Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 141


__ADS_3

“Mama..” Dirga masuk ke ruang perawatan Jingga dan langsung memeluknya.


“Dirga sayang..” Balas Jingga sembari menciumi anak laki-lakinya itu.


“Mama sudah sembuh?” Tanya Dirga menatap Jingga.


“Sudah sayang. Mama sudah sembuh.” Jingga membiarkan Dirga terus memeluknya. Dirga merebahkan kepalanya pada perut Jingga.


“Semalam Dirga tidur dimana?” Tanya Jingga penasaran.


“Dirga di ajak sama om baik tidur di hotel ma. Kamarnya bagus, Dirga senang disitu.” Jawab Dirga dengan polosnya.


“Om baik siapa?” Jingga penasaran dengan sosok yang sudah menolongnya dan Dirga.


“Dirga gak tahu ma, tapi om itu baik sekali ma. Semalam dia ajak Dirga makan ayam crispy. Tadi pagi Dirga juga makan ayam crispy.” Dirga menjelaskan begitu bersemangat. Jingga tertegun mendengar kebaikan sosok pria itu pada anaknya.


“Waah.. Om itu baik sekali sama Dirga. Mama harus berterima kasih padanya.” Balas Jingga tak kalah bersemangat.

__ADS_1


“Ooh ya ma, Dirga ingat. Om itu teman mama katanya.” Lanjut Dirga mengingat kembali yang di katakan Fandi padanya.


“Teman mama?” Jingga semakin penasaran.


“Iya.” Dirga kembali merebahkan kepalanya di perut Jingga.


“Mama jadi penasaran. Dirga, tas mama Dirga yang simpan ya?” Tanya Jingga yang sedari tadi tak melihat keberadaan tasnya.


“Aduh.. Dirga lupa ma. Tasnya ketinggalan di kamar hotel om baik.” Jawab Dirga menepuk kepalanya.


“Hehehee.. Tidak apa-apa sayang.” Jingga mengelus kepala Dirga.


*****


“Jingga Jingga Jingga..” Fandi berkali-kali menyebut nama itu berharap bisa membuatnya memiliki nyali untuk masuk ke dalam.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Ternyata asalnya dari dalam tas Jingga yang di bawa Fandi.

__ADS_1


‘Ponsel Jingga berdering.’ Batin Fandi. Fandi memberanikan diri untuk membuka tas itu dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.


Fandi mendapati sebuah ponsel jadul. Ada banyak sekali panggilan tak terjawab. Di layar ponsel tertulis nama Pak Ferdinan.


‘Bukankah kata Riko nama suami Jingga adalah Ferdinan. Suami Jingga sudah menghubunginya berkali-kali.’ Fandi memeriksa panggilan tak terjawab di ponsel Jingga, ada puluhan panggilan tak terjawab dari Ferdinan.


Fandi memandangi ponsel Jingga. Ponsel Jingga tampak biasa. Tidak ada kamera, tidak elite, tidak seperti kebanyakan ponsel istri pengusaha. Padahal suami Jingga adalah seorang pengusaha yang kaya raya.


Fandi kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Ia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Sempat terlintas di pikirannya untuk menghubungi balik nomor Ferdinan untuk memberitahukan kondisi Jingga. Belum sempat Fandi melaksanakan niatnya itu, tiba-tiba ada satu pesan yang masuk. Setelah di lihat ternyata masih dari Ferdinan. Fandi ragu-ragu untuk membukannya. Tapi karena rasa penasarannnya, ia memberanikan diri untuk membaca pesan tersebut.


Wanita pel*cur lu dimana? Dasar m*rahan! Lu pikir gua akan membiarkan lu & anak h*ram lu itu pergi begitu saja. Tidak semudah itu. Gua sudah banyak ngabisin duit utk menghidupi lu berdua. Menjadi bud*k gua seumur hidup pun tidak bisa membayar semua hutang2 lu.


Betapa kagetnya Fandi membaca isi dari pesan masuk tersebut. Matanya terbelalak, dadanya terasa begitu sesak. Meski bukan dirinya yang di hina, tapi Fandi tampak emosi setelah membaca pesan itu.


“Suami seperti apa Ferdinan ini? Kenapa dia mengata-ngatai Jingga seperti ini?” Umpat Fandi mulai tersulut emosi.


Tanpa berpikir lagi Fandi masuk ke dalam ruang perawatan Jingga. Di ranjang Fandi melihat Jingga dan Dirga tertidur.

__ADS_1


*****


__ADS_2