
Fandi melangkah dengan perlahan mendekati Jingga dan Dirga yang sedang tertidur. Melihat posisi tubuh Dirga yang membungkuk ke perut Jingga, Fandi memutuskan untuk menggendong anak itu lalu memindahkannya ke sofa bed yang ada di sudut kamar.
Fandi sangat hati-hati menggendong Dirga agar si anak tidak terbangun. Fandi kembali membelai puncak kepala Dirga. Semakin ia menatap Dirga semakin besar hasratnya ingin menciumnya.
Secara tak sengaja Jingga terbangun. Jingga membuka matanya dan mendapati anaknya sedang di cium seorang pria dengan perawakan tidak asing. Namun Jingga tidak bisa mengenali pria itu, karena pria itu membelakanginya.
“Permisi. Apa anda om baik yang menolong Dirga dan saya?” Tanya Jingga ramah. Fandi melepaskan kecupannya dari kening Dirga, kemudian menoleh ke belakang.
Mengetahui pria itu ternyata adalah Fandi, Jingga terdiam. Jingga mematung, diam seribu bahasa. Tidak terasa ada yang keluar dari sudut matanya. Jingga menangis sembari menatap Fandi. Fandi tak berkedip sedikit pun menatap mata Jingga.
Fandi melangkah perlahan mendekati Jingga. Tetesan air mata Jingga semakin bercucuran. Dengan sekuat tenaganya Jingga berusaha menahan sesak di dadanya.
“Jingga.” Ucap Fandi masih dengan tatapan matanya yang tajam.
Seketika Jingga melepaskan pandangannya dari Fandi. Jingga menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jingga menangis tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Jingga berusaha menyembunyikan wajahnya dari Fandi.
Fandi menarik Jingga ke dalam pelukannya. Meskipun ia tahu betul Jingga adalah istri orang lain. Namun Fandi tidak bisa menahan diri untuk melampiaskan rasa rindunya yang teramat besar pada wanita itu.
__ADS_1
“Jingga, kamu kemana saja?” Tanya Fandi lirih.
Jingga memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Fandi. Dari matanya Fandi bisa merasakan ada banyak kesakitan yang di alami Jingga selama ini.
“Maafkan aku Fandi.” Hanya itu kata-kata yang terlontar dari bibir Jingga sebelum akhirnya Jingga kembali terhanyut dalam kesedihannya.
Fandi membelai pipi Jingga. Tangannya menyeka setiap air mata yang mengalir di pipi itu.
“Maaf Jingga.” Fandi menarik kembali tangannya. Ia sadar bahwa ia tidak berhak menyentuh wanita itu, karena sekarang status Jingga adalah istri orang.
“Terima kasih Fandi. Karena semalam kamu sudah menolongku dan Dirga.” Ujar Jingga tersenyum ramah.
“Sama-sama Jingga.” Balas Fandi mencoba untuk tenang.
“Sepertinya aku sudah baikkan. Apa hari ini aku sudah boleh keluar dari rumah sakit ini?” Tanya Jingga sembari memandangi Dirga yang sedang tidur.
Fandi sesaat terdiam. Ia mencoba mengumpulkan sedikit keberaniannya untuk memberitahu Jingga tentang kondisi Jingga yang sebenarnya. Fandi menarik nafasnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jingga.
__ADS_1
“Jingga, kamu perlu di rawat untuk beberapa hari lagi.” Jawab Fandi.
“Aku sudah sembuh Fandi. Lebih baik aku istirahat di rumah saja.” Jingga bersikeras untuk pulang. Jingga tersenyum berat melihat ekspresi Fandi seolah sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Fandi, aku ingin pulang.” Lanjut Jingga.
“Jingga, kamu tidak sedang baik-baik saja. Tolong mengertilah! Aku mau kamu tetap di rumah sakit ini.” Suara Fandi sedikit keras pada Jingga. Jingga terkejut. Seingat Jingga selama mengenal Fandi, Fandi tidak pernah bicara dengan suara keras kepadanya.
“Ada apa Fandi?” Tanya Jingga menatap tajam Fandi.
“Aku janji aku akan melakukan apapun agar kamu bisa sembuh. Kamu tidak usah khawatir Jingga.” Suara Fandi terdengar tercekat. Ia memalingkan mukanya dari Jingga.
“Fandi, sebenarnya aku kenapa?” Jingga memaksa Fandi untuk menatapnya. Jingga tahu betul Fandi sedang menyembunyikan kondisinya yang sebenarnya.
“Tolong jawab aku!” Pinta Jingga memohon penjelasan dari Fandi.
*****
__ADS_1