
“Fandi, aku suka sama kamu. Aku berharap kita bisa punya hubungan lebih dari teman.” Ucap seorang wanita mencoba menggenggam tangan Fandi di depan keramaian. Namun Fandi menepisnya.
“Hhhmmm..” Fandi menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
“Maaf Diah. Kamu wanita yang baik. Tapi maaf aku selama ini hanya menganggap kamu teman dan sampai kapan pun akan tetap begitu.” Balas Fandi merasa tidak enak pada Diah.
“Tapi kenapa Fandi? Aku kurang apa?” Tanya Diah lagi.
“Tidak ada yang kurang dari kamu. Tapi aku sudah punya kekasih dan akan menikahinya.” Jawab Fandi dengan wajah serius.
“Apa?” Tanya Diah terkejut. Semua yang ikut menyaksikan pun ikut terkejut. Bagaimana mungkin seorang Fandi yang terlihat sangat sibuk ternyata sudah memiliki kekasih dan akan menikah.
“Iya, aku sudah memiliki kekasih dan hubungan kami sangat serius. Kami berniat akan segera menikah.” Jawab Fandi lagi meyakinkan Diah.
“Tidak mungkin. Aku tidak pernah melihat kamu dengan seorang wanita. Bagaimana mungkin kamu punya kekasih?” Tanya Diah lagi masih tak percaya dengan ucapan Fandi.
“Itu benar. Aku memang sudah memiliki kekasih semenjak SMA. Namanya Jingga, ia teman SMA ku.” Jawab Fandi lagi lebih meyakinkan Diah.
“Itu artinya kamu menolak aku?” Diah berbalik dan meninggalkan Fandi.
__ADS_1
“Maaf Diah.” Sahut Fandi ketika Diah berlalu meninggalkannya.
Riko yang menyaksikan kejadian itu hanya geleng-geleng kepala. Riko tidak menyangka Fandi akan menolak wanita yang menyatakan cinta lagi padanya.
*****
“Heii bro.” Riko menepuk pundak Fandi dan mengajaknya untuk duduk di kantin kampus.
“Lu gak ada kelas Rik?” Tanya Fandi.
“Dosen gue gak datang bro.” Jawab Riko.
“Gue salut sama lu bro.” Ujar Riko tersenyum pada Fandi.
“Kenapa Rik?” Tanya Fandi penasaran.
“Kalau gue jadi lu, udah gue pacarin tuh cewek. Heheheee...” Celetuk Riko sembari tertawa cekikikan.
“Dasar lu! Hahahahaa..” Tawa Fandi sembari menjitak kepala Riko.
__ADS_1
Sudah lama Fandi tidak tertawa lepas seperti ini. Sejak di tinggal Jingga, Fandi menjadi pribadi yang tertutup. Ia sudah tidak banyak bicara dan bergaul. Hanya Riko yang menjadi tempatnya berkeluh kesah.
“Ooh ya bro, lu pernah berpikir gak Jingga sekarang lagi apa?” Tanya Riko basa basi.
“Mungkin sekarang Jingga lagi tiduran, karena kandungannya sudah masuk 9 bulan dan sebentar lagi lahiran Rik.” Jawab Fandi tersenyum berat.
“Apa lu yakin?” Tanya Riko lagi.
“Gue yakin Rik. Gue selalu menghitung bulannya dan sekarang sudah bulan ke 9 kehamilan Jingga.” Jawab Fandi antusias.
“Maksud gue. Apa lu yakin Jingga masih mempertahankan kandungannya? Lu tahu kan Jingga mudah gonta ganti pacar. Siapa tahu dia sudah lama menggugurkan anak kalian. Maaf bro. Gue hanya mengemukakan pendapat gue, itu pun dari sudut pandang gue.” Ucap Riko ragu-ragu. Riko merasa tidak enak hati menyampaikan apa yang ada di pikirannya kepada Fandi.
“Gue paham maksud lu Rik. Tapi lu gak kenal betul bagaimana Jingga. Gue percaya dia tidak akan menggugurkan anak kami, karena Jingga mencintai gue.” Balas Fandi menunduk. Ia mulai memikirkan perkataan Riko.
“Gue juga berharap begitu bro. Gue balik dulu bro.” Riko menepuk pundak Fandi dan berjalan ke arah mobilnya.
Fandi masih terpaku dengan ucapan Riko. Ia mulai ragu. Ia takut bila ucapan Riko itu benar, itu artinya Jingga tega membunuh buah cinta mereka.
‘Tidak! Jingga tidak akan mungkin tega melakukan itu. Jingga mencintai aku, Jingga hanya marah dan tidak lama lagi dia pasti akan kembali.’ Gumam Fandi dalam hatinya.
__ADS_1
*****