
3 hari di rumah sakit membuat Jingga merasa sangat bosan. Setiap hari hanya Windy yang menemaninya. Tidak ada satupun teman sekolah yang menjenguknya. Bahkan Fiki sang kekasih.
“Fiki gak pernah datang kesini ya cing?” Tanya Jingga kepada Windy memastikan.
“Gak ada mpus. Kenapa?” Balas Windy.
“Mana tahu pas aku tidur dia datang.” Jawab Jingga mengharap.
“Gak ada mpus. Makin kesini gue makin bingung. Fiki kayak bukan pacar kamu saja?” Jawaban Windy seketika membuat Jingga pun ikut bertanya-tanya.
‘Seperti bukan pacar kamu saja?’ Jingga kembali mencerna kata-kata sahabatnya itu. Jingga merasa perkataan Windy ada benarnya. Berbulan-bulan mereka pacaran, tapi tidak pernah satu kali pun Fiki mengajaknya jalan keluar.
“Iya cing. Aku juga merasa begitu.” Jingga memanyunkan bibirnya.
“Sorry ya mpus. Bukannya aku mau menghasut kamu. Cuma kalau aku perhatikan tampang seperti Fiki itu tampang cowok playboy.” Ujar Windy mantap.
“Aku juga merasa begitu cing. Tiap kali dia antar aku pulang, ponselnya langsung di matikan.” Jingga kembali mengingat beberapa kejanggalan yang terjadi tiap kali dirinya dan Fiki sedang berdua.
__ADS_1
“Ya sudahlah mpus. Kamu gak usah lagi terlalu mengharapkan cowok seperti itu.” Saran Windy di sambut Jingga dengan mengedipkan matanya pertanda setuju.
*****
Jingga merasa sudah sehat. Sebenarnya Jingga sudah tidak terlalu sedih lagi dengan kepergian orang tuanya. Jingga telah mencoba mengikhlaskan semua. Hanya saja beberapa hari sebelum Jingga jatuh sakit, beberapa orang debt colector datang ke rumahnya mengirimkan surat perintah penarikkan mobil dan rumah. Itulah yang membuat Jingga jadi kepikiran lagi dan drop.
Dan hubungannya dengan Fiki bukan masalah yang penting baginya. Sejak awal memutuskan berpacaran dengan Fiki bukan karena menyukai ataupun cinta kepada Fiki. Tapi karena Jingga tidak enak dengan Sonya adik Fiki. Sonya adalah teman baik Jingga di sekolah. Jingga takut jika menolak Fiki akan mempengaruhi pertemanannya dengan Sonya.
“Jingga kamu sudah siap-siap sayang?” Bu Lisa mama Windy masuk ke dalam ruangan kemudian mengusap rambut Jingga.
“Sudah tan.” Balas Jingga Singkat.
“Jingga udah sehat kok tan.” Jingga tersenyum melihat tantenya mulai memanjakannya.
Mereka pun pulang menaiki mobil keluarga Windy.
*****
__ADS_1
Sesampainya di rumah
“Tante, kenapa kita ke rumah tante dulu?” Tanya Jingga keheranan.
“Kita masuk dulu ya sayang!” Bu Lisa menggandeng tangan Jingga membawanya masuk ke dalam rumah mereka.
“Aku mau meletakkan ini dulu ke kamar tamu ma.” Windy membawa tas berisi pakaian Jingga menuju kamar tamu. Jingga makin di buat bingung.
“Cing, itu tas aku.” Jingga menunjuk tasnya yang hendak di bawa Windy.
“Mulai sekarang kamu tinggal bareng kita disini mpus.” Windy menjawab semua kebingungan Jingga, namun Jingga masih belum mengerti.
“Jingga sebenarnya kemarin debt colector sudah membawa surat penarikan rumah dan mobil-mobil keluarga kamu.” Pak Niko mulai buka suara.
“Sayang, tapi kamu jangan khawatir, masih ada kami. Mulai sekarang kamu tinggal disini sama kita.” Bu Lisa meyakinkan Jingga yang masih tertunduk tidak percaya dengan kenyataan yang sedang ia hadapi.
“Iya tante, aku paham kok tan.” Jingga menanggapinya dengan tak bersemangat. Jingga lalu berjalan ke arah Windy dan menggandeng tangan sahabatnya itu menuju kamar tamu.
__ADS_1
Jingga dan Windy masuk ke sebuah kamar yang ukurannya lumayan besar. Windy meletakkan tas Jingga di atas meja. Jingga duduk di tepi ranjang sambil menarik nafas panjang.
*****