
Pesanan Fandi dan Riko akhirnya sampai juga. Mereka menyeruput kopinya masing-masing sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraan mereka.
“Bro, lu masih saja memikirkan Jingga?” Celetuk Riko menatap dengan tatapan menyelidik.
“Sebenarnya tidak pernah sehari pun gue tidak memikirkan Jingga, karena gue memang masih mencintai Jingga Rik.” Jawab Fandi tersenyum tanpa ragu-ragu.
“Lu benar-benar gila bro. Sampai sekarang, setelah bertahun-tahun dia pergi dan lu tahu betul dia sudah memiliki keluarga, tapi cinta lu gak ada matinya.” Ujar Riko menggeleng-geleng heran pada Fandi.
“Iya Rik. Gue benar-benar sudah gila, gue tergila-gila sama Jingga. Sulit sekali untuk melupakannya Rik. Di tambah lagi rumah tangga gue dan Laura tidak seperti yang gue bayangkan. Selama 2 tahun hidup bersama, cinta itu tidak pernah tumbuh di antara kami, yang ada gue malah semakin merindukan Jingga.” Fandi menjelaskan apa yang ada di hatinya selama ini.
“Gue mengerti bro.” Riko lagi-lagi menepuk pundak Fandi.
“Rik, yang lebih anehnya setelah mimpi Jingga melompat gue seperti terbangun dan tidak lama setelah itu gue menerima telepon dari lu. Kita bertemu dan lu bawa gue ke rumah orang tua gue yang di kampung. Lalu gue masuk ke kamar. Disana gue melihat Jingga terbaring. Gue mencoba membangunkannya tapi Jingga tidak mau bangun. Lalu lu bilang kalau Jingga sudah meninggal. Dalam mimpi itu gue menangis dan memeluk Jingga sangat erat. Setelah mimpi iyu barulah gue benar-benar bangun dari tidur gue Rik.” Fandi menjelaskan secara rinci kronologi mimpinya pada Riko. Riko mendengarkan dengan serius.
“Rasanya dada gue sesak sekali mengingat mimpi itu. Gue takut sesuatu yang buruk terjadi pada Jingga. Lu ingat kan dulu gue juga pernah mimpiin Jingga?” Lanjut Fandi.
__ADS_1
“Iya, gue ingat bro. Saat orang tua Jingga meninggal itu kan?” Jawab Riko antusias mencoba mengingat kembali.
“Iya Rik. Sebelumnya gue mimpi Jingga menangis. Dan paginya ternyata kedua orang tuanya meninggal. Kali ini gue juga punya firasat yang buruk. Tapi tetap gue berdoa Jingga baik-baik saja.” Jelas Fandi lagi.
“Amin bro.” Riko mengaminkan doa Fandi.
“Ooh ya Rik, perceraian gue sudah lu daftarkan ke pengadilan agama?” Tanya Fandi mencairkan suasana hatinya yang haru saat menceritakan mimpinya pada Riko.
“Sudah bro. Semuanya sudah selesai. Tinggal menunggu panggilan sidang pertama.” Jawab Riko.
“Kalau lu gak sibuk lebih baik datang. Biar prosesnya di segerakan.” Riko memberi saran pada Fandi.
“Tapi kalau Laura sepertinya tidak bisa datang Rik.” Ujar Fandi.
“Itu gak jadi masalah bro.” Balas Riko setelah menyeruput kopinya.
__ADS_1
“Lalu bagaimana karier lu selanjutnya bro? Setelah bercerai dari Laura apa lu masih lanjut bekerja di perusahaannya?” Tanya Riko penasaran.
“Gue belum tahu pasti Rik. Sebelum pak Irwan meninggal gue sempat menolak pembagian saham di perusahaannya seperti yang ia janjikan dahulu.” Jawab Fandi sebelum ia menyeruput kopinya kembali.
“Kenapa lu tolak bro? Bukankah itu sudah hak lu dari awal menikah?” Tanya Riko heran. Riko tak percaya Fandi menolak di berikan saham oleh almarhum mertuanya.
“Karena gue merasa tidak pantas menerimanya. Selama menikah dengan Laura, kami tidak seperti pasangan suami istri. Gue juga tidak pernah berusaha untuk merubah kebiasaan Laura.” Jawab Fandi lagi.
“Lalu sekarang lu kerja apa? Dan tinggal dimana?” Tanya Riko lagi.
“Gue rencana mau ke kosan yang lama. Siapa tahu masih ada yang kosong? Untuk sementara waktu sampai gue menemukan rumah yang pas nantinya.” Jawab Fandi.
“Nanti biar gue yang antar bro.” Balas Riko menawarkan diri untuk mengantar Fandi ke kosan lamanya dulu.
*****
__ADS_1