baru kali ini sampai keseleo.


"Bukankah penyebabnya adalah kamu sendiri?" tanya wanita tersebut balik,dengan nada kesalnya.Karena mengingat kembali saat dirinya mengejar Sang Dokter yang tidak mau menunggunya tadi,hingga membuat pergelangan kakinya menjadi keseleo


"Memangnya siapa yang menyuruhmu harus berlari?" tanya Ryan balik dengan ekspresi wajah yang tidak bersalah sama sekali,padahal ia hanya tidak mau menunjukkan rasa bersalahnya saja karena tidak mau sampai wanita tersebut menjadi besar kepala.


Ia bertanya,sambil membalut pergelangan kakinya wanita tersebut dengan menggunakan kasa pembalut yang ia ambil tadi.


"Dasar pria tidak punya hati" gerutu wanita tersebut dengan memberengut kesal,sambil memalingkan wajahnya ke samping.


'Apa dia pikir,kalau tadi aku tidak berlari,aku akan mampu mengejar langkah kaki panjangnya itu dan bisa 1 lift bersamanya' lanjut gerutuan kesalnya wanita tersebut lagi,di dalam hati.


Ia juga mendongakkan kepalanya ke atas,ia langsung tersenyum saat melihat wajah kesalnya wanita tersebut,tapi sayangnya wanita tersebut tidak bisa melihatnya karena wajah wanita tersebut yang sedang memaling ke samping.


Sebenarnya Ryan hanya meluapkan rasa kesalnya karena merasa bersalah,tapi caranya saja yang sedikit berbeda.


"Sekarang,ayo kita makan siang" ajak Ryan,dengan wajah khasnya yang kembali santai tanpa senyuman,sambil berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci kedua tangannya.


"Ayo" jawab wanita tersebut,dengan nada semangatnya,sambil membuka rantang makan siangnya yang ia bawa tadi dan menatanya di atas meja kerjanya Sang Dokter.


Rasa kesalnya tadi langsung menghilang begitu saja,saat ia mendengar kata makan siang dari mulutnya Sang Dokter karena ia sudah tidak sabar ingin mengetahui penilaian dari Sang Dokter terhadap Masakannya hari ini.


"Aku sampai lupa kalau belum makan siang karena terus di buat kesal olehmu" lanjut wanita tersebut lagi,dengan nada kesal yang bercampur senang.


Sedangkan Ryan yang sudah selesai mencuci kedua tangannya,hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja,saat ia melihat wanita tersebut yang selalu berkata ceplas-ceplos.


"Apa lagi yang kamu masak hari ini?" tanya Ryan,dengan nada malasnya,sambil duduk di hadapan wanita tersebut dan meletakkan sebotol air minum berserta 2 gelas yang ia ambil tadi.


"Hari ini aku mencoba memasak sambal kentang,goreng nugget ayam sama sop ikan" jawab wanita tersebut sambil tersenyum dan sedang menunggu Sang Dokter mencobanya terlebih dahulu.


Ia menjadi merasa lucu sendiri,karena demi membuat Sang Dokter melihat kesungguhan cintanya.Dirinya yang biasanya jarang masuk ke dapur,tapi sekarang malah rela bermain sama panasnya kompor gas,minyak dan yang lainnya.


Padahal ia masih belum mengungkap rasa cintanya pada Sang Dokter,ia merasa malu kalau harus dirinya yang lebih dulu menyatakan cinta.Jadi,ia hanya berharap kalau Sang Dokter akan bisa segera menyadari cintanya yang baru mulai tumbuh itu.


Bahkan kedua orang tuanya juga hanya mampu menggeleng-geleng kepala mereka karena bingung dengan tingkah baru putrinya mereka itu.Mereka juga di buat kesal,karena ruangan dapur yang selalu berakhir menjadi berantakan selama seminggu ini.

__ADS_1


Sedangkan Ryan,hanya mampu kembali menghela napas dengan pelan.Setelah ia sudah selesai menuangkan 2 gelas air minun,lalu ia mengambil sendok makan yang sudah di sediakan oleh wanita tersebut dengan malas.


"Bagaimana?" tanya wanita tersebut,dengan harap-harap cemas,saat ia melihat Sang dokter yang sudah memasukkan sesendok kuah sop ikan ke dalam mulutnya.Jangan-jangan hasil masakannya kali ini,kembali membuat Sang Dokter memberi penilaian angka yang rendah padanya karena masakannya tidak enak.


"Kali ini lumayan" jawab Ryan dengan jujur,saat ia sudah menelan sesendok kuah sop ikan.Karena rasanya memang sudah pas,tidak seperti yang kemaren,rasanya hanya tawar saja.


