
Fandi tak kuasa melihat Jingga menangis terisak-isak dalam pelukannya. Ia tiba mengeratkan pelukannya pada Jingga. Seketika Jingga berhenti menangis.
“Aku takut Fandi.” Ucap Jingga lirih.
“Kamu gak perlu takut. Ada aku.” Balas Fandi meyakinkan Jingga gadis pujaan hatinya.
“Tadi aku di jemput sama kak Andre dan dia bawa aku ke club malam. Dalam perjalanan pulang, dia tiba-tiba berhenti di jalanan sepi dan sempat mau macam-macam.” Jingga menceritakan apa yang baru saja di alaminya kepada Fandi. Fandi menjadi emosi mendengarkan cerita Jingga. Ia mengepalkan tangannya.
“Sekarang biar aku antar kamu pulang.” Ajak Fandi sambil menarik tangan Jingga.
Fandi lalu mengajak Jingga ke warung tempat ia bekerja untuk mengambil motor. Tidak lama kemudian Fandi menyuruh Jingga untuk naik ke atas motornya. Tidak lupa Fandi memasangkan jaketnya pada Jingga, karena malam itu sudah semakin dingin.
“Fandi, aku takut pulang. Pasti om dan tanteku marah besar.” Ujar Jingga ragu-ragu.
“Aku yang antar. Biar aku yang bicara sama om dan tante kamu.” Balas Fandi meyakinkan Jingga. Jingga tersenyum mendengar perkataan Fandi. Fandi begitu tenang dan Jingga merasa nyaman mendengarnya.
*****
__ADS_1
Fandi membuka gerbang. Lalu Jingga turun dari motor. Setelah meletakkan motornya. Fandi membuka gerbang dan mengetuk pintu rumah.
Tok tok tok...
Fandi mengetuk pintu beberapa kali dan belum ada yang membukanya. Setelah cukup lama menunggu, barulah ada seseorang yang membukakan pintu. Ternyata mba Ratmi asisten rumah tangga di rumah itu.
“Mba, apa Om dan tante tadi nanyain aku?” Tanya Jingga ketakutan.
“Iyaa neng, tadi ibu dan bapak sibuk mencari neng.” Jawab mba Ratmi seadanya.
“Mati aku!” Keluh Jingga.
“Iya tante.” Balas Jingga menunduk.
“Kamu dari mana? Ini sudah jam berapa? Keluar tidak bilang-bilang, kelayapan di luar malam-malam sama laki-laki lagi.” Ujar bu Lisa dengan nada marah.
“Tadi aku di jemput sama kak Andre tante. Katanya sebentar.” Balas Jingga membela diri.
__ADS_1
“Naahh sekarang kamu sama siapa ini?” Tanya bu Lisa melirik Fandi.
“Ini Fandi teman sekolah Jingga, dia yang mengantar Jingga pulang tante.” Balas Jingga lagi.
“Hhhmmm..” Bu Lisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Tante minta maaf Jingga. Kamu memang keponakan tante. Tapi kalau kelakuan kamu seperti ini tante gak suka. Ini akan membuat malu keluarga tante dan tante juga takut Windy akan terpengaruh dengan pergaulan kamu ini.” Bu Lisa marah dan melarang Jingga untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Jingga minta maaf tante. Jingga gak akan mengulanginya lagi. Jingga janji!” Jingga menunduk memohon kepada bu Lisa. Namun bu Lisa memalingkan mukanya. Bu Lisa tampak merasa kecewa dengan Jingga.
“Maaf bu. Bila saya ikut bicara. Tolong beri Jingga kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Fandi tiba-tiba bersuara. Ia tidak tega melihat Jingga di hakimi di depan matanya.
“Tolong kamu jangan ikut campur!” Ujar bu Lisa memperingatkan Fandi.
“Tante.” Jingga memegang tangan bu Lisa, tapi bu Lisa menarik kembali tangannya.
“Sekarang tante minta kamu keluar dari rumah tante. Sekolah kamu sebentar lagi juga selesai. Kamu urus diri kamu sendiri. Tante gak mau menanggung malu atas perangai kamu ini Jingga. Kamu sudah besar. Kamu sudah bisa menentukan kemana arah hidupmu.” Jelas bu Lisa. Kali ini bu Lisa mengambil tas Jingga yang sudah di persiapkannya di dalam rumahnya.
__ADS_1
“Aku mengerti tante. Terima kasih banyak selama ini tante sudah mau mengurus dan membiayai hidup aku.” Jingga mengambil tas tersebut dan berjalan keluar dari gerbang kediaman bu Lisa.
*****