Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 175


__ADS_3

Fandi, di bantu Riko beserta rekan-rekan pengacara yang lain berusaha untuk menjebloskan Ferdinan ke dalam penjara atas kekerasan yang di lakukannya terhadap Jingga dan Dirga. Banyak bukti yang memberatkan Ferdinan. Selain hasil visum Jingga, beberapa pesan masuk dan rekaman telepon adalah bukti yang cukup kuat membuat Ferdinan mendekam untuk waktu yang lama.


Fandi juga telah melunasi hutang-hutang Jingga pada Ferdinan. Dan proses perceraian Jingga dan Ferdinan tinggal menunggu putusan finalnya. Jingga merasa lega, akhirnya bisa melepaskan diri dari jerat Ferdinan.


Suatu malam, Fandi mengajak Jingga untuk berbicara di teras belakang rumahnya. Fandi tampak sangat serius. Jingga penasaran dengan apa yang akan di bahas Fandi dengannya.


“Jingga, minggu depan sidang terakhir perceraian kamu dan Ferdinan.” Ujar Fandi menoleh ke arah Jingga.


“Syukurlah. Aku harap semuanya akan segera berakhir. Aku harap setelah ini bisa benar-benar melupakan mimpi buruk itu.” Jingga menatap ke langit. Disana ia melihat banyak bintang berkelap-kelip.


“Setelah itu?” Tanya Fandi ikut menatap langit.


“Setelah itu apa?” Jingga menoleh pada Fandi.


“Maksud aku setelah kamu resmi bercerai dari Ferdinan, lalu kamu akan apa?” Tanya Fandi kali ini menatap Jingga.


“Aku ingin menata hidupku dan Dirga. Aku ingin melihat Dirga selalu bahagia seperti sekarang ini. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu.” Jawab Jingga tersenyum melihat sekilas ke arah Fandi sebelum akhirnya kembali menatap ke langit.

__ADS_1


“Aku harus menunggu berapa lama?” Tanya Fandi lagi. Kali ini Jingga tersentak, seketika Jingga menatap Fandi.


“Aku tidak ingin membuatmu menunggu lagi Fandi.” Jawab Jingga seadanya.


“Maksudmu setelah kamu bercerai kita akan segera menikah?” Fandi tampak senang mendengar jawaban Jingga.


“Tidak langsung setelah bercerai. Tapi menunggu masa iddahku habis.” Jelas Jingga lagi.


“Okee.. Aku mengerti. Aku akan mengurus semuanya. Pengurusan surat-surat, persiapan pernikahan, pesta, pokoknya semuanya biar aku yang mengurusnya. Kamu hanya perlu bantu-bantu sedikit. Aku tidak ingin kamu repot.” Balas Fandi bersemangat. Jingga hanya tersenyum melihat semangat Fandi.


“Semoga kali ini pernikahan kita benar-benar akan terjadi.” Jingga kembali menatap Fandi penuh harap.


“Terima kasih Fandi.” Ucap Jingga mengenggam tangan Fandi.


“Terima kasih? Untuk apa?” Tanya Fandi menatap heran.


“Terima kasih karena kamu selalu mencintai aku. Dari dulu hingga sekarang.” Jawab Jingga masih menatap Fandi.

__ADS_1


“Aku juga berterima kasih Jingga.” Balas Fandi tidak mau kalah.


“Kamu berterima kasih untuk apa?” Kali ini Jingga yang bertanya pada Fandi.


“Terima kasih karena sudah memberi aku kesempatan lagi.” Jawab Fandi menatap Jingga sembari membelai pipinya.


“Fandi, aku masih tidak habis pikir sama kamu.” Ujar Jingga mengernyitkan dahinya.


“Kenapa?” Tanya Fandi tampak bingung dengan perkataan Jingga.


“Sekarang kamu sudah sukses. Jadi pengusaha yang sukses, punya segalanya, kamu juga tampan, kenapa tidak mencari yang lebih dari aku? Bukankah kamu sudah pasti mendapatkannya?” Jingga kembali mempertanyakan hal yang ia sendiri sudah tahu jawabannya.


“Jingga.. Apa kamu mau aku cium?” Tanya Fandi menatap sinis pada Jingga.


“Iih.. Fandi..” Jingga mencubit pinggang Fandi. Fandi meringis kesakitan.


“Lagian kamu masih saja mempertanyakan hal itu. Aku kan sudah berkali-kali bilang, kalau aku sudah terlanjur mencintai kamu. Apapun yang terjadi aku hanya akan mencintai kamu Jingga.” Fandi kembali mengulangi perkataannya untuk meyakinkan Jingga untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2