
“Mpus, kamu kenapa sih dari tadi kelihatan bete gitu?” Windy penasaran, karena biasanya Jingga selalu ceria setiap kali mereka keluar. Apalagi kalau sedang makan ice cream di cafe favorit mereka.
“Aku kesal cing. Si Fatma seniorku di sekolah gak ada capek-capeknya mengerjai aku terus.” Jingga memanyunkan bibirnya.
“Dia iri kelles sama kamu. Takut kesaing! Abaikan saja!” Windy ikutan kesal mendengar aduan dari sahabatnya itu.
“Gak tau kenapa.” Jingga merespon dengan lesu.
“Kamu gaet saja ketua OSISnya. Main aman!” Saran Windy langsung membuat Jingga mencibir.
“Idiih.. Gak ah! Kamu kayak gak tau aku aja?” Jingga menunjukkam ekspresi tidak sukanya.
“Emang ketua OSISnya jelek?” Tanya Windy penasaran.
“Ketua OSISnya lumayan sih. Tapi aku gak suka, dia malah sok kegantengan menurut aku. Hehehee..” Jingga sudah mulai tertawa, sejenak mulai melupakan rasa kesalnya pada Fatma.
__ADS_1
“Ya ampun mpus. beneran itu? Hahahaa...” Windy ikut tertawa karena melihat Jingga sudah mulai tertawa lepas.
“Padahal kamu gak suka yang ganteng ya mpus?” Windy masih tertawa cekikikan.
“Aku gak suka yang ganteng? Becanda kamu cing! Siapa yang gak suka sama cowok ganteng? Hahahahaa..” Jingga menjelaskan sambil masih tertawa mengingat tingkah Robi sang ketua OSIS yang merasa sok kegantengan sama siswi baru.
“Aku masih penasaran. Cowok seperti apa yang bisa meluluhkan hati kamu?” Tanya Windy penasaran. Karena setahu Windy dari dulu Jingga pacaran belum pernah satu kalipun benar-benar serius pakai hati.
“Aku juga gak tau cing seperti apa tepatnya. Tapi aku suka laki-laki yang manis. Manis senyumnya, manis perlakuannya ke aku, pokoknya selalu terlihat manis di mataku. Entah itu sikap maupun ucapannya!” Jingga menjelaskan secara detail seperti apa lelaki idamannya.
“Eeh.. Sikap atau ucapan dari buaya sama yang tulus itu beda ya cing! Kalau yang tulus pasti akan terlihat manis dan berasa cing.” Jingga memejamkan matanya membayangkan kalau suatu hari akan bertemu dengan lelaki manis impiannya itu.
“Iya deh. Semoga kamu cepat ketemu sama lelaki manismu mpus.” Windy menanggapi. Sementara Jingga masih senyum-senyum sendiri.
Jingga tidak tahu apakah lelaki yang di maksudnya itu nyata atau hanya ada dalam khayalannya. Tapi Jingga tahu pasti, hatinya pasti akan memberi kode jika suatu hari bertemu dengan lelaki impiannya itu.
__ADS_1
Selesai menghabiskan ice cream di cafe. Mereka lanjut belanja. Seperti biasa perempuan memang hobi belanja. Jingga asyik melihat tas model terbaru. Sedangkan Windy sibuk mencoba sepatu. Mereka memang sangat kompak. Dari kecil mereka telah bersahabat, karena memang kebetulan mama Windy adalah saudara kandung dari Papa Jingga dan rumah mereka juga bersebelahan.
“Mpus, gimana kalau kamu udah bertemu sama lelaki manis itu tapi dia gak bisa belanjain kamu kayak sekarang ini?” Windy lagi-lagi bertanya.
“Maksud kamu dia kere gitu?” Jingga langsung menembak arah pertanyaan Windy.
“Hohoh..” Respon Windy singkat. Seketika Jingga terdiam. Sebenarnya Jingga tidak pernah mempermasalahkan status. Tapi yang Jingga takutkan hanyalah tanggapan orang tuanya.
“Jujur cing. Dari dulu aku gak pernah mempermasalahkan status sosial seseorang. Cuma itulah cing kita hidup di dunia nyata dimana status sosial masih dianggap penting.” Jingga mulai menjelaskan pendapatnya kepada Windy.
“Intinya?” Windy kembali mengernyitkan dahinya memberi isyarat kalau dia masih belum paham dengan maksud perkataan Jingga.
“Aku mau, tapi orang tuaku pasti jelas menentangnya.” Lanjut Jingga terbata-bata.
*****
__ADS_1