"Benarkah?" tanya wanita tersebut dengan wajah tidak percayanya,karena ia sudah belajar banyak kali tapi rasanya tetap tidak memuaskan.


Beberapa detik kemudian,wajah tidak percayanya langsung tersenyum senang,saat ia melihat anggukkan kepalanya Sang Dokter.


"Kalau yang ini?" tanya wajita tersebut lagi,sambil menyodorkan rantang yang berisi sambal kentang masakannya tadi.


"Apa kamu memang sangat ingin menikah?" tanya Ryan dengan wajah herannya,sambil mengambil minuman miliknya dan langsung meminumnya dengan sekali teguk karena rasa asin pada sambal kentang tersebut.


Karena ia selalu mendengar dari Grandma,kalau wanita yang suka memasak tapi rasanya selalu asin atau terlalu asin,wanita itu ingin segera memiliki suami.


Ia merasa sangat heran dan juga kesal dengan wanita tersebut,kenapa masakannya selama seminggu ini kalau tidak tawar,pasti rasanya terlalu asin,seperti sambal kentang yang dia bawa sekarang ini.


Sedangkan wanita tersebut,hanya terdiam saja dengan wajah malunya saat ia mendengar pertanyaannya Ryan.


"Sambal ini terlalu asin.Apa yang sedang kamu pikirkan selama memasak tadi? Apa kamu tidak bisa sedikit mengurangkan garam ketika setiap kali memasak?" tanya Ryan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dan nada santainya sambil menahan rasa kesalnya karena merasa tidak tega kalau harus memarahi wanita tersebut secara terang-terangan.


"Kamu" jawab wanita tersebut dengan cepat dan singkat sambil menatap kesal ke arah wajah Sang Dokter.


Padahal ia berpikir,kalau Sang Dokter ingin mengatakan kalau Sang Dokter akan segera menikahinya atau apa gitu.Tapi ternyata yang keluar dari mulutnya Sang Dokter bukan seperti yang ia pikirkan.


"Kamu?" tanya Ryan dengan wajah bingungnya,saat ia tidak mengerti dengan jawaban dari wanita tersebut.


"Ketika aku memasak tadi,aku hanya memikirkan kamu saja" jawab wanita tersebut,dengan wajah malunya yang bercampur rasa kesal,sambil menyendok makanan siang miliknya.


"Auchk....Dokter" pekik wanita tersebut,dengan wajah kesalnya,karena lagi-lagi Sang Dokter kembali menyentil keningnya,padahal sentilan lama yang ia dapatkan tadi masih belum genap 1 jam.


Bahkan sendok miliknya yang baru saja mau terangkat,langsung ia letakkan kembali dan segera mengelus-elus keningnya yang kembali terasa ngilu.


"Apa kamu tidak bisa serius?" tanya Ryan,dengan nada kesalnya,padahal tadi ia sedang serius.


"Kenapa Dokter selalu menganggap semua perkataanku candaan? Apa Dokter masih anak-anak? Apa Dokter tidak bisa membedakan mana yang candaan dan mana yang serius?" tanya wanita tersebut tanpa jeda,dengan nada emosi yang bercampur kesal.


"Aku ......." Ryan yang ingin menjawabpun,langsung menutup mulutnya kembali karena wanita tersebut kembali berbicara.


"Apakah kamu tahu? Kalau bicara soal perasaan,aku tidak pernah bercanda" lanjut wanita tersebut lagi,sambil berdiri dari duduknya dan menampilkan ekspresi marah di wajahnya.


"Kamu makan saja sendiri,kalau rasanya tidak sesuai sama seleramu,di buang saja.Aku akan pulang saja" lanjut wanita tersebut lagi,dengan nada emosinya,sambil berbalik badan dan berniat ingin pergi dari sana.


Hilang sudah kesabarannya selama seminggu ini,karena Sang Dokter yang selalu menganggap keseriusannya sebagai candaan.


"Berhenti dan duduk kembali,jika kamu masih ingin mendapatkan izin untuk ketemu denganku..." ancam Ryan,dengan wajah seriusnya yang bercampur bingung,sambil menatap punggungnya wanita tersebut.


Ryan menjadi bingung karena ia memang selalu menganggap wanita tersebut sedang bercanda dengannya tapi dirinya juga merasa nyaman ketika wanita tersebut sedang bersamanya.


Bukan apa-apa,ia hanya takut kalau wanita tersebut hanya obsesi semata terhadap dirinya,karena sudah banyak wanita yang terus mengejar dirinya karena terlalu obsesi terhadap dirinya.

__ADS_1


Tapi saat ia melihat wanita tersebut ingin pulang begitu saja tanpa melewatkan makan siang bersamanya,ia malah merasa tidak rela.


__ADS_2