
Pak Harri mengajak Fandi untuk berbincang lebih lama di ruangannya. Fandi pun mengiyakan ajakan pak Harri, karena hari itu kebetulan hari terakhir Fandi magang di perusahaan itu.
“Ooh ya Fandi, kamu jangan keluar dulu. Saya kasih tahu pak Joko dulu agar membawakan dua cangkir kopi ke ruangan saya.” Pak Harri berdiri lalu menghubungi pak Joko dari telepon yang berada di atas mejanya.
“Baik pak.” Balas Fandi.
“Kalau saya boleh tahu kamu masih tinggal bersama orang tua?” Tanya pak Harri penasaran.
“Saya kos pak.” Jawab Fandi seadanya.
“Orang tua kamu?” Tanya pak Harri lagi.
“Orang tua saya sudah lama meninggal pak, sejak saya umur 12 tahun.” Jawab Fandi lagi.
“Ooh maaf Fandi, saya tidak tahu.” Balas pak Harri.
“Lantas selama ini kamu tinggal dengan siapa?” Tanya pak Harri lagi makin penasaran.
“Saya sempat tinggal dengan kerabat orang tua saya pak. Tapi setelah SMA saya memutuskan untuk kerja dan tinggal di tempat saya bekerja. Semenjak kuliah barulah saya mulai kos pak.” Fandi menjelaskan kepada pak Harri dengan tenang. Pak Harri pun tampak salut dengan sosok Fandi yang pintar dan mandiri.
“Waah.. Saya makin salut dengan kamu Fandi. Masih muda, gigih, optimis dan mandiri pula ternyata.” Ujar pak Harri menatap kagum.
__ADS_1
“Saya jadi teringat waktu saya masih muda dulu. Hampir sama dengan kamu.” Sambung pak Harri.
“Terima kasih pak. Sebenarnya saya masih banyak belajar pak.” Balas Fandi menunduk.
“Ngomong-ngomong saya punya anak gadis yang juga kuliah di Universitas yang sama dengan kamu. Mungkin satu Fakultas sama kamu.” Ujar pak Harri lagi.
“Kalau boleh saya tahu siapa nama anak bapak?” Tanya Fandi penasaran.
“Namanya Lona. Jurusan Akutansi.” Jawab pak Harri.
“Apa kamu mengenalnya?” Lanjut pak Harri bertanya pada Fandi.
“Oo begitu, baiklah Fandi. Saya harap kamu bisa secepatnya wisuda dan bisa bergabung di perusahaan ini.” Pak Harri mengulurkan tangannya menjabat tangan Fandi.
“Tentu saja pak Saya sangat senang sekali bisa bergabung di perusahaan ini.” Balas Fandi menjabat tangan pak Harri.
Setelah berpamitan dan keluar dari ruangan pak Harri, Fandi kembali ke mejanya. Di sana terlihat Rizki dan Nita senyum-senyum melihat raut wajah Fandi yang tampak senang
“Waaww.. Makan-makan nih!” Sahut Nita menggoda Fandi.
“Heheheee.. Alhamdulillah kak.” Balas Fandi tertawa kecil.
__ADS_1
“Mumpung jam istirahat, kita makan siang di luar yuk. Bosan di kantin melulu.” Ajak Rizki melirik jahil pada Fandi.
“Okee Okee.. Ayo kita makan-makan?” Ujar Fandi bersemangat.
Akhirnya mereka bertiga keluar kantor untuk makan siang. Mereka sepakat makan siang di sebuah cafe tidak jauh dari kantor mereka. Setelah duduk dan memesan makanan, mereka berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka datang.
“Fandi, kamu sudah punya pacar belum?” Tanya Nita tiba-tiba.
“Kenapa Nit? Kamu mau gebet Fandi? Heheheee...” Timpal Rizki meledek Nita.
“Aah.. Kamu bisa aja Ki? Lihat ini cincin tunanganku. Bentar lagi sudah sah jadi milik orang.” Balas Nita sembari menunjukkan cincin di jari manisnya.
“Terus kenapa bertanya sama Fandi?” Tanya Rizki. Fandi hanya tersenyum mendengarkan teman-temannya bicara.
“Aku mau comblangin sama sepupu aku. Heheheee..” Jawab Nita cengengesan.
“Fandi masih sangat muda Nit. Sepupumu comblangin sama aku aja. Hehehee...” Celetuk Rizki ikut cengengesan.
Mereka asyik tertawa bercanda satu sama lain. Sesaat makanan datang, mereka segera menyantapnya.
*****
__ADS_1