Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 75


__ADS_3

Sementara itu Jingga yang menghindari Fandi dengan menaiki taksi pergi ke sebuah taman yang terletak tidak jauh dari kosannya. Jingga duduk di kursi taman untuk menenangkan dirinya. Sesekali Jingga kembali menangis mengingat kejadian Fandi berpelukan dengan Sonya di toilet sekolah.


Setelah pergi ke taman untuk menenangkan dirinya, Jingga memutuskan untuk kembali ke kosan. Jingga mengecek ponselnya banyak sekali panggilan tak terjawab dari teman-temannya, namun tak satupun dari Fandi.


“Fandi, kamu tidak menghubungiku? Ternyata benar, kamu sudah bosan.” Ucap Jingga lirih. Jingga kembali menitikkan air matanya. Entah mengapa dadanya terasa begitu sesak setiap kali mengingat Fandi dan Sonya berpelukan.


“Aku benci kamu Fandi. Aku benci kamu.” Jingga mengusap air matanya dan berdiri dari duduknya. Jingga memutuskan untuk berjalan kaki menuju kosannya.


Sesampainya di kosan hari sudah mulai gelap. Jingga membuka pintu kamar dan menghidupkan lampu kamarnya. Jingga melihat foto dirrinya dan Fandi terpajang di atas meja. Kemudian Jingga berbaring di tempat tidur dan meraih foto itu. Berkali-kali Jingga mengusap wajah Fandi di dalam foto.


“Kenapa Fandi? Kamu bilang kamu sangat mencintai aku. Tapi kenapa dengan Sonya kamu juga bisa bermesraan?” Suara Jingga mulai parau. Jingga menangis pilu lalu membanting figura foto mereka berdua.


Jingga merasa sangat kecewa. Disaat ia mulai mencintai seseorang, ia malah merasa tersakiti.


‘Seharusnya aku dengar dulu penjelasan kamu, siapa tahu itu rencana licik Sonya?’ Tiba-tiba terbesit pikiran itu di dalam benaknya. Jingga kemudian meraih ponselnya untuk segera menghubungi Fandi.

__ADS_1


“Tidak! Fandi tidak berniat menjelaskan apa-apa, karena memang tidak ada yang harus di jelaskan. Itu kenyataannya. Buktinya Fandi tidak berusaha menghubungiku.” Jingga kemudian membanting ponselnya ke sudut kamar hingga pecah.


Jingga kembali menangis pilu duduk bersimpuh di lantai. Berkali-kali Jingga menggores pergelangan tangannya dengan pecahan kaca dari figura foto. Tangannya terluka meski tidak dalam, tapi mengeluarkan darah dan menetes di lantai.


“Padahal hari ini aku ingin sekali memberitahu kamu kabar kehamilan ini Fandi, tapi kamu menghancurkan aku. Kamu menghancurkan impian aku. Mungkin kamu sudah mulai sadar kalau aku memang tidak layak jadi pendampingmu.” Jingga meletakkan surat ucapan selamat ulang tahun yang telah ia persiapkan untuk Fandi beserta alat testpack yang menunjukkan hasil positif di atas meja.


Jingga membalut luka di pergelangan tangannya dengan sapu tangan sembari menangis. Kemudian Jingga mulai memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas. Jingga berniat ingin pergi dari kota itu. Entah kemana? Ia sendiri pun tidak tahu. Jingga hanya ingin lari meninggalkan semua kekecewaannya pada Fandi.


Sebelum pergi, Jingga menulis sepucuk surat perpisahan untuk Fandi. Jingga menangis terisak-isak ketika menuliskan surat itu. Jingga yakin itu adalah jalan yang terbaik untuk mereka bedua. Jingga berpikir Fandi layak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik darinya.


Fandi, Maafkan aku.


Aku sudah ikhlas.


Aku sudah memaafkan kesalahanmu.

__ADS_1


Aku tahu aku bukan perempuan yang layak untukmu.


Semoga kamu selalu bahagia.


Biarlah semua yang pernah kita lalui bersama hanya menjadi sebuah kenangan untukku.


Terima kasih karena telah membuat aku merasa sempurna beberapa bulan ini.


Terima kasih karena telah membuat aku bahagia.


Terima kasih juga karena telah memberi warna di hidupku.


Jingga melipat surat itu dan meletakkannya di atas amplop yang berisi surat ucapan selamat ulang tahun untuk Fandi.


Jingga sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada Fandi saat itu. Jingga juga tidak berusaha menghubungi Riko atau teman-temannya yang lain. Yang ia tahu hanyalah hubungannya dan Fandi telah berakhir. Jingga pergi meninggalkan semua kenangannya bersama Fandi. Hanya satu yang ia bawa yaitu kalung dengan liontin inisial F yang sangat sulit untuk ia lepaskan.

__ADS_1


Jingga melangkahkan kakinya menuju rumah mba Wati. Jingga menitipkan kunci kamar kosannya agar nanti di serahkan kepada Fandi. Setelah itu Jingga pun pergi.


*****


__ADS_2