
Fandi merasa tidak enak hati lagi berada di ruangan itu. Ia merasa bukan bagian dari keluarga itu lagi, karena sebentar lagi ia dan Laura akan segera berpisah. Fandi kemudian berjalan keluar dari ruangan, namun pak Irwan lagi-lagi memanggil Fandi.
“Fandi.” Sahut pak Irwan menghentikan langkah kaki Fandi yang hendak meninggalkan ruang perawatan pak Irwan.
“Iya pa.” Jawab Fandi.
“Papa tetap akan menepati janji papa, meskipun kamu dan Laura berpisah.” Ujar pak Irwan.
“Maksud papa apa?” Tanya Fandi heran.
“Papa tetap akan menyerahkan setengah saham perusahaan disini untukmu.” Jawab pak Irwan tersenyum pada Fandi.
“Tidak pa. Fandi tidak berhak untuk itu.” Balas Fandi menolak.
“Itu adalah hak kamu Fandi. Sedari awal papa sudah berjanji dan papa berkewajiban untuk menepatinya.” Lanjut pak Irwan.
“Fandi paham pa, tapi Fandi sudah memutuskan untuk tidak menginginkan lagi saham di perusahaan itu. Karena Fandi sudah memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia.” Balas Fandi lagi menolak keinginan pak Irwan dengan halus.
__ADS_1
“Apa kamu yakin?” Tanya pak Irwan lagi.
“Iya pa. Fandi sangat yakin. Fandi lebih nyaman tinggal di Indonesia.” Jawab Fandi tersenyum.
“Kalau kamu bersikeras seperti itu papa tidak bisa memaksa. Tapi papa tetap ingin menepati janji papa kepada kamu. Sebagai gantinya papa akan menyerahkan hotel Star untukmu.” Ujar pak Irwan mantap.
“Hotel Star?” Tanya Fandi tak percaya.
“Iya, hotel Star. Tempat kalian melangsungkan resepsi pernikahan.” Jelas pak Irwan.
Fandi sejenak berpikir. Ia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Pak Irwan menyerahkan salah satu hotel bintang 5 terbaik pada Fandi.
“Papa tidak pernah ragu dengan keputusan papa Fandi. Kamu adalah pria yang baik dan juga karyawan terbaik papa. Papa yakin kamu orang yang sangat tepat. Papa yakin di tangan kamu hotel itu akan semakin bagus.” Jawab pak Irwan tanpa ragu-ragu.
“Terima kasih pa atas kepercayaannya. Insya Allah Fandi tidak akan mengecewakan.” Balas Fandi optimis.
“Papa bangga sama kamu. Meski nanti kamu dan Laura sudah bercerai, papa ingin kamu selalu memanggil papa dengan sebutan papa. Papa sudah menganggap kamu seperti anak sendiri.” Lanjut pak Irwan tersenyum.
__ADS_1
“Iya pa. Fandi juga sudah menganggap papa seperti ayah Fandi sendiri.” Ujar Fandi membalas tersenyum ppada pak Irwan.
“Laura.” Kali ini pak Irwan memanggil Laura.
“Iya pa.” Jawab Laura.
“Kamu yakin tidak akan menyesal menyia-nyiakan suami seperti Fandi?” Tanya pak Irwan memastikan keputusan Laura.
“Laura tahu Fandi adalah pria yang sangat baik pa. Tapi Laura tidak bisa jatuh cinta sama Fandi. Laura sudah terlanjur jatuh cinta pada Sam.” Jawab Laura yakin dengan keputusannya.
“Iya sudah. Papa percaya putri papa ini tahu mana yang terbaik untuk dirinya.” Ujar pak Irwan mendukung keputusan Laura.
“Terima kasih pa.” Balas Laura mencium tangan pak Irwan.
“Kalau begitu Fandi balik ke rumah dulu pa. Fandi akan membawa beberapa pakaian papa dan Laura kesini.” Fandi kemudian berpamitan pada pak Irwan.
“Terima kasih Fandi.” Laura melempar senyumannya pada Fandi. Fandi membalas senyuman Laura sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
__ADS_1
*****