Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 83


__ADS_3

Fandi masuk ke kamarnya. Sesaat ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Windy.


“Jingga. Kamu tidak mungkin menikahi laki-laki lain. Kamu hanya mencintai aku. Aku tahu itu. Aku bisa melihatnya dari matamu, kamu hanya mencintai aku Jingga!” Teriak Fandi. Untung kamar Fandi kedap suara, jadi penghuni lain tidak mendengarnya.


Fandi mengambil ponselnya dan membuka kembali pesan-pesan masuk dari Jingga dulu. Ia membaca pesan itu berulang-ulang.


“Jinggaku tidak mungkin melakukan hal itu. Kalaupun benar kamu menikah dengan orang lain, aku yakin itu terpaksa. Aku juga tidak percaya kamu membunuh calon anak kita.” Gumam Fandi yang mulai lelah.


Akhirnya Fandi tertidur malam itu dengan pikiran yang sangat kacau.


*****


Keesokkan harinya


Fandi berangkat ke kampus seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Bahkan pagi itu Fandi terlihat sangat bersemangat. Fandi sampai ke kampus lebih dulu dari teman-temannya. Fandi masuk ke ruang kelas dan mengeluarkan buku bacaannya. Ia kemudian membaca sembari menunggu dosen yang akan mengajar datang.


Fandi sangat bersemangat hari itu, beberapa kali ia mengangkat tangan untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan pak Hamzah. Pak Hamzah senang melihat kegigihan Fandi hari itu lalu memanggil Fandi ke ruangannya.

__ADS_1


“Fandi. Silahkan kamu duduk!” Pak Hamzah mempersilahkan Fandi duduk.


“Terima kasih pak.” Balas Fandi sembari duduk di kursi di depan meja kerja dosennya itu.


“Fandi. Saya sudah dengar prestasi kamu. Sejak SMA kamu sudah sangat berprestasi hingga mendapat beasiswa kuliah di Perguruan Tinggi ini. Baru satu tahun kuliah, kamu sudah sering memenangkan lomba membawa nama kampus ini. Saya sangat salut sekaligus bangga dengan kamu.” Ujar pak Hamzah tersenyum kepada Fandi.


“Sekali lagi terima kasih pak.” Balas Fandi ikut tersenyum.


“Melihat kegigihan kamu di kelas tadi, saya yakin kamu punya potensi besar untuk sukses.” Lanjut pak Hamzah memuji Fandi.


“Insya Allah pak. Saya memang ingin sukses secepatnya pak selagi saya masih muda.” Balas Fandi lagi.


“Tentu saja pak. Saya sangat bersedia dengan tawaran bapak." Jawab Fandi antusias.


“Baiklah Fandi. Untuk saat ini cukup itu dulu. Setelah semester ini habis, kamu temui saya kembali dan kita akan membicarakan lebih lanjut masalah honor kamu.” Lanjut pak Hamzah.


“Baik pak. Terima kasih pak.” Balas Fandi seraya meninggalkan ruangan pak Hamzah.

__ADS_1


Fandi sangat senang. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi assisten seorang dosen sekaligus guru besar di Universitas itu. Fandi merasa peluangnya makin terbuka lebar untuk melangkah menuju kesuksesan.


Fandi mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menghubungi Riko.


“Hallo Rik, lu dimana?” Tanya Fandi.


“Gue masih di kampus. Bentar lagi gue otw tempat lu bro.” Balas Riko.


“Okee.. Gue tunggu di kantin.” Balas Fandi lagi seraya menutup teleponnya.


Fandi lalu menuju kantin dan memesan minuman terlebih dulu. Di meja lain tampak seorang wanita sedang melirik Fandi.


“Fandi ya?” Tanya Lona sambil mengulurkan tangannya.


“Iya.” Balas singkat Fandi.


“Aku Lona.” Lona kemudian duduk di meja yang sama dengan Fandi, namun Fandi tidak menghiraukannya dan hanya fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2