Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 158


__ADS_3

Flashback (Jingga)


Semakin hari kehamilan Jingga semakin bertambah besar. Menurut perhitungannya bulan depan ia akan segera melahirkan. Jingga masih tetap bekerja meskipun perutnya makin bertambah besar. Jingga hampir tidak pernah mengeluhkan rasa sakit yang ia alami selama mengandung. Ia tampak seperti wanita tangguh yang sanggup menjalaninya seorang diri tanpa pendamping.


Namun suatu ketika Jingga mulai sering mengalami kram dan sakit di bagian ari-arinya.


“Kenapa akhir-akhir ini perutku sering kram dan sakit? Apa ini wajar terjadi pada hamil besar?” Jingga mengelus perutnya berkali-kali agar kram dan rasa sakitnya berkurang.


Jingga kembali melanjutkan pekerjaan. Dengan sangat hati-hati Jingga menjaga keselamatan calon bayinya. Ia tidak mau anaknya sampai kenapa-kenapa, karena kelalaiannya.


“Jingga, kamu kenapa?” Tanya Fika rekan Jingga. Fika sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah Jingga seperti sedang menahan rasa sakit.


“Tidak apa-apa Fika. Cuma kram sedikit dan itu biasa terjadi pada orang hamil.” Jawab Jingga berusaha tampak baik-baik saja.


“Kamu yakin? Apa gak minta izin istirahat saja?” Fika mulai khawatir melihat wajah Jingga yang mulai pucat.


“Aku baik-baik saja.” Balas Jingga masih berusaha tenang.


Fika lalu meninggalkan Jingga yang masih saja menyembunyikan rasa sakitnya. Jingga duduk di kursinya. Ia mulai merasa sempoyongan. Pandangannya nampak kabur. Jingga lalu merebahkan kepalanya ke meja dengan posisi telungkup.

__ADS_1


Beberapa rekannya mulai khawatir melihat Jingga. Seperti biasa asisten Ferdinan yang kebetulan melihat Jingga segera melapor kepada bosnya.


“Maaf pak. Saya ingin memberitahukan bahwa sekarang ini Jingga tampak tidak sehat.” Ujar Rudi memberitahukan kondisi Jingga pada Ferdinan.


“Sakit apa wanita itu?” Tanya Ferdinan tampak tidak perduli.


“Saya kurang tahu pak. Tapi sedari tadi saya perhatikan Jingga sangat pucat.” Jawab Rudi asisten Ferdinan.


‘Apa dia mau melahirkan?’ Pikir Ferdinan sembari mencibir.


“Okee.. Nanti saya akan kesana.” Balas Ferdinan sambil memberi isyarat pada Rudi untuk keluar dari ruangannya.


“Lihat apa yang bisa lu lakuin sekarang? Apa lu masih bisa jual mahal sama gua? Lu harus bayar mahal, karena sudah berani menolak gua.” Ujar Ferdinan mengangguk membayangkan rencana balas dendamnya pada Jingga.


Ferdinan kemudian keluar dari ruangannya hendak menghampiri Jingga di tempatnya. Ferdinan memasang wajah datar seolah tak tahu kondisi Jingga saat itu.


“Ada apa ini? Kenapa semua melihat ke arah sana?” Tanya Ferdinan pura-pura tidak tahu.


Sebagian pegawainya ada yang hanya menunduk dan kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan sebagian lainnya memberitahukan tentang kondisi Jingga pada Ferdinan. Ferdinan hanya mencibir mendengar penjelasan dari pegawainya. Setelah itu Ferdinan mulai mendekat ke tempat Jingga.

__ADS_1


“Ada apa ini? Kenapa kamu tiduran disini?” Tanya Ferdinan mengernyitkan dahinya melihat Jingga. Seketika Jingga mengangkat kepalanya berusaha untuk duduk dengan benar.


“Tidak ada apa-apa pak.” Jawab Jingga tenang.


“Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?” Ferdinan kembali bertanya pada Jingga.


“Saya hanya pusing sedikit pak.” Jawab Jingga lagi.


“Ooh.. Kamu yakin? Apa perlu ke rumah sakit untuk memeriksakannya.” Tanya Ferdinan belagak perduli dengan kondisi Jingga.


“Tidak perlu pak.” Jawab Jingga menolak tawaran dari Ferdinan.


Jingga tampak mulai lemah. Pandangannya semakin buram. Ia memegangi dahinya, karena semakin merasa pusing.


Ferdinan menyuruh asistannya untuk membawa Jingga masuk ke dalam mobilnya. Jingga sudah pasrah, karena ia pun tak punya daya lagi untuk menolak. Jingga pingsan. Saat tersadar, ia sudah menemukan dirinya berada di rumah sakit.


Dokter mengatakan jika kandungan Jingga bermasalah. Mau tidak mau ia harus menjalani sectio caesarea (SC), artinya Jingga tidak bisa melahirkan secara normal. Jingga menghela nafasnya. Pikirannya kacau, karena tentu operasi itu akan membutuhkan biaya yang banyak.


*****

__ADS_1


__ADS_2