
Sebuah ponsel berdering. Fandi mencoba meraih ponsel yang berada di saku celananya. Ternyata itu ponsel Jingga. Jingga melihat ponsel yang berada di tangan Fandi. Di layarnya tertera panggilan dari “Pak Ferdinan”.
‘Pak Ferdinan menelepon? Aku harus apa?’ Gumam Jingga mulai ketakutan.
“Kenapa pria ini menelepon lagi?” Fandi terlihat tidak senang mengetahui kalau panggilan itu dari Ferdinan.
“Biar aku yang angkat Fandi.” Pinta Jingga. Fandi menoleh pada Jingga, ia tampak heran. Namun Fandi tetap menyerahkan ponsel itu ke tangan Jingga.
Jingga menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan untuk menenangkan perasaannya. Sejujurnya Jingga masih sangat takut. Karena selain ringan tangan, Ferdinan juga sering memaki-maki Jingga dengan kata-kata yang kasar.
“Haa..llo..” Jingga sangat gugup menjawab telepon Ferdinan. Seperti permintaan Fandi, Jingga mengaktifkan speaker dan merekam percakapannya dengan Ferdinan.
“Hallo.. Lu dimana pel*cur sialan?” Tanya Ferdinan dengan kata-katanya yang kasar.
“Ada apa bapak menelepon?” Jingga balik bertanya.
__ADS_1
“Dasar istri mur*han! Pria yang menelepon gua tadi siapa? Laki baru lu? Lu jangan macam-macam ya?” Ancam Ferdinan. Seketika Jingga mulai takut dan melirik ke arah Fandi. Fandi mencoba menenangkan Jingga dengan mengenggam tangannya.
“Kalau bapak menelepon hanya untuk memaki dan menghina saya, lebih baik tutup saja teleponnya. Saya sudah tidak mau mendengar kata-kata kasar dari bapak.” Balas Jingga ragu-ragu. Meski ia masih sangat takut pada Ferdinan, Jingga berusaha untuk tenang menanggapi ucapan Ferdinan.
“Lu udah berani ya sama gua? Dasar pel*cur sialan! Gua akan segera menceraikan lu. Dan jangan harap lu dapat sepersenpun dari gua. Gua minta lu segera bayar semua hutang-hutang lu sama gua. Gua gak rela membiayai persalinan anak har*am lu itu.” Ferdinan makin meledak-ledak menghina Jingga dan Dirga. Jingga kembali melirik Fandi. Fandi mengangguk memberi isyarat pada Jingga agar mengiyakan permintaan Ferdinan untuk membayar hutangnya.
“Baik pak. Saya akan usahakan secepatnya.” Balas Jingga.
“Dasar pel*cur! Awas lu ya. Kalau gua berhasil nemuin lu lagi. Habis lu sama gua. Gak cuma gua pukulin, tapi gua bikin mati sekalian.” Ferdinan mengumpati Jingga dengan kata-kata yang jauh lebih kasar lagi. Bahkan Ferdinan sampai mengancam akan membunuh Jingga. Jingga masih dengan rasa takutnya segera menutup telepon.
“Kenapa tersenyum? Aku di maki-maki, kamu malah senyum-senyum.” Celoteh Jingga sembari memanyunkan bibirnya.
“Apa kamu masih takut sama Ferdinan?” Fandi mengernyitkan dahinya menatap Jingga.
“Sejujurnya aku takut sekali. Dia pria yang kejam. Aku tidak ingin lagi kembali kesana. Istri pertamanya saja sudah menceraikannya. Mba Hastari dan Willy saja sudah tidak tahan lagi dengan sikap kasarnya. Apa lagi aku dan Dirga? Aku tidak mau Dirga sampai terluka.” Ujar Jingga menatap Fandi.
__ADS_1
“Kamu dan Dirga aman. Ada aku yang akan menjaga kalian. Aku tidak akan membiarkan Ferdinan menganggu kamu dan Dirga.” Balas Fandi kembali meyakinkan Jingga.
“Bagaimana kalau dia tidak mau menceraikan aku? Aku pasti akan di siksa lagi lebih dari yang sebelumnya.” Jingga mengernyitkan dahinya.
“Dia pasti akan melepaskanmu. Ferdinan harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya selama ini.” Fandi kembali tersenyum. Jingga percaya Fandi tidak akan membiarkan Ferdinan menyakitinya dan Dirga lagi.
“Fandi..” Tiba-tiba Jingga mengenggam tangan Fandi.
“Iya..” Fandi melihat Jingga.
“Aku mau ke kamar Dirga.” Ujar Jingga mencoba turun dari ranjangnya.
“Dirga sedang tidur. Lebih baik kamu istirahat juga.” Fandi menasehati Jingga untuk beristirahat.
“Biasanya Dirga segera sembuh kalau di peluk mamanya.” Jingga tetap memaksakan dirinya untuk ke kamar Dirga. Akhirnya Fandi mengizinkannya. Mereka pergi ke kamar Dirga bersama.
__ADS_1
*****